Kehadiran buah hati adalah salah satu hal yang paling dinanti dalam sebuah pernikahan. Begitu pun yang diharapkan oleh Raditya dan Riena. Namun, apa jadinya jika kehamilan itu justru datang disaat kondisi psikologis Reina masih belum pulih benar dari traumanya? Alih-alih merayakan kabar kehamilan tersebut dengan pesta tasyakuran secara besar-besaran, diam-diam Riena malah berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Raditya. Bahkan dia memutuskan untuk pergi menjauh dari suaminya itu.
Apakah yang terjadi sebenarnya? Akankah Raditya masih sanggup berjuang demi mempertahankan mahligai rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part twenty two
Riena yang sudah lima langkah di belakang Raditya, mempercepat langkah kakinya begitu mendengar suara renyah yang begitu familiar di telinganya.
"Ratih," pekik Riena sembari melewati Raditya begitu saja. Dia langsung memeluk sosok perempuan yang belakangan ini tidak pernah absen berkomunikasi secara virtual dengannya.
"Mencari rumahmu sangat tidak sulit, Rie. Bahkan taksi online yang aku tumpangi langsung paham perumahan ini. Sekali tanya satpam perumahan, mereka mengarahkan dengan jelas." Ratih melonggarkan pelukan Riena. Lalu dia beralih pada Raditya yang tidak tahu harus memberikan reaksi apa.
"Apa kabar Pak Radit, maaf saya dadakan datangnya. Sengaja memang mau memberi surprise ke Riena." Ratih mengulurkan tangannya pada Raditya.
"Oh, tidak mengapa, silahkan masuk." Raditya membalas jabat tangan Ratih hanya sekilas saja.
"Masuk, Tih. Ini tadi sebenarnya aku mau jalan-jalan sama Mas Radit. Nanti ikut kita jalan-jalan, ya? Deket aja kok. Di sini ada mie ayam enak. Persis kayak yang sering kita makan di stasiun kota lama dulu," ajak Riena sembari mengapit lengan Ratih.
Raditya sudah duduk menunggu kedua perempuan yang kini kembali bersahabat itu di sofa ruang tamu. Meskipun sejauh ini Ratih memberikan dampak yang positif pada Riena, tetapi sesekali dia harus tetap terlibat obrolan di antara mereka. Kondisi pikiran istrinya yang belum stabil, sungguh membuatnya khawatir akan adanya pengaruh yang mungkin saja bisa mengubah kepribadian Riena sebelumnya.
"Kok kamu sendirian? Suami kamu mana?" tanya Riena.
"Suamiku masih bertemu dengan pemilik rumah yang akan kami tempati selama di sini. Nanti kalau memang waktunya senggang, dia yang bakalan jemput aku. Kalau tidak, aku bisa pesan taksi online lagi buat kembali ke hotel," jelas Ratih sembari menatap hangat pada Riena dan Raditya secara bergantian.
"Ya sudah kamu tunggu di sini saja. Ngapain nunggu di hotel. Ngomong-ngomong, Rasti kemana, Tih? Aku sampai baru sempat menanyakan kabar Rasti. Waktu ngobrol kita ternyata habis buat mendengarkan keluhanku saja." Riena bertanya sembari melirik Raditya yang tampaknya memang sedang memendam masalah. Raut wajah suaminya tersebut, jelas seperti orang yang sedang berpikir.
"Rasti ikut suaminya ke dubai. Mereka tinggal dan menetap di sana. Sesekali pulang kalau suaminya ada libur. Maklum, suaminya seorang chef di sebuah hotel, jadi susah cari jadwal libur," terang Ratih.
"Sebentar, aku bikinkan minum dulu, ya. Jangan nolak." Riena langsung bergegas menuju arah dapur tanpa menunggu jawaban Ratih.
Sepeninggalan Riena, tinggallah Ratih dan Raditya berdua saja. Sesaat tidak ada obrolan di antara mereka. Sebagai seorang psikolog, tentu Ratih bisa membaca jika tuan rumah sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
"Bagaimana Riena, Pak? Apa memang sehari-hari dia sudah seceria seperti barusan?" tanya Ratih memberanikan diri memulai pembicaraan.
"Seperti yang Anda lihat." Raditya menjawab seperlunya.
Ratih memanggut-manggutkan kepalanya. Kini dia semakin yakin jika Raditya sedang dihinggapi banyak pikiran. Dan kedatangannya mungkin juga bukan disaat yang tepat.
"Saya tinggal dulu. Lanjutkan saja ngobrolnya sama Riena." Raditya beranjak berdiri dan melangkahkan kaki menuju dapur untuk menyusul Riena.
"Bee, aku mau istirahat dulu, ya. Maaf tidak bisa ikut kalian ngobrol." Raditya masih berusaha menekan egonya yang belum juga redam.
"Oh, gitu ... ya sudah, Ay. Istirahat saja. Ehm, atau begini saja, aku ajak Ratih jalan-jalan dulu. Aku pengen banget makan mie ayam."
