Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Triliunan Rupiah dan Hari Perpisahan
Lokasi: Rumah keluarga Pratama, Buduran, Sidoarjo. Ruang tengah yang sederhana namun tertata sangat rapi.
Waktu: Awal Mei 2012, pukul 20.00 malam. Udara malam terasa hangat dan lembap, angin berhembus pelan membawa aroma bunga melati yang ditanam Ibu di halaman. Di ruangan itu, suasana terasa campur aduk: ada rasa bahagia yang luar biasa, namun terselip rasa haru yang mendalam. Malam ini adalah malam terakhir sebelum hari kelulusan sekolah Dika dan Rio, sekaligus malam di mana Dika membuka kembali lembar harta kekayaannya yang kini telah berubah drastis jumlahnya.
Dika duduk di kursi utama, tubuh tingginya yang 179 cm terlihat tegap namun santai. Ia mengenakan kaos berkerah warna biru tua yang memperlihatkan bentuk bahu lebar dan dadanya yang bidang, kulit sawo matangnya berkilau lembut terkena cahaya lampu. Di hadapannya terbuka layar laptop yang memancarkan cahaya terang, menampilkan deretan angka dan grafik yang membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan menahan napas tak percaya. Di sebelah kanannya duduk Ayah Rudi, wajah tegas sang mantan prajurit kini dipenuhi ekspresi takjub yang mendalam. Di sebelah kiri, Ibu duduk diam sambil menggenggam tangan anaknya erat, matanya berkaca-kaca. Sedangkan Rina duduk di pangkuan Ayah, menatap layar dengan mulut sedikit terbuka, tidak paham sepenuhnya tapi mengerti bahwa angka-angka itu sesuatu yang sangat besar.
"Ayah, Ibu... ingat tidak tiga bulan lalu saya bilang aset saya ada di angka 12,4 Miliar Rupiah?" tanya Dika lembut, suaranya tenang dan rendah namun berwibawa.
Ayah Rudi mengangguk pelan, matanya masih terpaku pada layar. "Ingat, Le. Waktu itu saja Ayah sudah sampai tidak bisa bicara. Itu uang yang jumlahnya setara anggaran pembangunan jalan raya di kecamatan ini."
Dika tersenyum tipis, lalu menunjuk satu angka besar yang berkedip-kedip di tengah layar. Matanya yang cokelat tua itu berbinar cerdas, sama bersinarnya dengan kekayaan yang ia miliki.
"Nah... sekarang, tolong lihat angka ini. Sejak awal tahun sampai sekarang, harga Bitcoin melonjak naik sangat drastis, jauh melebihi prediksi saya yang paling optimis sekalipun. Banyak negara mulai mengakui, banyak bank besar mulai berinvestasi, dan permintaan dunia melonjak gila-gilaan."
Dika menarik napas panjang sejenak, lalu melanjutkan dengan nada suara yang mantap dan jelas:
"Saat ini, per tanggal hari ini, total kekayaan saya... mencapai angka 1,2 Triliun Rupiah."
"TRILIUN?!"
Seruan kaget itu meledak serentak dari mulut Ayah, Ibu, dan bahkan Rina yang hanya ikut-ikutan kaget melihat reaksi orang tuanya. Ayah Rudi langsung berdiri tegak karena kaget, wajahnya pucat lalu berubah merah padam karena campuran rasa tidak percaya dan bangga yang luar biasa. Sebagai mantan perwira yang pernah mengelola uang negara, ia tahu betul berapa nilai uang 1 triliun rupiah. Itu adalah uang yang bisa membangun rumah sakit besar, jalan tol, atau membeli puluhan gedung perkantoran mewah di kota besar.
"Serius kamu, Dik? Satu koma dua triliun? Itu... itu jumlah yang tidak masuk akal! Itu kekayaan konglomerat besar, kekayaan perusahaan raksasa! Kamu... kamu baru berumur 18 tahun, Nak... Kamu punya uang sebanyak itu?" suara Ayah bergetar hebat, tangannya gemetar saat menunjuk layar komputer.
Dika mengangguk mantap, rahang tegasnya mengeras menegaskan kebenaran itu. Ia bangkit berdiri, tubuhnya menjulang gagah, lalu memegang bahu Ayah dengan kedua tangannya yang kuat dan hangat.
