NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Bayangan Masa Lalu & Persaingan Berdarah

Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela, namun sinarnya terasa dingin dan tidak ramah. Di ruang latihan utama, suasana terasa lebih tegang dari biasanya. Berita tentang bakat luar biasa Raka dalam penggunaan senjata sudah menyebar ke seluruh penjuru markas. Semua orang tahu: ada pemuda baru yang luar biasa, yang dalam waktu singkat sudah menjadi kesayangan para atasan, dan menjadi ancaman bagi mereka yang merasa paling hebat.

Raka berdiri di barisan depan, wajahnya tenang, tidak sombong, tidak juga rendah diri. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan, berusaha bertahan hidup, dan berusaha pulang ke ibunya secepat mungkin. Namun, di belakangnya, sepasang mata penuh kebencian terus menatap tajam ke arah punggungnya. Itu Reza. Di sebelahnya, Dedi berbisik pelan, menabur racun ke dalam telinga kawannya.

"Lihat dia... berdiri di depan seolah dia sudah jadi pemimpin. Padahal baru beberapa minggu di sini. Dia pikir dia siapa? Kalau dibiarkan, nanti dia yang akan mengambil posisi kita, dia yang akan dapat misi-misi besar, dia yang akan dapat bayaran tinggi. Kita harus singkirkan dia sebelum dia makin kuat."

Reza mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Tenang saja. Aku sudah siapkan rencana. Hari ini latihan taktik kelompok. Kita akan satu tim. Dan aku pastikan, hari ini Raka Pratama akan jatuh, dan jatuh dengan sangat memalukan."

Di depan ruangan, Mayor Seno masuk dengan langkah tenang namun mematikan. Di tangannya memegang selembar kertas besar berisi pembagian kelompok. Ia berdiri tegak, menatap kedua belas murid itu satu per satu, berhenti sejenak pada Raka, lalu melanjutkan.

"Hari ini kita masuk ke tahap baru: Taktik Tempur & Perang Kelompok. Di medan perang nyata, kalian tidak akan bertempur sendirian. Kalian akan bergerak dalam tim. Dan keberhasilan atau kegagalan misi, serta nyawa kalian sendiri, bergantung pada seberapa baik kalian bekerja sama, dan seberapa cerdas kalian mengambil keputusan di bawah tekanan."

Mayor Seno membuka kertas itu.

"Kalian akan dibagi menjadi dua tim. Tim A dipimpin oleh Raka Pratama. Anggotanya: Bara, Rio, dan tiga orang lainnya. Tim B dipimpin oleh Reza. Anggotanya: Dedi, dan empat orang lainnya."

Gumaman pelan terdengar. Raka terkejut namanya dipanggil sebagai pemimpin tim. Ia tidak meminta itu. Ia tidak mencari perhatian. Tapi tampaknya para atasan sengaja menempatkannya di posisi itu untuk menguji jiwa kepemimpinannya lebih jauh lagi.

Reza menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum penuh rencana jahatnya. Kesempatan yang ditunggunya akhirnya datang.

"Latihan ini disebut Mencari dan Mengamankan," lanjut Mayor Seno. "Kita akan masuk ke kompleks latihan tertutup di sisi utara markas. Di sana ada bangunan-bangunan kosong, jalanan sempit, dan rintangan buatan. Ada sebuah kotak berisi dokumen penting yang tersembunyi di tengah wilayah itu. Tugas kalian: Masuk, temukan kotak itu, dan bawa kembali ke garis akhir. Tim yang berhasil membawa kotak itu duluan adalah pemenang. Tim yang kalah... akan mendapat hukuman berat: bersihkan seluruh saluran air markas yang penuh lumpur dan sampah, sendirian, semalam suntuk."

Ia diam sejenak, menatap tajam ke arah mereka.

"Dan ingat... ini latihan tempur. Senjata yang kalian pakai adalah peluru karet dan tabung gas air mata. Tapi percayalah... rasa sakitnya sama nyatanya dengan peluru asli. Kalian boleh menggunakan segala cara, segala taktik, segala tipu daya. Tidak ada aturan main selain satu tujuan: Menang. Kalian boleh mengunci lawan, menjebak, memancing, apa saja. Yang penting, bawa kotak itu keluar."

Suasana makin tegang. Raka menoleh ke arah Bara dan Rio.

"Hati-hati," bisik Raka pelan. "Reza dan Dedi punya dendam. Mereka pasti akan main kotor. Jangan terprovokasi. Kita main bersih, main cerdas. Kita fokus pada tujuan, bukan pada musuh."

Bara tersenyum miring, tangannya sudah memegang senapan latihan dengan erat. "Tenang saja. Kalau mereka mau main kotor, kita akan ajari mereka bahwa kotor itu pun ada tingkatannya."

Mereka bergerak menuju kompleks latihan. Tempat itu seperti kota mati. Gedung-gedung beton berlantai dua, jalan-jalan kecil yang berbelok-belok, tumpukan ban bekas, dinding-dinding yang bolong. Tempat yang sempurna untuk perang jarak dekat dan penyergapan.

