Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 19 Ketika Jarak Mulai Menyempit
Perjalanan menuju rumah Adrian berlangsung dalam keheningan, Arunika duduk di kursi penumpang, sementara Adrian fokus mengemudi. Sesekali pria itu melirik ke arahnya.
Sejak keluar dari fasilitas tadi, Arunika hampir tidak mengatakan apa-apa, Tangannya masih menggenggam erat ujung pakaian. Adrian akhirnya memecah keheningan.
"Kamu terluka?"
Arunika menoleh.
"Tidak."
"Yakin?"
"Yakin."
Adrian kembali menatap jalan Beberapa detik kemudian, Arunika meliriknya.
"Kamu sendiri?"
"Aku tidak apa-apa."
"Kamu bohong."
Adrian mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Karena dari tadi kamu memegang bahu."
Tangan Adrian yang sejak tadi berada di bahu kirinya langsung turun, Arunika menyipitkan mata.
"Nah."
"Itu hanya sedikit sakit."
"Sedikit?"
"Ya."
"Setelah gedung hampir runtuh di atas kepalamu?"
Adrian tersenyum tipis.
"Kamu mulai terdengar seperti dokter."
"Aku serius."
"Aku juga."
Arunika menghela napas panjang.
"Kalau sampai rumah, aku periksa."
Adrian meliriknya sekilas.
"Kamu bisa?"
"Aku bisa."
"Kalau begitu aku menurut."
Arunika terdiam Entah kenapa jawaban sederhana itu justru membuat wajahnya sedikit memanas, Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke jendela.
Adrian melihat perubahan ekspresinya, tetapi memilih tidak berkomentar, Setengah jam kemudian, mobil Adrian berhenti di depan rumahnya.
Rumah itu cukup besar, tetapi tidak berlebihan. Berbeda dengan bayangan Arunika tentang rumah seorang pria seperti Adrian, tempat itu justru terlihat tenang dan sederhana.
Adrian turun lebih dulu Arunika ikut keluar. Begitu pintu rumah terbuka, Adrian menyalakan lampu.
"Masuk."
Arunika berdiri di ambang pintu.
"Kamu tinggal sendirian?"
"Biasanya."
"Biasanya?"
Adrian menatapnya.
"Kenapa? Kamu takut?"
Arunika mendengus.
"Siapa yang takut?"
Adrian tersenyum kecil.
"Bagus."
Arunika mengikuti Adrian masuk Baru beberapa langkah, ia berhenti.
Adrian menoleh.
"Ada apa?"
Arunika menunjuk pakaiannya sendiri, Debu masih memenuhi bagian bawah bajunya.
"Aku kelihatan seperti habis keluar dari reruntuhan."
Adrian melihatnya dari atas sampai bawah.
"Memang."
Arunika langsung melotot.
"Adrian!"
Pria itu tertawa kecil Untuk pertama kalinya malam itu, Arunika melihat Adrian benar-benar tertawa. Tidak lama Tetapi cukup membuat suasana yang sejak tadi tegang terasa sedikit lebih ringan.
"Di kamar sebelah ada kamar mandi," kata Adrian.
"Kamu bisa bersih-bersih." Arunika mengangguk.
"Kamu juga."
"Aku nanti."
Arunika menatap bahunya.
"Kamu dulu."
Adrian menghela napas.
"Baik."
"Dan jangan membantah."
"Aku tidak membantah."
"Barusan membantah."
Adrian terdiam.
Arunika tersenyum tipis.
"Kalah."
Adrian menggeleng pelan.
"Sejak kapan kamu jadi berani seperti ini?"
"Sejak mengenalmu."
Jawaban itu keluar begitu saja Arunika langsung membeku Adrian juga terdiam, Tatapan keduanya bertemu. Beberapa detik terasa terlalu panjang Arunika segera berdeham.
"Maksudku... karena kamu menyebalkan."
Adrian mengangkat satu alis.
"Tentu."
"Jangan tersenyum."
"Aku tidak tersenyum."
"Kamu tersenyum."
"Perasaanmu saja."
Arunika langsung berbalik.
"Aku mandi."
Adrian memperhatikan langkahnya yang semakin cepat Senyumnya semakin jelas.
Beberapa puluh menit kemudian, Arunika keluar dari kamar mandi dengan pakaian sederhana yang diberikan Adrian.
Rambutnya masih sedikit basah Ia berjalan menuju ruang tengah dan mendapati Adrian sudah duduk di sofa, Pria itu telah mengganti pakaiannya.
Namun ketika Arunika mendekat, ia langsung melihat perban yang melilit bahu Adrian Arunika berhenti.
"Kamu terluka."
Adrian menatapnya.
"Hanya goresan."