Raditya menggelengkan kepala kuat-kuat. Driver pribadinya sudah disuruh pulang lebih awal. Sementara dia sendiri benar-benar ingin sejenak mengambil waktu menenangkan diri tanpa diusik keramaian. "Nanti saja, Bee. Tunggu aku. Sebentar saja. Biarkan aku istirahat satu atau dua jam."
Belum sampai Riena menjawab, Raditya sudah melebarkan langkahnya menuju kamar. Setibanya di sana, dia langsung meletakkan ponselnya di meja rias milik Riena. Setelah itu, ia langsung masuk ke kamar mandi. Tanpa melepas pakaian yang dikenakan. Raditya mengguyur kepalanya dengan menggunakan shower yang mengalirkan air dingin.
Sementara itu, Riena kembali menemui Ratih dengan membawa nampan berisi teh yang sudah direbus dengan daun pandan beserta beberapa toples kue kering. Minuman sederhana yang dari dulu menjadi favorit Riena.
"Silahkan, Tih. Coba diminum. Aku tidak pernah lupa dengan minuman ini." Riena meletakkan nampan di atas meja.
Tanpa penolakan, Ratih mengambil cangkir teh yang diberikan Riena. Wangi pandan menyapa indera penciumannya dengan begitu sopan. "Ini minuman andalan ibu, Rie," ucapnya sembari memejamkan mata mengingat bagaimana dulu Ratmi selalu membuatkan teh serupa sebelum dia dan Rasti berangkat sekolah.
Keduanya lalu berbincang hal-hal sederhana. Sesekali terdengar tawa lepas yang selama ini jarang terdengar di rumah tersebut semenjak Riena pulang dari Bali. Hal itu tentu saja mengundang bisik-bisik di antara Rukmi dan asisten rumah tangga lainnya.
"Bi, Bu Riena ternyata masih bisa tertawa lepas. Memang seharusnya Bu Riena bertemu banyak teman. Biar ceria seperti dulu lagi. Lagian, ada apa sih sebenarnya? Dulu berdua terus sama Pak Radit, Ibu terlihat bahagia-bahagia saja," cetus salah satu asisten rumah tangga yang bertugas bagian mencuci dan mensetrika baju.
"Kita nggak perlu tau. Yang penting gaji kita tetep lancar. Mungkin Bu Riena lagi capek," timpal Rukmi.
"Bisa jadi. Untung saja mamanya Pak Radit sudah lama nggak datang. Kalau tau Bu Riena murung begitu, apa nggak habis Pak Radit dimarahi. Orang Bu Retno sayangnya minta ampun sama Bu Riena," sahut Rokhiyah---asisten rumah tangga khusus membersihkan lantai dua.
"Tapi kalau ada Bu Rosyani, jelas Bu Riena yang kena omelan. Sudah lama loh Bu Riena gak nyiapin makanan Pak Raditya. Jangankan nyiapin, apa-apa sekarang Pak Raditya sendiri." Romlah yang tadinya hanya diam saja, akhirnya tidak bisa menahan diri untuk ikut membicarakan majikannya. Sebagai pengagum Raditya garis keras, sebenarnya dia kasihan melihat majikan tampannya itu setiap hari seperti melakukan banyak tugas. Urusan menu makanan yang dimakan Riena pun, jadi Raditya yang mengatur.
"Mereka kan lagi umroh bersama. Besan kalau sesama orang berada memang rukun, ya. Yang saya denger secara kebetulan, Ibu-ibu itu pengen punya cucu. Makanya umroh bareng. Mau doa yang khusyu di sana." Rokhiyah kembali menambah bahan rumpian.
"Heleh, gimana mau jadi cucu. Apa kalian nggak lihat, wajah Pak Raditya pulang dari Bali nggak ada sumringahnya. Tiap pagi subuh sudah turun semua. Kalian gak merhatikan apa? Kalau normal, mereka tuh baru turun pas deket-deket waktu sarapan. Aku yakin, mereka sudah nggak jungkat jungkit lagi." Romlah menimpali dengan semangat.
"Betul. Seprei kamar Bapak sama Ibu juga tumben rapi terus. Biasanya amburadul gak karuan," ucap Rokhiyah yang memang hapal betul bagaimana keadaan kamar sesudah kedua majikannya bergumul panas bertukar peluh dan lenguuh.
"Sudah-sudah, kita doakan saja yang terbaik untuk ibu sama bapak. Mereka sama-sama baik ke kita semua." Ratmi menyudahi pembicaraan mereka dengan bijak.
Sementara itu, sudah hampir dua jam berlalu, Riena dan Ratih masih betah berbincang-bincang berdua saja. Raditya sendiri masih berada di dalam kamar. Membaca pesan Reno yang baru saja masuk ke ponsel istrinya.
"Kamu memang tidak bisa didiamkan, Ren," geramnya.