Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 "JIKA BUKAN DIA, LALU SIAPA?"
"O-oh... Jadi kamu ya orangnya?" responku saat ia bilang bahwa dia lah pengurus ke tiga pondok putri ini. Pengurus ke tiga yang sedari tadi siang ku tunggu-tunggu kedatangannya.
"Iya Mbak Nisa..." jawabnya.
Aku jadi sedikit agak gugup dibuatnya, sekaligus merasa heran. Sangat heran.
Setelah berkenalan, aku langsung saja mempersilahkan dirinya untuk masuk. Dan langsung ku kunci gerbang.
Setelah gerbang benar-benar terkunci, aku kembali melihat ke arah jalan sejenak dari dalam gerbang, dan langsung bertanya padanya.
"Emm... Kok kamu jalan kaki? Enggak ada yang anter kesini?"
"Sebenarnya saya tadi kesini naik ojek Mbak, dari jalan raya. Tapi, tiba-tiba motor tukang ojeknya mogok mendadak..." jelasnya dengan tampak tenang sekali. Tak ada ekspresi kecewa atau apapun itu di wajahnya.
"Loh, mogok? Mogok di mana?" tanyaku.
"Tadi Mbak, pas di jalan area kebun tebu di sana itu..." jawabnya sambil menunjuk dari dalam gerbang ke tempat yang dimaksud.
"Terus?"
"Tukang ojeknya berusaha biar motornya nyala lagi Mbak, tapi gak bisa-bisa. Akhirnya dia bilang kalau pondok putrinya sudah dekat. Dan saya disuruh jalan kaki saja sama dia. Kasihan sama saya kalo harus menunggu agak lama katanya." jelasnya.
"Oh gitu..."
"Iya Mbak Nisa, begitu ceritanya."
"Kok kamu berani lewat jalanan sepi begitu sendirian? Gak takutkah?"
"Hehehe... Enggak kok Mbak..."
Sungguh tampak tenang sekali wajahnya menjawab seperti itu. Dan memang sudah terlihat tenang ketika ia berjalan sendirian menuju ke sini tadi. Tak terburu-buru.
"Ya udah, yang penting Mbaknya sekarang udah sampe di sini."
"Iya Mbak Nisa, Alhamdulillah..."
"Ayok Mbak, jangan lama-lama ngobrol di sini. Udah malem, pasti kamu juga capek." kataku sambil memberikan gestur padanya agar mengikutiku.
Dan ia hanya mengangguk dengan tersenyum...
Aku mempersilahkan dirinya untuk berjalan di depanku. Dengan aku berada di belakangnya.
Ketika sampai di area taman depan masjid yang diterangi oleh beberapa lampu taman, tampak dirinya memperhatikan sekitar. Wajahnya menoleh ke kanan, dan ke kiri.
"Masya Alloh... Ternyata pondoknya gak terlalu luas ya Mbak Nisa, tapi terasa nyaman banget." katanya.
"Iya kah? Mbak langsung merasa nyaman?" tanyaku heran.
"Iya Mbak Nisa, nyaman banget. Auranya terasa penuh ketenangan di sini." jawabnya, sambil menoleh ke arahku, dengan senyuman manis di bibir tipisnya.
Aku yang mendengar jawabannya itu, berdiri diam sejenak sambil menatap wajahnya, dan sedikit bertanya dalam hati...
Kenapa dia langsung sebut kata aura?
Apakah...
Dia...
"Mbak? Kok lihat saya kayak gitu? Ada apa?" tanyanya segera saat melihatku menatap wajahnya lebih dalam.
"E-eh... Enggak apa-apa kok Mbak... Maaf ya..." jawabku sedikit tak enak hati.
"Emmm... Iya Mbak Nisa, gak apa-apa."
"Em... Kamu mau langsung ke kamar aja?" tanyaku. Dengan maksud mungkin dirinya merasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Atau mungkin dirinya ingin melihat-lihat dahulu area pondok putri ini supaya sedikit lebih mengenal.
"Boleh deh Mbak, kamarnya di sebelah mana?"
"Ada di belakang masjid ini, gak jauh kok." jawabku. Dan aku pun segera berjalan di depannya. Hendak menunjukkan bangunan khusus kamar para pengurus yang nanti akan di tempati olehnya.
"Nah... Di sini adalah kamar-kamar khusus buat para pengurus pondok Mbak." kataku saat sudah sampai.
"Oooh... Di sini ya..." responnya sambil memperhatikan deretan kamar di lantai bawah, dan melihat deretan kamar lantai atas.
"Emm... Kalau kamar yang itu, udah ada pengurus yang menempati Mbak, namanya Ayu..." kataku sambil menunjuk kamar Ayu yang memang ada di lantai bawah.
"Oh... Mbak Ayu nya ada?"
"Ada kok, tapi dia lagi anterin Ibunya yang sakit ke puskesmas. Dan malam ini dia gak tidur di sini, tapi di rumahnya sambil nemenin orang tuanya." jawabku.
"Kalau dua kamar ini, masih kosong ya Mbak?" sambil menunjuk ke dua kamar sebelah kamar Ayu.
"Iya Mbak, masih kosong. Ya mungkin seiring berjalannya kegiatan pondok putri ini, akan ada lagi pengurus baru."
"Oh gitu... Terus, kalau kamar Mbak Nisa, dimana?"
"Kalo kamar saya di lantai dua, pas di depan tangga." jawabku sambil menunjuk ke arah kamarku.
Kali ini, aku memandangnya dengan semakin bertanya-tanya...
Karena, saat dirinya menatap ke arah kamarku...
Dengan jelas aku melihat bibirnya tersenyum tipis...
Dengan ke dua bola matanya yang seperti memancarkan sebuah kekaguman...