"Diam."
Arunika duduk di sebelahnya Adrian sedikit menggeser tubuh.
"Aku bisa sendiri."
"Aku tahu."
Arunika mengambil kotak obat yang terletak di meja.
"Tapi kali ini aku yang melakukannya."
Adrian tidak menjawab Arunika membuka perban lama dengan hati-hati. Begitu melihat luka di bahu Adrian, wajahnya berubah.
"Kamu bilang sedikit."
"Memang sedikit."
"Ini bukan sedikit."
Adrian memperhatikannya Tangan Arunika bergerak perlahan membersihkan luka tersebut, Kali ini tidak ada perdebatan
Hanya mereka berdua di ruangan yang tenang Arunika tiba-tiba berkata,
"Tadi aku takut."
Gerakan tangan Arunika berhenti sebentar Adrian menatapnya.
"Di dalam fasilitas?"
Arunika menggeleng.
"Ketika kamu menyuruh kami pergi."
Adrian diam Arunika kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku tahu kamu menyuruh kami keluar karena ingin melindungi kami."
"Memang."
"Tapi jangan lakukan itu lagi."
Adrian mengerutkan kening.
"Apa?"
"Jangan membuat keputusan seolah-olah kamu satu-satunya orang yang boleh mempertaruhkan diri."
Arunika menatapnya.
"Kalau kamu masuk ke dalam bahaya, kami juga akan masuk."
"Arunika."
"Aku serius."
Adrian menatap mata gadis itu cukup lama, Kemudian suaranya berubah lebih lembut.
"Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu."
Arunika terdiam.
"Kenapa?"
"Karena kamu penting."
Tangan Arunika membeku, Adrian baru menyadari betapa sederhana sekaligus berat kalimat tersebut. Arunika menundukkan wajah.
Jantung Arunika seolah berhenti sesaat, Adrian tidak mengatakan apa-apa lagi, Arunika pun tidak. Hanya ada keheningan di antara mereka.
Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda, Arunika akhirnya kembali menunduk dan menyelesaikan perban.
"Sudah."
Adrian melihat bahunya.
"Terima kasih."
Arunika mengangguk Kemudian ia berdiri.
"Aku lapar."
Adrian menatapnya.
"Kamu baru saja merusak suasana."
Arunika berhenti.
"Memangnya tadi suasananya apa?"
Arunika tersenyum kecil.
"Tidak ada, kan?"
Ia berjalan menuju dapur.l Adrian menghela napas sambil tersenyum.
"Di dapur tidak ada makanan."
Arunika membuka lemari Kosong, Ia membuka lemari lain Kosong juga, Kemudian kulkas Lebih kosong lagi. Arunika menatap Adrian dengan ekspresi datar.
"Kamu hidup dari apa?"
"Pesan makanan."
"Jadi kamu tidak bisa memasak?"
"Aku bisa."
Arunika menyipitkan mata.
"Masak apa?"
Adrian berpikir sejenak.
"Air."
Arunika menatapnya tidak percaya.
"Itu bukan memasak."
"Aku bisa membuat kopi."
"Adrian."
"Baik."
Adrian bangkit dari sofa.
"Aku pesan makanan."
Arunika menutup kulkas.
"Jangan. Aku yang buat."
Adrian berhenti.
"Kamu?"
"Aku bisa memasak."
"Yakin?"
Arunika menatapnya tajam.
"Kamu meragukanku?"
"Tidak."
Adrian mengangkat kedua tangan.
"Aku hanya memastikan."
Arunika berjalan ke dapur.
"Kalau begitu duduk."
Adrian menurut Beberapa menit kemudian, suara peralatan dapur mulai terdengar, Adrian duduk di meja makan sambil memperhatikan Arunika.
Gadis itu terlihat begitu berbeda dibandingkan beberapa jam lalu,Tidak ada ketegangan.
Tidak ada wajah serius, Tidak ada tatapan waspada, Hanya Arunika yang sibuk menyiapkan sesuatu di dapurnya. Adrian tanpa sadar tersenyum.
Arunika tiba-tiba menoleh.
"Kamu lihat apa?"
"Enggak."
"Kamu dari tadi lihat aku terus."
"Aku sedang memastikan kamu tidak membakar rumahku."
Arunika mendengus.
"Tidak akan."
"Bagus."
Tak lama kemudian, makanan sederhana tersaji di atas meja, Arunika duduk di hadapan Adrian.
"Ini."
Adrian mengambil sendok Mencicipinya, Arunika menunggu reaksinya.
"Bagaimana?"
Adrian mengunyah perlahan.
"Enak."
Arunika langsung tersenyum lega.
"Benarkah?"
Adrian mengangguk.
"Benar."
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?