Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase
Malam itu, Teatro Arcimboldi salah satu gedung pertunjukan paling megah di Milan berkilau penuh kemewahan. Lampu sorot berputar, karpet merah terbentang panjang, dan deretan mobil super mewah berjejer hingga ke ujung jalan. Milan Fashion Week sedang mencapai puncaknya, dan seluruh mata industri mode dunia tertuju pada satu nama: Aulia Permata x Maison Rossi.
Di ruang persiapan belakang panggung, suasana riuh namun teratur. Model-model papan atas dunia dengan tubuh sempurna berdiri berbaris, penata rias dan rambut sibuk bergerak, aroma parfum mahal dan cat rambut bercampur menjadi satu. Namun di tengah kekacauan itu, Aulia berdiri tenang namun fokus, mengenakan seragam kerja hitam sederhana, matanya meneliti setiap detail gaun koleksi “Eternal Empire”.
30 set gaun yang dirancangnya gabungan tenun sutra Nusantara, bordir emas tangan, siluet klasik Eropa, dan motif ukiran kerajaan sudah digantung rapi, siap menaklukkan panggung. Luca Rossi berdiri di sebelah Aulia, wajahnya tegang namun penuh harapan. Reputasi Maison Rossi dipertaruhkan malam ini.
Di sudut ruangan lain, berdiri sosok tinggi tegap yang langsung membuat suhu ruangan turun drastis. Alex bersandar malas di dinding, tangan kanannya masuk ke saku celana, jas hitamnya terbuka santai. Meski dikelilingi wanita-wanita tercantik di dunia, manik mata elangnya tak pernah lepas sedetik pun dari sosok kecil Aulia. Di balik tatapan dingin itu, ada rasa bangga yang meluap, sekaligus kewaspadaan tinggi. Insting mafianya berteriak keras: ada yang tidak beres.
“15 menit lagi panggung dimulai!” seru koordinator acara dari balik pintu.
Aulia menghela napas lega, hendak berjalan menuju deretan gaun terakhir untuk pengecekan akhir. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar jeritan histeris salah satu asisten penjahit.
“TUHAN!! NONA AULIA!! INI… INI MENGERIKAN!!”
Aulia, Luca, dan semua orang berlarian ke area gantungan gaun utama. Pandangan Aulia langsung gelap, jantungnya seolah berhenti berdetak.
30 gaun mahal, yang dibuat selama berbulan-bulan dengan biaya miliaran rupiah, karya jiwa dan raga Aulia… semuanya rusak parah.
Beberapa gaun sutra dirobek tajam membentuk pola acak, benang emasnya dicabut habis, motif bordir dihancurkan, dan yang paling mengerikan: kain-kain utama direndam zat kimia yang membuat warnanya luntur, berubah menjadi noda cokelat jelek dan bau menyengat.
SABOTASE. Murni dan kejam.
“SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!!” teriak Luca hilang kendali, wajahnya merah padam menahan amarah dan keputusasaan. “Ini bencana! Kita hancur! Nama Maison Rossi hancur! Semua investasi, semua kerja keras… hilang dalam sekejap!!”
Para model dan staf mulai panik, bisik-bisik ketakutan memenuhi ruangan. Jika pertunjukan dibatalkan, itu adalah aib terbesar dalam sejarah mode. Jika dipaksakan, mereka akan ditertawakan seluruh dunia. Reputasi Surya Corp di Eropa akan runtuh seketika.
Aulia berdiri kaku, menatap gaun-gaun rusak itu dengan mata berkaca-kaca. Rasa sakit seperti ditusuk pisau merobek dadanya. Ini bukan sekadar kain dan benang. Ini adalah mimpinya, bukti kerja kerasnya, bukti dirinya layak berdiri di samping Alex. Dan sekarang… semuanya hancur.
Namun, sebelum air mata itu jatuh, sebuah tangan besar dan berat mendarat di bahunya, menekan kuat namun menenangkan. Aroma kayu mahoni khas Alex langsung menyelimuti indranya, membumikan kembali pikirannya yang kacau.
Alex tidak panik. Tidak berteriak. Tidak marah pada Aulia. Ia hanya menatap gaun-gaun rusak itu dengan tatapan membunuh yang dingin tatapan yang menandakan pelaku sabotase ini sudah menandai dirinya untuk mati perlahan. Lalu, ia menunduk tepat ke telinga Aulia, suaranya rendah, datar, namun penuh keyakinan mutlak yang mengguncang jiwa.
“Lihat aku, Sayang,” bisik Alex, jari telunjuknya mengangkat dagu Aulia hingga mata mereka bertemu. “Dengar baik-baik. Mereka menghancurkan kain. Mereka menghancurkan benang. Tapi mereka TIDAK BISA menghancurkan otakmu. Mereka tidak bisa menghancurkan bakatmu. Dan yang paling penting… mereka tidak bisa menghancurkan wanita yang berdiri di depanku ini. Kau bukan penjahit biasa, Aulia. Kau GENIUS. Gunakan kepalamu. Tunjukkan pada mereka bahwa api kecil sekalipun, jika menjadi neraka, akan membakar mereka sampai habis. Aku di sini. Aku pegang kendali keamanan dan semua risiko. Kau cukup berpikir dan cipta.”
