Hati-hati baper!
Sebelum membaca siapkan diri kalian, karena bisa menyebabkan baper akut, ngakak guling-guling, menangis bak mengiris bawang dan kadang juga membuat darah tinggi.
*****
Cerita tentang Wira Aryasatya, seorang dokter muda tampan memesona dan digilai kaum hawa yang harus menikahi Anandara adik iparnya demi pemenuhan sebuah janji.
Lalu bagaimana dengan perasaan Anandara dan juga Wira, dari saudara ipar tiba-tiba berubah status menjadi suami istri. Mungkinkah tumbuh rasa yang bernama cinta di antara mereka?
"Kita menikah karena permintaan kakakmu, jadi jangan pernah berharap lebih. Kamu pasti sudah tahu pernikahan macam apa yang terjadi di antara kita!" seru Wira dengan suara meninggi. Pria itu beranjak pergi lalu membanting pintu dengan kencang meninggalkan Dara di kamar pengantinnya.
Bagaimana kelanjutannya? ikuti kisahnya, selamat membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Mobil yang membawa Dara sampai di pekarangan rumah dosennya setengah jam lebih lambat akibat kemacetan yang terjadi di jalanan pada hari libur tersebut. Gadis itu langsung turun dan berlari masuk karena diskusi pasti sudah dimulai.
"Permisi," ucapnya di ambang pintu yang sedikit terbuka.
Seseorang membukakan pintunya lebih lebar, ia adalah Rifki, dosennya Dara. Rifki baru berusia 26 tahun, di usianya yang masih sangat muda dia sudah mendapatkan gelar master. Pria berkacamata ini adalah salah satu mahasiswa terbaik yang mendapat beasiswa penuh dari universitas karena prestasi belajarnya, dan ketika lulus ia memutuskan untuk mengabdi di kampus tempatnya menuntut ilmu.
Maka dari itu banyak mahasiswa yang meminta bimbingan dan juga arahannya, berharap bisa mempunyai prestasi cemerlang dan mendapat beasiswa juga seperti dirinya.
Rifki sebenarnya terkejut melihat penampilan Dara yang berbeda siang ini, cantik dan dewasa. Gadis itu mengenakan gaun selutut berwarna moca berlengan pendek dengan kerah agak rendah, tidak seperti kesehariannya yang lebih sering memakai celana jin dan kaos oblong. Rifki yang terpesona berusaha mengontrol dirinya agar tetap bersikap normal seperti biasanya.
"Ehm... ayo masuk, teman-temanmu sudah menunggu," sambut Rifki hangat sambil berdehem padahal tenggorokannya tak gatal.
"Maaf Pak, saya terlambat karena jalanan sangat macet hari ini," ucapnya takut-takut.
"Tidak apa-apa, saya terima permintaan maafmu," ujarnya.
Rifki berlalu masuk ke dalam meninggalkan Dara yang masih berdiri di ambang pintu. Sejenak pria tampan berkacamata itu menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Kenapa masih di situ? cepatlah, diskusi sudah di mulai." Kemudian dia kembali berbalik badan dan meneruskan langkahnya.
Dara yang termenung di ambang pintu langsung mengekori Rifki, sampailah mereka di ruangan belakang rumah yang sepertinya memang di peruntukan untuk belajar. Teman-teman sefakultasnya sudah tampak hadir di sana, termasuk Freya dan Anggi sahabatnya.
Dara langsung menghambur dan duduk menyela di tengah-tengah mereka. Kedua sahabatnya menatap gadis kurus itu dengan raut muka keheranan.
"Kamu mau diskusi apa mau kondangan?" tanya Freya.
"Memangnya kenapa?" sahutnya.
"Bajumu itu Nona, dan juga sejak kapan lingkar dadamu jadi lebih besar dari kemarin?" tanya Anggi polos.
"Ssstt... jangan kenceng-kenceng ngomongnya, emang kelihatan banget ya? aku hanya sedang mencoba untuk tampil lebih feminim dan dewasa, bagaimana, cocok tidak?" Dara mengedip-ngedipkan matanya genit.
"Cocok sih, cuma salah tempat. Tapi bagaimana caranya membuat ukuran itu lebih besar dengan cepat?" Anggi kembali bertanya kepada Dara dengan suara pelan sambil menunjuk ke bagian dadanya
"Kalian mau tahu? sini kubisikin."
Ketiganya saling mendekat satu sama lain, Dara membisikannya dengan suara rendah. Mata kedua sahabatnya itu membeliak dan menatap Dara seolah tak percaya.
"Apa? kaos kaki!" teriak Freya dan Anggi serempak.
Dara membekap mulut kedua temannya itu dan melihat sekitar, beruntung teman-temannya yang lain sedang terfokus pada laptopnya masing-masing sehingga tidak memperhatikan kelakuan mereka bertiga yang heboh di sana.
Rifki yang sedari tadi mencuri-curi pandang dengan sudut matanya kepada Dara, ikut mengulum senyumnya dan terkekeh kecil melihat interaksi tiga sekawan itu.
*****
Sudah satu minggu ini Almira bekerja seperti kucing-kucingan di rumah sakit, dia selalu berusaha menghindar untuk tidak bersinggungan dengan jadwal Giovani.
Giovani bertugas di poli radiologi karena memang spesialisasinya di bidang tersebut, dan sore ini Almira diberikan perintah untuk mengambil hasil rontgen salah satu pasien di ruang radiologi.
Sejujurnya Almira enggan masuk ke dalam, tetapi, ia harus tetap profesional ketika bekerja. Almira memeriksa jadwal dokter yang ada di dinding luar poli tersebut, dan di sana tertera bahwa jadwal Giovani sudah berakhir satu jam yang lalu.
Almira masuk ke dalam dan meminta pada perawat yang bertugas di sana untuk mengambil berkas Rontgen yang di maksud dengan cepat. Namun, ketika ia berbalik badan bermaksud untuk kembali saat itu bertepatan dengan munculnya Giovani di ambang pintu.
Mata mereka bersirobok, Almira yang terkejut langsung menjatuhkan amplop besar berwarna cokelat itu dari tangannya. Giovani sama terkejutnya, ia seolah membeku di tempatnya berdiri sekarang, kemudian bibirnya yang sedikit gemetar mencoba bersuara.
"Al... Almira?"