Sesuai rencana, kedua tim berpisah saat masuk. Tim Raka bergerak cepat dan teratur. Raka membagi tugas: Rio di depan sebagai pengintai, Bara di tengah sebagai penembak utama, dan anggota lain menjaga sayap kiri dan kanan. Raka sendiri bergerak di belakang, mengawasi keseluruhan situasi, mengatur arah gerak mereka.

Raka bergerak dengan naluri yang luar biasa. Ia bisa merasakan ada orang di balik dinding, bisa menduga arah penyergapan, bisa membaca pola gerak musuh hanya dari debu di tanah atau posisi jendela yang terbuka.

"Ke kanan! Ada jebakan di depan sana," perintah Raka tiba-tiba saat mereka mau melewati sebuah persimpangan jalan.

Benar saja, baru saja mereka berbelok ke gang samping, terdengar suara letusan peluru karet beruntun menghantam dinding tempat mereka berdiri tadi. Reza dan anak buahnya ternyata sudah menunggu di sana.

"Bagaimana kau tahu mereka ada di sana?" tanya Rio heran sambil berlari mengikuti Raka.

"Bayangan di jendela atas bergerak tidak wajar," jawab Raka singkat sambil mengintai keluar dari balik tembok. "Mereka mencoba memancing kita lewat jalan utama. Mereka ingin kita terjebak di persimpangan itu dan dikepung dari atas."

Raka menatap peta wilayah di kepalanya. Ia sudah menghafal setiap sudut, setiap lorong, setiap atap bangunan hanya dengan melihat sekilas tadi pagi.

"Mereka pikir mereka menguasai jalan utama. Tapi ada jalan pintas lewat saluran air bawah tanah di sebelah timur. Itu langsung menuju ke gedung pusat tempat kotak itu disimpan. Kita lewat sana. Mereka tidak akan menyangka kita bergerak di bawah tanah."

Tanpa membuang waktu, Tim Raka turun ke saluran air yang kering dan gelap. Mereka bergerak cepat, diam-diam, sementara Reza dan timnya masih sibuk menunggu dan mengawasi jalan-jalan di atas, yakin bahwa mereka sudah memblokir semua akses masuk.

"Di mana mereka? Kenapa tidak muncul-muncul?" gerutu Dedi marah sambil mengintai lewat celah tembok. "Padahal kita sudah siapkan jaring rapat. Mereka pasti tersesat atau takut."

Reza mengerutkan kening, ada rasa tidak enak di hatinya. "Tidak. Raka tidak bodoh. Dia pasti mencari jalan lain. Cek gedung pusat! Cek apakah kotak itu masih ada!"

Namun terlambat.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan kaget dari arah gedung pusat. Dua anak buah Reza yang menjaga di sana terlempar keluar pintu, terkena tembakan peluru karet dari dalam. Dan detik berikutnya, Raka muncul di ambang pintu, kotak dokumen sudah ada di tangannya, terangkat tinggi-tinggi.

"Kotak sudah ada di tangan kita! Mundur lewat atap!" teriak Raka memberi perintah lantang.

Tim Raka bergerak seperti mesin yang terlumasi sempurna. Mereka berlari naik ke atap gedung, bergerak melompat dari atap satu ke atap lain, bergerak cepat menuju garis akhir.

Reza melihat itu, matanya merah padam karena marah dan malu. Rencananya gagal total. Dia yang seharusnya menang, dia yang seharusnya membuat Raka terlihat bodoh, malah sekarang Raka yang akan menang telak.

"Jangan biarkan mereka keluar! SERBUUUU!" teriak Reza gila-gilaan, melupakan semua taktik, melupakan aturan main. Ia berlari kencang membawa senapannya, tidak menembak ke arah tubuh, tapi sengaja mengarahkan laras senjatanya ke arah kepala Raka yang sedang berlari di atap rendah.

"Raka! AWAS!" teriak Bara kaget melihat gerakan Reza yang berbahaya itu.

Reza menarik pelatuknya. DENT!

Peluru karet melesat cepat, mengarah tepat ke wajah Raka. Kalau kena, bisa membuat patah hidung, patah rahang, atau buta.

Raka yang sedang berlari merasakan angin berdesir di samping telinganya. Ia menunduk refleks, peluru itu melesat tipis menabrak dinding di depannya. Raka berhenti, berbalik badan. Ia melihat Reza yang berdiri di bawah sana, wajahnya penuh amarah, mengarahkan senjata lagi ke arahnya dengan niat membunuh yang nyata.

Raka turun dari atap, melompat ke tanah, berjalan tegak mendekati Reza. Senjatanya ia gantung di bahu. Ia tidak mau menembak balik.

"Reza! Ini cuma latihan! Kau hampir membunuhku!" bentak Raka keras, suaranya bergema di antara gedung-gedung itu.

Reza tertawa sinis, melempar senjatanya ke tanah, lalu maju mendekati Raka dengan kepalan tangan mengepal.

"Memang seharusnya aku membunuhmu, Raka! Kau datang ke sini, kau curi semua perhatian, kau curi semua pujian, kau curi tempatku! Kau pikir kau hebat? Kau pikir kau pemimpin? Kau cuma anak desa yang beruntung! Aku akan hajar kau sampai kau tidak bisa bangun lagi, sampai kau minta maaf, sampai kau tahu siapa yang berkuasa di sini!"

