NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Begitu tiba di luar, Bara langsung memindahkan kertas kecil itu ke genggaman tangan.

Di dalam koridor yang gelap, Bara membuka telapak tangannya. Ia menatap kertas usang itu di bawah temaram lampu. Setelah membaca kalimat yang tertera di sana, mata Bara membelalak.

Ada sesuatu yang membuatnya bingung. Jika tulisan itu ditujukan untuk Andrea, rasanya aneh karena Andrea diminta untuk selalu di sampingnya. Apakah ibunya masih tidak percaya dengan apa yang ia katakan saat itu, kalau suaminya bermesraan dengan sahabatnya.

Bara menyandarkan punggungnya pada dinding. Napasnya memburu, bukan lagi hanya karena gairah yang mendadak terputus, melainkan karena hantaman kenyataan yang tertulis di atas kertas usang di genggamannya.

Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Kepalanya berdenyut pening. Selama belasan tahun, bahan bakar hidupnya adalah kebencian mutlak pada Selina dan anaknya. Namun surat ini, surat dari mendiang ibunya sendiri, seolah menjungkirbalikkan dendam yang ia bangun.

Ia jelas tak sudi kalau harus benar-benar menjalin hubungan keluarga dengan Selina. Bara tak habis pikir, bagaimana bisa ibunya meminta Andrea untuk selalu bersamanya.

Namun, di tengah badai isi kepala yang berkecamuk, ada satu hal yang tidak bisa dibohongi oleh Bara. Kulitnya masih terasa panas. Aroma tubuh Andrea, perpaduan antara wangi vanilla dan kehangatan kulit hangat gadis itu, masih tertinggal pekat di telapak tangan dan bibirnya.

Gairah yang tadi ditekan paksa kini justru berbalik menyerangnya dengan dua kali lipat lebih hebat. Sentuhan lembut jemari lentik Andrea di dada polosnya seolah menolak untuk menguap.

"Sialan," umpat Bara rendah.

Ia tidak bisa tenang. Alih-alih pergi ke kamarnya sendiri, langkah kaki Bara justru menuntunnya kembali ke depan pintu kamar Andrea. Rasa penasaran yang bercampur dengan rasa haus yang belum tuntas membuat insting kelelakiannya meronta.

Pria itu mencengkeram gagang pintu. Perlahan, tanpa suara, ia memutarnya kembali. Pintu yang tidak dikunci itu terbuka sedikit, memperlihatkan siluet kamar yang remang-remang.

Di dalam kamar, Andrea masih terduduk di tepi ranjang. Pakaian tidur tipisnya sedikit berantakan di bagian bahu, menampilkan kulit putihnya di bawah cahaya lampu tidur. Gadis itu sedang menunduk, menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa basah dan berdenyut akibat hisapan Bara beberapa menit lalu. Matanya berkaca-kaca, penuh kebingungan dan gejolak perasaan yang tak menentu.

Klek

Suara pintu yang menutup membuat Andrea tersentak. Ia mendongak dan seketika jantungnya seolah melompat dari dada.

Bara berdiri di sana.

Pria itu tidak mengenakan atasan, hanya celana panjang hitam yang membungkus pinggangnya. Otot-otot tubuhnya yang kekar tampak berkilat oleh keringat tipis di bawah temaram lampu.

Tatapan mata Bara malam ini berbeda dari biasanya. Tidak ada dingin yang membekukan, yang ada hanyalah kilat gelap yang begitu intens, tajam, dan penuh tuntutan..

"Kak ... Kak Bara? Kenapa kembali?" tanya Andrea, suaranya bergetar. Ia refleks menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, merasa terintimidasi oleh tatapan Bara, namun juga terpikat oleh aura dominan yang memancar dari tubuh pria itu.

Bara tidak menjawab. Langkah kakinya yang panjang dan tegas terdengar begitu mengancam di keheningan malam. Setiap langkah Bara yang semakin mendekat, membuat pasokan oksigen di paru-paru Andrea seolah menipis. Atmosfer kamar itu mendadak juga seperti berubah menjadi sangat panas dan menyesakkan.

Tanpa peringatan, begitu sampai di tepi ranjang, Bara merenggut selimut yang dipegang Andrea. Sebelum gadis itu sempat berteriak, Bara sudah mencondongkan tubuhnya, mengurung Andrea di bawah kungkungan tubuh kekarnya. Kedua tangan Bara bertumpu di sisi kiri dan kanan kepala Andrea, menjebak gadis itu sepenuhnya di atas ranjang.

