Setiap orang pasti ingin menikah dengan orang yang di cintainya bukan?
Lalu bagaimana jika kita Menikah Karna Jebakan? Terlebih kita tidak tau jika kita dijebak.
Begitu pula dengan Rafa yang terpaksa menikah dengan teman satu kampusnya saat kuliah dulu karna suatu insiden yang bahkan dia sendiri tidak menyadari atas perbuatannya. Sungguh, dia ingin lari namun ada orang tuanya yang akan kecewa jika mengetahui kalau Putra yang sudah mereka didik dengan susah payah malah berbuat hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Lantas setelah menikah, apakah pernikahan mereka akan berjalan seperti pasangan Suami Istri pada umumnya atau malah sebaliknya?
Cus Capcus ikuti kisah mereka➡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nora Afridana Ritonga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia mencintai ku apa adanya
"Selamat ya atas pernikahan kalian."
Pria bernama Rama itu mengucapkan selamat namun terlihat tidak iklas lebih tepat nya seperti orang yang kecewa.
"Raf, sekali lagi selamat ya, kita duluan.."
Kai yang merasa suasana nya sudah berubah pun segera berpamitan kepada pengantin baru itu dan segera mengajak Viola pergi dari sana. Rafa hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Sepertinya saya pernah melihat Anda tapi dimana ya.."
Rafa berusaha mengingat-ngingat pria yang sedang berdiri di hadapan nya seperti tidak asing bagi nya.
"Ya kita pernah bertemu beberapa hari yang lalu saat rapat pemegang saham."
Pria itu berusaha Mengingatkan Rafa yang sedang berusaha mengingat dirinya, namun pandangannya tak pernah lepas dari wanita yang beru beberapa jam yang lalu di nikahi Rafa.
"Ohh.. ya saya ingat sekarang, Anda Putra dari pak Leon?" tanya Rafa memastikan.
Pria itu tersenyum lalu mengangguk.
"Nama saya Rama." Sambil mengulurkan tangannya ke arah Rafa.
"Ya, saya Rafa." Balas Rafa sambil menerima uluran tangan Rama.
Sejenak hening diantara mereka, Rafa bisa melihat Rama yang sedang menatap Elsa yang menunduk dengan tatapan kecewa yang membuat dirinya bingung, akankah mereka saling kenal?
"Ehem!" Rafa berdehem mengalihkan perhatian Rama dan Elsa yang sekarang telah tertuju ke arah nya.
"Apa kalian saling kenal?" Tanya Rafa santai sambil melirik Rama dan Elsa secara bergantian.
"Ya"
"Tidak"
Jawaban serentak namun berbeda dari kedua orang itu membuat Rafa mengernyitkan dahinya, dia semakin bingung. Rama menjawab Ya sedangkan Elsa yang menjawab Tidak.
Rafa bisa melihat Rama yang sedang menatap kecewa dengan jawaban Elsa, namun dia tidak ingin mempertanyakan nya, lagi pula apa urusan nya untuk itu?
"Kami pernah saling kenal.."
Rama menggantungkan kalimat nya menatap Elsa yang menatap nya seolah berkata 'jangan berbicara'.
"Tapi mungkin Elsa sudah lupa dengan saya." Sambung nya lagi, Elsa terlihat menghela nafas lega.
Rafa hanya Manggut- manggut mendengar penjelasan Rama yang seolah berusaha menjelaskan agar dirinya tidak salah paham padahal Rafa cuek-cuek saja, terserah juga kalau mereka ada hubungan spesial toh itu bukan urusan nya.
"Kalau begitu saya pamit, semoga kalian selalu bahagia." Rama berpamitan dengan menyalami Rafa dan Elsa bergantian, saat tangan nya dan tangan Elsa terpaut cukup lama namun dengan cepat Elsa menarik tangan nya.
