NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tanpa menoleh lagi, Jihan berbalik dan melesat keluar dari gubuk, meninggalkan keheningan yang mencekam di belakangnya. Kakinya membawanya berlari menyusuri jalan setapak, tujuannya kini jelas, pasar desa, tempat dimana ia biasanya membeli beberapa pil penyembuh dan obat-obatan.

Ia tau bahwa Pil penyembuh itu mungkin hanya menjadi solusi sesaat, namun ia tidak punya pilihan lain, hanya itu satu-satunya harapan untuk saat ini.

Setiap hentakan kakinya di tanah kering seolah memompa adrenalin ke seluruh tubuh. Kekuatan baru yang mengalir di raganya membuat larinya terasa ringan, namun beban di hatinya terasa lebih berat dari gunung mana pun. Pikirannya berpacu lebih cepat dari langkahnya. Kantung goni pemberian Arya Jaya terasa nyata dalam genggamannya, berat oleh koin-koin tembaga dan juga oleh harapan.

Namun, di sela deru napasnya, bisikan sang kepala desa tentang penyakit spiritual terus terngiang di telinganya, menanamkan benih keraguan.

‘Mungkinkah pil itu justru membuat ibunya semakin parah?’

Jihan menggeleng pelan, menepis keraguan yang muncul di benaknya. Ia sudah melihat dengan matanya sendiri, bagaimana ibunya sedikit membaik setiap kali menelan pil itu, meskipun hanya untuk sesaat, namun itu lebih dari cukup untuk menjaga nyala api harapannya.

Pasar Desa Batu Sungai terletak di area yang lebih rendah, dekat dengan gapura utama. Saat Jihan tiba, suasana riuh langsung menyambutnya, kontras yang menyakitkan dengan kesunyian di gubuknya. Aroma rempah-rempah panggang bercampur dengan bau anyir dari lapak ikan dan wangi buah-buahan matang.

Suara para pedagang yang meneriakkan dagangan mereka, tawar-menawar pembeli, dan tawa anak-anak yang berlarian, semuanya terdengar seperti dengungan asing di telinga Jihan. Indranya yang kini lebih tajam membuat semua itu terasa membanjiri, namun ia memaksa dirinya untuk fokus.

Matanya menyapu liar, mencari satu tujuan di antara keramaian: kedai obat milik Tabib Sari. Beberapa bulan lalu, Jihan pernah mencari tabib terbaik di desanya itu sampai ke Hutan Timur untuk memeriksa ibunya.

Ia menemukan kedai itu di sudut pasar yang lebih teduh, sebuah bangunan kecil yang dipenuhi guci-guci keramik dan aroma herbal yang pekat. Tabib Sari, seorang pria paruh baya dengan janggut putih tipis, sedang menimbang beberapa akar kering saat Jihan tiba dengan napas tersengal.

"Tabib Sari!"

Panggil Jihan, suaranya sedikit bergetar karena lari dan cemas.

Tabib Sari mengangkat kepalanya. Matanya yang sudah sipit tampak semakin menyempit saat mengenali sosok pemuda di hadapannya. Seberkas keterkejutan melintas di wajahnya, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.

“Jihan! Syukurlah kau selamat. Aku sangat khawatir saat mendengar kau hilang di hutan. Maafkan aku tidak ada di sana untuk membantu, aku sedang berada di luar desa mencari beberapa tanaman obat.”

Namun Jihan tak memberi jeda.

“Maaf, Tabib Sari. Aku tidak punya banyak waktu. Aku butuh pil penyembuh. Berikan pil terbaik yang Tabib punya… berapa pun harganya!”

Tabib Sari menatap kantung itu, lalu beralih menatap wajah Jihan yang dipenuhi keringat dan keputusasaan. Ia tidak langsung bergerak, malah meletakkan timbangannya dan menatap Jihan dengan sorot iba.

"Nak,"

"Kau tahu aku sudah memberikan semua pil yang kupunya. Pil-pil itu hanya untuk demam atau luka ringan. Penyakit ibumu… jauh berbeda. Satu-satunya pil terbaik yang pernah kau beli itu bukan buatanku, tapi karya seorang pendekar yang dikenal sebagai Paman Obat, Empu Mukti."

Ia menghela napas, suaranya mengandung penyesalan.

“Sialnya… kau datang di waktu yang tidak tepat. Pil penyembuh itu sudah habis. Para penduduk desa membelinya beberapa hari lalu karena akhir-akhir ini banyak yang jatuh sakit. Aku pun tidak tahu kenapa Empu Mukti belum juga datang. Ia seharusnya sudah memasok pil itu sejak kemarin.”

Pernyataan itu menghantamnya seperti batu. Tubuh Jihan bergetar, dan kepalan tangannya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Harapannya pada pil penyembuh yang bisa meringankan sakit ibunya seketika hancur. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, Jihan membalas.

“Jadi, tidak ada apapun?”

"Tidak ada obat sama sekali yang bisa menolongnya?"

Tabib Sari menggelengkan kepala, sebuah gerakan yang menyiratkan ketidakmampuannya. Bagaimanapun, ia hanyalah seorang tabib desa kecil, ia tidak memiliki kemampuan untuk melawan penyakit spiritual. Yang bisa ia lakukan hanyalah membuatnya bertahan.

"Terima kasih, Tabib,"

Hanya itu yang dapat Jihan katakan, suaranya lirih. Ia menarik kembali kantung goninya yang kini terasa jauh lebih ringan. Ia membungkuk hormat, lalu berbalik dan melangkah gontai meninggalkan kedai, meninggalkan aroma herbal yang tak lagi terasa seperti harapan.