"Kak Bara ... lepas .... " rintih Andrea, dadanya naik turun dengan cepat karena napas yang memburu. Wajah Bara begitu dekat, hingga ujung hidung mereka kembali bersentuhan.

"Aku mencoba melepaskanmu tadi, Andrea," bisik Bara, suaranya begitu rendah, serak, dan penuh dengan gai rah yang tertahan. "Tapi wajahmu ... tubuhmu ... aromamu ... benar-benar membuatku gila."

"Tapi Kakak bilang_"

"Persetan dengan apa yang tadi kukatakan," potong Bara.

Tangan kanan Bara bergerak cepat, mencengkeram kedua pergelangan tangan Andrea dan menguncinya ke atas kepala gadis itu, hanya dengan satu tangan. Kekuatan Bara yang begitu besar membuat Andrea sama sekali tidak berkutik. Sementara tangan kiri Bara yang bebas mulai menjelajahi sisi wajah Andrea, turun ke leher, dan dengan kasar dan penuh has rat menyusup ke bawah tengkuk gadis itu, memaksanya untuk mendongak.

"Siapa kamu sebenarnya hm?" bisik Bara tepat di depan bibir Andrea. Matanya menatap intens bibir ranum yang sedikit terbuka itu. "Kenapa ibuku memintamu untuk terus melindungiku? dan kenapa ... aku begitu menginginkanmu hingga rasanya ingin menghancurkanmu sekarang juga?"

Andrea tidak mengerti dengan benar apa yang dibicarakan Bara, karena apa yang terjadi saat ini membuat akal sehatnya lumpuh. Sentuhan tangan Bara di kulitnya memicu sensasi yang membuat seluruh tubuhnya lemas tak berdaya.

"Kak Bara ... Andrea mohon ... jangan seperti ini, ini salah .... " tangis Andrea pecah, air mata menetes di sudut matanya, bukan karena benci, melainkan karena rasa takut yang bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan.

Melihat air mata Andrea, sesuatu di dalam diri Bara bergejolak. Alih-alih melunak, tangisan itu justru memicu hasratnya yang kian menyala. Bara menundukkan kepala, menyapu air mata di pipi Andrea dengan bibirnya, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman yang sesungguhnya di atas bibir gadis itu.

Ciuman kali ini tidak seperti sebelumnya yang lambat dan merayu. Ini adalah ciuman yang menuntut, penuh gai rah yang meledak-ledak, dan sangat mendominasi. Bara melumat bibir lembut Andrea dengan intensitas yang membuat Andrea mendesah tertahan di dalam pagutan mereka.

Lidah Bara menyusup masuk, mengeksplorasi rongga mulut Andrea, mencicipi rasa manis yang memabukkan hingga membuatnya semakin kehilangan kendali.

Sementara Andrea melenguh lemah, tubuhnya menggeliat tipis, merespons setiap sentuhan Bara secara tidak sadar. Cengkeraman tangan Bara di pergelangan tangannya perlahan mengendur, berpindah mengusap pinggang Andrea, menarik tubuh sek si itu ke atas hingga dada mereka melekat tanpa celah.

Sentuhan kali ini terasa begitu membakar. Andrea bisa merasakan detak jantung Bara yang berdegup sama kencangnya dengan miliknya. Di dalam ciuman yang memabukkan itu, seolah ada benang tak kasat mata yang mengikat jiwa mereka, menuntut sebuah jawaban dari misteri yang menyelimuti hubungan mereka.

Bara melepaskan tautan bibir mereka sejenak untuk meraup udara, meninggalkan sisa saliva tipis di bibir ranum Andrea yang kini bengkak kemerahan. Napas mereka saling berkejaran, berbaur di dalam keheningan kamar yang kini terasa begitu membara.

Bara menatap wajah Andrea yang sayu dengan tatapan lapar. Jari-jarinya mengusap sisa salivanya di bibir gadis itu, lalu bergerak turun ke arah tali gaun tidurnya. Siap untuk menanggalkan sepenuhnya.

Malam ini, misteri surat ibunya dan gairah yang membakar jiwanya telah menyatu menjadi satu dorongan mematikan. Ia harus memiliki Andrea, seutuhnya, untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!