Karya ini merupakan karya jalur kreatif.
Nanji Laoren sedang diambang kematian oleh penyakit kronis ketika bertemu dengan sistem misterius yang dapat memperpanjang umurnya.
Sistem misterius yang menamakan diri sebagai sistem panjang umur membawa Nanji Laoren ke dunia baru–yang penuh dengan konspirasi, pertempuran kekuasaan, dan rahasia kelam masa lalu.
Seiring waktu, Nanji Laoren terjebak dalam pusaran waktu kompleks, dimana harus memilih antara kesetiaan terhadap wanita dan keinginan untuk hidup abadi selamanya.
Apakah hidup tanpa akhir bisa memberikan makna sejati bagi Nanji Laoren? Atau kebahagiaan sejati Nanji Laoren justru ada dalam momen-momen terbatas bersama wanita yang dicintainya?
Simak perjalanan Nanji Laoren dalam Sistem Panjang Umur. Hanya terbit di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Dasar Beladiri
Tiga hari kemudian, Bao Xing menghubungi Nanji untuk mewujudkan rencananya–mengajari Nanji beda diri dasar. Sebagai pemegang sabuk hitam taekwondo dan menguasai beberapa cabang bela diri lain, Bao Xing lebih mudah melatih Nanji. Ia memilih gerakan pertahanan dan serangan balik yang diperlukan pada situasi-situasi darurat lebih dulu.
Shou sebagai pemandu sistem, nyatanya tidak tinggal diam. Sistem berbaik hati meningkatkan kemampuan tuan rumahnya yang semula 40% menjadi 50%.
Nanji sangat gembira merasakan perubahan kekuatan pada tubuhnya. Bukan hanya usianya yang bertambah, tapi kualitas tubuhnya juga meningkat seiring waktu.
Kegembiraan Nanji terasa lengkap sudah. Perayaan Imlek di rumah Paman Wu pun berjalan seperti keinginannya. Penuh dengan nuansa kekeluargaan dan kedamaian. Ia merasa hidupnya yang indah telah kembali 80%.
“Kyaaaa!” Nanji berteriak keras dalam latihan, penuh tekad dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Bao Xing merasakan kekuatan yang berbeda saat menjajal latihan dasar bertahan dan menyerang dari teknik kungfu. Nanji bisa membuka kuncian, dan sukses membantingnya ke atas matras.
“Bagus sekali, Tuan! Anda memanfaatkan kekuatan lawan dengan membaliknya menjadi kelemahan.”
“Aku hanya mengikuti apa yang kau ajarkan!” tukas Nanji. Ia mengulurkan tangan pada Bao Xing, membantunya berdiri.
“Aku rasa latihan hari ini cukup. Anda cepat sekali belajar dan sudah menguasai beberapa teknik dasar menyerang dan bertahan hanya dalam beberapa jam saja.”
“Aku harus terus berlatih keras, Bao! Jadi aku tidak perlu terlalu khawatir jika kau tidak ada di sampingku.”
Bao Xing menganggukkan kepala, menyetujui kalimat Nanji. “Aku rasa juga begitu. Tapi apa anda akan tetap mempekerjakan aku sebagai pengawal jika sudah mengerti bela diri?”
Nanji terkekeh, “Tentu saja! Aku bukan jenis orang yang mudah melupakan jasa orang lain.”
“Terima kasih. Aku akan mengajak anda pergi ke toko milik teman lama untuk melihat-lihat senjata api setelah membersihkan badan.”
“Apa toko temanmu itu menjual senjata lengkap?” Nanji bertanya menyelidik.
Bao Xing menjawab singkat, “Senjata tersulit pun bisa dia dapatkan jika ada pesanan!”
“Cukup hebat juga temanmu itu, apa dia seorang rekan lama?”
“Kami bergabung di kesatuan yang sama enam tahun lalu. Dia lebih dulu memutuskan pensiun, dan sekarang menggeluti bisnis senjata,” jawab Bao Xing seraya undur diri untuk mandi.
“Oke, aku juga akan bersiap!” ujar Nanji. Atensinya kemudian teralih pada asistennya. “Ying, apa acaraku hari ini?”
“Kau memintaku untuk mengosongkan jadwal hari ini, bukan?” Bei Ying balik bertanya.
“Terimakasih sudah mengingatkan!” Nanji berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Bei Ying.
“Kau belum ingin menemui Tuan Muda Liu? Sakitnya semakin parah!”
Nanji memutar tubuh, menatap Bei Ying yang tengah membuka iPad.
“Ada informasi penting mengenai penyakitnya?”
“Kanker paru stadium 3B. Sudah dua kali operasi, tapi kanker tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Kesehatannya semakin menurun setiap hari karena dia mulai putus asa dengan penyakitnya. Tuan Muda Liu adalah pemegang saham terbesar di perusahaan manufaktur consumer good industry. Itu saja informasiku.”
