Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya Padaku, Ayah
Krek yang nyaring memecah keheningan. Pintu besar itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Lin Jia yang melangkah keluar dengan keanggunan yang dingin. Di balik cadar sutra tipis yang menutupi wajahnya, tatapan matanya begitu tenang, tidak menyiratkan sedikit pun rasa terkejut atau gentar melihat kerumunan orang penting kerajaan di depannya.
"Ada apa ini?" tanya Lin Jia dengan suara datar namun bergema, matanya menatap tajam satu per satu orang yang berdiri di hadapannya.
Mei Mei segera menundukkan kepala dalam-dalam, menyilangkan tangan di depan dada sebagai tanda hormat yang mutlak.
Namun, sebelum Mei Mei sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjelaskan situasi, Putri Mahkota Lin Ju sudah melangkah maju dengan jubah megah yang mengibas lantai. Wajahnya memerah padam, menyiratkan amarah yang meluap-luap.
"Pelayan rendahan mu ini sudah berani bertindak kurang ajar dan lancang kepada Ayahanda!" bentak Lin Ju, jarinya menunjuk lurus ke arah Mei Mei dengan penuh penghinaan. "Dia menghadang jalan sang penguasa langit seolah tempat ini adalah wilayah kekuasaannya sendiri!"
Lin Jia tetap berdiri kokoh, emosinya tidak terpancing sedikit pun oleh provokasi saudara tirinya. Ia mengalihkan pandangannya yang jernih kepada pelayannya. "Jelaskan padaku?"
"Hamba hanya mengikuti dan menjalankan apa yang telah Nona perintahkan dengan setia," kata Mei Mei dengan nada suara yang tegas.
"Tetapi dengan menghentikan langkah kaki Yang Mulia Kaisar tepat di depan pintu kamar ini, sama saja kau dan pelayanmu tidak menghargai martabat dan garis keturunan kekaisaran!" sentak Putri Lin Ju lagi, suaranya meninggi, berusaha memojokkan posisi Lin Jia di hadapan semuanya.
"Cukup."
Satu kata yang keluar dari bibir Lin Jia terdengar begitu pelan namun tegas dan sarat akan penekanan. Suasana mendadak hening seketika, bahkan desau angin malam pun seolah enggan mengusik.
Lin Jia, yang selama ini dikenal sebagai putri yang selalu tertunduk, lemah, dan menyembunyikan diri, kini justru memancarkan aura yang sangat dingin, pekat, dan setajam mata pedang yang baru diasah.
"Dia tidak bersalah, karena dia hanya mengikuti perintah langsung dariku," kata Lin Jia, melangkah satu tapak ke depan hingga bayangannya beradu dengan Putri Mahkota. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu yang tenang bersama Ibu di dalam kamar tanpa ada gangguan dari luar. Apakah itu salah?" lanjut Lin Jia dengan nada menyindir yang halus namun menohok.
Belum sempat Putri Lin Ju yang mulai emosional atau Permaisuri Li yang berdiri anggun di belakangnya bersuara untuk membalas argumen tersebut, sebuah suara berat dan penuh wibawa dari Kaisar Lin Dong lebih dulu memotong perdebatan mereka.
"Putri Lin Jia, apakah kau baik-baik saja?" tanya Kaisar Lin Dong, mengabaikan ketegangan di sekitarnya. Tatapan matanya yang biasa tegas kini melembut dipenuhi rasa bersalah dan kekhawatiran seorang ayah.
Lin Jia mengangguk singkat, postur tubuhnya tetap tegak lurus tanpa cela. "Seperti yang Ayahanda lihat, aku masih bernapas dan berdiri dengan baik di sini," jawab Lin Jia seolah ingin menunjukkan bahwa dia tidak lemah.
Kaisar Lin Dong kemudian melangkah mendekat, mengabaikan tatapan tidak suka dari Permaisuri Li. Jari-jarinya yang kekar perlahan mengusap pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang yang tulus. "Ayah sangat khawatir saat mendengar berita dari istana dalam bahwa kau tenggelam di sungai teratai. Pikiran Ayah tidak tenang sepanjang sidang kerajaan. Syukurlah jika kau tidak apa-apa, Nak."
Lin Jia kembali mengangguk, menerima perhatian itu dengan pembawaan yang tetap tenang dan berjarak. "Terima kasih atas perhatian Ayahanda. Namun saat ini, Ibu sangat membutuhkan istirahat yang total demi memulihkan kondisinya. Jadi, aku harap tidak ada seorang pun di istana ini yang mengganggu ketenangannya malam ini," kata Lin Jia dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
Putri Lin Ju yang merasa posisinya dilewati langsung maju ke depan, menyela dengan ekspresi tidak terima. "Ayahanda Kaisar sudah datang jauh-jauh dari aula utama hanya untuk melihat keadaan Selir Kedua yang dikabarkan semakin lemah! Lancang sekali kau melarangnya. Biarkan Ayahanda masuk dan memeriksa keadaannya!" kata Lin Ju, mencoba menggunakan nama Kaisar sebagai tameng.
Permaisuri Li ikut melangkah maju, senyum tipis yang penuh kepalsuan terukir di wajahnya yang dirias sempurna. "Benar apa yang dikatakan Putri Mahkota Lin Ju. Kami datang ke sini bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa niat baik untuk memberikan ramuan obat khusus yang baru saja diresepkan oleh tabib kepala istana," lanjut Permaisuri Li sambil memberi isyarat pada pelayan di belakangnya.
