Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: DI BALIK KETEGARAN DAN JEJAK YANG HILANG
...BAB 34...
...DI BALIK KETEGARAN DAN JEJAK YANG HILANG...
Tiga hari telah berlalu sejak Bu Kirana dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Hingga saat itu, wanita itu masih terbaring lemah tanpa menunjukkan tanda-tanda kesadaran yang kembali. Alina tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk datang ke rumah sakit, berusaha meluangkan waktu di sela-sela jam sekolah untuk menengok dan mendoakan kesembuhan orang yang kini sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
Pagi itu, setelah melaksanakan salat Subuh, Alina membawa sebungkus sarapan dan minuman hangat menuju ruang rawat. Begitu membuka pintu, ia melihat Dimas sudah duduk tegak di kursi samping tempat tidur ibunya. Di tangannya tergenggam Al-Qur’an, dan suaranya yang lembut namun mantap terdengar jelas melantunkan ayat-ayat suci, berharap ketenangan dan kekuatan turun menyertai Bu Kirana.
Alina melangkah perlahan mendekat, berusaha tidak mengganggu. Setelah selesai satu bagian bacaan, Dimas menutup kitab sucinya dan meletakkannya rapi di meja samping tempat tidur. Wajahnya terlihat tenang, namun tatapannya kosong dan matanya tampak sayu, menyiratkan beban yang berat dipikulnya.
“Dimas, aku bawa sarapan dan teh hangat. Makanlah sedikit, kamu sudah begadang terus,” ujar Alina dengan nada lembut, meletakkan makanan itu di hadapannya.
Dimas hanya melirik sekilas, lalu memalingkan wajah kembali menatap ibunya. Ia tidak menjawab, tidak mengucapkan terima kasih, bahkan tidak menyentuh makanan yang disodorkan. Sikapnya terasa dingin dan tertutup, jauh berbeda dari biasanya. Ia kembali membuka halaman Al-Qur’an dan melanjutkan bacaannya seolah Alina tidak ada di ruangan itu.
Alina terdiam di tempatnya. Ia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti suasana. Di luar, Dimas terlihat sangat tegar, seolah mampu menahan segala rasa sakit sendirian. Namun Alina mengerti, di balik ketegaran itu, hatinya sedang berguncang hebat. Ia adalah satu-satunya anak yang dimiliki Bu Kirana, dan rasa takut kehilangan satu-satunya orang terdekatnya pasti menyiksa pikirannya siang dan malam.
Lebih dari itu, Alina sadar betul bahwa ada rasa lain yang tersembunyi di hati Dimas—rasa kesal, kecewa, bahkan mungkin marah. Bagaimana tidak? Dimas masih ingat jelas bagaimana Alina dulu sering bersikap dingin, menolak kebaikan ibunya, dan bahkan pernah melukai hati wanita itu dengan kata-kata yang menyakitkan. Sekarang, saat ibunya terbaring lemah seperti ini, Dimas merasa sulit untuk bersikap ramah pada gadis yang dulu pernah menyakiti orang yang paling dicintainya.
Alina tidak merasa tersinggung sedikit pun. Ia justru menerima sikap itu dengan kepala tertunduk. “Memang inilah yang pantas aku terima,” batinnya. “Aku tidak berhak mengharapkan pengampunan atau sikap baik darinya secepat ini. Kesalahanku dulu terlalu besar, dan rasa bersalah ini harus aku tanggung sepenuhnya.”
Setelah berdiri beberapa saat tanpa berani mengganggu lebih lama, Alina perlahan mundur menuju pintu. “Baiklah, aku pergi dulu. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil saja aku. Jangan lupa makan, ya,” ucapnya pelan sebelum keluar.
Begitu berada di luar ruangan, Alina menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya. Ia tahu, selain menjaga Bu Kirana dan memahami perasaan Dimas, ada satu hal penting lain yang harus segera ia selesaikan—memastikan pelaku kecelakaan itu bertanggung jawab.
Siang harinya, Alina kembali ke sekolah dan menemui Farhan serta guru karatenya. Sejak kejadian itu, ia ingin melatih kemampuan bela dirinya lebih giat lagi. Ia takut jika Raka merasa terdesak, pemuda itu bisa melakukan tindakan yang tidak senonoh atau berbahaya kepadanya. Dengan latihan yang lebih teratur, setidaknya ia memiliki bekal untuk melindungi dirinya sendiri jika berada dalam situasi berbahaya.