“Malang sekali nasibnya,” kata Nanji sambil memikirkan langkah selanjutnya.
Bei Ying menambahkan, “Rumor mengatakan Tuan Muda Liu pernah sakit karena terkontaminasi zat berbahaya, sejenis racun. Perebutan kekuasaan yang mendasari hal ini.”
“Ini persis seperti yang terjadi pada keluarga Wang. Mereka tak segan saling bunuh dan menjatuhkan, demi menjadi kepala keluarga dan menguasai seluruh harta. Sungguh menyedihkan! Aku akan menemuinya. Buatkan jadwalnya untukku!”
“Oke!” jawab Bei Ying, langsung sibuk menghubungi keluarga terkait untuk melakukan kunjungan.
Nanji menatap Bei Ying cukup lama sebelum pergi ke kamar mandi. Ia menyukai cara kerja asistennya. Bei Ying bukan hanya cantik, tapi juga sangat menguasai pekerjaannya.
“Nanji? Apa aku salah mengatakan sesuatu? Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Nanji memperbaiki ekspresi wajahnya, lalu menjawab sambil berlalu ke kamar mandi. “Kau cantik!”
“Terima kasih!” Bei Ying terkikik, hatinya berdebar mendengar pujian Nanji yang terkesan tak tulus. Ia masih berhutang pelayanan tidur dengan Nanji, tapi bosnya itu malah gak pernah membahasnya lagi.
“Apa Tuan Nanji sudah siap, Nona Bei?” Suara Bao Xing mengagetkan Bei Ying yang tengah berbunga-bunga.
“Sebentar lagi dia siap,” jawab Bei Ying kembali formal.
Tak lama kemudian, Nanji keluar dengan pakaian rapi. Wajahnya terlihat segar, dilengkapi dengan aroma maskulin yang lembut di tubuhnya. Ketiganya berangkat tanpa menunda-nunda waktu lagi.
Toko yang menjadi tujuan Bao Xing terlihat lengang, alunan musik rock terdengar mengisi ruangan yang dihiasi aneka jenis senjata api. Mulai dari yang terkecil dan ringan, hingga senjata-senjata besar. Lonceng angin terdengar saat Bao Xing membuka pintu untuk Nanji dan Bei Ying.
“Mao, apa kau ada di dalam?!” Bao Xing berteriak memanggil teman lamanya.
Tak ada sahutan, tapi langkah kaki terdengar mendekat. Pria bertubuh tegap, besar berotot layaknya Bao Xing muncul dari dalam. Berbeda dengan Bao Xing yang menjaga penampilan army-nya, Zun Mao berpenampilan gahar dengan tato penuh di tangan kanan dan kiri.
“Lihat siapa yang datang?” sapa Zun Mao seraya menonjok bahu kiri Bao Xing. “Apa kabarmu, Sobat?”
“Kabar baik, Kawan. Aku bekerja sebagai pengawal sekarang. Perkenalkan, ini bos-ku! Aku datang karena butuh senjata!”
Zun Mao manggut-manggut sambil mengunyah permen karet, hingga tindikan bola di dagunya bergerak lucu. Penjual senjata itu menatap sejenak pada Nanji dan Bei Ying, lalu beralih menatap Bao Xing.
“Apa yang kau perlukan, Xing?”
“Senjata ringan untuk bos-ku, tapi yang mematikan!” Bao Xing menoleh pada Bei Ying. “Apa kau juga membutuhkan senjata api, Nona?”
Bei Ying menggeleng cepat. Jujur Bei Ying sedikit gemetar berada di tengah ratusan jenis senjata. Ini kali pertama ia pergi ke toko senjata betulan, bukan mainan. “Oh, tidak perlu, Tuan Bao. Terima kasih.”
Zun Mao tertawa saat melihat ekspresi Bei Ying. “Aku punya beberapa koleksi yang bagus jika kau mau, Nona!”
“Tidak perlu! Carikan saja untuk bos dan Tuan Bao.”
“Oke!” Zun Mao membuka etalase di sisi kirinya, memilih tiga jenis senjata yang biasa digunakan pengawal pribadi.
“Glock-17, Sih-P226 kaliber 9, dan seperti biasa, revolver 22LR!”
Nanji mendekat, memperhatikan tiga senjata rekomendasi Zun Mao. “Apa saranmu untukku?”
“Karena kau adalah pemula, aku sarankan untuk memakai Glock-17! Tapi itu tergantung padamu. Setiap orang memiliki selera berbeda soal senjata!”
Bao Xing menawarkan, “Tuan ingin mencobanya terlebih dahulu? Ada arena tembak di belakang toko ini!”
“Ya, sebaiknya memang dicoba sebelum membeli! Ayo, ikut aku ke belakang!” ajak Zun Mao sambil membawa tiga senjata pilihannya yang akan dipakai Nanji.
BERSAMBUNG….
~Karya ini merupakan karya jalur kreatif~