NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit Kota Zurich.

Hari yang cukup sibuk bagi Hwi Sol akhirnya terlewati.

Ia duduk di ruang kerjanya sambil menyandarkan tubuh pada kursi empuk di balik meja kantor. Hari ini, seperti biasa, ia menjalankan berbagai tugasnya sebagai CEO muda di industri fashion. Mulai dari menentukan arah brand, menyetujui desain koleksi terbaru, menghadiri rapat bersama investor dan buyer, hingga memeriksa laporan penjualan yang baru saja masuk.

Namun, di tengah kesibukan itu, pikirannya terus tertuju pada satu orang.

Seolhwa.

Ia kembali mengingat wajah murung adik semata wayangnya itu. Hwi Sol mencoba memikirkan berbagai cara agar Seolhwa bisa melupakan Eun Dam dan perlahan menghapus kesedihan yang selama ini mengendap di hatinya.

Hingga akhirnya, ia menemukan satu ide.

Saat pulang ke rumah sore itu, Hwi Sol mendapati Seolhwa sudah lebih dulu tiba.

Aroma mentega dan kue panggang yang manis memenuhi seluruh ruangan, menyambutnya bahkan sebelum ia sempat melepaskan jas yang dikenakannya.

Langkahnya terhenti ketika melihat Seolhwa berdiri di dapur. Gadis itu mengenakan celemek berwarna merah muda yang sedikit kotor oleh tepung. Beberapa helai rambutnya jatuh berantakan di sekitar wajah.

"Oppa sudah pulang?" tanyanya sambil tersenyum cerah.

"Iya, sayang. Kamu sedang membuat apa?" tanya Hwi Sol.

"Aku baru selesai membuat strawberry crumble cream cheese muffin, Oppa! Rencananya menu ini akan aku jadikan menu baru untuk bakery-ku. Aku sengaja membuatnya sendiri dan ingin Oppa menjadi orang pertama yang mencicipinya."

Seolhwa membawa sebuah nampan berisi beberapa muffin yang masih hangat. Aroma stroberi yang manis langsung menyeruak begitu nampan itu diletakkan di atas meja makan.

"Wah, dari tampilannya saja sudah terlihat lezat. Oppa coba, ya."

Hwi Sol mengambil satu muffin lalu menggigitnya cukup besar.

Begitu rasa lembut muffin berpadu dengan isian cream cheese yang lumer di mulut serta crumble renyah di bagian atasnya, kedua matanya langsung membesar.

"Wah! Ini benar-benar enak, Seolhwa. Kamu harus menjualnya secepat mungkin. Oppa yakin banyak orang akan menyukainya."

Seolhwa tertawa kecil mendengar pujian itu.

Untuk beberapa saat, hanya suara tawa dan percakapan ringan yang mengisi meja makan.

Hingga akhirnya Hwi Sol kembali membuka pembicaraan.

"Seolhwa... apa kamu ingin liburan?"

Aku mengangkat kepala dan menatapnya.

"Liburan?"

"Iya. Sejak kepergian Eomma dan Appa, kita belum pernah pergi liburan bersama lagi, bukan?"

Aku terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"Iya juga, ya. Boleh kalau begitu. Tapi bagaimana dengan urusan kantor Oppa?"

"Tenang saja. Oppa masih bisa mengurus semuanya secara online."

Senyumnya mengembang.

"Kalau begitu, negara mana yang ingin kamu kunjungi?"

Mataku langsung berbinar.

"Aku ingin ke Swiss, Oppa. Aku ingin melihat pemandangan indah di sana."

"Baiklah. Oppa akan memesan tiketnya."

Beberapa hari kemudian, hari keberangkatan yang kami tunggu akhirnya tiba.

Dengan hati yang penuh semangat, kami berangkat dari Seoul menuju Swiss menggunakan penerbangan kelas VIP.

Aku menikmati makan siang yang disediakan selama perjalanan, sementara Hwi Sol Oppa duduk di sampingku sambil membaca buku dan sesekali memeriksa urusan kantornya melalui tablet.

Perjalanan panjang selama hampir tiga belas jam terasa jauh lebih menyenangkan daripada yang kubayangkan.

Ketika pesawat akhirnya mendarat, hamparan pemandangan Swiss yang memukau langsung menyambut kami.

Tujuan kami adalah Zürich, salah satu kota paling bersih dan terkenal di Swiss yang dikelilingi pemandangan pegunungan yang menakjubkan.

Sesampainya di penginapan, aku langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang besar yang begitu empuk.

Rasa lelah akibat perjalanan panjang perlahan menghilang.

Sesekali aku menatap langit-langit kamar yang dihiasi interior mewah dan elegan. Namun perhatianku kemudian tertarik pada jendela besar yang sedikit terbuka.

Aku bangkit dari ranjang dan melangkah mendekatinya.

Begitu tiba di depan jendela, aku terpaku.

Deretan pegunungan hijau membentang sejauh mata memandang. Langit biru yang cerah berpadu dengan awan putih yang menggantung lembut di atasnya.

Pemandangan itu terlihat begitu sempurna, seolah lukisan yang hidup.

