Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di sebuah rumah sederhana yang terasa sepi, ibu Hayu di rumah langsung marah ketika mengetahui ia diblokir oleh putrinya sendiri.
Berkali-kali ia mencoba mengirim pesan, namun hanya muncul tanda centang satu.
Saat mencoba menelepon, suara operator yang dingin terus-menerus mengatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi.
"Kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung!" teriaknya sambil membanting ponselnya ke atas sofa kusam.
"Sudah berani dia memblokir ibunya sendiri? Padahal aku butuh uang itu segera!"
Ia mondar-mandir di ruang tamu dengan napas memburu. Dalam benaknya, Hayu hanyalah "mesin uang" yang wajib menanggung beban hidupnya sebagai balasan karena telah dilahirkan.
Ia tidak pernah merasa bersalah telah mengusir Hayu dulu; baginya, itu adalah cara "mendidik" agar Hayu bekerja lebih keras.
Namun, ada satu fakta besar yang luput dari pengetahuannya.
Ibu Hayu masih belum tahu jika Hayu sudah menikah dengan Rizal, apalagi mengetahui bahwa suaminya adalah seorang petinggi di Firdaus Group.
Di kepalanya, Hayu mungkin hanya bekerja sebagai staf biasa atau simpanan orang kaya yang kini mulai bersikap sombong karena punya sedikit uang.
"Lihat saja nanti. Kalau aku tidak bisa menghubunginya lewat telepon, aku akan mencarinya ke tempat kerjanya yang dulu," gumamnya dengan niat jahat.
"Dia tidak bisa lari dariku begitu saja!"
Ia tidak menyadari bahwa tindakannya kali ini akan membentur dinding beton yang sangat keras.
Rizal bukan hanya seorang suami, tapi pelindung yang siap menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan Hayu, termasuk ibu kandungnya sendiri.
Sementara itu di tempat lain, Hayu ingin makan martabak telur.
Ia menatap Rizal dengan tatapan penuh harap, dan Rizal, yang selalu siaga memenuhi keinginan istrinya—apalagi di saat bedrest seperti ini—langsung bereaksi.
Rizal tanpa basa-basi langsung menghubungi Riska agar mengantarkan martabak ke rumah sakit.
Ia memberikan instruksi singkat namun jelas, tidak peduli meskipun Riska mungkin sedang sibuk dengan dokumen kantor.
Bagi Rizal, kepuasan Hayu adalah prioritas nomor satu.
Riska dengan cepat langsung menuju ke penjual martabak terdekat yang paling enak di kota.
Ia memastikan martabak yang dibeli adalah yang spesial, dengan telur bebek dan daging yang melimpah, sesuai dengan selera bosnya.
Satu jam kemudian, Riska datang membawa martabak yang masih hangat. Ia mengetuk pintu ruang perawatan dengan sopan dan menyerahkan bungkusan itu kepada Rizal.
"Ini martabaknya, Pak Rizal, Bu Hayu. Masih panas," ujar Riska sebelum pamit kembali untuk berjaga di luar.
Rizal membukanya, dan aroma martabak menyebar dengan cepat memenuhi seluruh ruangan.
Aroma gurih telur yang digoreng, rempah daging, dan daun bawang yang harum seketika menggugah selera.
Rizal mengambil sepotong yang paling renyah, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu menyuapkannya kepada Hayu.
"Pelan-pelan, Sayang. Masih panas," bisik Rizal.
Hayu menerima suapan itu dengan mata berbinar.
Rasa gurih dan tekstur martabak yang renyah seolah menjadi obat penghibur di tengah rasa bosannya harus berbaring terus.
Rizal tersenyum lega melihat Hayu bisa makan dengan lahap, melupakan sejenak beban pikiran tentang ibunya.
Setelah kotak martabak itu kosong dan Hayu terlihat jauh lebih tenang, Rizal segera membereskan sisa makanan tersebut.
Ia tidak ingin aroma makanan yang terlalu kuat nantinya malah membuat Hayu merasa mual kembali.
Selesai makan, Rizal meminta istrinya untuk kembali istirahat.
Ia membantu Hayu membetulkan posisi bantalnya agar lebih nyaman dan menyelimutinya dengan lembut.