Tak berapa lama Rama berpamitan, Tria dan Arif tampak mendekati Rafa dan Elsa sambil terpancar senyuman di wajah wanita paruh baya itu. Rafa menyambutnya dengan senyuman juga.
"Anak Bundaa!" Tria langsung memeluk Rafa saat diri nya sampai di hadapan keponakan nya itu, Rafa membalas pelukan Tria tak kalah hangat.
Arif yang melihat itu hanya menggelengkan kepala nya, merasa pemandangan di hadapan nya ini sudah biasa.
Tria melepaskan pelukan nya dan menatap Rafa lekat.
"Bunda gak nyangka loh Rafa kecil ternyata uda besar dan sekarang udah nikah pula." Tria mengusap lembut pipi Rafa yang sedang tersenyum ke arah nya.
"Pokok nya nanti kamu harus jadi Suami yang bertanggung jawab dan harus sayang sama Istri dan Anak-anakmu kelak."
Tria memberikan sedikit wejengan kepada keponakan yang sudah dianggap nya Putra sendiri.
Rafa hanya mengangguk menanggapi nasehat Tria.
Elsa ikut terharu melihat keluarga Rafa yang sangat rukun dan hangat itu, dia jadi merasa wanita paling beruntung karna bisa masuk di antara mereka.
Kini Tria beralih ke Elsa.
"Halo Elsa, selamat buat pernikahan kalian, Bunda doain pernikahan kalian langgeng sampai Kakek Nenek."
"Terima kasih Tante."
"Jangan sungkan, panggil Bunda saja."
Elsa hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Kamu itu gimana cerita nya bisa nikah sama Rafa, soalnya setau Binda Rafa itu orang nya cuek banget sama cewek, nah ini tiba-tiba dapet kabar udah nikah aja, kan bingung Bunda tuh."
Elsa terdiam, bingung harus berkata apa, dia mengiyakan perkataan Tria yang mengatakan bahwa Rafa cuek lantas tidak mungkin kan dia mengatakan alasan mereka menikah, lagi pula dia juga sudah berjanji kepada Rafa untuk menutupi kejadian beberapa minggu lalu.
Tiba-tiba Rafa menarik pinggang Elsa mendekat membuat sang empunya terkejut sambil melirik ke pinggang nya yang sudah ada tangan Rafa disana kemudian beralih ke Rafa yang juga sedang menatapi nya.
"Bunda pikir karna Rafa cuek kepada wanita, Rafa tidak akan menikah, begitu?" pura-pura cemberut membuat siapa saja yang melihat nya jadi gemas termasuk Elsa dia jadi tersenyum geli melihat ekspresi Rafa.
"Hahaha.. ya, Bunda memang sempat berfikir seperti itu." Canda Tria di sela tawa nya.
"Huh.. Bunda sama saja dengan Abi Umi." Rafa bersungut masih dengan ekspresi lucu nya.
"Hey! kau ini tidak tau malu sekali, lihat Istrimu sampai menahan tawa nya melihat wajah jelek mu." Ledek Arif membuat Tria semakin tertawa, sedang Rafa dia langsung menatap Elsa yang memang sedang tersenyum menahan tawanya.
Elsa yang melihat Rafa melihat nya dengan tatapan datar pun segera menormalkan wajah nya dan mengalihkan pandangan nya dari Rafa.
"Tidak Ayah, dia mencintai ku apa adanya, iyakan sayang?"
Rafa semakin mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Elsa membuat sang empunya terkejut, sungguh dia sangat terkejut dengan perlakuan Rafa sampai sampai dia tidak mendengar perkataan Rafa barusan.
"Hey.. Elsa!"
Hingga dia tersadar bahwa Rafa sedang menepuk pipinya berusaha menyadarkan nya.
"Eh iya." Ucap nya asal, sungguh kesadaran nya belum kembali normal.
"Kenapa melamun sayang?" Tanya Tria sambil menyentuh lengan kiri nya.