Apa yang dia "lihat" dari kamarku sampai tersenyum manis begitu?
Apa yang dia "lihat" dari kamarku dengan ekspresi mata yang kagum itu?
Dan ketika aku hendak menanyakan di mana kamar yang ingin ia tempati, langsung dia berkata sebelum aku menanyakan itu.
"Mbak Nisa, saya pengen di kamar sebelah kamarmu ya... Di lantai atas itu Mbak..."
"O-oh... Kamar itu ya... Em, boleh... Ayok naik." responku. Dan aku langsung saja naik ke lantai atas, diikuti olehnya di belakangku.
Suara langkah kakiku terdengar lebih nyaring saat menaiki tangga. Berbeda dengan langkah kakinya yang hampir tak bersuara.
Entah apa yang aku rasakan semenjak dirinya datang...
Aku merasa seperti gugup, merasa canggung, merasa bahwa dirinya ini sangat sholihah...
Dan... Jujur...
Aku tak merasakan adanya sebuah energi yang berbahaya atau mengancam...
Justru sensor ghoib dalam diriku mengatakan yang sebaliknya. Dia terasa sangat tenang, berwibawa, dan juga baik.
Ketika sudah sampai di depan kamar yang ia minta, tepat di sebelah kamarku, aku keluarkan kunci kamar itu dari dalam saku baju gamisku.
"Nah, ini kuncinya ya Mbak..."
"Iya Mbak Nisa, terima kasih ya..."
"Iya, sama-sama..."
Kami berdua pun saling memberikan senyum.
"Saya boleh langsung masuk Mbak?" tanyanya.
"Eh, iya, boleh-boleh... Biar bisa langsung istirahat Mbak..." jawabku.
Aku lihat dirinya hendak membuka kunci kamar. Tapi, sepersekian detik, mataku melihat bibirnya seolah membaca sesuatu. Tanpa bisa ku dengar suaranya. Dan terbukalah pintu kamarnya.
Ketika ia hendak masuk, ia menoleh ke arahku dan berkata...
"Oh iya, jangan panggil saya Mbak ya... Panggil aja Bunga... Hehehe..."
"Eh? Loh?" responku heran
"Kenapa Mbak Nisa? Ada yang salah?"
"Em, gak kok, tapi..."
"Tapi kenapa?" sambil wajahnya kini agak sedikit serius menatap wajahku.
"Kenapa panggilanmu Bunga? Bukannya tadi kamu sebut namamu Sekar Putri Purnamasari ya? Kok malah Bunga? Terus, kenapa gak mau dipanggil dengan sebutan Mbak?"
Rentetan pertanyaan itu aku ucapkan tanpa basa-basi. Karena semakin heran aku dibuatnya.
"Oooh... Iya Mbak Nisa, nama lengkap saya memang Sekar Putri Purnamasari. Tapi dari kecil, orang tua saya biasa panggil saya Bunga. Dan itu jadi panggilan juga sehari-hari di lingkungan saya. Terus, kenapa saya gak mau dipanggil dengan sebutan Mbak, karena umur saya baru 20 tahun." jelasnya panjang lebar.
"Loh? Kamu baru umur 20 tahun?"
"Iya Mbak, masih muda banget kan? Hehe..."
"Iya... Muda banget kamu. Ya udah kalo gitu, Mbak tinggal dulu ya. Kamu langsung istirahat dulu aja."
"Iya Mbak Nisa, terima kasih sekali lagi ya Mbak..."
"Iya Bunga..."
Akhirnya Bunga pun segera masuk ke dalam kamar, lalu segera menutup pintunya. Langsung terlihat lampu kamarnya dinyalakan.
Aku pun hendak masuk ke kamarku. Tapi, baru saja ku buka pintu kamarku ini, Bunga membuka kamar dan bertanya padaku.
"Em, Mbak Nisa, maaf..."
"Eh, kenapa Bunga? Ada yang bisa Mbak bantu dulu?"
"Kalau kamar mandinya di sebelah mana ya?"
"Oh iya... Astaghfirulloh... Mbak juga kelupaan buat kasih tau. Kamar mandi ada di samping masjid tadi Bunga, bersebelahan sama area berwudhu." jawabku sambil menunjuk ke arah yang kumaksud.
"Oh di sana ya... Makasih ya Mbak, maaf aku banyak tanya terus dari tadi..."
"Iya, gak apa-apa kok..."
Dan akhirnya Bunga masuk kamar, begitu pun denganku.
.....
.....
Ketika aku sudah berganti pakaian untuk segera tidur, kasurku juga sudah ku siapkan, lampu kamar juga sudah ku matikan...
Aku masih bertanya-tanya dalam batinku sendiri...
Bertanya-tanya sambil mencoba menghubungkan antara pesan peringatan dari Sekar Mayang dan Dayang Putri tentang sosok "Dia" yang akan datang, dengan kedatangan Bunga itu.
Memang tampak sedikit aneh bagiku...
Bunga datang memang naik ojek katanya, akan tetapi terjadi masalah pada motor si tukang ojek. Akhirnya dia disuruh berjalan, melalui area perkebunan tebu yang luas, menyusuri jalanan sepi sampai ke pondok putri ini.
Dan dia berani...
Dia sangat tenang...
Dia tak takut...
Kemudian, ketika aku aktifkan sensor ghoibku, tak ada energi atau aura apapun dari dirinya yang terasa berbahaya atau mengancam.
Justru aku merasakan dia itu baik dan sholihah, serta berwibawa. Meskipun ternyata umurnya baru 20 tahun.
Lantas...
Jika bukan Bunga yang dimaksud oleh Sekar Mayang dan Dayang Putri...
Sekali lagi aku bertanya dalam batinku...
Jika bukan dia, lalu siapa???