NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Suasana di kantor pusat perusahaan tempat Bagas bekerja pagi itu tampak begitu riuh. Di dalam ruang rapat utama yang berdinding kaca tebal, jajaran direksi dan kepala divisi memberikan tepuk tangan yang meriah. Bagas berdiri di samping meja rapat dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Dadanya membusung tegak, dipenuhi rasa bangga yang luar biasa setelah manajer area baru saja mengumumkan bahwa proyek pembangunan cabang luar kota yang ia pimpin berhasil menembus target efisiensi tertinggi tahun ini.

​"Selamat, Bagas. Performa kamu bulan ini benar-benar luar biasa," ucap sang manajer area sembari menjabat erat tangan Bagas dan menyerahkan sebuah map kulit hitam eksklusif serta seutas kunci mobil dengan logo perak yang berkilau. "Perusahaan sangat mengapresiasi kerja kerasmu. Sesuai janji manajemen, ini bonus tahunan dan fasilitas mobil dinas baru tipe MPV keluaran terbaru untuk mendukung mobilitas kerjamu. Semoga kariermu semakin cemerlang ke depannya."

​"Terima kasih banyak, Pak. Ini semua berkat bimbingan Bapak dan kerja keras saya selama ini," jawab Bagas dengan nada suara yang sengaja dibuat berwibawa, meskipun di dalam hatinya ia sudah bersorak kegirangan.

​Begitu rapat selesai, Bagas langsung melangkah keluar menuju area parkir khusus manajemen. Di sana, sebuah mobil baru berwarna hitam metalik yang masih wangi dealer sudah terparkir rapi. Pria itu masuk ke dalam kabin mobil, menghirup aroma jok kulit yang mewah, dan mencengkeram kemudi dengan perasaan menang yang mutlak. Di dalam benaknya yang sempit, keberhasilan ini adalah pembuktian tertinggi bahwa dirinya adalah pusat semesta.

​"Lihat ini, Dinda," gumam Bagas sinis, menatap kunci mobil di tangannya. "Kamu kabur ke rumah kakakmu karena mengira aku akan kesusahan tanpa kateringmu? Sekarang lihat! Karierku melejit, jabatanku aman, dan aku bahkan punya mobil baru sekarang. Kamu yang rugi besar sudah menyia-nyiakan suami sukses seperti aku!"

​Dengan perasaan di atas angin yang semakin membumbung tinggi, Bagas memacu mobil barunya membelah jalanan kota menuju rumah ibunya siang itu. Ia sengaja ingin memberikan kejutan besar bagi wanita tua yang selalu mendukung keegoannya.

​Sesampainya di halaman rumah sang ibu, Bagas sengaja membunyikan klakson mobilnya beberapa kali. Ibunya yang sedang menjahit di ruang tengah langsung tergesa-gesa keluar dengan wajah heran. Namun, begitu melihat anak laki-lakinya turun dari pintu kemudi sebuah mobil hitam yang mengkilap, mata wanita tua itu langsung melebar sempurna.

​"Ya Allah, Gas! Mobil siapa ini?!" seru ibunya, berjalan cepat mendekati mobil tersebut dan meraba permukaannya yang mulus dengan tangan gemetar penuh kekaguman.

​Bagas tersenyum sombong, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya. "Ini mobil Bagas, Bu. Bonus dari kantor karena proyek Bagas berhasil tembus target terbesar bulan ini. Mulai hari ini, Bagas sudah naik level di kantor, dapat fasilitas dinas penuh, dan bonus bulanan Bagas juga naik dua kali lipat."

​Ibunya langsung memeluk Bagas dengan tawa gembira yang melengking. "Aduh, anak Ibu memang hebat! Laki-laki sukses seperti kamu ini memang tidak tertandingi! Ibu bilang juga apa, Gas? Kamu itu pembawa keberuntungan.