"Benar, Ayah. Hitungannya sah, ada di rekening digital saya, aman terkunci, tidak ada yang bisa menyentuhnya selain saya. Semuanya hasil kerja keras saya sejak umur 16 tahun: dari nyanyi, dari menulis, dari memahami dunia keuangan, dan berani mengambil keputusan di saat orang lain ragu. Rinciannya begini, Pak:
1. Uang tunai di rekening bank: Rp 18 Miliar Rupiah. Ini cair, bisa diambil kapan saja.
2. Nilai investasi Bitcoin: Rp 1.182 Miliar Rupiah (atau setara 1,18 Triliun).
3. Aset lain (hak cipta lagu, royalti konten digital): Terus bertambah sekitar Rp 50 - 100 Juta per bulan, selamanya.
Total bersih: Rp 1.200.000.000.000,- (Satu Koma Dua Triliun Rupiah)."
Ayah Rudi terduduk kembali di kursinya, napasnya berat. Ia menatap anak sulungnya dengan pandangan yang sama sekali baru. Ia tidak lagi melihat anaknya sekadar sebagai pemuda berbakat main bola, atau anak yang berbakti pada orang tua. Ia melihat sosok jenius yang berdiri di hadapannya, seorang pemuda yang mampu mengumpulkan kekayaan setara negara bagian, namun tetap hidup sederhana di rumah kecil beralaskan semen bersama orang tuanya.
"Dik... kamu bukan cuma anak hebat... kamu luar biasa," gumam Ayah lirih, air mata bangga menetes di pipi keriputnya. "Dengan uang sebanyak ini, kamu tidak perlu bekerja seumur hidup pun, keturunan kamu sampai tujuh turunan pun masih bisa hidup mewah. Kamu bisa beli apa saja di dunia ini. Kamu bisa beli klub sepak bola kalau kamu mau."
Dika menggeleng pelan, lalu duduk kembali di samping Ibunya yang masih diam terpaku sambil menutup mulutnya dengan sapu tangan. Dika merangkul bahu Ibunya dengan lembut, kekuatan otot lengannya terasa menenangkan bagi wanita itu.
"Uang ini bukan tujuan, Ayah, Ibu. Ingat selalu itu. Uang ini adalah jembatan. Dulu saya menolak Persebaya karena saya tahu, dengan uang ini, saya bisa masuk ke Eropa bukan sebagai pemain beli murah, tapi sebagai talenta yang punya kuasa penuh atas karir saya sendiri. Saya bisa bayar pelatih terbaik, saya bisa sewa fasilitas latihan terbaik, saya bisa bawa Rio sahabat saya, saya bisa jamin masa depan keluarga kita sampai kapan pun."
Dika menatap Ayah lekat-lekat.
"Ayah pensiun dengan penghasilan pas-pasan demi membesarkan saya dan Rina. Mulai hari ini, Ayah pensiun dengan kemewahan penuh. Besok pagi, saya suruh orang belikan rumah baru yang lebih besar dan nyaman di kawasan elit Sidoarjo, belikan mobil baru mewah untuk Ayah, mobil untuk Ibu, tabungan pendidikan Rina sampai S3 sudah saya setor lunas di bank teraman. Kita tidak perlu susah lagi, tidak perlu pikirkan harga beras, harga listrik, atau biaya obat-obatan. Semua sudah selesai. Tugas saya sudah mulai selesai di sini."
Rina yang dari tadi diam, tiba-tiba berseru dengan mata berbinar. "Jadi... Kak Dika itu lebih kaya dari Pak Bupati? Lebih kaya dari orang-orang terkenal di TV?"
Dika tertawa renyah, lalu mengusap kepala adiknya. "Jauh lebih kaya, Dik. Tapi ingat pesan Kakak... kekayaan terbesar kita tetaplah kehormatan keluarga Pratama, nama baik Ayah Rudi, dan kasih sayang Ibu. Uang ini cuma kertas dan angka. Kalau kita lupa diri, uang ini jadi racun. Kalau kita pakai bijak, uang ini jadi kebaikan tak terhingga."
Malam itu berlalu dengan perasaan lega yang mendalam. Beban hidup berat yang selama ini diam-diam dipikul Ayah dan Ibu, lenyap seketika digantikan oleh kepastian masa depan yang gemilang. Dika telah menyelesaikan misi pertamanya: menjamin kehidupan keluarganya selamanya.
Keesokan Harinya - Siang Hari, Halaman Sekolah SMA Negeri Buduran
Suasana penuh sesak, ramai, dan penuh emosi. Hari ini adalah hari pelepasan dan kelulusan siswa. Di tengah lapangan sekolah yang luas, berdiri dua sosok yang paling mencolok perawakannya, menjadi pusat perhatian seluruh siswa, guru, dan wali murid yang hadir.