Kalimat itu seperti petir yang menyambar kesadaran Aulia. Benar. Alex benar. Musuh ingin dia hancur, ingin dia menangis, ingin dia menyerah. Tapi Aulia Permata bukan lagi gadis penakut yang dulu dijual orang tuanya. Dia adalah Ratu, dan Ratu tidak menyerah hanya karena permata mahalnya dicuri.
Aulia mengusap kasar air matanya, napasnya memburu namun matanya kini berkilau tajam kilau kreativitas dan tekad baja. Ia menatap gaun-gaun yang rusak itu lagi, tapi kali ini bukan melihat kehancuran, melainkan POTENSI.
“Luca!” seru Aulia tegas, suaranya berubah lantang dan berwibawa, mengejutkan semua orang di ruangan itu. “Kumpulkan semua sisa kain cadangan! Semua kain polos, kain sisa potongan, benang, aksesoris, manik-manik, apapun yang ada di gudang! BAWA SEMUA KE SINI SEKARANG!”
“T-tapi Nona Aulia, itu cuma kain sisa… tidak cukup bagus untuk panggung utama…” protes asisten.
“Lakukan!!” bentak Aulia, auranya mendominasi, persis seperti Alex. “Dan panggil semua penjahit dan asisten ke sini. Kita butuh tangan secepat kilat!”
Luca yang melihat perubahan drastis pada gadis itu, melihat api di matanya, langsung memberi perintah. “Lakukan apa yang dikatakan Nona Aulia! SEKARANG JUGA!!”
Saat bahan-bahan dikumpulkan di atas meja besar, Aulia bergerak secepat kilat, tangannya menggambar sketsa kasar di atas kertas dengan garis cepat namun pasti. Otaknya berputar ribuan putaran per detik, menyusun strategi darurat yang gila namun brilian.
Ia mengambil gaun yang paling parah robeknya gaun sutra biru bermotif kerajaan. Aulia tidak membuangnya. Ia justru memotongnya lebih banyak, merobeknya dengan pola yang disengaja, memotong ekor panjangnya jadi pendek asimetris, lalu menjahitkan potongan kain sisa emas dan perak secara acak namun artistik di bagian yang rusak, menyembunyikan noda luntur dengan lapisan kain transparan bermotif awan.
Konsepnya berubah total. Dari “Kerajaan Abadi” yang anggun dan rapi… menjadi “Kerajaan yang Bangkit dari Reruntuhan”.
Gaya Deconstructivism estetika kerusakan yang disengaja, keindahan di dalam ketidaksempurnaan, kekuatan yang lahir dari kehancuran. Sebuah pesan filosofis yang mendalam: Seindah apa pun sebuah kerajaan, ia pasti hancur… tapi dari puing-puing itulah, lahir kekuatan baru yang jauh lebih tangguh dan megah.
“Ubah gaya berjalannya model! Lebih tajam, lebih agresif, lebih liar! Riasan mata lebih gelap, bibir merah darah! Ini bukan lagi tentang keanggunan pasif! Ini tentang KEKUATAN SURVIVAL!” perintah Aulia sambil terus menjahit sendiri, jarum dan benang bergerak di tangannya secepat sihir.
Alex berdiri di sudut ruangan, melipat kedua tangannya di dada, menatap segala hal yang terjadi dengan mulut sedikit terbuka tak percaya, lalu perlahan terangkat membentuk senyum bangga yang sangat jarang ia tunjukkan. Jantung mafianya yang dingin berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena kekaguman mutlak. Wanita ini… benar-benar ciptaan Tuhan yang luar biasa.
45 menit berlalu dalam keheningan sibuk yang gila. Waktu pertunjukan mundur 30 menit berkat negosiasi Alex dengan panitia dengan cara campuran uang miliaran dan ancaman halus yang membuat panitia gemetar ketakutan.
Dan saat tirai akhirnya terbuka, musik bergema berat, gelap, namun megah.
Model pertama melangkah masuk.
Penonton yang tadinya mulai gelisah, tiba-tiba terdiam serentak. Mulut mereka terbuka.
Gaun yang tampil bukanlah gaun yang mereka harapkan. Tidak rapi, ada bagian yang sobek, ada lapisan yang tumpang tindih, potongan yang tidak biasa… tapi INDAHNYA LUAR BIASA.
Itu adalah seni. Itu adalah pernyataan. Itu adalah revolusi.
Setiap potongan yang “rusak” justru menjadi poin keindahan. Setiap jahitan yang terlihat kasar justru menonjolkan keaslian dan emosi. Koleksi itu bercerita. Koleksi itu bernapas. Koleksi itu memukau jiwa.
