Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Setelah mengantar Ruhi, Emily langsung pulang ke rumah ibunya. Begitu sampai, ia berlari kecil ke arah teras belakang, langsung menghampiri peliharaan kesayangannya—seekor kucing anggora berbulu abu-abu yang lembut dan lebat. Sembari menunggu Rey menjemputnya, Emily memilih menghabiskan waktu bersama Mochi.
“Ututuuuu… Mochi mbull, kangen aku nggak sih?” Emily menciumi kepalanya sambil mengelus bulu halus itu. Senyumnya merekah, matanya berbinar. “Aku udah berapa hari nih nggak ketemu… aduduuu kangen akuuuu tuuu…”
Mochi mengeong pelan, menggesekkan kepala ke dagu Emily, membuatnya tertawa kecil.
Emily pun membawa mochi ke kamar nya,
Saat sedang asik bermain di balkon kamar, tiba-tiba terdengar bunyi pintu berderit terbuka. Emily menoleh cepat.
Rey masuk dengan wajah lelah, rambutnya sedikit berantakan, kaos nya kusut.
“Reyy… udah pulang,” ucap Emily sambil meletakkan Mochi di pangkuan,
“Iyaa,” jawab Rey datar, melempar tubuh ke sofa sambil menghela napas panjang. “Gue pikir lo belum di rumah…”
Emily tersenyum kecil, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah. “Gue langsung pulang pas nganterin Kak Ruhi.”
Rey mengangguk pelan, kemudian berdiri sambil meregangkan tubuh. “Ouh… oke. Gue mandi dulu, ya.”
"Lo bawa ganti ga...? Tanya Emily
"Bawa kan sengaja mau langsung jemput Lo!!!"
Emily hanya mengangguk, menatap punggung Rey yang berjalan menuju kamar mandi dengan langkah berat.
Setelah membersihkan diri, Rey berjalan ke balkon. Ia menemukan Emily masih duduk bersila di lantai dengan Mochi di pangkuannya, wajahnya ceria sekali.
“Itu kucing lo?” tanya Rey sambil mengusap rambutnya yang masih agak basah.
“Iya,” Emily mengangguk cepat, matanya berbinar. “Lucu kan, Rey?”
“Siapa namanya?” Rey mencondongkan tubuh, ikut melirik bulu abu-abu lebat itu.
“Mochi mbull…” Emily mencium pipi kucingnya, lalu terkekeh. “…rencana gue mau bawa ke apart lo. Boleh nggak?”
“Boleh lah.” Rey tersenyum tipis, lalu duduk di sampingnya. “Itu bukan apart gue, tapi apart kita. Gue juga punya kucing warna hitam, namanya Robow.”
“Haaah? Serius?” Emily menatapnya tak percaya, lalu tertawa geli. “Anggora lo namain Robow? Kenapa nggak sekalian Roblok. Hhhaaa.”
“Itu udah bagus, woy,” sahut Rey dengan nada protes, meski bibirnya ikut tersenyum. “Cowok item tapi bulunya bagus banget.”
“Lo pecinta kucing juga, ternyata…” Emily mengusap lembut punggung Mochi.
“Iya, suka,” Rey mengangguk singkat. “Ada di rumah Bunda. Nanti gue bawa juga biar si Mochi ada temannya.”
“Ahhh bener, Rey!” Emily bersorak kecil, lalu menciumi Mochi lagi dengan gemas. “Nanti rame di apart, gue emang niat mau bawa. Cuma takut lo nggak suka.”
“Bawa aja. Nanti kita bikin ruangan khusus mereka, deket tempat berjemur.”
Emily menatapnya sambil nyengir, lalu berkata manja, “Belum apa-apa udah punya anak, ya…” Ia kembali menempelkan bibir ke kepala Mochi.
“Mau pulang kapan?” tanya Rey santai, meneguk air mineral dari botol yang ia bawa.
“Makan malam dulu lah. Gue kangen sama Abang gue,” jawab Emily .
“Boleh. Belum pulang emang dia?”
“Tadi sih bilangnya lagi di jalan…”
Mereka berdua masih larut dalam obrolan ringan, sesekali diselingi tawa kecil, membicarakan anggora kesayangan mereka
Sekitar pukul 07.00 malam, mereka turun ke lantai bawah. Ternyata Altan sudah duduk di meja makan, baru saja menarik kursi untuk dirinya sendiri.
“Adek mau nginep? Tadi sampai mana nganterin ka Ruhi?” tanya Altan, menatap adiknya sambil mengaduk pelan segelas teh hangat.
“Enggak, cuma kangen Abang…” Emily nyengir kecil, lalu duduk di sampingnya. “…kangen juga masakan di rumah ini. Tadi aku nganterin Kak Ruhi sampai rumahnya, lah.”
“Oke, makasih ya, Dek.” Altan tersenyum tipis, tatapannya lembut. “Padahal nginep aja sekalian…Rey?” ia menoleh ke arah Rey yang baru saja menarik kursi di hadapan mereka. “
“Aku ikut Ili aja, Bang…” jawab Rey santai.
“Tapi tadi Rey ngajakin pulang, tau,” ucap Emily, sedikit manyun.
“Ya kalau mau nginep ya ayoo…” timpal Rey terkekeh.
“Hehe, pulang ajah lah…” sahut Emily canggung.
“Heuhh dasar kamu de. Tapi kamu gimana tinggal di apart, betah? Masih suka keluyuran?” tanya Altan heran.