Di sana ada Dika Pratama, sang kapten tim sekolah. Tinggi 179 cm, berat 72 kg, tubuhnya padat, atletis, dan sangat proporsional. Ia mengenakan seragam sekolah lengkap dengan jas almamater yang kini terasa agak sempit di bagian bahu dan dadanya yang bidang. Kulit sawo matangnya bersinar di bawah terik matahari, rambut hitamnya rapi disisir, dan wajah tegasnya tersenyum ramah menyapa siapa saja yang lewat. Namun di balik senyum itu, sorot matanya tajam dan percaya diri, menonjolkan kecerdasan dan kematangan yang jauh melampaui teman-temannya. Ia berjalan tegap, langkahnya pasti dan ringan, gerakannya memancarkan kekuatan terlatih hasil ribuan jam latihan fisik. Di mata para gadis sekolah, Dika adalah definisi sempurna laki-laki gagah: tampan, cerdas, berprestasi, dan berkarisma. Di mata para guru, ia adalah siswa teladan yang tak tergantikan.
Di sebelahnya berdiri Rio, sang benteng pertahanan, bek tengah andalan mereka. Tingginya menjulang 183 cm, berat badannya 78 kilogram dengan tubuh yang sangat besar, kekar, dan kokoh seperti dinding beton. Bahunya sangat lebar, dadanya bidang, dan kakinya besar berotot, membuatnya terlihat lebih besar dari orang dewasa mana pun yang ada di lapangan itu. Kulitnya agak lebih gelap, rahangnya keras, dan tatapannya tenang namun mengintimidasi, persis seperti karakter seorang bek tengah yang tak kenal ampun di lapangan. Rio berdiri tegak di samping Dika, selalu setia berada di posisi belakang atau samping kanan sahabatnya itu, menjaganya seperti ia menjaga gawang di lapangan sepak bola. Meski perawakannya menyeramkan, senyumnya ramah dan suaranya berat terdengar akrab bagi semua teman-temannya.
Pasangan ini, Kapten dan Bentengnya, menjadi legenda hidup sekolah itu. Bersama-sama mereka membawa sekolah juara bertahan tingkat kabupaten, provinsi, hingga masuk 5 besar tingkat nasional. Tidak ada penyerang yang bisa melewati Rio, dan tidak ada pertahanan yang bisa menahan Dika.
"Wah, Dik... rasanya nggak nyangka kita bakal berpisah sama sekolah ini," kata Rio sambil melihat sekeliling, matanya sedikit berkaca-kaca karena haru. Ia menepuk bahu Dika yang keras dan bidang itu dengan tangan besarnya. "Nggak ada lagi latihan sore, nggak ada lagi dikejar Bu Guru, nggak ada lagi makan nasi bungkus di pinggir lapangan habis latihan."
Dika tersenyum, menatap sekeliling bangunan sekolah yang telah menjadi rumah keduanya selama tiga tahun. Ia mengangguk hormat ke arah kepala sekolah dan guru-gurunya.
"Memang berat rasanya ninggalin kenangan di sini, Rio. Tapi ingat janji kita? Di sini cuma tempat pemberhentian pertama. Panggung utama kita ada di seberang lautan sana."
Dika menatap sahabatnya lekat-lekat, menoleh sedikit agar wajahnya sejajar dengan Rio yang lebih tinggi beberapa sentimeter darinya.
"Dan ingat, Rio... kekayaan saya sekarang sudah 1,2 Triliun Rupiah. Kamu jangan khawatir soal apa pun. Paspor, tiket pesawat, tempat tinggal di sana, biaya hidup, pelatih pribadi, fasilitas latihan... semuanya sudah saya bayar lunas untuk kamu juga. Kamu pergi ke sana bukan sebagai bawahan, tapi sebagai mitra utama saya. Saya butuh kekuatanmu, ketinggianmu, dan ketangguhanmu. Kamu harus jadi bek tengah nomor satu dunia, kawan. Itu perintah Kapten-mu."
Rio ternganga mendengar angka itu lagi, meski Dika sudah pernah bilang sebelumnya, ia tetap saja merasa pusing mendengar jumlahnya. Tapi yang paling menyentuh hatinya bukan uangnya, melainkan kesetiaan Dika yang mau mengajaknya serta dan membiayai segalanya demi satu tujuan bersama. Mata besar Rio berkaca-kaca, ia mengangguk kuat sampai dagunya bergetar.
"Aku tahu, Dik. Aku tahu semua itu. Makanya aku nggak akan malu-maluin kamu. Badan besar ini, otot-otot ini, semuanya aku bentuk khusus buat jadi tameng kamu. Di Inggris nanti, biar mereka sebesar apa pun, sekeras apa pun gaya mainnya... kalau mau lewat, harus hancur lewat badan Rio duluan. Aku janji, aku bakal jadi tembok yang nggak bakal runtuh seumur hidup."
