Cahaya redup membimbing langkah Sheva di keheningan malam. Desir angin menusuk hangat di langit malam yang muram. Tepian laut yang berbisik dengan keras. Meski dalam kesakitan, dia menunjukkan kekuatan yang rapuh. Ada sebuah suara yang terus berbisik di telinganya.
"Tinggalkan dunia, kamu hanya sampah, dirimu tidak berharga, tidak ada gunanya kamu hidup, kamu harus mati. Kamu harus mati!" Suara itu terus memprovokasi.
"Stop, hentikan! Kamu yang di sana, tolong berhenti!" teriakan seorang pria di belakangnya tidak membuat Sheva menghentikan langkahnya.
Sheva terus mengikuti gemuruh bisikan yang memenuhi relung hatinya yang kosong. Sheva terus berjalan di atas tebing yang menjulang dan mengapit jalan ke arah pantai sehingga terlihat seperti jurang.
Tubuh Sheva terhempas karang, keningnya terbentur benda keras, darah segar mengucur deras. Pandangannya menghitam, dengan senyum terukir dalam hati Sheva berkata 'selamat tinggal dunia'.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Perpisahan
"Sheva, mari kita berpisah!"
JGEERR!
JGEERR!
Kalimat sakti yang keluar dari mulut Arkan mampu menyambar, memporak porandakan hati dan meluluh lantakkan perasaan Sheva. Hatinya yang sudah rapuh karena terlalu banyak diterjang badai ujian kehidupan kini hancur berkeping-keping. Sheva menemukan kejelasan dalam kebingungannya. Sheva juga merasakan kenyamanan dalam ketidaknyamanannya.
Sheva mengambil nafas sebanyak mungkin, Sheva berusaha tetap tegar dan sabar di hadapan Arkan. Dengan sedikit menahan gemuruh di dada, Sheva dengan tenang mengucapkan salam perpisahan untuk Arkan.
"Kak Arkan terima kasih banyak atas kebaikanmu selama ini. Terima kasih atas cinta yang telah Kak Arkan berikan. Selama bertahun-tahun aku hidup dianggap anak haram oleh Ayah dan ternyata aku mendapatkan satu julukan baru dari suamiku yaitu pembawa sial. Mungkin kata maaf pun tidak akan menghapus kesalahanku kepada Kak Arkan. Satu hal yang perlu Kak Arkan tahu, aku sangat menyayangi Junior, dia juga darah dagingku. Jika Kak Arkan ingin aku menebus Junior dengan nyawaku aku juga bersedia Kak. Terima kasih untuk semuanya." Sheva melepas kalung dan cincin yang pernah diberikan Arkan, dia menaruhnya di atas meja kerja Arkan.
Perlahan Sheva keluar dari ruangan Arkan. Sheva kemudian mempercepat langkah kakinya menuju lift. Sheva berjalan meninggalkan Perusahaan tempat Arkan selama ini membuang waktunya. Arkan seolah tidak betah di rumah. Sheva semakin jauh berjalan.
Tiba-tiba sebuah mobil merah mendekati Sheva. Perlahan kaca mobil diturunkan.
"Sheva ayo masuk." Ahsan menjulurkan kepalanya.
Tapi Sheva hanya diam. Ahsan keluar dari mobilnya. Kemudian menuntun Sheva untuk masuk ke dalam mobilnya. Ahsan melajukan mobil di dalam keramaian.
"Sheva, maaf. Aku tadi mendengar semua pembicaraan kalian. Jujur itu ketidak sengajaan." Ahsan memandangi Sheva.
"Menangis lah, aku tidak akan melihat." Ahsan fokus ke jalan.
Sheva tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Sheva membuang rasa malunya. Biarlah saat ini Ahsan menyaksikan betapa sakit, kecewa, hancur, putus asa dirinya. Sheva hanya bisa menangis. Kepada siapa dirinya bisa mengadu. Ahsan akhirnya berhenti di sebuah hotel. Di depan hotel sudah menunggu Bunda Nida.
"Sheva, saran ku sekarang pergilah bersama Bunda. Aku akan tutup mulut, anggap malam ini kita tidak pernah bertemu. Tapi satu hal yang aku ingatkan kepadamu. Arkan tidak sejahat itu, aku berani menjamin. Dia sangat mencintaimu. Sekarang dia hanya sakit kehilangan anaknya. Aku mohon tolong bersabar, tunggulah Arkan. Please." Ahsan mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Sheva.
"Aku tidak janji Kak. Kaca yang sudah pecah walaupun sudah disatukan pasti akan meninggalkan bekas dan tidak akan utuh. AAAGGHHH!" Sheva memegang perutnya yang tiba-tiba nyeri.
"Apa kita ke rumah sakit sekarang?" wajah Ahsan pucat melihat keadaan Sheva.
"Kak Ahsan, aku juga minta maaf kalau selama ini sudah menyusahkan Kak Ahsan. Kita tidak bisa memprediksi maut dan usia seseorang Kak." Sheva keluar dari mobil berjalan ke arah Bunda Nida.
"Ahsan terima kasih sudah mengantarkan Sheva," ucap Bunda Nida.