“Fokuslah pada keseimbangan dan ketenangan, bukan hanya kekuatan fisik,” pesan guru karatenya sambil memperbaiki posisi tubuh Alina. “Keberanian dan kewaspadaan sering kali lebih berguna daripada serangan yang kuat.”
Farhan pun membantu melatihnya, sekaligus menyatakan kesediaannya untuk mendampingi Alina menyelidiki kasus ini lebih lanjut. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan dugaan. Kita butuh bukti nyata, atau setidaknya jalur hukum yang jelas,” ujarnya.
Keesokan harinya, keduanya memutuskan untuk pergi ke kantor kepolisian setempat. Mereka membawa foto yang diambil warga, keterangan dari Pak Aditya, serta semua keterangan yang dikumpulkan. Alina menyampaikan laporan dengan tenang namun tegas, menjelaskan semua kecurigaan yang mengarah pada Raka.
Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Setelah polisi memeriksa dan memanggil Raka untuk dimintai keterangan, semuanya berjalan berbalik arah. Raka datang didampingi oleh ayahnya, Bapak Haris, yang juga membawa surat keterangan dan saksi yang menyatakan bahwa pada pagi kejadian, Raka sedang berada di rumah dan tidak ke mana-mana.
Saat polisi meminta untuk memeriksa motor yang diduga digunakan, mereka mendapat jawaban mengejutkan. “Motor itu rusak parah karena kebakaran tak sengaja di gudang rumah kami beberapa hari lalu, sehingga sudah tidak ada lagi untuk diperiksa,” jelas Bapak Haris dengan nada tenang namun penuh wibawa. “Kami juga memiliki dokumen pembelian motor baru sebagai penggantinya.”
Alina dan Farhan tertegun. Mereka sadar, Raka sudah menghilangkan semua jejak yang bisa menjadi bukti. Tanpa motor sebagai barang bukti, hanya dengan foto yang agak buram dan kecurigaan semata, polisi tidak memiliki dasar hukum yang cukup untuk menahan atau menuntut Raka.
“Maaf, untuk saat ini kami belum bisa melakukan penahanan. Kasus ini masih butuh bukti yang lebih kuat dan meyakinkan,” ujar petugas kepolisian dengan nada sopan namun tegas.
Belum sempat Alina dan Farhan keluar dari ruangan, Bapak Haris dan Raka menghampiri mereka dengan senyum yang terasa menyindir.
“Lihatlah, Alina. Membuat tuduhan tanpa dasar hanya akan mempermalukan dirimu sendiri,” kata Bapak Haris dengan nada merendahkan. “Keluarga kami tidak sembarangan dituduh sebagai penjahat. Jika kau terus memfitnah anakku, aku tidak segan-segan akan melaporkan balik dirimu ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.”
Raka berdiri di samping ayahnya, menatap Alina dengan tatapan menang dan penuh tantangan. “Sudah kubilang bukan aku yang melakukannya. Tapi sepertinya kau terlalu ingin menjatuhkan ku sampai lupa berpikir jernih. Lebih baik kau fokus saja merawat wanita yang terbaring sakit itu, daripada menyia-nyiakan waktumu untuk hal yang tidak jelas.”
Mendengar kata-kata itu, wajah Alina terasa panas menahan rasa malu dan marah. Ia dipermalukan di tempat yang seharusnya menjadi tempat mencari keadilan. Namun, ia tidak membalas dengan amarah. Ia hanya menatap tajam ke arah Raka dan ayahnya, lalu berkata dengan suara tenang namun berisi ketegasan.
“Keadilan tidak selalu terlihat sekarang. Jejak yang hilang pun pada akhirnya akan muncul kembali. Aku tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap dan pelakunya mendapatkan apa yang pantas ia terima.”
Setelah mengucapkannya, Alina berbalik dan keluar dari kantor polisi bersama Farhan. Jalanan terasa lebih berat, namun semangatnya tidak padam. Ia sadar, perjuangan ini tidak akan mudah, apalagi melawan keluarga yang memiliki kekuasaan dan cara licik seperti itu. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri—ia tidak akan membiarkan pengorbanan Bu Kirana sia-sia, dan tidak akan membiarkan Raka bebas begitu saja tanpa pertanggungjawaban.
Bersambung...
Jangan lupa beri like dan komentarnya readers 🙏😊
nanti Alina juga perlahan luluh