"Wah... indah sekali."

Aku tersenyum kagum.

"Oppa benar-benar pintar memilih penginapan ini."

Namun, di tengah kekagumanku, mataku menangkap sosok seseorang dari kejauhan.

Seorang pria sedang menunggangi kuda putih besar yang berlari melintasi padang rumput.

Angin menerbangkan ujung mantel yang dikenakannya.

Dan saat jaraknya semakin dekat, aku mulai mengenali wajah itu.

"Seolhwa!"

Suara yang sangat familiar itu terdengar jelas.

Mataku membelalak.

"O-Oppa?"

Kuda putih itu berhenti tepat di depan jendela kamarku.

Di atas punggungnya, Hwi Sol tersenyum lebar sambil mengulurkan satu tangan ke arahku.

"Mau mencoba naik ini bersama Oppa?"

Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari keluar kamar.

Sesampainya di halaman, Hwi Sol turun dari kudanya lalu membantu aku naik terlebih dahulu.

Aku duduk di bagian depan, sementara ia berada di belakang untuk menjagaku.

Jantungku berdebar karena gugup sekaligus bersemangat.

"Pegang talinya baik-baik, ya."

Aku mengangguk pelan.

Hwi Sol tersenyum sebelum perlahan menggerakkan kudanya.

Kuda putih itu mulai melangkah menyusuri padang rumput yang luas, membawa kami menuju hamparan pegunungan Swiss yang terlihat begitu indah di bawah cahaya matahari sore.

Untuk kesekian kalinya, Seolhwa merasa sangat bahagia bersama Hwi Sol.

Senyum manisnya terpancar sepanjang langkah kuda yang mereka tunggangi. Ia tak henti-hentinya tersenyum riang menikmati setiap momen yang dilaluinya.

"Oppa akan berusaha untuk terus membuat senyuman itu tetap ada di bibirmu, Seolhwa..." gumam Hwi Sol pelan sambil menunggangi kudanya.

Hwi sol dan Seolhwa menghabiskan sore pertama mereka dengan penuh kebahagiaan. Hingga tanpa sadar, matahari perlahan mulai menghilang di balik awan yang semakin gelap.

Mereka pun mengakhiri perjalanan sore itu untuk mandi dan bersiap menikmati makan malam bersama di sebuah restoran mewah yang telah dipesan oleh Hwi sol.

Restoran itu memiliki nuansa bak istana yang berdiri megah di atas bukit. Dari sana, hamparan Danau Zürich dan gemerlap kota dapat terlihat dengan jelas dari ketinggian, menciptakan pemandangan yang begitu memukau.

Menu pembuka mereka malam itu adalah salmon segar dan Oscietra caviar yang disajikan dengan elegan. Setelahnya, hidangan utama berupa wagyu Swiss A5+, truffle hitam, dan kentang fondant tersaji di meja mereka dengan aroma yang begitu menggugah selera.

Tak lupa, makanan penutup yang tak kalah istimewa turut melengkapi makan malam kedua kakak adik itu yaitu Chocolate Soufflé Le Grand yang lembut dan manis.

Udara dan langit pagi ini membuatku semakin bersemangat menikmati liburan. Hari ini, aku dan Hwi Sol Oppa berencana berbelanja di Bahnhofstrasse, salah satu jalan perbelanjaan paling terkenal di dunia.

Sesampainya di sana, aku tak mampu menyembunyikan kekagumanku. Deretan bangunan bergaya klasik Eropa berdiri megah di sepanjang jalan. Fasad batu berwarna krem, putih, dan abu-abu berpadu sempurna dengan jendela-jendela besar yang dihiasi ukiran-ukiran indah. Kemewahannya terasa begitu elegan tanpa terlihat berlebihan.

Di lantai dasar bangunan-bangunan itu berjajar butik mewah, toko jam tangan Swiss ternama, serta toko cokelat yang menggoda siapa pun yang melewatinya. Jalanan yang lebar, pepohonan yang tertata rapi, dan trem yang melintas dengan tenang semakin menambah pesona kota ini.

"Seolhwa, kamu bebas membeli apa pun yang kamu inginkan. Oppa yang akan membayarnya," ucap Hwi Sol Oppa sambil tersenyum kepadaku.

Aku menoleh cepat ke arahnya.

"Oppa serius? Tidak bercanda, kan?" tanyaku untuk memastikan.

Ia terkekeh pelan.

"Memangnya Oppa pernah bercanda soal uang?"

Seketika wajahku berbinar.

"Wah! Terima kasih, Oppaku sayang!" seruku sambil berlari kecil dengan penuh kegembiraan.

Aku segera memasuki beberapa toko yang menarik perhatianku. Beberapa kotak cokelat Swiss premium kubeli untuk dijadikan oleh-oleh untuk Minseo dan untuk beberapa karyawan di tokonya. Tak lupa, aku juga memilih beberapa gaun cantik yang terpajang di etalase serta mantel hangat untuk kupakai selama berada di Swiss.

Sementara itu, Hwi Sol Oppa terlihat sibuk mengunjungi beberapa butik jam tangan mewah. Seperti biasa, ia membeli beberapa koleksi baru untuk menambah deretan jam tangan eksklusif miliknya.

