Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Rayuan
Evan yang mendengar pertanyaan Bastian itu, segera merangkul Sofia dan berkata,
"Kamu bicara apa, Bastian? Untukku wanita paling cantik adalah Sofia."
"Mas Evan bisa saja, tapi kan Hanna memang sangat cantik."
"Tapi memang kamu paling cantik di mataku, Sofia. Tidak ada wanita yang sebanding denganmu untukku,"
"Astaga, pasangan Suami Istri ini sangat so sweet sekali."
Ibu Bastian memuji keduanya yang saling.
Bastian tidak lagi melanjutkan kata-katanya hanya tersenyum tapi dalam hati dia merasa sangat kesal melihat bagaimana Suami Sofia terlihat sangat munafik itu.
"Tapi memang Sofia bertambah cantik, ya. Aku sempat pangling dengan penampilanmu," kata Ibu Bastian lagi.
"Ahaha, apakah begitu? Yah, Aku memang merubah sedikit gayaku di bandingkan dulu."
Sofia ingat dia dulu, memang tidak semodis sekarang, yang mengerti tentang pakaian Branded mahal ataupun hal-hal tentang Fashion.
Itu mungkin sejak dia tinggal di Rumah Ibu Mertuanya, yang melihat dirinya seperti orang udik dan katanya lebih cocok jadi pembantu dari pada Istri Evan, dan Evan juga sempat mengkritik gaya berpakaiannya dan dia yang tidak pernah dandan.
Jika mengingat masa-masa suram itu, perasaan Sofia sedikit tidak nyaman, saat itu juga dia di hina-hina mandul juga oleh Ibu Mertuanya itu.
Padahal berbeda dengan kondisi sekarang, di awal-awal pernikahannya itu, Kondisi Sofia sehat-sehat saja, coba saja Suaminya Evan tidak menipunya untuk minum obat Kontrasepsi, mungkin mereka sudah memiliki momongan sekarang.
Rasa sakit segera memasuki hatinya ketika memikirkan itu.
Namun itu hanya sesaat, Sofia segera menstabilkan emosinya.
"Tapi ini memang perubahan yang bagus, tapi dari Awal Sofia memang sudah cantik. Bahkan dengan gaya yang dulu, kamu tetap cantik," puji Bastian.
"Bastian, apakah kamu baru saja kesurupan? Padahal dulu kamu sering mengejekku jelek," kata Sofia lagi sambil tertawa dan heran mendengar pujian Bastian tiba-tiba.
Bastian yang mendengar itu segera membela diri dan memilih pura-pura lupa.
"Benarkah? Aku sepertinya tidak pernah bilang begitu, kamu salah ingat kalik."
"Kamu dulu sering iseng mengambil kacamataku, dan mengejekku!! Aku tidak akan lupa!"
"Itukan cerita lama!"
Lagi-lagi dua orang itu terlihat menunjukkan keakraban dan saling iseng satu sama lain.
Evan jelas merasa kesal dengan kedekatan mereka, namun dia masih mencoba menahan dirinya.
Dan begitulah akhirnya, setelah makan siang bersama, Sofia dan Evan segera pamit pulang.
Evan mengatar kedua orang itu ke tempat parkir.
"Aduh, Aku sampai kelupaan meninggalkan ponselku didalam," kata Sofia panik ketika memeriksa tasnya.
"Ya sudah, ambil saja sana. Kamu sepertinya masih tidak berubah masih suka ceroboh seperti itu."
"Hmph, kamu juga masih menyebalkan."
Dan sekarang tatapan Sofia beralih kepada suaminya.
"Mas Evan, Aku masuk dulu kamu di sini sebentar menungguku sambil ngobrol-ngobrol dengan Bastian."
Dengan kepergian Sofia, sekarang tinggal dua orang Pria itu yang saling tatap satu sama lain dengan penuh benci.
Evan yang paling pertama bicara,
"Aku tidak suka Bagaimana kamu dekat-dekat dengan, Istriku. Ingat, kalian hanya teman masa kecil, dan Sofia sudah menjadi Istriku."
Bastian yang mendengar itu malah tertawa,
"Astaga, sepertinya kamu itu tipe suami yang cemburuan? Aku dengar sempat ada kejadian dimasalalu dimana kamu menuduh Sofia berselingkuh, dan sekarang sepertinya kamu mencurigai Sofia lagi? Sungguh tidakan bodoh."
"Hal di masa lalu bukan urusanmu! Aku tidak curiga pada Sofia, namun pada kamu yang mencoba mendekati Istriku!"
"Kamu itu yang jangan bicara sembarangan! Jangan samakan aku seperti pria sepertimu yang suka bermain mata dengan wanita."
"Jaga omonganmu!"
"Apakah yang Aku katakan benar? Itulah kenapa kamu marah?"
Evan sudah tersulut emosi mendengar tanggapan Bastian, namun dia masih mencoba menahan emosinya takut-takut dia malah menjadi keceplosan dan Bastian menjadi semakin curiga padanya.