Reza melompat maju, mengayunkan kepalan tangan sekuat tenaga ke arah wajah Raka.

Raka tidak menghindar, tidak juga memukul balik. Ia hanya menangkis serangan itu dengan gerakan halus namun kuat, membelokkan arah pukulan itu hingga Reza hampir jatuh ke depan.

"Aku tidak mau bertarung denganmu, Reza. Kita satu tim. Kita satu saudara seperjuangan," ucap Raka tenang, meski amarahnya mulai naik juga.

"SIAPA YANG MAU JADI SAUDARAMU?!" teriak Reza makin gila, menyerang lagi dengan pukulan, tendangan, cakaran. Dedi dan anggota tim Reza lainnya juga maju berkerumun, siap membantu pemimpin mereka. Melihat itu, Bara, Rio, dan tim Raka langsung turun tangan, melindungi Raka, dan pertarungan besar pun pecah.

Dua belas pemuda itu berkelahi di tengah debu dan panasnya matahari. Tidak ada lagi senjata, tidak ada lagi aturan. Hanya tinju, tendangan, dan rasa benci yang sudah lama dipendam.

Reza berhasil melepaskan diri dari hadangan Bara, ia melompat ke arah Raka, kakinya menendang dada Raka sekuat tenaga hingga Raka terjatuh ke tanah. Reza langsung menindih tubuh Raka, tangannya mencengkeram leher Raka kuat-kuat, wajahnya merah padam karena marah.

"Mati saja kau... mati saja... hilangkan saja kau dari sini..." gumam Reza penuh dendam.

Raka merasakan napasnya makin sesak. Wajah Reza yang penuh kebencian itu mengingatkannya pada wajah-wajah orang yang dulu mengusir ayahnya, yang dulu menghina ibunya. Rasa marah yang selama ini ia tahan, rasa sakit hati yang selama ini ia simpan, tiba-tiba meledak.

Mata Raka berubah. Bukan lagi mata yang tenang dan lembut. Tapi mata yang tajam, dingin, dan mengerikan. Mata yang sama persis dengan mata ayahnya saat bertempur dulu, mata yang hanya dimiliki oleh prajurit sejati yang lahir dari darah dan pertempuran.

Dengan kekuatan yang tidak diketahui dari mana asalnya, Raka meraih kedua lengan Reza, memutarnya dengan teknik kuncian yang sangat cepat dan presisi—teknik yang tidak pernah diajarkan di sini, teknik yang seolah keluar dari ingatan jauh di dalam otaknya—lalu mendorong tubuh Reza terlempar ke samping, jatuh terguling kesakitan karena lengannya terkunci.

Raka berdiri tegak, napasnya teratur, matanya menatap tajam ke arah semua orang yang kini diam mematung melihatnya.

"Sudah cukup!" bentak Raka sekali lagi, suaranya bukan lagi suara pemuda biasa, tapi suara komandan yang berwibawa dan menggetarkan hati. "Kita di sini untuk belajar bertempur melawan musuh di luar sana, bukan saling membunuh satu sama lain! Musuh kita bukan kawan kita sendiri! Kalian pikir dengan cara seperti ini kalian akan jadi hebat? Kalian cuma jadi pembunuh pengecut yang menyerang kawan sendiri karena iri hati!"

Di ujung jalan, di balik tumpukan ban bekas, Mayor Seno dan Letnan Kolonel Arga berdiri diam, mengamati semuanya. Mereka tidak turun tangan menghentikan. Mereka sengaja membiarkan ini terjadi. Ini adalah bagian dari ujian.

Letnan Kolonel Arga tersenyum lebar, matanya berbinar kagum.

"Kau lihat itu, Seno? Kau lihat tatapan matanya tadi? Kau lihat gerakan kunciannya? Itu teknik Tangan Besi, teknik andalan mendiang Dirgantara. Teknik yang sudah dilarang diajarkan dan hilang selama lima belas tahun. Dan anak itu menggunakannya dengan sangat alami, seolah dia lahir dengan teknik itu di dalam darahnya."

Mayor Seno mengangguk pelan, wajahnya serius.

"Benar. Dia tidak hanya mewarisi bakat menembak. Dia mewarisi seluruh ilmu bertempur ayahnya. Ingatan otot itu... kemampuan itu... semuanya ada di dalam gennya. Dia bukan sekadar anak prajurit. Dia adalah reinkarnasi dari kehebatan ayahnya."

Mereka berjalan keluar dari persembunyiannya, langkah kakinya berat dan menggelegar. Suasana pertarungan yang tadinya kacau langsung hening. Semua orang berdiri tegak, napas terengah-engah, wajah penuh luka dan debu.

Reza masih duduk di tanah, memegangi lengannya yang sakit, wajahnya penuh rasa malu dan takut. Ia tahu kali ini ia sudah terlanjur keterlaluan.

Mayor Seno berjalan pelan menyusuri mereka, matanya menatap tajam satu per satu.

