MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MASUK KE DUNIA BARU
Malam menjelang, langit Seoul pekat dihiasi ribuan cahaya kota. Disya berdiri di depan cermin, merapikan gaun krem sederhana yang nyaman. Rambutnya disisir rapi, wajahnya hanya diberi riasan tipis. Tangannya dingin dan sedikit gemetar. Ia tahu, langkah ini mengubah hidupnya—meninggalkan dunia gadis biasa, masuk ke dunia milik Min Jae yang sangat berbeda.
Belum lama bersiap, bel berbunyi. Disya menarik napas panjang lalu membuka pintu. Min Jae berdiri di sana, tampak lebih rapi dengan kemeja putih lengannya digulung sampai siku. Wajahnya tenang, namun tatapannya tetap serius.
"Sudah siap?" tanyanya singkat.
"Sudah Oppa," jawab Disya pelan. "Maaf menunggu sebentar."
"Tak apa-apa. Ayo berangkat."
Mereka menuju lift tanpa banyak bicara. Di dalam mobil pun hening. Min Jae menyetir tenang, sesekali melirik Disya yang menatap jalanan berubah menjadi kawasan mewah dan sepi.
"Kau terlihat gugup," ucap Min Jae tiba-tiba.
Disya mengangguk jujur. "Sedikit, Oppa. Rasanya seperti masuk ke tempat yang tak pernah kubayangkan."
"Kau akan terbiasa," jawabnya datar. "Ingat kesepakatan. Kau ada di sini karena saling menguntungkan. Tak perlu merasa rendah diri, dan jangan berharap lebih."
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan apartemen tertinggi yang dijaga ketat. Mereka naik lift khusus ke lantai paling atas. Saat pintu terbuka, Disya tertegun. Ruangan itu jauh lebih megah, lantai kayu mengkilap, jendela raksasa menampakkan seluruh kota Seoul yang berkelap-kelip. Perabotan modern dan mahal tersusun rapi—namun di tengah kemewahan itu, terasa keheningan yang dalam. Tak ada tawa, tak ada foto kenangan, semuanya indah namun dingin seperti kaca.
"Masuklah," kata Min Jae. "Ini tempat tinggalku. Mulai sekarang kau akan sering ke sini. Anggap milikmu saat di sini, tapi jangan masuk ruang kerja sebelah kiri tanpa izin."
"Baik Oppa," jawab Disya pelan sambil menyentuh sandaran sofa kulit yang empuk namun dingin. "Tempatnya sangat indah. Tapi... rasanya sepi sekali."
Min Jae menghadap jendela memandang Sungai Han. "Aku sudah terbiasa kesepian. Sejak lama hidupku begini. Kesuksesan justru menjauhkanku dari orang lain. Di sini hanya ada aku, pekerjaan, dan waktu yang berjalan sendiri."
Ia berbalik menatap Disya. "Mulai malam ini, kau bagian dari duniaku. Kau akan melihat sisi yang tak diketahui orang banyak, mendapat segala kemudahan yang tak pernah kau miliki. Tapi kau juga harus siap pada batasan ketat. Dunia ini tak selamanya indah, Disya. Penuh aturan, rahasia, dan kewajiban."
Disya mengangguk mantap. "Aku siap, Oppa. Aku sudah memilih jalan ini, dan akan menjalani dengan benar."
Malam itu Min Jae memperlihatkan setiap sudut apartemen: kamar tamu, dapur lengkap, ruang makan panjang, balkon luas. Disya semakin sadar betapa jauhnya jarak antara hidupnya yang dulu penuh kekurangan dengan dunia kemewahan ini.
Setelah berkeliling, mereka duduk berdampingan. Min Jae kembali mengingatkan poin penting:
"Pertama, di luar sini kau tak boleh menyebutku Zelo atau menunjukkan hubungan kita. Kita orang asing. Kedua, jangan percaya sembarang orang. Banyak yang ingin memanfaatkanku. Ketiga, setiap kupanggil, kau harus datang. Termasuk kebersamaan fisik bagian dari perjanjian."
"Aku tak akan melanggarnya, Oppa."
Makin larut, Min Jae tak langsung meminta hal berat. Ia hanya meminta Disya duduk dekat, menemaninya makan, dan mendengar keluh kesah yang tak bisa ia sampaikan pada siapa pun—tekanan jadwal, harapan penggemar, lelah yang harus disembunyikan di balik senyum panggung.
Disya hanya diam mendengarkan. Di balik idola yang dikagumi jutaan orang, ia hanyalah pria kesepian yang butuh seseorang untuk sekadar ada. Namun Disya segera menegaskan hati: Jangan kasihan, jangan sayang, jangan jatuh cinta. Kau di sini untuk saling memenuhi kebutuhan.
Menjelang tengah malam, Min Jae menunjuk kamar utamanya. "Masuklah. Malam ini kau tidur di sana."
Jantung Disya berdegup kencang seolah mau melompat. Kakinya berat, wajahnya panas, tangannya meremas gugup. Belum pernah ia sedekat ini dengan pria mana pun.
Di kamar remang itu, suasana hening. Min Jae menutup pintu pelan, melihat Disya berdiri kaku gemetar, tak berani menatap.
"Kau belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, kan?" tanyanya pelan.
Disya mengangguk, air mata hampir jatuh. "Iya Oppa... ini pertama kalinya. Aku belum pernah dekat dengan siapa pun begini."
Min Jae tak terkejut, tak menertawakan. Justru nadanya lebih lembut. "Tenang saja. Aku tak akan menyakitimu tanpa alasan. Awalnya memang akan terasa sakit. Katakan jika terlalu berat, aku akan berhenti sejenak."
Ia mendekat, meletakkan tangan di bahu Disya, perlahan mengangkat dagunya agar menatap. Tatapannya teduh. Wajahnya makin mendekat, napas mereka beradu. Min Jae mengecup bibirnya lembut sekali—tak mendesak, tak kasar. Disya memejam, merasakan sensasi asing menjalar. Ciuman pertama, tanpa cinta, namun menenangkan ketakutannya.
Barulah mereka melangkah lebih jauh. Saat menyatukan diri, rasa sakit sempat menyambar membuat Disya mencengkeram bahunya erat. Min Jae langsung ber...