“Betah lah sama suami. Lagian Rey juga baik, selama aku tinggal di sana… ya kan, Rey?” kata Emily lembut.
“Iya, masa sama istri harus dijahatin. Dia masih suka keluar, Kak, tapi dianterin sama aku,” jawab Rey tenang.
“Ya nggak apa-apa kalau sama suaminya. Tapi kalau dia macam-macam keluar sama cowok, itu bilang Abang,” tegas Altan.
“Enggak lah, Bang. Aku udah putus tau sama dia…” elak Emily cepat.
“Putus gimana? Orang di sosial media dia masih update foto kamu,” jawab Altan datar.
“Dia nggak terima, Bang, aku putusin. Ya aku sih bodo amat…” sahut Emily kesal.
“Nggak baik, Dek. Nanti dilihat keluarganya Rey gimana. Meskipun belum dipublish, keluarga kita kan tahu pernikahan kalian. Yang tercoreng nanti kamu, udah punya suami tapi masih dianggap punya pacar. Haduh, gimana sih…” ujar Altan menasihati.
“Terus Ade harus kayak gimana? Adek udah putusin dia, tapi dianya tetap nggak mau. Ya Ade sih bodo amat, orang sekarang juga udah jarang kontekan, meskipun kalau di kampus dia ngintilin Ade terus,” jelas Emily pasrah.
“Harus dikasih paham ya, nggak Bang?” jawab Rey singkat.
“Nah itu…” Altan mengangguk.
“Sokk ajah,” sahut Emily, nada suaranya lelah. “Bang, Abang kapan main ke apart Adek? Abang belum pernah kan ke sana?”
“Belum. Kapan-kapan lah,” jawab Altan ringan.
“Kapan-kapan aja sama Kak Ruhi juga,” tambah Emily polos.
“Asiappp,” balas Altan terkekeh.
Setelah selesai makan, Emily bersiap untuk pulang. Tapi ternyata hujan di luar sangat deras. Kalau mereka membawa mobil nanggung sekali, harus menunda dua motor. Jadi, Rey berencana menunggu hujan reda saja. Ini juga masih siang. Sambil menunggu hujan reda, Emily tiduran di sofa ruang keluarga, sementara Rey masih mengobrol dengan Altan.
“Masih ujan, Rey. Tunggu dulu aja,” ucap Altan santai.
“Iya, Bang. Padahal tadi cerah banget pas sore,” jawab Rey pelan.
“Besok gimana persiapannya? Aman kan?” tanya Altan serius.
“Aman, Bang. Tim kampus kita sudah latihan sebaik mungkin, semoga aja ya…” sahut Rey yakin.
“Gue percaya sama kalian. Sudah beberapa kali mengharumkan nama universitas kita,” ucap Altan bangga.
“Abang masih jadi ketua BEM?” tanya Emily dari arah sofa dengan nada malas.
“Sebentar lagi jabatan Abang juga selesai. Banyak yang minta Abang buat berdiri lagi, tapi kayaknya Abang mau fokus skripsian sama persiapan sidang, Dek,” jawab Altan tenang.
“Iya, nanggung Bang. Bentar lagi kan Abang lulus. Kalau Abang masih jadi ketua BEM kayaknya nambah-nambah beban aja, udah mau jadi ketua BEM, ngurusin perusahaan Papa, pasti capek Abang mah,” sahut Emily pelan.
“Nggak apa-apa, Adek. Kan perusahaan Papa juga dipegang sama Abang. Buat masa depan Abang juga. Abang mau nikahi Ruhi, jadi harus punya persiapan. Rey, di angkatan selanjutnya lo aja yang naik jadi ketua BEM,” ucap Altan sambil tersenyum.
“Aduh, nggak kepikiran Bang,” jawab Rey cepat.
“Kenapa nggak bisa? Jadi ketua geng bisa masa nggak bisa jadi ketua BEM. Padahal nilai lo juga bagus banget,” goda Altan.
“Abang, kalau misalkan rey yang nyalon jadi ketua BEM dia pasti menang, soalnya fansnya banyak banget,” celetuk Emily dari sofa sambil tertawa kecil.
“Sotau, Illy…” sahut Rey, geleng-geleng.
“Ihhh, bener,” timpal Emily manja.
“Padahal lo pasti ada bakat, Rey. Kalau harus naik ke ketua BEM,” ujar Altan mantap.
“Iyalah, Bang. Nanti dipikir-pikir. Tapi kayaknya aku juga kan sama kayak Abang, harus ngurusin cabang-cabang perusahaan Papa. Meskipun aku belum paham banget, tapi tetap aja dikejar harus bisa ini itu,” ucap Rey pelan.
“Iya, itu memang demi kebaikan kita juga. Apalagi kita kan laki-laki,” jawab Altan tenang.
“Iya juga sih…” sahut Rey singkat.
Mereka masih asik mengobrol seputar kampus, tanding basket, dan soal bisnis perusahaan yang sedang mereka pelajari. Tanpa mereka sadari, ternyata Emily sudah terlelap di sofa.
“Huuuh, dasar si pelor. Lihat, Rey… istri lo udah nyenyak aja. Enak kali ya, hujan gede. Udah, Rey, nginep aja. Kasihan, dibangunin kalau udah kayak gitu kan susah,” ucap Altan sambil terkekeh.
“Heuuh, oke deh Bang. Aku bawa ke atas ya, kasihan kalau tidur di sofa,” jawab Rey lembut.
Akhirnya, Rey membawa Emily ke kamarnya dan tidak jadi pulang ke apartemen malam itu.