Seorang wanita yang bernama Hani harus berjuang menyembuhkan ayahnya yang sakit dan terpaksa menikah dengan seorang pria kaya raya yang sama sekali tidak dicintainya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sholehah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Hani, Satria dan Ibu Sekar tengah mencari kontrakan dengan menggunakan mobil pick up.
"Neng, kalau boleh tujuannya mau kemana? barang-barangnya kok sampai dibawa semua?" tanya supir melirik barang di belakangnya seperti orang mau pindahan.
Hani tersenyum kecut kala ditanya seperti itu, karena dirinya juga belum tahu kemana arah tujuannya kali ini.
"Saya mau mencari kontrakan Pak, kira-kira bapak punya info kontrakan gak yang murah dan bisa ditempati satu keluarga?" Hani balik bertanya pada pak supir, karena memang dirinya juga kebingungan.
"Kalau masalah itu bapak kurang tahu, mungkin nanti bisa sekalian cari-cari kalau udah sampai perbatasan kota karena biasanya banyak di daerah itu." Jawab Pak Supir dengan ramah, Hani merasa lega dia tidak harus tinggal di kolong jembatan malam ini karena memang benar yang dikatakan oleh Pak Supir di perbatasan biasanya banyak kost-kostan yang diperuntukkan untuk anak muda yang sedang berkuliah.
"Ibunya sakit ya, neng? bapak perhatikan wajahnya pucat," tanya pak supir itu lagi dengan tatapan iba kepada bu Sekar hanya memenjamkan matanya sedari tadi.
"Iya, Pak. Ibu memang sedang sakit, maka dari itu saya ingin cepat mendapatkan tempat tinggal untuk beristirahat." jawab Hani singkat, dirinya merasa sedih melihat keadaan ibunya yang sedang sakit harus berkeliaran di luar rumah.
Satria tidak mengucapkan sepatah katapun dia hanya menatap penuh kebencian ke arah depan mobil, entah apa yang di pikirannya.
"Sat, kamu tidak apa-apa?" tanya Hani dengan wajah khawatir, Hani sangat takut kalau Satria depresi karena harus mengalami masalah yang terus-menerus menimpanya.
Satria nampak tersenyum tipis ke arah kakaknya,
"Tidak apa-apa kak, Satria hanya sedang menahan kesal saja." Jawab Satria memalingkan wajahnya lagi ke arah depan.
Hani tidak melanjutkan pembicaraannya dengaj Satria lagi, karena Hani tahu adik lelakinya itu memiliki sifat yang jauh beda dengannya. Biarpun usianya lebih muda tetapi wataknya lebih keras daripada Hani.
Tringg.....
Ponsel Hani berdering menampilkan nama Rafael di sana.
Dengan cepat Hani pun mengangkat teleponnya karena dia memang sedang memerlukan bantuan Rafael untuk mencari tempat tinggal sementara.
"Halo, mas. Ada apa?" ucap Hani mengangkat telepon Rafael.
"Kamu sekarang ada dimana? aku barusan dari rumahmu, mereka bilang kamu telah diusir dari sana. Katakan dimana kamu sekarang?" bariton suara Rafael terdengar mencemaskan Hani.
"Aku sekarang sedang menuju perbatasan kota mas, kata supir pick up katanya disana banyak rumah kontrakan yang disewa dengan harga murah," jawab Hani dengan terbata. Dia sedih kala mendengar dirinya diusir dari rumahnya sendiri.
"Ya sudah, aku sekarang akan menuju kesana. Kamu bilang sama supir itu jangan dulu pergi sebelum aku datang," ucap Rafael memberikan pesan pada Hani.
"Baik, mas." Jawab Hani dengan suara lemas, sebenarnya dia ingin sekali terlepas dari meminta tolong dari Rafael karena rasa hutang budi itu semakin dalam di hati Hani.
Setelah memakan waktu sekitar tiga puluh menit kemudian, Hani diberhentikan oleh supir itu di perempatan jalan.
"Neng, sudah sampai perempatan. Kalau mau mencari kontrakan mari saya antar, saya lihat ada tulisan di seberang sana." Tunjuk supir itu memberitahukan ada plang yang bertuliskan ada kontrakan rumah.
"Iya benar, tapi teman saya sedang menuju kesini. Bisakah Pak supir menunggu sebentar lagi?" tanya Hani meminta tolong pada Pak Supir.
Satria dan Ibu Sekar nampak heran dengan Hani yang meminta Pak Supir untuk menunggu.