Perjalanan pulangnya terasa berat, pikirannya kosong. Langit yang cerah seolah mengejeknya. Ia memiliki uang, tetapi tak ada pil yang bisa dibeli. Ia memiliki kekuatan fisik yang melonjak, tetapi semua itu tak berarti di hadapan penyakit ibunya. Setiap langkah terasa bagai menginjak duri dan setiap usahanya terasa hampa.

Di tengah lapangan desa yang berdebu, langkah gontai Jihan terhenti. Suara riuh yang menusuk telinganya terasa begitu kontras dengan keputusasaan yang menyelimuti hatinya.

Ia menoleh ke sumber suara dan mendapati sekelompok pemuda sebayanya berkumpul. Di tengah-tengah mereka, seorang pemuda bertubuh sedikit lebih gempal yang tak lain adalah Gading tampak memimpin.

"Hyaaa! Rasakan Seni beladiri Harimau Liarku!"

Teriak Gading, sambil melancarkan pukulan yang lebih mirip ayunan tak beraturan ke arah salah satu temannya, yang dengan sigap menghindar sambil tertawa.

Akan tetapi, tawa mereka sontak mereda saat Gading menoleh dan mendapati Jihan berdiri di tepi lapangan. Senyum mengejek langsung terpasang di wajahnya, meski di dalam hati ia merasakan secercah kecemasan.

Seleksi Perguruan tinggal dua hari lagi, dan bayangan wajah ayahnya yang penuh harapan seolah memaksanya untuk tampil kuat di hadapan semua orang, terutama di hadapan orang yang ia anggap sampah seperti Jihan.

"Wah, lihat siapa yang datang! Si pekerja keras yang membuat seluruh desa gempar tadi malam, Jihan!"

"Kukira kau sudah jadi santapan serigala. Hah, ternyata masih beruntung, ya? Aku yakin kau hanya bisa bersembunyi sambil gemetaran dan mengompol saking takutnya!"

Dua temannya yang lain Indra, dan Rama ikut terkekeh.

"Mau ke mana kau? Mengantarkan obat untuk ibumu yang sakit-sakitan itu?"

Ejekan yang membawa-bawa nama ibunya itu terasa seperti sulutan api di dada Jihan. Rahangnya mengeras seketika, dan kedua tangannya di sisi tubuh terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada dorongan liar dalam dirinya untuk membalas ucapan itu dengan sebuah pukulan.

Namun, bayangan wajah ibunya yang pucat dan terbaring lemah di rumah seketika menjadi air dingin yang memadamkan amarahnya. Ia sadar, meladeni Gading dan kelompoknya hanya akan membuang waktu dan tenaga yang sangat berharga.

Jihan menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di hatinya. Ia membuang muka, menganggap mereka seolah tak ada, lalu kembali melangkah dengan tatapan lurus ke depan, berusaha melewati mereka tanpa sepatah kata pun.

Namun Gading menghampirinya dengan cepat, menghalangi jalannya.

“Mau ke mana buru-buru, sampah? Tidak diajari sopan santun, ya?”

Gading menyeringai, lalu menepuk-nepuk tinjunya.

“Jangan pergi dulu. Kami sedang berlatih untuk Seleksi Perguruan Pedang Awan. Bagaimana kalau kau ikut… belajar sedikit?”

“Oh, aku lupa. Kau kan hanya tahu cara mengayunkan kapak, bukan kepalan tangan."

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan setapak menuju gubuknya, Jihan membalas provokasi itu dengan suara yang datar dan dingin.

"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main, Gading.”

"Bermain-main?"

Gading tertawa menghina.

"Ini bukan permainan, ini adalah jalan seorang pendekar! Sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti."

Gading mendorong bahu Jihan, Namun, yang terjadi selanjutnya membuatnya terperangah.

Jihan sama sekali tidak bergeming. Tubuh yang ia harapkan terhuyung mundur itu kini berdiri tegak, sekokoh batu karang yang baru saja dihantam ombak.

Rona terkejut di wajah Gading dengan cepat memudar, digantikan oleh warna merah padam karena amarah dan rasa malu yang membakar. Ia telah dipermalukan di depan teman-temannya.

"Sombong sekali kau!"

"Hanya karena kau selamat dari hutan, kau pikir kau sudah jadi pendekar? Bagiku, kau tetaplah sampah yang tinggal di gubuk reyot!"

Jihan menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosinya.

"Minggir. Aku harus pulang."

"Tidak akan," jawab Gading. Seringai keji terpasang di wajahnya saat ia dan kedua temannya serempak merentangkan tangan, membentuk barikade manusia yang mustahil Jihan lewati tanpa perlawanan.

"Kecuali kau berlutut dan memohon ampun padaku karena sudah lancang."

Permintaan itu adalah batasnya.

Tatapan Jihan yang tadinya kosong kini menajam, menyipit hingga yang tersisa hanyalah kilat dingin yang berbahaya. Udara di sekeliling mereka seolah memberat, terisi oleh kesabaran Jihan yang akhirnya mencapai titik terendah.

Di ujung pandangannya, gubuk kecilnya berdiri seolah memanggil. Setiap detik yang terbuang di sini terasa seperti mencuri sisa napas dari ibunya yang terbaring lemah. Kesia-siaan ini harus diakhiri. Sekarang juga.

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!