"Kalian pikir ini apa? Pasar malam? Ajang tawuran?!" teriak Seno menggelegar. "Kalian dikumpulkan di sini untuk jadi pasukan elit, bukan jadi gerombolan preman jalanan! Kalian malu! Kalian semua malu! Kecuali satu orang..."

Ia berhenti di depan Raka, menatapnya lekat-lekat.

"Kau, Raka Pratama. Kau menang hari ini. Kau menang karena kau cerdas, kau menang karena kau punya kendali diri, dan kau menang karena kau mengerti arti kepemimpinan. Kau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kau menghentikan kekacauan dengan kekuatan dan wibawa."

Lalu ia berbalik menatap Reza dan Dedi yang menunduk ketakutan.

"Dan kalian berdua... Reza, Dedi. Kalian gagal. Kalian gagal sebagai prajurit, kalian gagal sebagai manusia. Kalian membiarkan rasa iri dan dengki menguasai akal sehat kalian. Kalian berniat melukai kawan sendiri. Di medan perang nyata, tindakan seperti ini adalah pengkhianatan, dan hukumannya adalah tembak mati."

Reza mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan takut. "Tapi Pak... dia... dia bukan siapa-siapa! Dia cuma anak biasa..."

"DIA ADALAH MASA DEPAN ORGANISASI INI!" potong Letnan Kolonel Arga dengan suara menggelegar, membuat Reza langsung terdiam. "Dan kalian... kalian cuma sampah yang tidak tahu diri. Mulai hari ini, Raka Pratama dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral. Dia menjadi pemimpin resmi angkatan ini. Dan kalian semua... wajib hormat dan patuh pada perintahnya. Siapa yang berani mengancam, mengganggu, atau berbuat jahat padanya... akan saya habisi sendiri."

Hening mutlak menyelimuti tempat itu. Raka berdiri diam, terkejut mendengar keputusan itu. Ia tidak meminta pangkat. Ia tidak meminta kekuasaan. Tapi sepertinya takdir terus mendorongnya naik ke atas, lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Sore itu, saat mereka kembali ke markas, Bara berjalan di samping Raka, menepuk bahu sahabatnya itu.

"Kau dengar apa yang dikatakan Arga tadi? 'Dia adalah masa depan organisasi ini'. Dan teknik yang kau pakai saat melumpuhkan Reza... aku belum pernah melihat teknik itu sebelumnya. Itu sangat indah, sangat mematikan. Seperti gerakan yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu."

Raka menatap tangannya sendiri, tangannya yang baru saja mengalahkan musuh dan memimpin orang banyak.

"Aku juga tidak tahu, Bara. Semakin lama aku di sini, semakin banyak hal aneh yang muncul dari diriku sendiri. Semakin banyak aku bergerak, semakin banyak aku bertempur... semakin aku merasa bahwa ada bagian dari diriku yang hilang, yang perlahan kembali pulih."

Ia menatap ke arah kantor pusat yang menjulang tinggi di kejauhan.

"Dan ada satu hal lagi yang aku rasakan, Bara... Mereka tidak melatihku seperti mereka melatih kalian. Mereka tidak cuma melatihku. Mereka sedang... mengamati aku. Seolah-olah mereka sedang mencari sesuatu di dalam diriku. Sesuatu yang hilang sejak lama."

Malam itu, di ruang kerja Jenderal Agus, sebuah kotak besi tua dibuka. Di dalamnya tersimpan sebuah seragam tua yang sudah usang, sebuah lencana, dan sebuah foto berwarna cokelat. Foto itu menampilkan seorang prajurit muda yang sangat mirip dengan Raka, berdiri tegak dengan senyum bangga di wajahnya. Di belakangnya tertulis nama: Dirgantara Pratama – Prajurit Terbaik.

Jenderal Agus mengusap foto itu dengan jari gemetar.

"Darahmu mengalir kuat, kawan lama. Anakmu persis sepertimu. Kuat, cerdas, berhati mulia, dan punya bakat yang tak tertandingi. Maafkan aku karena menyembunyikan kebenaran ini darinya. Tapi aku harus memastikan... apakah dia akan menjadi pembawa damai, atau pembawa pedang balas dendam."

Ia menutup kotak itu kembali, lalu mengambil selembar perintah misi di atas mejanya.

"Sekarang saatnya ujian sesungguhnya. Saatnya dia keluar dari tembok markas ini. Saatnya dia melihat dunia luar yang kejam, dan melihat apa yang sebenarnya dilakukan Garuda Security. Dan saatnya dia mulai bertemu dengan musuh-musuh ayahnya, musuh yang bahkan tidak dia ketahui keberadaannya."

Jenderal Agus menandatangani surat itu dengan tangan tegas.

"Misi Pertama: Penugasan di Daerah Konflik Utara. Tim Kopral Raka Pratama. Tugas: Pengamanan Konvoi Logistik Rahasia."

Misi pertama. Langkah pertama keluar dari markas. Langkah pertama masuk ke dunia nyata yang penuh darah, api, dan rahasia.

Dan Raka tidak tahu... bahwa konvoi yang akan dia amankan itu berisi barang-barang yang dulu menjadi penyebab kematian ayahnya.

