Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Mereka bertiga segera melangkah maju, mengepung Daniel tanpa memberi sedikit pun kesempatan untuk meloloskan diri.
Daniel hanya sempat mematikan mesin motornya sebelum terpaksa turun dan meladeni mereka. Dalam sekejap, perkelahian pun tak terelakkan.
Namun, Daniel tidak langsung membalas serangan. Remaja tujuh belas itu memilih bertahan, menghindari setiap pukulan dan tendangan yang datang bertubi-tubi. Sorot matanya bergerak tajam ke segala arah, mengamati setiap gerakan lawan sambil mencari celah untuk membalikkan keadaan. Tubuhnya yang lincah terus berkelit, menepis, dan menghindari serangan demi serangan dengan sigap.
Di tengah keributan itu, seorang warga Desa Sekar yang kebetulan hendak melintasi jalan tersebut dengan sepeda motornya, mendadak menghentikan kendaraannya. Melihat Daniel dikeroyok oleh tiga orang sekaligus membuatnya berpikir untuk mencari bantuan. Karena dia sadar tidak bisa berkelahi. Maka tanpa membuang waktu, dia segera memutar balik motornya dan melaju sekencang mungkin kembali ke desa menuju tempat tinggal Daniel.
Begitu tiba di halaman rumah, pria itu langsung mematikan mesin motor, lalu berteriak dengan napas tersengal-sengal.
"Neng Zeya...! Neng Zeya...!"
Zeya yang sejak tadi menunggu kedatangan Daniel di dalam rumah, sontak berlari keluar. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat wajah pucat tetangganya yang masih terduduk di atas motor.
"Ada apa, Pak? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Neng Zeya, bahaya! Mas Daniel sedang dikeroyok anak buah Juragan Bahar di jalan sepi pinggir hutan!" seru pria itu di sela-sela napasnya yang masih memburu.
Zeya seketika tersentak kaget. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia segera menutup pintu rumahnya dan menghampiri pria itu.
"Tolong, antar saya ke sana sekarang juga, Pak. "Saya nggak mau terjadi sesuatu sama suami saya. Cepat...!" pintanya penuh kecemasan.
"Siap, Neng! Ayo, silakan naik!" Pria segera menstarter motornya lalu memutar balik.
Zeya segera naik ke jok belakang, menjaga jarak dengan sopan sambil berpegangan pada sisi tempat duduk.
"Berangkat...!" ucap pria itu seraya menepuk kepala motornya. Kemudian memacu motornya sekencang mungkin menuju lokasi kejadian.
Sepanjang perjalanan, Zeya tak henti-hentinya memanjatkan doa. Di dalam hatinya hanya ada satu harapan: semoga tidak terjadi sesuatu pada Daniel sampai dirinya tiba di sana.
Beberapa menit kemudian, motor yang mereka tumpangi sampai di lokasi. Dari kejauhan, Zeya sudah melihat pemandangan yang membuat darahnya seakan mendidih. Daniel sedang dikeroyok tiga orang sekaligus, meski masih bisa bertahan, tetapi posisinya jelas tidak seimbang.
"Pak, berhenti di sini!" seru Zeya.
Begitu motor berhenti, Zeya langsung melompat turun dan berlari secepat kilat ke arah mereka. Tanpa buang waktu, ia langsung menyerang dan menepis tangan salah satu pemuda yang hendak memukul Daniel dari samping, lalu menjatuhkannya ke tanah dengan tehnik yang tepat.
Daniel yang melihat kedatangan Zeya langsung tersenyum lega. Kini mereka berdua berdiri berdampingan, menyeimbangkan kekuatan melawan ketiga orang tersebut. Hingga dalam sekejap, ketiganya pun tak berdaya dan terpaksa mundur sambil terhuyung-huyung memegangi perutnya..
Salah seorang dari mereka menatap tajam ke arah Daniel dan Zeya sambil menggeram. "Awas kalian... tunggu saja balasannya! Ini belum selesai!" ancamnya sebelum mereka pergi dengan mengendarai motornya.
Suara raungan motor itu terdengar memekakkan telinga disertai knalpot yang mengepulkan asap keabu-abuan membuat udara terkontaminasi.
Setelah anak buah Juragan Bahar benar-benar pergi, Zeya langsung menoleh ke arah Daniel.
"Niel...Kamu nggak pa-pa?" tanya gadis itu seraya menangkup kedua pipi sang pemuda dengan raut khawatir tampak jelas di wajahnya.
Daniel memegang kedua tangan Zeya, mendekatkan ke bibirnya lalu mengecupnya bergantian berulang-kali.