Untung saja si Dinda yang sial itu sudah pergi dari hidupmu! Begitu dia angkat kaki, rezekimu langsung mengalir deras seperti air bah!"

​Wanita tua itu menatap mobil baru anaknya dengan pandangan angkuh. "Biar tahu rasa dia sekarang! Biarkan dia membusuk menumpang di rumah Danu sembari berjualan nasi kotak recehannya itu. Kalau dia tahu kamu sekarang sudah punya mobil dan kariermu cemerlang begini, dia pasti akan menangis darah dan sujud-sujud di kakimu minta balikan!"

​Bagas mengangguk setuju dengan tawa sinis yang menggema di teras rumah. Hasutan ibunya terasa seperti bahan bakar yang membuat egonya terbakar semakin tinggi. Di dalam pikiran mereka berdua, keberhasilan materi ini adalah bukti bahwa keputusan mereka untuk mendepak Adinda adalah hal yang paling benar. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa di sudut kota yang lain, Adinda sedang melangkah menuju sebuah tempat yang akan meruntuhkan seluruh dunia ilusi mereka.

​Pukul dua siang tepat, sebuah taksi berhenti di depan gerbang gedung Pengadilan Agama yang tampak ramai oleh lalu lalang orang yang mengurus urusan hukum keluarga.

​Pintu taksi terbuka. Adinda melangkah turun terlebih dahulu. Siang itu, ia tampil sangat bersahaja namun memancarkan aura ketegasan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia mengenakan gamis batik gelap dengan jilbab instan hitam yang rapi. Di samping kanan dan kirinya, Mas Danu dan Mbak Anita mendampingi dengan langkah yang mantap, memberikan perlindungan moral yang sangat kuat bagi Adinda.

​Di dalam lobi gedung yang bernuansa formal, mereka sudah ditunggu oleh Pak Baskoro yang tampil rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Pria paruh baya itu tersenyum menyambut kedatangan klien dan sahabat lamanya.

​"Bagaimana, Bu Adinda? Sudah mantap hari ini untuk mendaftarkan gugatannya?" tanya Pak Baskoro dengan nada suara yang tenang namun penuh kepastian profesional.

​"Sudah sangat mantap, Pak. Dinda sudah ndak punya keraguan sedikit pun," jawab Adinda dengan suara yang jernih, tanpa ada getaran ketakutan lagi di dalamnya.

​Mereka berempat kemudian berjalan menuju ruang konsultasi hukum yang lebih privat untuk memeriksa draf gugatan terakhir sebelum diserahkan ke loket pendaftaran. Pak Baskoro membuka map dokumen, membolak-balik lembaran kertas yang berisi poin-poin tuntutan yang telah disusun.

​"Bu Adinda, berdasarkan draf yang kita sepakati kemarin, di sini tertulis bahwa Anda sama sekali tidak menuntut harta gono-gini dalam bentuk apa pun.

Apakah Anda benar-benar yakin dengan keputusan ini?" tanya Pak Baskoro memastikan sekali lagi, menatap lekat mata Adinda di balik kacamata peraknya.

​Adinda mengangguk pelan namun pasti. Seulas senyum tipis yang dipenuhi rasa tahu diri terukir di wajahnya. "Saya sangat yakin, Pak Baskoro. Saya sadar betul siapa diri saya dan apa yang kami miliki selama belasan tahun ini. Selama pernikahan, kami ndak punya aset apa-apa. Rumah yang kami tempati itu masih ngontrak, perabotan di dalamnya sebagian besar juga alat katering yang saya beli sendiri dari sisa keuntungan usaha. Mas Bagas cuma punya satu motor sport yang cicilannya pun sering tersendat. Uang tabungan bersama juga ndak ada. Jadi, apa yang mau saya tuntut?"

