NovelToon NovelToon
Pengantin Pria Yang Tak Terduga

Pengantin Pria Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:182k
Nilai: 4.8
Nama Author: Annami Shavian

Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.

Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.

Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.

Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma seblak

Dave mengendus-endus kantong plastik yang dia tenteng. Bau nya enak. Makanan yang dipinta oleh Rania sudah didapatkan olehnya dengan usaha lumayan sulit. Sampai Dave harus mencarinya ke gang-gang sempit, karena makanan yang dipinta istrinya itu tak dijual di Restauran. Dave pikir tidak apa-apa. Demi anak yang dikandung Rania agar lahir nanti tidak ileran. Begitu lah kata ibu-ibu yang tadi Dave temui saat dirinya membeli makanan beraroma kencur itu. Ibu itu bilang, kalau wanita hamil tidak dituruti kemauan nya, maka akan terjadi sesuatu sama bayinya setelah lahir nanti. Dave yang tak pernah mengandung pun percaya saja.

Dave berbelok arah ke arah dapur untuk mengambil sendok dan air minum terlebih dahulu. Ternyata, wangi makanan yang Dave bawa tak hanya disukai oleh Dave, tapi juga Amira, mama mertuanya. Amira mengendus-endus baunya yang cukup tajam saat Dave melewatinya sambil sorot matanya mengarah pada kantong plastik yang Dave tenteng. Namun, Amira tak bertanya apa-apa melainkan hanya tersenyum canggung saja. Benak Amira pun bertanya, apa Dave juga sudah tahu kalau Rania sedang hamil?

Kehadiran Dave ke dapur tak hanya menyita perhatian Amira yang sedang duduk dimeja makan, tapi juga menyita perhatian Bi Arum yang sedang mengelap meja mini bar. Sejenak Bi Arum menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Dave.

"Tuan Dave, tumben ke sini. Ada perlu apa ya? Tanya Bi Arum.

"Saya mau ambil sendok sama air putih, Bi. Di sebelah mana Bibi menyimpan sendoknya?" Tanya Dave sambil berjalan ke arah kitchen set.

"Sendok!" Bi Arum mengekor di belakang Dave. Dave berbalik badan." Iya, Bi," sahutnya.

Bi Arum tak langsung menunjukan keberadaan sendoknya melainkan tatapan nya terarah pada kantong plastik yang ditenteng oleh Dave. Dan tentu saja aroma khas nya sudah tak asing lagi di indera penciuman Bi Arum.

"Itu seblak ya, Tuan?"

"Kok, Bibi tau?"

"Ya tau lah, Tuan. Saya kan sering makan seblak kalau lagi pengen."

"Sering makan? memang Bibi beli dimana? Saya susah sekali mencari makanan ini tadi."

"Saya tidak beli, Tuan."

"Lantas?"

"Bikin sendiri."

"Bikin sendiri!" Ucap ulang Dave, terkejut.

Bi Arum mengangguk." Iya Tuan, itu mah bikinnya gampang."

"Gampang!"

Bi Arum mengangguk-anggukan kepalanya. Dave menghembuskan nafas besar. Andai tahu art nya bisa membuatkan makanan yang serupa, Dave pasti akan menyuruh membuatkan saja dan tak perlu payah mencari nya sampai ke pelosok. Dave mengusap-usap wajahnya.

"Memangnya Tuan suka makan seblak?"

"Saya belum mencobanya, Bi. Ini untuk Rania."

Bi Arum tidak lagi bertanya, melainkan manggut-mangut sambil berpikir, apa anak majikannya itu sedang hamil? soalnya keinginan nya aneh-aneh.

"Ya sudah. Sekarang dimana sendoknya, Bi?"

"Ah, ya sebentar, Tuan." Bi Arum segera mengambil apa yang diminta oleh Dave.

Dave memasuki kamar Rania. Nampak Rania sedang tidur sambil memegang ponselnya. Sejenak Dave menatap Rania, bathin nya berkata.

"Maaf, sudah membuat mu terlalu lama menunggu ku."

Kemudian, Dave meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja terlebih dahulu, lalu mendekati ranjang tidur Rania.

"Rania, bangun. Saya sudah membawakan makanan yang kamu pinta." Dave membangunkan Rania tanpa menyentuhnya, tapi tak ada tanda-tanda Rania merespon ucapan Dave.

"Rania, bangun. Makanan yang kamu mau sudah datang." Rania tetap tidak merespon ucapannya.

Dave menghela nafas panjang. Ternyata sulit juga membangunkan Rania. Lalu Dave duduk di tepi ranjang. Saat Dave hendak menyentuh tangan Rania, tanpa sengaja sorot mata Dave mengarah pada layar ponsel Rania. Seketika hati Dave mendesir melihat foto kebersamaan Rania dan Kevin memenuhi layar ponsel itu. Ketika Dave hendak menarik tangannya, tanpa disangka Rania malah menarik kuat tangan Dave sehingga Dave terhuyung dan wajah Dave tepat dihadapan wajah Rania. Hembusan nafas hangat Rania pun mulai terasa menyapu ke seluruh wajah Dave.

