NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Bisikan Bima tepat di samping telinganya membuat bulu kuduk Clara berdiri seketika. Rona gembira di wajah cantiknya mendadak lenyap, berganti dengan riak ketegangan yang tertahan.

​"Bima... apa maksudmu?" bisik Clara pelan dengan nada bergetar, kedua tangannya refleks mencengkeram lengan jas Bima lebih erat dari sebelumnya.

​"Racun Bunga Kematian Ungu sudah disebarkan di udara dan beberapa wadah minuman," jawab Bima sangat halus tanpa mengubah posisi tubuhnya. "Racun ini tidak berbau bagi orang biasa, namun reaksinya akan memicu kelumpuhan saraf jantung dalam waktu sepuluh menit jika bereaksi dengan alkohol."

​Pak Herman yang berdiri di samping mereka memiliki insting bisnis dan bahaya yang sangat tajam. Meskipun ia tidak mendengar detail bisikan Bima, ia bisa membaca perubahan gestur di wajah sang tabib muda.

​"Ada apa, Nak Bima?" tanya Pak Herman dengan suara berat yang sengaja ditiupkan sangat pelan.

​"Pak Herman, segera perintahkan pengawal pribadi Anda untuk mengunci seluruh pintu keluar secara diam-diam. Jangan sampai ada tamu yang panik, dan cegah siapa pun menyentuh gelas sampanye di nampan para pelayan," perintah Bima dengan ketegasan yang tak terbantahkan.

​Tanpa bertanya dua kali, Pak Herman memberikan isyarat mata yang amat terselubung kepada kepala pengawal pribadinya yang berdiri di balik pilar. Sang kepala pengawal mengangguk paham dan segera bergerak mengamankan perimeter ballroom.

​Sementara itu, di sudut ruangan yang agak remang, seorang pelayan pria dengan raut wajah kaku baru saja meletakkan beberapa nampan berisi gelas-gelas sampanye yang telah dicampur racun cair pekat.

​Pelayan itu memberi isyarat ke arah Tuan Surya yang berdiri tak jauh dari panggung. Tuan Surya tersenyum dingin dan penuh kedengkian. Pria paruh baya itu mengangkat gelasnya sendiri—yang tentu saja bersih—lalu mengetuknya dengan sendok emas untuk menarik perhatian seluruh isi ruangan.

​Ting! Ting! Ting!

​Suara denting nyaring dari gelas Tuan Surya memutus riak percakapan para elit. Semua mata kembali tertuju padanya.

​"Hadirin sekalian yang terhormat!" seru Tuan Surya dengan suara lantang yang dipaksa ramah. "Meskipun tadi terjadi sedikit perbedaan pendapat kecil, kita semua berada di sini malam ini untuk merayakan kesembuhan kesayangan kita, Nona Clara Herman!"

​Tuan Surya mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke udara. Para pelayan yang sudah diinstruksikan segera menyebar ke tengah kerumunan, menawarkan gelas-gelas sampanye beracun kepada para pengusaha papan atas, pejabat, dan keluarga elit ibukota.

​"Mari kita semua menaikkan gelas kita dan bersulang untuk kesehatan Nona Clara dan kejayaan keluarga Herman!" pekik Tuan Surya dengan raut wajah kemenangan yang nyaris meluap. Jika puluhan elit ibukota keracunan di pesta milik Herman, keluarga Herman akan hancur secara hukum, sosial, dan finansial sekaligus!

​Para tamu undangan yang tidak tahu apa-apa tersenyum dan mulai mengambil gelas sampanye dari nampan pelayan. Mereka mengangkat gelas tersebut, bersiap meminumnya serentak.

​"Jangan minum!"

​Sebuah suara beresonansi tinggi mendadak membelah ruangan bagaikan petir di siang bolong.

​Suara itu mengandung dorongan Tenaga Dalam murni dari Bima, membuat setiap orang di ballroom merasa dada mereka bergetar hebat hingga tangan mereka membeku di udara. Gelas-gelas yang nyaris menyentuh bibir para tamu terhenti seketika.