Melihatnya memilih jam tangan dengan begitu serius membuatku tersenyum kecil. Benar juga, rupanya seorang CEO memiliki cara tersendiri untuk menikmati liburan.

Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu museum bersejarah di Zurich, yaitu Swiss National Museum.

Bangunannya begitu megah dan unik, menyerupai kastel dalam dongeng. Museum sejarah terbesar di Swiss itu menyimpan berbagai koleksi yang menceritakan perjalanan negara tersebut, mulai dari zaman kuno hingga era modern. Setiap sudutnya terasa begitu hidup, seolah membawa kami menelusuri jejak waktu yang panjang.

Aku dan Hwi Sol Oppa menghabiskan cukup banyak waktu di sana. Tak lupa, kami juga mengambil beberapa foto dan video untuk mengabadikan momen selama liburan di Swiss.

Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul dua siang.

Perutku mulai keroncongan, sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju sebuah restoran mewah yang berada tidak jauh dari pusat kota. Makan siang hari itu terasa begitu menyenangkan. Kami menikmati hidangan lezat sambil berbincang ringan mengenai berbagai hal.

Setelah selesai makan, kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.

"Huft... capek juga, ya," gumamku pelan sambil memijat betisku yang mulai pegal akibat terlalu banyak berjalan.

Hwi Sol Oppa yang duduk di sampingku langsung menoleh.

Tanpa mengatakan apa pun, ia meraih kedua kakiku dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas pahanya. Jemarinya mulai memijat pelan telapak dan betisku yang terasa lelah.

Aku menatapnya terkejut.

"Tuan Putri sedang lelah, ya?" godanya sambil terus memijat kakiku.

Aku tersenyum kecil sebelum mengangguk manja.

"Iya. Tuan Putri sangat lelah."

"Kalau begitu, Tuan Putri harus beristirahat. Karena besok masih ada tempat yang ingin Oppa tunjukkan."

Nada suaranya lembut, membuat sudut bibirku tanpa sadar terangkat.

Kadang-kadang, perhatian sederhana seperti ini justru membuat hatiku terasa hangat.

Setelah itu, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Setelah mandi dan membersihkan diri, aku mengambil ponsel yang sejak tadi kuletakkan di atas nakas. Layarnya menyala menampilkan satu pesan masuk dari seseorang yang sangat kurindukan.

Eun Dam.

Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya kubuka pesan itu.

"Ini terakhir kalinya aku menghubungimu. Aku hanya ingin meminta maaf sekali lagi padamu. Apa pun yang terjadi nanti, tolong maafkan aku, Seolhwa. Aku adalah pria yang menyimpan begitu banyak masa lalu dan kebohongan yang menyakitkan.

Meski begitu, perasaanku padamu adalah satu-satunya kebenaran dan kejujuran yang pernah kumiliki. Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku, meski hanya untuk waktu yang singkat. Percayalah, Seolhwa, kehadiranmu membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik.

Aku mencintaimu..."

Air mataku langsung jatuh begitu selesai membaca pesan itu.

"Tuhan..." lirihku di sela tangis. "Aku benar-benar merindukan dan mencintainya."

Kupeluk ponsel itu erat-erat seolah benda kecil di tanganku dapat menggantikan kehadirannya.

Semakin sering kubaca ulang pesan tersebut, semakin kuat pula perasaanku bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Eun Dam dariku.

Aku teringat kembali kata-katanya saat pertemuan terakhir kami.

Ada sesuatu yang janggal.

Sesuatu yang besar.

Sesuatu yang berkaitan denganku.

Perasaan penasaran yang sempat berusaha kubuang kini muncul kembali. Untuk pertama kalinya, aku membulatkan tekad. Setelah liburan ini selesai dan aku kembali ke Seoul, aku akan mencari tahu semuanya sendiri.

Tok.

Tok.

"Seolhwa..."

Suara lembut dari balik pintu membuatku tersentak dan menghentikan tangisku.

Aku buru-buru mengusap air mata yang membasahi pipi, lalu menarik napas panjang sebelum membuka pintu.

Di sana, Hwi Sol Oppa berdiri dengan senyum cerah. Di kedua tangannya terdapat semangkuk ramyeon panas dan satu cup es krim.

"Taraaa! Lihat Oppa bawa apa?" ujarnya riang.

Aku tak bisa menahan senyum yang langsung terukir di wajahku.

"Wah! Ramyeon malam hari di Swiss?" balasku sambil tertawa kecil.

"Kadang makanan sederhana justru yang paling dirindukan."

Aku mengangguk setuju.

Tak lama kemudian, kami duduk bersama di sofa kamar sambil menikmati ramyeon hangat dan menonton drama.

Anehnya, berbagai hidangan mewah yang kami santap siang tadi masih tetap saja semangkuk ramyeon lah yang terasa jauh lebih menggoda.

Mungkin karena rasa nyaman memang tidak selalu datang dari sesuatu yang mahal.

Kadang, rasa nyaman hadir dari semangkuk ramyeon hangat dan seseorang yang selalu berusaha membuatmu tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!