Debu masih beterbangan di udara, menciptakan kabut tipis yang berwarna keemasan terkena sinar matahari sore yang mulai condong ke barat. Suasana di antara gedung-gedung kosong itu masih hening, hanya terdengar napas berat dan terengah-engah dari kedua belas pemuda yang baru saja terlibat pertarungan sengit itu. Wajah mereka penuh goresan, debu, dan keringat. Beberapa di antaranya memegangi lengan atau kaki yang memar, ada yang bibirnya berdarah, ada yang matanya mulai membiru.

Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa kaget, rasa takut, dan rasa kagum yang bergemuruh di dalam dada mereka. Semua mata kini tertuju pada satu sosok: Raka Pratama.

Raka masih berdiri tegak di tempatnya, napasnya teratur dan tenang, seolah-olah ia baru saja berjalan santai, bukan baru saja menghentikan keributan besar dan melumpuhkan pemimpin tim lawan yang paling kuat dan paling kejam. Matanya yang tadi berubah menjadi dingin, tajam, dan mengerikan—mata yang sama persis dengan legenda masa lalu—kini perlahan kembali menjadi mata yang biasa, tenang, dan lembut. Tapi bagi mereka yang melihat perubahan itu, momen itu akan terus terukir di ingatan selamanya.

Reza masih terguling di tanah, memegangi lengannya yang terasa nyeri sampai ke tulang. Ia menatap Raka dengan pandangan campuran antara rasa benci yang makin membara dan rasa takut yang mulai menjalar. Ia tidak mengerti. Ia yang dulunya atlet bela diri, ia yang selalu merasa dirinya paling kuat, paling tangguh, paling berbahaya... tapi di hadapan Raka, ia terasa seperti anak kecil yang main-main. Gerakan Raka tadi terlalu cepat, terlalu halus, terlalu presisi. Gerakan itu bukan hasil latihan biasa. Gerakan itu adalah seni bertempur tingkat tertinggi.

Di belakang tumpukan ban bekas, Letnan Kolonel Arga dan Mayor Seno masih berdiri diam, namun kini rahang mereka mengeras dan mata mereka membelalak tak percaya. Mereka berdua adalah orang yang paling tahu sejarah organisasi ini. Mereka berdua adalah orang yang pernah melihat langsung kehebatan sosok yang kini menjadi bayangan masa lalu itu.

"Kau lihat itu, Seno?" bisik Arga, suaranya berat dan bergetar tertahan emosi. Ia menunjuk ke arah Raka dengan pandangan tak percaya. "Gerakan itu... kuncian di siku, putaran pinggang, perpindahan berat badan... itu persis Teknik Kunci Baja, teknik andalan Dirgantara. Teknik itu sangat sulit, sangat rumit, dan sangat berbahaya. Hanya Dirgantara yang bisa menggunakannya dengan sempurna. Kami semua pernah mencoba mempelajarinya, tapi tidak ada yang bisa menguasainya sampai ia meninggal. Dan sekarang... anaknya menggunakannya dengan begitu alami, begitu mudah, seolah dia sudah melakukannya ribuan kali sejak bayi."

Mayor Seno mengangguk pelan, wajahnya serius dan penuh pemikiran mendalam. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu menghela napas panjang.

"Ini bukan sekadar bakat, Arga. Ini adalah warisan darah. Ingatan otot. Kemampuan yang tertanam dalam gen. Jenderal Agus benar. Dia bukan sekadar anak biasa. Dia adalah salinan sempurna dari Dirgantara Pratama. Dan lebih dari itu... dia punya sesuatu yang tidak dimiliki ayahnya dulu. Dia punya hati. Dia punya rasa kemanusiaan yang kuat. Lihatlah dia... dia bisa saja mematahkan lengan Reza tadi. Dia bisa saja melukai mereka semua sampai tidak bisa bangun lagi. Tapi dia menahan diri. Dia menghentikan pertarungan, bukan memperpanjangnya. Itu yang membuatnya jauh lebih berbahaya dan jauh lebih berharga."

Mereka berdua melangkah keluar dari persembunyiannya, langkah kakinya berat dan menggelegar di atas tanah berpasir. Suara langkah itu langsung menyadarkan semua pemuda yang sedang diam terpaku. Seketika, semua orang menegakkan tubuh, menyembunyikan rasa sakit mereka, dan berdiri rapi meski posisi mereka berantakan.

Mayor Seno berjalan perlahan menyusuri barisan mereka, matanya menatap tajam ke setiap wajah yang penuh luka dan debu itu. Ia berhenti tepat di depan Reza dan Dedi yang masih duduk tertunduk di tanah, wajah mereka merah padam menahan rasa malu dan amarah.

"Kalian pikir ini apa?" suara Seno terdengar rendah namun mengandung ancaman yang mengerikan, cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya meremang. "Pasar malam? Ajang tawuran anak jalanan? Atau mungkin kalian pikir kalian sudah jadi raja di sini sehingga bisa bertindak sesuka hati?!"

Ia berlutut sedikit, menatap tepat ke mata Reza yang berani menatap balik dengan penuh kebencian.

"Kalian masuk ke sini karena kami memilih kalian dari ribuan pendaftar. Kami pikir kalian punya potensi, punya bakat, punya tekad. Tapi ternyata... yang kami temukan hanyalah sampah yang dikendalikan oleh rasa iri dan dengki yang menjijikkan!"