​Tuan Surya melotot murka. "Bajingan kampung! Beraninya kau merusak momen bersulang ini?!"

​Bima tidak memedulikan makian Tuan Surya. Dengan langkah yang sangat anggun namun secepat kilat, Bima bergerak menembus kerumunan.

​Wush!

​Tubuh Bima bergerak bagaikan bayangan tak kasat mata. Sebelum ada yang menyadari apa yang terjadi, Bima mengibaskan lengan jasnya secara horizontal di udara.

​Sring! Sring! Sring!

​Belasan jarum perak meluncur deras dari sela-sela jarinya dengan presisi tingkat dewa.

​Prang! Prang! Prang!

​Setiap jarum perak Bima menghantam tepat pada badan gelas-gelas sampanye yang dipegang oleh para pelayan penyusup dan beberapa tamu di barisan depan. Gelas-gelas kaca mahal itu pecah berkeping-keping di udara, membuang seluruh cairan beracun ke atas lantai pualam sebelum sempat diminum!

​"Argh!"

​Tiga orang pelayan yang membawa racun mendadak merintih dan ambruk berlutut. Jarum perak Bima yang lain telah menancap tepat di titik meridian lutut mereka, mengunci pergerakan mereka secara permanen.

​Suara pecahan kaca dan teriakan pelayan membuat seluruh isi ballroom gempar!

​"Apa-apaan ini?!"

​"Kenapa gelasnya dipecahkan?!"

​"Ada apa sebenarnya?!"

​Di tengah kebingungan dan kepanikan para tamu, Bima melangkah tenang menuju salah satu genangan cairan sampanye yang tumpah di lantai. Dari dalam saku jasnya, Bima mengeluarkan sebatang jarum perak murni dan mencelupkan ujungnya ke dalam genangan tersebut.

​Hanya dalam kurun waktu dua detik, ujung jarum perak yang semula berkilau putih itu berubah warna menjadi hitam pekat, lalu mengeluarkan uap tipis berbau kehitaman yang menyengat.

​Bima mengangkat jarum perak hitam itu tinggi-tinggi agar bisa dilihat oleh seluruh tamu undangan.

​"Sampanye yang baru saja ingin ditawarkan kepada Anda sekalian telah dicampur dengan racun Bunga Kematian Ungu," ucap Bima dengan suara dingin yang terdengar jelas ke setiap sudut ruangan. "Siapa pun yang meminumnya malam ini akan tewas karena gagal jantung dalam waktu kurang dari sepuluh menit."

​Gasps!

​Seketika seluruh tamu undangan menjatuhkan gelas yang tersisa di tangan mereka ke lantai. Bunyi pecahan kaca terdengar bersahut-sahutan diiringi jeritan histeris para wanita sosialita. Wajah para pengusaha kaya raya itu seketika menjadi pucat pasi. Mereka baru saja melangkah di ambang pintu kematian jika bukan karena intervensi Bima!

​"Bongkar identitas pengutus kalian atau jarum berikutnya akan menembus jantung kalian!" ancam Pak Herman dengan suara penuh murka sambil menunjuk ke arah tiga pelayan yang lumpuh di lantai.

​Salah satu pelayan penyusup yang ketakutan setengah mati melihat Bima melangkah mendekatinya langsung berteriak histeris, "Jangan bunuh aku! Kami hanya dibayar! Tuan Surya yang menyuruh kami memasukkan racun itu ke dalam botol sampanye!"

​Pandangan ratusan orang di ruangan itu yang dipenuhi oleh kemarahan dan rasa tegang yang luar biasa sontak tertuju sepenuhnya pada Tuan Surya.

​Wajah Tuan Surya yang semula pucat kini benar-benar menjadi abu-abu. Rencana sempurnanya hancur total, dan kini ia menjadi musuh publik nomor satu bagi seluruh elit ibukota yang nyaris ia bantai malam ini.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!