​Adinda menghela napas pendek, pandangannya beralih menatap Mas Danu yang mengangguk mendukungnya. "Saya ndak mau mempersulit proses ini dengan meributkan barang yang ndak ada nilainya, Pak. Saya ndak butuh uang atau harta dari dia untuk memulai hidup baru. Hasil keringat saya dari katering kecil-kecilan di kontrakan baru sudah lebih dari cukup untuk memberi makan saya dan anak saya. Saya cuma mau satu hal: hak asuh anak."

​Pak Baskoro tersenyum kagum melihat kemuliaan hati dan keteguhan prinsip wanita di hadapannya. "Baik, Bu Adinda. Keputusan Anda ini sebenarnya sangat cerdas secara taktik hukum. Karena kita tidak menuntut harta gono-gini, proses persidangan akan berjalan jauh lebih cepat dan efisien. Pihak lawan tidak akan punya celah untuk mengulur-ulur waktu dengan memperdebatkan pembagian aset yang memang tidak ada."

​Pak Baskoro kemudian menunjuk poin utama di lembar kedua draf gugatan tersebut. "Fokus kita sepenuhnya ada di sini: hak asuh mutlak atas Dimas. Dengan usia Dimas yang sudah beranjak remaja dan secara hukum memiliki hak untuk memilih ikut siapa, ditambah bukti kuat mengenai kelalaian nafkah dan tekanan psikologis yang dilakukan oleh ayahnya, saya jamin seratus persen majelis hakim akan menjatuhkan hak asuh penuh ke tangan Anda."

​"Bagaimana dengan nafkah anak pasca cerai?" tanya Mas Danu ikut bersuara, menatap pengacaranya.

​"Itu sudah otomatis melekat pada hak asuh, Nu," jelas Pak Baskoro. "Kita menuntut nominal nafkah bulanan untuk pendidikan dan masa depan Dimas disesuaikan dengan kemampuan gaji Bagas sebagai karyawan kantor. Dia tidak akan bisa mengelak dari kewajiban ini karena hukum mengikatnya secara mutlak sebagai ayah kandung."

​Setelah semua berkas dipastikan sempurna, Pak Baskoro bangkit dari duduknya. "Mari kita ke loket pendaftaran utama untuk menyerahkan berkas dan membayar panjar biaya perkara."

​Adinda berdiri dari kursinya. Langkah kakinya terasa begitu ringan saat berjalan menyusuri koridor pengadilan menuju loket pendaftaran. Mbak Anita berjalan di sampingnya, merangkul pundak Adinda dengan erat seolah ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adiknya hari ini adalah langkah menuju kemerdekaan yang sejati.

​Di depan loket pendaftaran, Adinda menyerahkan map berkas gugatan cerainya kepada petugas pengadilan. Saat petugas itu stempel lembar pertama berkas dengan bunyi plak yang nyaring, Adinda memejamkan matanya sejenak. Di dalam hatinya, ia membisikkan doa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta. Lembaran penderitaan belasan tahun di bawah bayang-bayang keegoisan Bagas kini telah resmi ditutup secara hukum.

​Adinda melangkah keluar dari gedung Pengadilan Agama dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia sama sekali tidak tahu—dan tidak mau ambil pusing lagi—tentang apa yang sedang dilakukan Bagas di luar sana saat ini. Apakah pria itu sedang bersenang-senang, kembali mengadu pada ibunya, atau justru sedang menikmati rutinitas kantornya yang biasa, semua itu sudah bukan lagi urusannya. Baginya, sosok Bagas telah menjadi masa lalu yang tak perlu lagi ia tengok. Adinda hanya ingin fokus menatap masa depannya yang baru bersama Dimas. Perempuan itu tersenyum tipis sembari menatap langit siang yang cerah; ia tahu, tidak lama lagi, surat resmi dari pengadilan dengan cap basah ini akan datang mengetuk pintu rumah ibu Bagas, membawa badai keadilan yang akan meruntuhkan seluruh dunia kebohongan dan kesombongan mantan suaminya itu hingga ke titik terendah.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!