"Kak, kok kita disuruh menunggu disini? kata Pak supir ini ada kontrakan di sebelah sana, memangnya Kakak sedang menunggu siapa?" tanya Satria dengan raut kebingungan.
"Kakak menunggu Rafael, dia sedang menuju kemari. Tadi dia bilang akan membantu kita mencarikan tempat tinggal," jawab Hani dengan wajah tersenyum.
Satria hanya manggut-manggut saja, dia mengerti maksud kakaknya. Berbeda dengan Ibu Sekar yang menangkap sesuatu dari hubungan Hani dengan Rafael.
"Nak, apakah kamu memiliki hubungan spesial dengan nak Rafael? ibu lihat kalian sangat dekat bahkan Rafael sering membantu kita semenjak ayahmu masuk rumah sakit," tanya Ibu Sekar dengan wajah penasaran pada Hani.
Hani yang di tatap oleh Ibu Sekar hanya bisa memalingkan wajahnya, dia tidak ingin ibunya khawatir kalau dia memiliki hubungan spesial dengan pria kaya.
"Rafael hanya teman dekat saja, Bu. Lagi pula dia orang kaya raya tidak mungkin menyukai Hani yang miskin ini," jawab Hani dengan asal, dia tidak mau ibunya menaruh curiga pada Hani kalau dirinya terikat kontrak dengan Rafael.
"Syukur kalau begitu, ibu tidak ingin kamu terluka kalau berpacaran dengan pria kaya. Ibu tidak mau nasibmu sama dengan ibumu ini, tidak pernah direstui oleh nenekmu." Ucap Ibu Sekar dengan menitikkan air matanya mengingat ibu mertuanya tidak menyukainya bahkan sampai ibu Sekar memiliki anak dari pak Hendra.
Hani yang menganguk pelan, dia tidak ingin terlalu dalam membicarakan hubungannya saat ini. Karena bagi Hani keluarganya adalah segalanya, dia dan Rafael terikat kontrak demi uang yang dibutuhkan untuk membiayai ibu dan adiknya selepas ayahnya meninggal.
Tampak dari kejauhan mobil mewah Rafael telah sampai di tempat pemberhentian mobil pik up.
Pak supir tampak melongo melihat mobil mewah milik Rafael terparkir disebelah mobilnya. Dia pun lebih terkaget lagi kala Rafael turun dari mobilnya, dengan langkah yang gagah dan tubuh yang tegap Rafael dapat menghipnotis siapapun yang melihatnya.
Rafael tampak mendekati Pak supir untuk bertanya keberadaan Hani.
"Maaf Pak mau tanya apa bapak lihat ada gadis bersama ibu dan adik lelakinya yang naik mobil pick up?" tanya Rafael dengan suara yang berwibawa, hingga pak supir itu tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Rafael.
"Halo Pak, apakah bapak dengar apa yang saya ucapkan?" tanya Rafael lagi.
Pak supir itu pun tersadar, pria tampan di depannya sedang bertanya pada dirinya.
"Eh iya, maaf mau mencari siapa?" ulang supir itu bertanya dengan nada suara takut karena kharisma dari seorang Rafael.
"Apa bapak lihat ada seorang gadis cantik bersama ibu dan adik laki-lakinya yang menaiki mobil pik up?" tanya Rafael lagi.
"Oh iya pak. Itu mobil pik up saya, neng tadi lagi beristirahat di warung depan. Katanya ingin makan dulu," jawab pak supir dengan menunjuk ke arah warung yang begitu ramai.
"Kalau begitu terima kasih ya, pak. Bisa tidak tolong bapak antarkan barang-barang ini ke tempat saya? nanti saya akan tambahkan ongkosnya." tanya Rafael meminta pertolongan pada supir itu dia pun mengeluarkan uang sebesar dua juta pada supir itu.
"Wah banyak sekali, kalau begini saya mau pak. Bisa kirim alamatnya dimana?" jawab supir itu bahagia mendapatkan ongkos yang lebih dari biasanya.
"Berikan nomor ponselmu, nanti saya kirim alamatnya lewat pesan." ujar Rafael dengan mengeluarkan ponselnya dan dia langsung menyimpan nomor ponsel supit itu dan mengirimkan alamat rumahnya.
"Sekali lagi terima kasih, pak. Saya akan antarkan sekarang juga," timpal Pak supir dengan melangkah memasuki kursi kemudinya dan meninggalkan tempat itu menuju rumah Rafael.