Reza menggertakkan gigi, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. Ia tidak terima. Ia merasa dirinya lebih hebat, lebih pantas, lebih segalanya dibanding Raka.

"Tapi Pak..." potong Reza, suaranya bergetar namun berani, "Dia... Raka Pratama... dia cuma anak desa yang tidak tahu apa-apa! Dia tidak punya latar belakang militer, dia tidak punya pengalaman apa-apa! Tapi semua atasan, semua pelatih, semua orang... seolah dia dewa yang turun dari langit! Semua pujian, semua perhatian, semua keistimewaan selalu ke dia! Apa salahnya kalau saya ingin membuktikan bahwa saya lebih baik dari dia? Bahwa saya lebih pantas memimpin?!"

Mayor Seno tersenyum miring, senyum yang dingin dan penuh penghinaan. Ia berdiri kembali, lalu menunjuk ke arah dada Reza.

"Salahmu, Reza... adalah kau menilai seseorang hanya dari asal-usulnya, bukan dari kualitas jiwanya. Salahmu adalah kau mengira kepemimpinan itu soal siapa yang paling kuat ototnya, siapa yang paling sombong, atau siapa yang paling banyak pengikutnya. Salahmu terbesar... adalah kau buta sehingga tidak melihat apa yang sebenarnya ada di depan matamu."

Ia berbalik menunjuk ke arah Raka.

"Raka Pratama tidak kami puji karena dia anak siapa-siapa. Kami tidak memberinya perhatian karena dia beruntung. Kami melihat sesuatu dalam dirinya yang tidak ada padamu, tidak ada pada Dedi, dan tidak ada pada siapa pun di sini. Kami melihat Ketenangan. Kami melihat Kecerdasan. Kami melihat Jiwa Pemimpin Sejati yang bisa membuat orang lain rela mati demi dia, bukan karena takut, tapi karena percaya dan hormat."

Letnan Kolonel Arga maju selangkah, suaranya menggelegar sampai ke dinding-dinding gedung kosong itu.

"Kau bilang dia tidak punya pengalaman? Kau bilang dia anak desa? Dengar baik-baik, anak muda... Di dunia militer, di dunia pertempuran, dan di dunia kami... asal-usul tidak ada artinya. Yang ada artinya adalah apa yang kau bawa di dalam darahmu, apa yang kau bawa di dalam otakmu, dan apa yang kau bawa di dalam hatimu. Dan Raka Pratama... dia membawa sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih berharga, dan jauh lebih berbahaya daripada yang bisa kau bayangkan dalam mimpimu sekalipun."

Arga berjalan mendekati Raka, menatapnya lekat-lekat dari atas ke bawah, seolah sedang meneliti sebuah benda bersejarah yang langka.

"Tadi, saat kau melumpuhkan Reza... teknik yang kau pakai itu... di mana kau belajar itu, Raka?" tanya Arga pelan, suaranya berubah menjadi lemah dan penuh harap.

Semua mata tertuju pada Raka. Raka sendiri terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali gerakan yang dilakukannya tadi. Ia mengerutkan kening, berusaha mencari jawaban yang sebenarnya pun ia tidak mengerti.

"Saya... saya tidak tahu, Pak," jawab Raka jujur, suaranya tenang dan tulus. "Saat itu... saat Reza mencengkeram leher saya... saat saya merasa napas saya mau habis... tiba-tiba kepala saya terasa berat. Ada bayangan-bayangan samar muncul. Ada suara bisikan, ada gambar gerakan tangan dan kaki yang cepat sekali. Tubuh saya bergerak sendiri, Pak. Saya tidak mengontrolnya. Seolah-olah ada orang lain yang masuk ke dalam tubuh saya dan melakukan itu semua. Setelah selesai... saya sendiri kaget. Saya tidak tahu saya bisa melakukan gerakan seperti itu."

Jawaban itu membuat Arga dan Seno saling pandang. Jawaban itu justru menguatkan dugaan mereka. Itu bukan hasil latihan. Itu adalah insting. Itu adalah warisan.

"Baiklah..." ucap Arga pelan, menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul. Ia menepuk bahu Raka kuat-kuat, lebih lembut dan lebih hormat daripada cara ia menyentuh siapa pun sebelumnya. "Tidak apa-apa. Suatu saat nanti... kau akan mengerti segalanya. Kau akan mengerti siapa dirimu, siapa ayahmu, dan betapa besar beban yang kau bawa di pundakmu ini."

Arga berbalik menghadap ke seluruh kelompok kembali, wajahnya kembali menjadi keras dan tegas.

"Mulai detik ini, ada perubahan besar dalam struktur organisasi angkatan kalian. Raka Pratama, maju ke depan!"

Raka melangkah maju, berdiri tegak di tengah lapangan, di bawah sorotan mata semua kawan-kawannya.