"Aku nggak pa-pa," jawabnya menatap lekat pupil mata wanita yang sangat disayanginya. "Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" tanyanya kemudian.
Zeya lantas menoleh ke arah seorang pria yang masih berada di sana. "Pak, terima kasih banyak, ya. Sudah mau memberitahu dan mengantar Ze ke sini. Bapak boleh pulang, hati-hati di jalan, ya," ucapnya tulus.
Bapak itu mengangguk mengerti. "Sama-sama, Neng. Kalau ada apa-apa lagi, jangan ragu untuk memanggil warga." Setelah itu dia pun memutar balik motornya.
Namun, Zeya segera menghentikannya sebelum hendak pergi. "Ini ada sedikit buat beli bahan bakar, Pak." Ia langsung menyelipkan selembar uang warna merah ke saku baju pria tersebut.
"Eh, nggak usah, Neng," tolak pria itu. "Saya ikhlas membantu."
"Saya juga ikhlas memberinya, Pak. Cuma sedikit ini, kok." Zeya menangkupkan kedua tangannya.
"Baiklah, saya terima. Makasih, Neng. Kalau begitu saya balik duluan, Mas Daniel." pria itu melambaikan tangannya ke arah Daniel, lalu melajukan motornya meninggalkan pasutri muda tersebut.
Zeya kemudian menghampiri motor Pak RT, lalu duduk di jok depan. "Ayo, naik!" ajaknya sambil mengkode kepalanya menoleh ke belakang.
"Mau ngapain? Aku masih bisa bawa motornya, Ze. Ini cuma luka kecil." Daniel tampak meringis, bibirnya terasa perih saat berbicara.
Zeya tidak menjawab, tetapi langsung menyalakan mesin motor. "Ayo, buruan," ucapnya seraya mengegas starter.
Dengan patuh Daniel lantas duduk di jok belakang. Zeya pun segera melajukan motor, meninggalkan tempat tersebut. Menyisakan beberapa pasang mata yang diam-diam mengawasi mereka dari tempat tersembunyi.
Ketika sampai di desa, tetapi arah yang diambil Zeya bukan jalan menuju tempat tinggal mereka, Daniel pun mengernyit bingung.
"Ze... kita mau ke mana? Bukan arah pulang ini," tanyanya heran.
"Kita ke tempat Bu Bidan dulu, Niel. Meskipun nggak parah, luka di wajah dan tanganmu tetap harus dibersihkan biar nggak infeksi," jawab Zeya sambil tetap fokus mengendari motornya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di kediaman bidan desa. Zeya langsung menghentikan motor dan turun disusul Daniel. Baru saja hendak mengetuk pintu, tetapi pintu sudah terlebih dulu dibuka dari dalam.
"Selamat sore, Bu Bidan. Kami mau berobat," ucap Zeya tanpa basa-basi.
"Oh, mari, silakan duduk dulu, Mas. Saya siapkan peralatan lainnya dulu."
Zeya dan Daniel duduk di kursi tunggu pasien. Sesaat kemudian Bu Bidan kembali dengan peralatan untuk membersihkan luka.
"Biar saya bersihkan dulu lukanya," ujar bidan itu ramah lalu hendak maju.
Namun, Zeya segera mencegahnya dengan senyum sopan. "Eh, nggak perlu repot-repot. Biar saya saja yang membersihkan lukanya. Bu Bidan cukup memberi obat dan salep saja."
Bidan itu tersenyum geli dan mengangguk paham. "Baiklah, akan saya siapkan obatnya."
"Huhhh...enak saja mau pegang-pegang suami orang!" gumamnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Daniel yang melihat itu langsung melipat bibirnya, berusaha menahan tawa. Namun, lebih dari itu hatinya terasa menghangat.
"Ini obatnya, dioles tiga kali, ya. Ini alkohol buat membersihkan lukanya." Bu Bidan memberikan obat itu ke Daniel. "Semoga lekas sembuh."
"Terima kasih banyak, Bu Bidan," jawab Daniel tulus.
Setelah membayar, Zeya pun mengajak Daniel segera pulang. Bidan muda itu tersenyum menatap kepergian pasutri muda tersebut, lalu menggelengkan pelan. "Lucu sekali mereka."
Sementara itu, dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya tak ada percakapan di antara mereka. Keduanya bungkam, tetapi tidak dengan hati dan pikiran yang berisik.
"Perasaan apa, ini?" Zeya memegang dadanya sebelah kiri terasa berdegub kencang.
.emaknya datang😁