"Sudah kenyang, hm? Sekarang waktunya tidur lagi. Tubuhmu butuh energi untuk pulih, dan si kecil juga butuh kamu istirahat," ucap Rizal sambil mengusap kening Hayu.
Hayu yang merasa perutnya sudah tenang dan hatinya merasa dilindungi, hanya mengangguk patuh.
Efek obat dari dokter dan rasa kenyang membuatnya mulai merasa kantuk yang berat.
Rizal mengecilkan lampu ruangan, menciptakan suasana yang lebih redup dan nyaman.
Ia kembali duduk di kursi samping tempat tidur, menggenggam tangan istrinya sampai napas Hayu terdengar teratur, menandakan ia sudah terlelap.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai masuk melalui celah gorden ruang VIP rumah sakit.
Hayu terbangun lebih dulu dan merasakan gejolak yang sangat tidak nyaman di perutnya.
Rasa mual itu kembali menyerang dengan lebih hebat.
Karena instruksi dokter kemarin bahwa ia hanya boleh turun dari tempat tidur untuk ke kamar mandi, Hayu membangunkan suaminya dan memintanya untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
"Mas, Mas Rizal, bangun. Tolong antar aku ke kamar mandi," bisik Hayu sambil menahan rasa mual yang sudah sampai di kerongkongan.
Rizal yang memang tidurnya tidak nyenyak karena berjaga, langsung terjaga seketika.
Tanpa memedulikan nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya, ia dengan sigap membantu Hayu turun dari ranjang dan memapahnya dengan sangat hati-hati menuju kamar mandi.
Baru saja sampai di depan wastafel, ia kembali mual dan memuntahkan semuanya.
Tubuh Hayu lemas, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Rizal dengan penuh kesabaran memijat tengkuk istrinya dan membantu membersihkan sisa-sisa muntahan.
Wajahnya kembali diliputi kecemasan melihat kondisi Hayu yang tampak begitu menderita.
"Sabar ya, Sayang. Keluarin saja semuanya kalau memang masih mual," ucap Rizal lembut sambil terus memberikan dukungan.
Setelah merasa sedikit lega, Rizal membasuh wajah Hayu dengan air hangat dan membopongnya kembali ke tempat tidur.
Ia segera menekan tombol panggilan untuk memanggil perawat, khawatir jika mual yang berlebihan ini akan memengaruhi kondisi janin yang baru saja melewati masa kritis kemarin.
Tak lama setelah Rizal menekan tombol darurat, seorang perawat datang dan langsung memeriksa keadaan Hayu.
Perawat tersebut dengan cekatan memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan denyut nadi Hayu untuk memastikan tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau syok pasca mual yang hebat tadi.
"Tenang ya, Bu Hayu. Tarik napas perlahan," ucap perawat itu sambil memasangkan kembali alat pemantau di lengan Hayu.
Rizal berdiri di samping ranjang dengan wajah tegang, memperhatikan setiap gerak-gerik perawat.
"Sus, kenapa mualnya parah sekali? Padahal kemarin sudah agak tenang," tanya Rizal cemas.
Perawat itu menoleh ke arah Rizal dengan senyum menenangkan.
"Ini hal yang wajar bagi ibu hamil di trimester pertama, Pak. Apalagi Bu Hayu baru saja mengalami trauma fisik dan stres kemarin, jadi sensitivitas lambungnya meningkat. Kami akan berikan obat anti-mual melalui infus agar cairannya tetap terjaga."
Perawat kemudian mengganti botol infus Hayu dan menyuntikkan obat tambahan ke dalam selang.
"Ibu jangan dipaksakan makan berat dulu ya. Minum air hangat sedikit-sedikit saja."
Setelah memastikan kondisi Hayu stabil, perawat itu merapikan peralatan medisnya.
"Saya akan laporkan ke dokter agar nanti saat visite bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bapak tolong terus pantau asupan cairannya ya."
Rizal menganggukkan kepalanya, merasa sedikit lega namun tetap tidak ingin melepaskan pandangannya dari Hayu.
Ia mengusap sisa keringat dingin di dahi istrinya.
"Dengar kan, Sayang? Kamu harus benar-benar tenang. Jangan pikirkan apa-apa lagi," bisik Rizal penuh kasih.