"Atas dasar bakat luar biasa, kecerdasan taktis, kendali diri, dan jiwa kepemimpinan yang telah kau buktikan hari ini... saya menaikkan pangkatmu menjadi Kopral. Mulai sekarang, kau adalah pemimpin resmi angkatan ini. Semua anggota, tanpa terkecuali, wajib mematuhi perintahmu, wajib menghormatimu, dan wajib menganggap perintahmu sama dengan perintah kami. Siapa pun yang berani membangkang, berani mengancam, atau berani berbuat jahat kepadamu... hukumannya adalah dikeluarkan dengan cara yang paling memalukan, atau ditempatkan di posisi paling berbahaya di medan perang sampai mati."

Suasana hening seketika. Reza dan Dedi menunduk dalam, rasa marah mereka kini bercampur dengan rasa takut dan rasa tidak berdaya. Mereka kalah telak. Musuh yang ingin mereka jatuhkan justru naik ke atas dan menjadi atasan mereka sendiri.

"Dan untuk kalian berdua... Reza dan Dedi," lanjut Mayor Seno tajam, matanya menusuk tajam ke arah mereka berdua. "Karena tindakan kalian yang berniat melukai kawan sendiri, yang melanggar etika prajurit, dan yang membiarkan emosi menguasai akal sehat... hukuman kalian dimulai malam ini. Kalian berdua akan membersihkan seluruh saluran air dan parit pembuangan markas, sendirian, tanpa bantuan siapa pun, sampai bersih mengkilap. Dan selama satu bulan ke depan, kalian akan menjadi bawahan langsung Kopral Raka. Kalian akan melakukan apa pun yang dia perintahkan, seberat apa pun, seberat apa pun. Kalian akan belajar arti rasa hormat dan arti kesetiaan dari orang yang paling kalian benci."

Reza mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca menahan amarah yang meluap. Ia ingin berteriak, ia ingin membantah, tapi ia tahu ia tidak punya kuasa lagi. Ia hanya bisa menggertakkan gigi sampai rahangnya sakit.

"Siap, Pak..." jawabnya pelan, penuh kepahitan.

Latihan hari itu pun berakhir dengan hasil yang sangat berbeda dari yang dibayangkan siapa pun. Raka yang tadinya hanya calon biasa, kini naik pangkat dan menjadi pemimpin. Reza dan Dedi yang tadinya penguasa tidak resmi, kini jatuh dan menjadi bawahan yang dihukum.

Saat mereka berjalan kembali ke markas, langkah kaki mereka terasa berat dan penuh pemikiran. Matahari sudah benar-benar terbenam, meninggalkan langit berwarna merah tua yang kelam, seolah mencerminkan suasana hati mereka masing-masing.

Bara berjalan di samping Raka, menggeser bahunya sedikit menyenggol bahu sahabatnya itu. Ia tersenyum lebar, senyum bangga dan senyum lega.

"Kau dengar itu, Raka? Kau sekarang Kopral. Kau pemimpin kami. Dan kau lihat wajah Reza dan Dedi tadi? Rasanya puas sekali melihat mereka jadi patuh begitu," bisik Bara sambil tertawa kecil.

Namun, Raka tidak tertawa. Wajahnya masih serius, matanya menatap lurus ke depan, tapi pandangannya kosong dan jauh. Ia memegang dadanya sebentar, di tempat di mana jantungnya berdegup kencang dan tidak beraturan.

"Bara... ada sesuatu yang salah," gumam Raka pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh Bara. "Kau dengar apa yang dikatakan Letnan Kolonel Arga tadi? Dia bilang... 'suatu saat nanti kau akan mengerti siapa ayahmu'. Kenapa dia bicara begitu? Kenapa dia bicara seolah dia kenal ayahku? Kenapa dia bicara seolah ada rahasia besar tentang siapa aku sebenarnya?"

Bara berhenti melangkah sejenak, mengerutkan keningnya. Ia juga ingat kalimat itu. Ia juga merasa ada yang janggal.

"Mungkin cuma cara bicara mereka saja, Raka. Mungkin cuma kiasan," jawab Bara mencoba menenangkan, meski ia sendiri tidak yakin.

Raka menggeleng pelan, lalu kembali berjalan.

"Bukan, Bara. Bukan cuma itu. Kau lihat cara mereka menatapku? Cara mereka menatapku bukan seperti menatap anak buah atau murid. Cara mereka menatapku... seperti menatap hantu. Seperti menatap seseorang yang sudah lama mati tapi tiba-tiba hidup kembali. Dan gerakan yang aku lakukan tadi... itu bukan aku, Bara. Itu bukan aku. Aku tidak tahu dari mana itu datang. Aku merasa... ada jiwa orang lain yang hidup di dalam tubuhku ini."

Di belakang mereka, Rio berjalan mengikuti, matanya waspada mengawasi Reza dan Dedi yang berjalan jauh di belakang dengan wajah penuh kebencian.

"Kau benar, Raka. Mereka memandangmu aneh sekali. Dan sejak kejadian di lapangan tembak sampai sekarang... semakin lama kita di sini, semakin banyak hal aneh yang terjadi padamu. Dan aku rasa... rahasia besar Garuda Security itu... ada hubungannya langsung denganmu. Kau bukan sekadar prajurit biasa yang kebetulan berbakat. Kau adalah kunci dari semuanya."