Lin Jia tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang tajam perlahan terarah pada nampan perak yang dibawa oleh pelayan pribadi Permaisuri.
Di atas nampan itu, terdapat sebuah wadah keramik hitam berisi cairan pekat yang masih mengepulkan asap tipis. Bau herbal yang menyengat tercium di udara, namun bagi indra penciuman Lin Jia yang tajam, ada aroma asing yang tersembunyi di balik pekatnya obat tersebut.
Sebuah senyuman dingin tersembunyi di balik cadarnya saat ia menyadari permainan kotor yang sedang dimainkan di hadapannya.
"Terima kasih atas perhatiannya, Permaisuri. Tapi, mulai hari ini, biarkan aku sendiri yang akan menjaga dan bertanggung jawab penuh atas kesehatan Ibu. Tidak ada satupun tabib istana, pelayan luar, ataupun ramuan dari siapapun yang boleh masuk ke dalam kamar ini lagi," kata Lin Jia dengan suara yang dingin penuh otoritas, mutlak, dan mengancam.
Kalimat tersebut seketika membuat semua orang yang berada disana membeku, terkejut setengah mati oleh keberanian dan perubahan drastis dari putri yang selama ini mereka remehkan.
"Apa maksudmu sebenarnya?!" bentak Putri Lin Ju. Wajahnya memerah padam karena merasa otoritasnya dilecehkan oleh saudara perempuannya yang selama ini dianggap tidak berdaya.
Namun, Lin Jia tetap berdiri dengan tenang di ambang pintu, seperti batu karang yang tidak tergoyahkan oleh amukan ombak. "Apa yang aku katakan sudah sangat jelas. Bawa kembali obat itu ke tempat asalnya, karena Ibu tidak membutuhkannya lagi," sahut Lin Jia, suaranya tetap datar tanpa riak ketakutan sedikit pun.
Mendengar ketegasan putrinya, Kaisar Lin Dong mengernyitkan dahi. Guratan kebingungan dan kecemasan tercetak jelas di wajah sang penguasa. "Putri Lin Jia..." Kalimat Kaisar Lin Dong langsung terpotong sebelum sempat terselesaikan, karena Lin Jia kembali bersuara dengan fakta yang menusuk.
"Selama berminggu-minggu, tabib istana selalu meresepkan ramuan obat yang persis sama pada Ibu. Tapi lihatlah hasilnya, tidak ada efek positif sama sekali! Tubuhnya justru tetap lemah dan kian mengkhawatirkan dari hari ke hari. Lalu untuk apa kita terus memberikan obat yang jelas-jelas tidak membawa manfaat, jika bukan untuk memperburuk keadaannya?" tuntut Lin Jia, menyudutkan situasi.
Permaisuri Li melangkah satu langkah lebih maju. Senyum ramahnya lenyap, digantikan oleh topeng ketenangan yang dingin demi menyembunyikan rasa tidak terima yang bergejolak di dadanya.
"Jadi, maksudmu... tabib istana yang bereputasi tinggi itu yang harus disalahkan atas kondisi Selir Xu?" tanya Permaisuri Li. Matanya tampak tenang, namun ada badai kemarahan yang siap meledak di balik tatapan matanya.
Lin Jia sedikit menundukkan kepala, namun matanya tetap mengunci pandangan sang Permaisuri. "Mohon jangan tersinggung, Permaisuri... aku tidak menuduh siapapun. Aku hanya mengatakan hal yang masuk akal, mungkin saat ini Ibu membutuhkan sesuatu yang... benar-benar... berbeda," kata Lin Jia dengan kalimat ambigu yang sarat akan sindiran tersirat.
Belum sempat siapapun membalas sindiran tersebut, Kaisar Lin Dong mengangkat tangan kanannya ke udara, menghentikan perdebatan yang kian memanas. "Kalau memang begitu kondisinya, Ayah akan menyuruh tabib pribadi dari luar istana untuk memeriksa ibumu," putus Kaisar tegas.
Namun, di luar dugaan, Lin Jia menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Tidak perlu repot-repot, Ayahanda. Aku sendiri yang akan meramu obat dan menyembuhkannya dengan tanganku sendiri. Ayahanda hanya perlu melakukan satu hal... percayalah padaku kali ini," kata Lin Jia, menatap lurus ke dalam manik mata sang Kaisar.
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Kaisar Lin Dong merasa sangat ragu. Bagaimana mungkin? Semua orang di seluruh Kekaisaran tahu bahwa Lin Jia tidak memiliki kemampuan medis ataupun kekuatan kultivasi elemen apapun selama ini.
Namun, saat melihat binar tekad yang membara dan mendengar untaian kalimat yang begitu tegas tanpa keraguan, keyakinan Kaisar goyah. Perlahan, Kaisar Lin Dong mengangguk pelan. "Baiklah, lakukan yang terbaik untuk ibumu," kata Kaisar Lin Dong akhirnya, memberikan restu mutlaknya.
Permaisuri Li dan Putri Lin Ju langsung membuka mulut, bersiap untuk melayangkan protes keras atas keputusan sepihak tersebut.
Namun, satu tatapan mata yang tajam dan penuh wibawa dari Kaisar Lin Dong seketika mengunci lidah mereka, memaksa keduanya mundur dalam diam dengan amarah yang terpendam.