"Sudahlah. Sepertinya tidak ada gunanya berbicara padamu. Lagipula apapun itu, Sofia tidak akan pernah melirikmu, karena dia hanya mencintaiku..."
"Lalu bagaimana denganmu? Aku merasa Sofia sangat malang harus bersama Pria sepertimu."
"Kamu..."
Evan yang marah itu, memegang kerah Bastian, ingin memukulnya, namun itu tidak jadi karena Sofia datang.
"Eh? Apa sih yang kalian berdua ributkan? Evan? Apa yang coba kamu lakukan pada Bastian?"
Bastian, segera memegang tangan Evan dan menyingkirkannya dari kerah bajunya sambil berkata dengan santai,
"Dia hanya penasaran dengan Brand pakaian yang Aku pakai."
"Begitukah Mas Evan?"
"Ya, Aku hanya ingin mengecek kain bajunya, sepertinya cukup nyaman."
Evan sepertinya juga tidak ingin terlihat jelek di depan Sofia, lagi pula jika pertengkaran mereka berdua bocor, bisa jadi Sofia malah curiga padanya, atau Bastian bisa bicara sembarangan soal dirinya.
"Jadi begitu."
Setelahnya, Sofia segera berpamitan dengan Bastian dan segera pulang.
Evan juga tidak berkomentar atau mengatakan apapun soal Bastian.
####
Hari itu, Evan berencana pulang kantor lebih awal karena memiliki janji untuk makan malam dengan Sofia. Dia sengaja pulang lebih awal karena ingin membeli hadiah untuk Istrinya itu.
Kebetulan, ada sebuah toko bunga di dekat kantor, jadi dia mampir kesana. Hanya saja, ketika Evan baru saja kembali ke mobil, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang memeluknya dari belakang.
"Mas Evan, Aku merindukanmu..."
Seorang wanita yang harusnya tidak ada di kota ini. Mendengar suara familiar itu, Evan merasa tidak senang dan mencoba untuk melepaskan pelukan dari wanita itu.
"Kamu apa-apa sih, Hanna?"
Namun Hanna tidak peduli dan terus memeluk Evan.
"Memang kamu tidak merindukanku?"
Hanna masih memeluk erat Evan, jika ingin melepaskan pelukannya.
"Hanna, Apakah kamu tidak ingat terakhir kali aku bilang padamu bahwa hubungan kita sudah berakhir."
Evan kali ini berhasil melepaskan pelukan Hanna, namun Hanna malah menarik Evan dan menciumnya. Evan jelas segera mendorong Hanna.
"Kamu ini apa-apaan sih! Di tempat umum seperti ini! Bagaimana jika ada yang lihat atau ada yang memfoto!"
Tatapan Evan segera menunggu ke arah sekitar takutnya jika ada paparazzi yang mengawasi, secara Hanna sekarang termasuk Artis yang sedang naik daun pasti gosip tentang Hanna akan menjadi trending topik.
Jika sampai foto mereka tersebar, Evan tidak bisa membayangkan kerusuhan apa yang akan terjadi, terutama jika sampai Sofia tahu.
"Aku tidak peduli!"
Evan yang kesal, segera menarik Hanna kedalam Mobil. Namun berada di mobil juga belum tentu aman, dia segera pergi menyetir Mobil, menuju salah satu Rumah Rahasia, dimana dia bisa bertemu Hanna.
Tentu saja Hanna mengikuti tanpa bertanya.
Ketika memasuki rumah mereka, Evan yang dari tadi menyeret Hanna, segera mendorong Hanna menjauh.
"Mas Evan apa-apa sih!"
"Kamu itu yang apa-apaan! Aku sudah bilang bahwa kita tidak memiliki hubungan lagi."
"Itu kan menurutmu! Namun untukku hubungan kita masih belum berakhir!"
"Hanna, cukup! Sebenarnya apa yang kamu mau?"
"Aku menginginkanmu..."
Hanna berjalan kedepan, dan memegang kerah baju Evan.
"Tapi Aku sudah tidak menginginkanmu."
"Aku tidak percaya jika kamu benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita."
"Cukup, Hanna..."
Hanna lalu mulai melepaskan jaket yang dia kenakan, dan dibalik itu Hanna mengenakan pakaian yang sangat seksi dan terbuka.
Melihat penampilan menggoda itu, Evan sedikit menelan ludahnya. Dia merasakan aroma segar milik Hanna, aroma yang belakangan ini sering dia rasakan.
Hanna bisa melihat tatapan pria yang ada di hadapannya itu masih terlihat menginginkannya. Dia segera maju, dan merangkul leher Evan.
"Sayang... Apakah kamu benar-benar tidak menginginkanku?"
Hanna kali ini kembali mencoba mendekatkan wajahnya.
Tatapan mereka segera bertemu, ada keinginan menggebu dari mata keduanya. Evan juga merasakannya, tatapan mata Hanna yang seolah menghipnotisnya.
Mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka, awal dari semua ini.
Hari setelah peluncuran film itu, ketika Sofia memperkenalkannya pada Hanna untuk pertama kalinya.
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