"Sama-sama Bund. Perut Sheva Bund perlu diberi pengobatan." Ahsan masih mengkhawatirkan keadaan Sheva.
"Iya, akan segera Bunda bawa ke rumah sakit."
Ahsan kemudian berpamitan. Sepanjang perjalanan Ahsan masih memikirkan kata-kata terakhir Sheva. Apakah Sheva berniat akan mengakhiri hidup seperti sebelumnya. Ahsan kembali ke kantor menemui Arkan. Arkan masih berada di dalam ruangannya. Arkan duduk sambil memegangi kalung dan cincin Sheva.
"Arkan, apa kamu serius melepaskan Sheva?" tanya Ahsan.
Arkan tidak menjawab.
"Arkan, sekali lagi. Apa kamu serius melepaskan Sheva!" Kali ini Ahsan sedikit berteriak.
Arkan masih enggan membuka mulutnya.
"Maaf, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Aku bertemu Sheva di bawah. Dia meminta maaf kepada ku seolah-olah dia akan pergi untuk selama-lamanya," kata Ahsan.
Arkan seolah tidak perduli, dia masih diam.
"Sungguh miris nasib Sheva, baru saja ditinggal pergi ayah yang selama ini menganggap dia anak haram, disusul meninggalnya anak yang baru saja dilahirkan dengan penuh perjuangan. Tidak disangka suaminya sendiri menganggap dirinya pembawa sial. Ini surat pengunduran diriku. Mulai besok aku berhenti." Ahsan meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja. Ahsan dengan mantap meninggalkan Arkan yang masih diam sendirian.
Arkan masih memegangi kalung dan cincin Sheva. Arkan yakin Sheva tidak akan pergi meninggalkannya. Sheva tidak mempunyai tempat tujuan. Arkan mendapat telepon dari Papa Adlan yang menanyakan dimana Sheva. Sudah larut malam Sheva tidak pulang. Sheva juga tidak membawa dompet dan juga ponselnya.
Arkan ingat hotel tempat Bunda Nida menginap. Arkan segera mengambil kunci mobil dan turun ke tempat parkiran. Segera Arkan menuju hotel Bunda Nida. Setibanya di sana Arkan sama sekali tidak menemukan Sheva. Bunda Nida bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dengan jantan Arkan mengakui bahwa dia ingin berpisah dengan Sheva.
Berpisah di sini bukan ingin bercerai. Arkan cuma ingin berpisah sementara dengan Sheva. Emosi Bunda Nida meledak-ledak. Arkan sudah melukai perasaan Sheva. Apa yang akan terjadi kepada Sheva. Apakah Arkan mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Sheva.
Arkan yang penasaran memeriksa kamar bunda Nida siapa tahu Sheva bersembunyi di sana. Tapi Sheva memang tidak berada di sana. Bunda Nida mengusir Arkan. Arkan akhirnya meninggalkan hotel tempat bunda Nida menginap. Arkan terus mencari Sheva berkeliling kota, di jalanan, di pinggir sungai. Arkan menghubungi Ahsan lewat ponselnya.
"Halo." Terdengar suara Ahsan.
"Tolong! Tolong jangan tinggalkan aku. Tolong!" Arkan tak kuasa menangis.
"Maaf. Aku sudah meninggalkan Kota A. Sampai berjumpa lagi Arkan."
TUT! TUT! TUT!
Lengkap sudah penderitaan Arkan. Sheva Menghilang, sahabat sekaligus Assistennya Ahsan juga pergi meninggalkannya. Arkan melajukan mobilnya menuju kediaman keluarganya. Setibanya di rumah, Arkan diserang beribu pertanyaan oleh kedua orang tuanya. Dengan sabar Arkan menceritakan tentang keinginannya berpisah dengan Sheva. Sontak kedua orang tuanya lemas. Mereka tidak menyangka Arkan akan berbuat sejauh itu.
"Apa alasan mu untuk berpisah dengan Sheva? Salah Sheva dimana Nak?" tanya Mama Hilla.
"Karena kesialan hidupnya Anak Arkan meninggal Ma." Jawab Arkan.
"Apa kamu bilang? Kesialan hidup?" Papa Adlan mengernyitkan keningnya.
"Kalau tidak sial apa coba namanya." Jawab Arkan.
"Arkan, itu bukan kesialan. Itu cobaan hidup yang harus Sheva jalani. Mama tidak habis pikir, kok bisa-bisanya kamu menyalahkan Sheva atas kematian Junior. Mama kecewa sama kamu!" Mama Hilla berlalu.
"Papa juga kecewa sama kamu. Sheva juga sudah pergi. Papa harap kamu bahagia menjalani hidupmu. Semoga Sheva mendapatkan pengganti yang lebih baik dari dirimu," kata Papa Adlan.
"Apa maksud Papa?"
"Bukankah kamu ingin berpisah dengan Sheva? Papa yakin di luar sana banyak yang menginginkan Sheva. Doa Papa selalu bersamanya. Sheva dimana pun kamu berada, Papa harap kamu menemukan kebahagiaan." Papa Adlan pergi meninggalkan Arkan.
"Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan. Sheva dimana dirimu?" Arkan dengan penuh penyesalan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...