Acara puncak tiba. Kepala sekolah memanggil Dika ke atas panggung. Di hadapan ratusan siswa, orang tua, dan guru, Kepala Sekolah berpidato dengan suara lantang.
"Anak-anakku... Hari ini kita melepas salah satu siswa terbaik yang pernah dimiliki sekolah kita. Dika Pratama... tidak hanya cerdas secara akademis, tidak hanya jenius di lapangan sepak bola, tapi dia adalah contoh nyata anak yang berbakti, rendah hati, dan berkarakter mulia. Anak seorang pensiunan tentara ini membuktikan bahwa dari keluarga sederhana, lahir anak yang luar biasa hebat. Hari ini Dika akan berangkat ke Inggris untuk meniti karir sepak bola profesionalnya, bersama sahabatnya, Rio. Kami bangga sekali. Namamu akan selalu terukir emas di sekolah ini, Dika."
Tepuk tangan gemuruh meledak memenuhi lapangan. Dika melangkah naik ke panggung dengan gagah. Di sana, Ayah Rudi dan Ibu sudah menunggu. Ayah Rudi, dengan pakaian rapi dan pangkat lamanya masih terlihat wibawa, berdiri tegap namun matanya basah. Ia memeluk anak sulungnya yang kini jauh lebih tinggi dan lebih besar darinya.
"Bangga sekali Ayah, Le. Kamu sudah buktikan disiplin itu membawa kemuliaan," bisik Ayah.
Ibu memakaikan medali kelulusan di leher Dika, lalu memeluk tubuh tegap anaknya itu erat sekali, menangis bahagia di dada bidang anaknya. Rina berlari naik ke panggung, memeluk kaki kakaknya sambil tersenyum lebar bangga.
Dika berdiri di depan mikrofon, sorot matanya tajam memandang seluruh hadirin. Suaranya yang berat, merdu, dan jelas terdengar sampai ke sudut lapangan paling jauh.
"Teman-teman, Bapak Ibu Guru, dan orang tua kami... Terima kasih atas segala ilmu dan kasih sayang yang diberikan. Saya Dika Pratama, dan sahabat saya Rio, berjanji tidak akan melupakan asal-usul kami. Kami pergi ke Inggris bukan hanya untuk diri sendiri. Kami pergi membawa nama Sidoarjo, membawa nama Jawa Timur, membawa nama Indonesia. Saya punya segalanya sekarang: ilmu, fisik, kekayaan, dan kesempatan emas. Tapi satu hal yang paling mahal yang saya bawa pergi adalah doa dan harapan kalian semua."
Dika menatap Rio yang berdiri di sampingnya, raksasa baik hati itu.
"Rio adalah saudara jiwa saya. Dia adalah benteng saya, dan saya adalah serangannya. Bersama-sama kami akan buktikan bahwa anak Indonesia bisa bersinar di kancah dunia. Doakan kami, agar kami bisa pulang membawa piala dunia suatu saat nanti."
Siang itu berakhir dengan perpisahan yang penuh air mata dan pelukan hangat. Dika dan Rio berjalan keluar gerbang sekolah, bahu-membahu, dua sosok raksasa muda yang gagah dan penuh percaya diri. Di luar sudah menunggu mobil mewah baru—hadiah pertama Dika untuk keluarganya—membawa mereka pulang ke rumah untuk persiapan terakhir keberangkatan.
Malam harinya, di rumah yang kini sudah mulai dipenuhi barang-barang persiapan, Dika duduk sendirian di kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar: sosok tinggi 179 cm, berotot indah, wajah gagah berwibawa, mata cerdas, dan rambut hitam berkilau. Di meja kerjanya tertulis angka besar: Rp 1.200.000.000.000,- — harta yang luar biasa, tapi harta yang sudah selesai tugasnya menjamin masa depan keluarganya.
Di sebelah angka itu tertempel foto keluarganya: Ayah Rudi yang gagah, Ibu yang tersenyum lembut, Rina yang ceria, dan Rio yang berbadan besar berdiri di belakang mereka semua.
Dika tersenyum. Dompetnya tebal, otaknya tajam, fisiknya puncak, mentalnya baja, dan hatinya penuh kasih sayang. Ia sudah lengkap, sempurna, dan tak terhentikan.
Besok pagi, pesawat akan membawa mereka menuju London. Menuju tempat di mana mimpi akan diwujudkan menjadi sejarah.