Satu per satu model melintas, menyita napas ribuan orang di sana. Para kritikus mode yang tadinya meremehkan, kini menulis catatan dengan tangan gemetar. Fotografer memburu sudut terbaik tanpa henti. Luca Rossi meneteskan air mata bahagia, tubuhnya lemas tak percaya.
Dan di ujung panggung, saat 30 model sudah berbaris membentuk pola indah, musik mencapai klimaksnya… Aulia melangkah keluar dari balik tirai.
Ia tidak memakai gaun mewah. Ia memakai potongan sisa kain sutra hitam yang dililitkan artistik di tubuhnya, dipadukan dengan aksesoris logam kasar namun elegan yang ia buat sendiri dari sisa ritsleting dan kawat. Rambutnya dibiarkan terurai liar, sedikit acak-acakan namun memesona. Wajahnya tenang, matanya tajam, dan senyumnya penuh kemenangan.
Ia berjalan ke tengah panggung, memberi hormat sederhana namun penuh wibawa.
Detik berikutnya…
TEPUK TANG MENGGELEGAR SEOLAH INGIN MERONTOKKAN ATAP GEDUNG.
Berdiri tepuk tangan, sorakan, dan pujian meledak dari seluruh penjuru ruangan. Dunia mode baru saja menyaksikan keajaiban: bagaimana sebuah bencana total diubah menjadi karya seni legendaris hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
Aulia Permata tidak hanya menyelamatkan pertunjukan. Ia baru saja MENAKLUKAN MILAN, MENAKLUKAN EROPA, DAN MENAKLUKAN DUNIA.
Di sisi panggung, di balik bayang-bayang tirai, Alex menatap sosok wanitanya yang bersinar di bawah lampu sorot itu. Matanya berkaca-kaca sesuatu yang belum pernah terjadi padanya selama dua dekade hidup di dunia darah. Ia merasa dadanya begitu penuh, begitu bangga, begitu cinta, hingga rasanya ia ingin berteriak pada seluruh isi bumi: WANITA ITU MILIKKU. DIA RATUKU. DIA SEGALANYA BAGIKU.
Setelah sesi foto dan ucapan terima kasih yang panjang, Aulia berlari kecil kembali ke belakang panggung, mencari satu-satunya orang yang paling ingin ia lihat. Saat ia melihat sosok tegap itu berdiri menunggunya, pertahanan dirinya runtuh seketika. Kelelahan, ketegangan, dan adrenalin bercampur menjadi air mata bahagia.
Aulia langsung terjun ke dalam pelukan Alex, memeluk pinggang pria itu sekuat tenaga, menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang aman itu.
“Kita berhasil, Alex… kita berhasil…” isak Aulia parau, bahunya berguncang. “Mereka mencoba menghancurkanku, tapi aku… aku ubah jadi kemenangan. Semua berkatmu. Tanpa kata-katamu, aku pasti sudah menyerah.”
Alex tidak bicara. Ia hanya merangkul tubuh kecil itu dengan kekuatan penuh, seolah ingin menyatukan tulang dan daging mereka jadi satu. Ia mencium puncak kepala Aulia berkali-kali, napasnya berat dan bergetar, menahan segala emosi yang meluap. Tangannya mengusap punggung gadis itu perlahan, penuh rasa syukur yang tak terhingga.
Ia melepaskan pelukan itu sedikit, menangkup wajah Aulia dengan kedua tangannya tangan yang biasa membunuh, memegang senjata, dan memegang kendali kerajaan kejahatan kini menyentuh wajah gadis itu dengan kelembutan yang tak terbayangkan. Alex menatap mata cokelat itu dalam-dalam, menatap bibir merah itu, lalu kembali ke mata.
“Menyerah?” bisik Alex, suaranya serak dan penuh kekaguman murni. “Sayangku… kau tidak tahu betapa hebatnya dirimu sendiri. Kau tidak butuh aku untuk menang. Kau sudah pemenang sejak kau lahir. Aku hanya… orang beruntung yang diizinkan menyaksikan keajaiban ini dari jarak terdekat.”
Alex menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panjang, dalam, dan penuh rasa bangga serta kepemilikan. Bukan ciuman nafsu semata, tapi ciuman penghormatan. Penghormatan untuk wanita yang membuktikan bahwa ia jauh lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih berharga dari apa pun di dunia ini.
“Mulai detik ini, Aulia,” gumam Alex di sela ciuman mereka, matanya menatap tajam namun lembut ke dalam jiwa gadisnya. “Dunia tahu siapa kamu. Mereka tahu kamu jenius. Tapi hanya aku yang tahu… bahwa di balik kecerdasanmu, ada hati emas yang paling berharga di alam semesta. Dan ingat ini baik-baik… siapa pun pelaku sabotase ini, siapa pun yang berani menyakiti satu helai benang pun milikmu atau milik kita… aku akan pastikan mereka membayarnya dengan harga yang jauh lebih mahal dari nyawa mereka sendiri.”