Malam itu, suasana di asrama terasa sangat berbeda. Dulu, mereka berdua belas orang itu tidur bersama sebagai kawan, sebagai sahabat seperjuangan. Tapi malam ini, batas pemisah sudah terbentuk. Raka tidur di tempat tidur paling ujung, terpisah sedikit dari yang lain. Reza dan Dedi tidur membelakangi semua orang, diam dan dingin, merencanakan sesuatu dalam kebisuan malam. Dan enam orang lainnya berada di tengah, bingung, takut, dan mulai memilih pihak.

Di tengah malam, saat semua orang sudah terlelap, Raka terbangun kaget karena sakit kepala yang hebat. Ia duduk di tepi ranjang, memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut kuat. Di dalam kepalanya, suara bisikan itu kembali terdengar. Suara berat, tegas, dan penuh kehangatan.

"Raka... anakku... kau sudah tumbuh besar dan kuat... kau sudah menjadi prajurit sejati... maafkan Ayah karena meninggalkanmu dan Ibu... tapi kau harus tahu kebenaran... kau harus tahu apa yang terjadi... kau harus membalaskan..."

Suara itu hilang seketika, digantikan rasa pusing yang tajam. Raka mengerang pelan, menahan sakitnya. Ia menatap ke arah jendela yang terbuka sedikit, menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit malam. Di bawah cahaya bulan itu, bayangan pohon-pohon di luar tampak seperti sosok-sosok orang yang berdiri diam mengawasinya.

"Ayah..." bisik Raka pelan, air mata perlahan menetes di pipinya tanpa ia sadari. "Apa rahasia yang kau simpan? Apa yang terjadi padamu? Dan kenapa semua orang di sini... seolah-olah mereka tahu segalanya tentangmu, tapi tidak pernah mau memberitahuku?"

Sementara itu, di lantai paling atas gedung pusat markas, di ruangan yang paling gelap dan paling terlarang, Jenderal Agus duduk sendirian di kursi besarnya. Di atas meja di depannya, kotak besi tua itu sudah terbuka kembali. Di samping foto ayah Raka, kini ada selembar dokumen rahasia lain yang baru saja ia ambil dari brankas pribadinya.

Itu adalah dokumen hasil tes DNA, yang baru saja dikirimkan oleh tim medis tadi sore. Hasilnya sudah tertulis jelas di sana: Kecocokan 99,99% – Terkonfirmasi: Anak Kandung.

Jenderal Agus mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar. Wajahnya terlihat tua, lelah, dan penuh penyesalan yang mendalam.

"Dirgantara... kawan lamaku..." bisiknya pada foto itu. "Maafkan aku. Aku berjanji padamu dulu aku akan menjaga keluargamu. Aku berjanji aku akan membiarkan mereka hidup tenang. Tapi takdir ternyata punya rencana lain. Anakmu datang sendiri ke sarang ini. Dia datang mencari uang, mencari jalan hidup, tanpa tahu bahwa dia sedang berjalan masuk ke mulut naga yang dulu memakanmu."

Ia mengambil selembar surat perintah misi yang sudah ditandatanganinya tadi sore. Surat itu berisi perintah penugasan pertama Raka ke luar markas, ke daerah konflik di utara, tempat di mana semua masalah dimulai, tempat di mana rahasia besar organisasi ini tersembunyi.

"Aku harus melatihnya, Dirgantara. Aku harus membuatnya sekuat mungkin, sehebat mungkin, seberbahaya mungkin. Karena musuh-musuhmu masih ada di luar sana. Dan musuh-musuhku, musuh organisasi ini, musuh kebenaran... mereka sedang bersiap untuk datang. Dan hanya anakmu yang punya darah dan keberanian untuk menghadapi mereka semua."

Jenderal Agus menatap keluar jendela, ke arah asrama yang gelap di kejauhan.

"Besok pagi, dia akan mulai langkah pertamanya ke dunia nyata. Besok pagi, dia akan mulai melihat sisi gelap dari apa yang kami lakukan. Besok pagi... dia akan mulai berjalan di jalan yang sama persis dengan jalan yang kau lalui lima belas tahun yang lalu. Dan aku hanya berharap... dia tidak akan berakhir sama sepertimu."

Angin malam bertiup kencang, menggoyangkan tirai jendela ruangan itu, membawa serta aroma bahaya dan ketegangan yang mulai terasa di udara.

Di dalam hati Raka, di dalam darahnya, di dalam ingatan yang tersembunyi itu... takdir besar sedang berputar kencang. Persaingan dengan Reza dan Dedi hanyalah permulaan kecil. Rahasia masa lalu ayahnya baru sedikit terkuak. Dan perjalanan panjang untuk menemukan jati diri, membalas dendam, atau menyelamatkan organisasi ini... baru saja masuk ke babak yang paling gelap, paling berdarah, dan paling menentukan.

Matahari akan segera terbit lagi. Dan saat itu terjadi, Raka Pratama, Kopral termuda dalam sejarah Garuda Security, akan memimpin timnya keluar dari gerbang besi itu, menuju medan perang sesungguhnya, menuju kebenaran yang tersembunyi, dan menuju takdir yang telah ditentukan oleh darah ayahnya sendiri.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!