Deg

Jantung Dave mulai berdetak tak karuan. Sesaat Dave tersihir oleh pemandangan yang amat sangat dekat di matanya itu. Jujur dari lubuk hati Dave yang terdalam, istrinya ini memiliki wajah yang sempurna. Bentuk hidung yang bagus, bibir sensual. Meskipun wajah nya dalam keadaan pucat, tapi hal itu tidak mengurangi kadar kecantikan nya yang sudah tercipta dari lahir. Tanpa sadar, Dave mengusap-usap pelan pipi mulus Rania sampai Dave terhanyut dalam khayalannya.

"Andai saja ada kerelaan di hatimu membina rumah tangga ini denganku, aku sangat bahagia, Ran. Aku tak ingin mengharapkan apapun dari mu selain, kamu....melupakan Kevin. Dan..aku berjanji akan membahagiakan hidupmu di sepanjang usia ku."

Dan perbuatan Dave sontak saja membangunkan Rania dari tidurnya.

Perlahan Rania mengejapkan matanya saat merasa pipinya dielus-elus sangat lembut. Selain itu, sapuan angin hangat pun terasa menjalar di seluruh wajahnya. Saat kelopak matanya terbuka sempurna, seketika itu pula bola matanya membelalak. Dave yang awalnya tak sadar jika istrinya sudah membuka matanya pun langsung berdiri tegak.

"Apa yang Om lakukan?" Tanya Rania dengan lantang, serta nampak kilatan kemarahan pada sorot matanya.

"Ma-maaf. To-tolong jangan salah paham. Saya hanya berusaha membangunkan kamu."

"Bohong. Om mau berbuat macam-macam kan sama aku?"

Dave geleng-geleng kepala, menyangkal tuduhan Rania." Sungguh, saya tidak memiliki maksud lain selain ingin membangunkan kamu. Karena membangun kan kamu tidak hanya cukup dengan suara saja. Saya sudah membawa apa yang kamu mau. Itu.." Dave menunjuk ke arah letak makanan yang dipinta oleh Rania. Rania mengikuti arah telunjuk Dave. Melihat makanan yang masih terbungkus kantong plastik itu, amarah Rania pun menurun.

Dalam hati, Dave merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya dirinya terlena pada wajah pucat Rania.

"Ehem. Ayok, dimakan. Kata pedagangnya, kalau sudah dingin tidak enak lagi," kata Dave saat Rania masih menatap makanan itu. Sekilas Rania melihat ke arah Dave, kemudian beranjak turun tanpa berkata apapun.

Dave hanya berdiri memperhatikan Rania menikmati makanannya yang terkadang mengipasi mulutnya dengan tangannya, atau kadang meneguk air minum banyak-banyak. Wajahnya pun berubah memerah seperti tomat.

"Apa makanan nya terlalu pedas?" Tanya Dave dengan hati-hati.

Rania hanya diam saja.

"Maaf saya tidak tahu. Nanti kalau kamu menginginkan nya lagi, saya akan melarang pedagangnya untuk tidak meletakkan cabai."

"Tidak apa-apa. Ini pas kok," ucap Rania, lalu menyuapkan makanan itu kembali. Dave pun tersenyum. Ternyata, Rania menghargai jerih payahnya.

Setelah seblak itu habis dimakan Rania, keluarlah suara sendawa yang cukup keras dari mulut Rania. Setelah itu, Rania kembali ke tempat tidurnya meninggalkan bekas makannya begitu saja. Dave hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.

Kemudian, Dave dengan telaten membersihkan bekas makan Rania yang kuahnya terlihat acak-acakan di meja. Sementara Rania, hanya memperhatikan gerak-gerik Dave di atas ranjangnya.

"Om...!" Seru Rania saat Dave hendak membuka pintu sambil membawa sampah dan peralatan kotor ditangannya. Dave menoleh.

"Terima kasih!" ucap Rania sambil menunduk dan me re mas buku-buku jarinya. Lagi-lagi Dave hanya tersenyum. Kalimat yang hanya terdiri dari dua kata itu cukup menghangatkan hati Dave kali ini.

1
Lea
Ga ad niatan lanjutin rania nich kak
Rumaisha Alaa
thor kapan lanjutannya ditunggu
Nenden Lasminingsih
kapan up lagi thor,,,ditunggu lanjutannya
RizQiella
lanjut kk
RizQiella
🤣🤣🤣🤣 kasihan gatot
RizQiella
temen2 toxic gitu
RizQiella
Kevin bukan anaknya
RizQiella
wkwkkw makanya jangan So🤣
RizQiella
🤣
RizQiella
kasian di blokir 😂
RizQiella
jangan jangan sama si kep kep
RizQiella
Rania Rania😁
Lea
Buntu nich thor di anggurin aja ga di lanjuutt
Annami Shavian: hehe keasikan ma rubi🤦🤦🤦tunggu rubi ketemu Rexa dulu ya kak😬🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
RizQiella
wah kasihan
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я
Kak author cantik..., bagaimana kisah Dave dan Rania selanjutnya? masih lanjut atau sudah tamat?
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я: hehehe 🤭😂😂
total 3 replies
Sugiarti
Luar biasa
Lea
Di gantung nich ceritanya mak , ga di selesain
Lea
Hilang fokus thor , fakum lama bgt si dave
Diah Elmawati
Kapan Thor lanjutannya. Aku berharap Thor memberikan hukuman yang setimpal buat Renata yang sudah membunuh kedua sahabatnya dan sekarang menculik Rania
💝F&N💝
kak, kenapa ini kok gak ada konfirmasi lagi.
ayo up lagi, kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!