"Tidak Tante, aku tidak melamun." Elak nya.
"Baiklah kalau begitu, Rafa Elsa semoga kalian selalu di berikan kebahagiaan."
Ucap Tria, setelah nya mereka berpamitan untuk menemui Sinta dan Boy.
"Selamat buat kalian, ingat! mesti rukun dan kalau ada masalah itu di ceritain satu sama lain harus saling terbuka." Arif menyempatkan memberikan nasehat kepada keponakan nya.
Seperginya Tria dan Arif, Rafa langsung melepaskan tangan nya dari pinggang Elsa dan memberi jarak diantara mereka, Elsa memeng kecewa namun dia sadar, Rafa tadi hanya sedang berakting di depan keluarganya agar mereka terlihat seperti pasangan pada umumnya.
*****
Matahari telah berganti menjadi bulan yang menandakan bahwa siang telah berganti malam. Acara pernikahan sederhana itu telah usai 6 jam yang lalu. Keluarga Boy sudah berkumpul di meja makan setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah di musollah rumah. Sedangkan Ilham telah kembali ke Kairo setelah sholat dzuhur tadi.
"Kalian mau honeymoon kemana?" Tanya Boy saat Sinta masih mengambilkan nasi dan lauk untuk nya, begitupun dengan Elsa, dia sudah di ajarai oleh Sinta cara melayani Suami nya dengan baik.
"Sepertinya itu tidak perlu Bi."
"Terimakasih." Ucapnya saat Elsa memberi kan piring berisikan nasi dan lauknya. Elsa hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi nya.
"Loh.. itu perlu dong Raf, gimana kalian mau ngasih kita cucu coba." Bantah Sinta tidak sependapat dengan Putra nya.
Elsa hanya diam saja mendengarkan tanpa berniat ikut bergabung, biarkan ini menjadi urusan Rafa pikirnya.
"Disini juga bisa Mi kenapa mesti jauh-jauh." Rafa masih tak mau kalah.
"Ya beda dong sayang, suasana nya itu beda, iyakan Elsa?"
Elsa yang di tanya mendadak seperti itu jadi bingung sendiri.
"Emm.. kalau Elsa ngikut Rafa aja Mi." jawabnya akhirnya setelah menelan makanan yang sempat di kunyah nya.
"Ehh bentar-bentar.. kamu manggil Rafa pake sebutan nama?" Tanya Sinta.
"Iya Mi, emang nya kenapa?" Tanya Elsa polos.
"Gak boleh dong sayang, meski misalnya Istri lebih tua dari Suami, Istri tetep gak boleh manggil nama Suami." Jawab Sinta.
"Jadi Elsa mesti manggil Rafa gimana Mi?"
"Ya terserah, Mas juga bisa atau Kak, Bang bisa juga Sayang, Honey, Baby..."
"Apasih Mi kok jadi ngelantur gitu,." Potong Rafa cepat, dia jadi geli sendiri mendengar beberapa panggilan yang di sebutkan Ibunya.
"Ngelantur gimana? itu biasa panggilan pasangan loh, kamu tuh kolot banget orang gak pernah pacaran." Ledek Boy.
"Aku gak pacaran juga karna nurut sama Umi sama agama juga." bBantah Rafa tak terima.
"Iya sih, tapi seenggaknya kamu itu ngikut jaman dong biar gak kampungan"
"Maksud Abi apa bilang aku kampungan?" tanya Rafa tidak terima di sebut kampungan.
"Ssstt... kalian ini bisa tidak kalau sekali setiap ketemu gak berdebat pusing ini kepala Umi." Sinta melerai perdebatan antara Suami dan Anaknya tersebut.
Sedangkan Elsa malah tersenyum geli melihat pemandangan di depan nya, dia rasanya senang sekali saat sudah resmi masuk ke keluarga ini.
_
_
_
**Like, komen, vote😎
Happy reading👄**