NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20- Pendamping

"Apa!?"

Suara Bara meninggi satu nada karena refleks akibat rasa terkejut yang luar biasa. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia yakin jika Alena bisa mendengarnya di dalam keheningan toko yang porak-poranda ini.

Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan rasa sungkan yang amat sangat. Bara cepat-cepat menurunkan pandangannya ke lantai, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Tidak, Nona... Saya tidak pantas," bisik Bara, dengan suara yang mendadak parau. Ada gurat penolakan yang lahir dari rasa rendah diri di wajahnya.

Namun, Alena tidak mundur. Ia justru melipat tangannya di dada, sambil menatap reaksi pria di hadapannya dengan binar geli sekaligus penasaran.

"Kenapa? Apa kamu merasa jika aku tidak pantas menjadi pendampingmu?" tanya Alena, dengan sengaja menekankan kata terakhirnya.

"Pendamping!?"

Bara mendongak sejenak, bahkan matanya membelalak lebar. Kata 'pendamping' terasa begitu besar, begitu sakral, dan sama sekali tidak pernah berani ia bayangkan sebelumnya.

Pria itu seketika gelagapan, telinganya pun perlahan berubah jadi merah merona.

"B-bukan begitu, Nona Alena. Tolong jangan salah paham," ujar Bara terbata-bata, sambil meremas jemarinya sendiri untuk mengurangi rasa gugupnya.

"Saya hanya... saya hanya merasa diri saya tidak pantas untuk Nona. Saya ini hanya orang biasa yang membawa banyak masalah keluarga. Bahkan hari ini, saya terbukti tidak bisa melindungi Nona dari gangguan mereka sejak awal. Bagaimana mungkin saya..."

Sebelum Bara sempat menyelesaikan kalimat pembelaan dirinya yang panjang lebar, Alena melangkah maju, hingga jarak di antara mereka kini terkikis habis.

Alena berdiri begitu dekat, hingga Bara bisa mencium keharuman lembut bunga melati yang menguar dari rambut wanita itu.

Mau tidak mau, Bara terpaksa mengangkat wajahnya dan menatap lekat-lekat paras jelita Alena yang kini terpaut hanya beberapa jengkal darinya.

Alena tidak tampak marah ataupun ragu. Sebaliknya, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus dan menenangkan kini terukir di wajahnya. Sebuah senyuman yang seolah menyalurkan keyakinan mutlak ke dalam dada Bara yang sedang bergemuruh.

"Kamu orang yang baik, dan itu sudah lebih dari cukup untukku, Bara," ucap Alena meyakinkan Bara.

Mendengar pengakuan yang begitu jujur, Bara pun terpaku. Semburat merah yang tadinya hanya ada di ujung telinganya, kini menjalar cepat memenuhi seluruh pipinya.

Menyadari hal itu, ia pun membuang muka ke samping dan mencoba menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas karena tersipu malu setelah baru saja "ditembak" secara langsung oleh Alena.

"Apakah ini mimpi?," gumam Bara sembari menepuk nepuk pipinya.

Melihat reaksi Bara yang begitu polos dan tulus, Alena pun tak kuasa menahan senyumnya.

Di balik sikap tangguh Bara saat mengusir para preman tadi, pria ini ternyata masih memiliki sisi lugu yang tidak pernah berubah.

_______

_____________

Lanjut...

Momen hening yang manis itu berlanjut selama beberapa saat. Di dalam hati, Alena merasakan keyakinan yang semakin mantap mengakar di dadanya, jika Bara adalah orang yang tepat.

Bagi Alena, keputusan ini bukan sekadar taktik untuk menghadapi ibu tiri Bara yang licik atau Mico yang culas. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada rahasia besar yang selama ini ia kunci rapat-rapat dari dunia luar.

Alena yang bukanlah wanita biasa. Dimana di masa lalu, namanya pernah disegani di dalam lingkaran hitam yang dingin dan penuh darah. Dunia mafia yang telah merenggut banyak hal darinya.

Ia telah bersumpah untuk meninggalkan takdir kelam itu, membuang identitas lamanya, dan menguburnya dalam-dalam demi bisa menjalani kehidupan yang tenang, damai, dan sederhana sebagai seorang pemilik toko bunga biasa.

Dan Bara... pria dengan kepribadian yang jujur, sopan, dan tulus ini adalah pelengkap sempurna yang ia butuhkan.

Menjadi pendamping hidup, Bara tidak hanya akan memberikan perlindungan bagi mereka berdua dari gangguan luar, tetapi juga menjadi jangkar bagi Alena untuk tetap berpijak di dunia barunya yang damai ini.

Bersama Bara, Alena merasa identitas masa lalunya sebagai mantan petinggi dunia bawah akan tetap aman terkubur selamanya.

"Bagaimana, Bara?" tanya Alena lagi, hingga membuyarkan lamunan pria yang masih salah tingkah di depannya itu. "Apakah kamu bersedia membantu dan mendampingiku?"

Bara menarik napas panjang sekali dan mencoba menetralkan detak jantungnya yang menggila.

Kemudian Ia menatap Alena kembali, kali ini dengan binar mata yang tidak lagi dipenuhi keraguan, melainkan sebuah kepasrahan yang manis dan rasa tanggung jawab yang besar.

"Jika... jika Nona Alena memang memercayai saya sekecil itu," ucap Bara perlahan, "Maka mulai detik ini, hidup saya adalah milik Anda. Saya akan menjaga Anda dengan seluruh jiwa saya."

**

Sore itu, di antara sisa-sisa kelopak mawar yang hancur dan genangan air di lantai keramik, sebuah janji besar baru saja terucap.

Bara berdiri tegak dengan tatapan mata yang kini sepenuhnya berubah. Tidak ada lagi keraguan atau rasa rendah diri yang tadi sempat menyelimutinya. Tatapannya kini lurus, dalam, dan dipenuhi oleh tekad mutlak untuk melindungi wanita di hadapannya.

Alena pun tersenyum tipis mendengar jawaban Bara. Perasaan hangat dan lega yang sudah lama tidak ia rasakan kini perlahan mengalir di dadanya.

"Terima kasih, Bara," ucap Alena. Ia lalu melirik sekeliling tokonya yang hancur, lalu mengembuskan napas panjang. "Nah, karena sekarang kita sudah berada di kapal yang sama, hal pertama yang harus kita lakukan adalah... membereskan kekacauan ini."

Seketika Bara langsung tersentak dari lamunannya. Sikapnya pun kembali sigap layaknya seorang asisten yang sangat patuh.

"Ah, benar! Nona Alena, tolong biarkan saya yang membersihkan semua ini. Anda duduk saja di sana dan istirahat," ujar Bara panik, yang langsung membungkuk untuk memungut pecahan pot tanah liat terbesar di dekat kakinya.

"Hei, tidak usah sekaku itu. Kita lakukan bersama-sama," potong Alena dengan kekehan kecil. Ia lalu mengambil sapu dan sekop sampah dari sudut ruangan dan mulai menyapu tanah yang berserakan.

Sambil bekerja berdampingan pikiran Alena mulai menyusun rencana. Kehadiran Bara yang kini resmi menjadi "pasangannya" adalah perisai terbaik untuk menepis kecurigaan dari masa lalu.

Namun, Alena juga tau bahwa ibu tiri Bara dan adiknya, Mico, tidak akan tinggal diam setelah rencana mereka hari ini digagalkan dengan uang tiga miliar rupiah.

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!