NovelToon NovelToon
Cakar Naga Pemutus Takdir

Cakar Naga Pemutus Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.

Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.

Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.

Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Guntur

Kapal terbang raksasa itu mendarat di Alun-alun Utama dengan suara gemuruh yang menggetarkan tanah. Kapal itu terbuat dari Kayu Besi Ungu yang langka, dengan layar-layar sutra yang dijahit dengan benang perak konduktif. Di lambungnya, terukir lambang petir menyambar yang dikelilingi awan badai—simbol kebanggaan Sekte Guntur Ungu.

Ribuan murid Sekte Pedang Langit berkumpul di pinggir alun-alun, menatap kagum sekaligus waspada.

"Itu Bahtera Petir Ungu," bisik seorang murid senior. "Hanya Tetua Agung yang boleh menggunakannya. Sepertinya Sekte Guntur Ungu benar-benar serius kali ini."

Pintu kapal terbuka. Sebuah tangga emas turun secara otomatis.

Rombongan tamu mulai turun. Di depan, berjalan seorang pria tua berjanggut ungu lebat yang tertawa menggelegar. Itu adalah Tetua Lei, pemimpin rombongan. Di belakangnya, berbaris sepuluh murid pilihan dengan seragam tempur ungu ketat yang memamerkan otot dan aura agresif mereka.

Aura mereka tajam, seperti jarum listrik yang menusuk kulit.

Tetua Guntur dari Sekte Pedang Langit maju menyambut. "Selamat datang, Tetua Lei. Angin apa yang membawa kalian kemari lebih awal?"

"Hahaha! Angin takdir, Saudaraku!" jawab Tetua Lei lantang. "Murid-muridku sudah tidak sabar ingin melihat seberapa tajam pedang dari sekte kalian tahun ini. Kudengar kalian punya bibit unggul baru?"

Di belakang Tetua Lei, seorang pemuda melangkah maju. Dia memiliki rambut pendek berwarna perak (efek mutasi elemen petir) dan tatapan mata yang liar. Di punggungnya, tergantung sebuah palu perang besar yang memancarkan percikan listrik statis.

"Namaku Lei Zhen," kata pemuda itu, suaranya sombong. "Aku dengar Sekte Pedang Langit melahirkan banyak jenius tahun ini. Mana mereka? Aku ingin melihat apakah mereka pantas disebut jenius, atau hanya sampah yang dipoles emas."

Murid-murid Sekte Pedang Langit mendesis marah. Datang ke rumah orang dan langsung menghina?

"Jaga mulutmu!" seru seseorang dari kerumunan.

Zhao Feng melangkah keluar. Wajahnya dingin, tangan kanannya menggenggam gagang pedang barunya.

"Aku Zhao Feng. Peringkat 10 Besar Ujian Sekte Dalam. Jika kau ingin melihat kemampuan kami, aku siap melayanimu."

Lei Zhen menatap Zhao Feng, lalu tertawa meremehkan.

"Zhao Feng? Oh, si pengguna elemen angin itu? Kudengar kau kalah memalukan di ujian hutan melawan seorang murid luar?"

Wajah Zhao Feng memerah padam. Itu adalah aib terbesarnya. "Tutup mulutmu! Cabut senjatamu!"

"Melawanmu?" Lei Zhen menyeringai. "Aku tidak butuh paluku."

Dia mengangkat tangan kosongnya. Petir ungu mulai menari-nari di sela jarinya.

"Maju."

Zhao Feng menggeram marah. "Bilah Angin: Tarian Seribu Sayatan!"

Dia melesat maju, pedangnya menciptakan lusinan ilusi serangan angin yang tajam. Serangan itu cepat dan mematikan.

Namun, Lei Zhen tidak bergerak. Saat pedang Zhao Feng hampir mengenainya, tubuh Lei Zhen tiba-tiba kabur.

ZZZT!

Itu bukan kecepatan lari. Itu adalah Langkah Kilat. Teknik gerakan tingkat tinggi yang menggunakan ledakan petir di telapak kaki.

Lei Zhen muncul tepat di samping Zhao Feng dalam sekejap mata.

"Terlalu lambat," bisik Lei Zhen.

BAM!

Siku Lei Zhen yang dilapisi petir menghantam rusuk Zhao Feng.

"Ugh!" Zhao Feng terlempar ke samping, berguling di tanah. Dia mencoba bangkit, tapi Lei Zhen sudah ada di depannya lagi, menendang dada Zhao Feng hingga terpental lima meter.

"Lemah," kata Lei Zhen, membersihkan debu di seragamnya. "Anginmu hanya semilir sepoi-sepoi. Di hadapan guntur, angin tidak ada artinya."

Keheningan melanda alun-alun. Zhao Feng, salah satu murid terbaik tahun ini, dikalahkan dalam dua jurus? Dan Lei Zhen bahkan tidak menggunakan senjatanya?

"Siapa lagi?" tantang Lei Zhen, matanya menyapu kerumunan murid Sekte Pedang Langit. "Mana Su Yan? Atau si Juara Ujian itu... siapa namanya? Li Tian?"

"Su Yan sedang meditasi tertutup," jawab seorang murid Puncak Teratai Es dengan berani.

"Hah, alasan," cemooh Lei Zhen. "Kalau begitu, panggil Li Tian! Aku ingin lihat seberapa hebat orang yang bisa mengalahkan ular batu."

"Kau mencariku?"

Sebuah suara tenang terdengar dari arah gerbang alun-alun.

Kerumunan membelah jalan. Li Tian berjalan masuk. Namun, penampilannya membuat semua orang bingung.

Dia tidak membawa Pedang Angin Biru yang elegan. Sebaliknya, dia menggendong sebuah bungkusan kain raksasa di punggungnya yang bentuknya seperti peti mati persegi panjang. Benda itu terlihat sangat berat; setiap langkah Li Tian meninggalkan jejak retakan halus di lantai batu alun-alun.

"Li Tian!" "Apa yang dia bawa itu?"

Li Tian berhenti sepuluh langkah di depan Lei Zhen. Dia menatap Zhao Feng yang sedang dibantu berdiri oleh teman-temannya.

"Kau baik-baik saja, Zhao Feng?" tanya Li Tian datar.

Zhao Feng memalingkan wajahnya, malu dan marah. "Urus saja urusanmu sendiri."

Li Tian mengalihkan pandangannya ke Lei Zhen. "Kau tamu yang berisik. Tetua Mabuk di Puncakku tidak bisa tidur siang karenamu."

Lei Zhen menatap bungkusan di punggung Li Tian. "Dan kau kuli panggul dari mana? Apa itu? Kau bawa kasurmu ke arena?"

Murid-murid Sekte Guntur Ungu tertawa terbahak-bahak.

Li Tian tersenyum tipis. Dia melepaskan tali pengikat di dadanya.

"Ini? Ini hanya oleh-oleh dari Paviliun Harta Karun."

Li Tian menjatuhkan bungkusan itu ke tanah.

BOOOM!

Suara benturannya begitu keras hingga seluruh alun-alun bergetar. Debu mengepul tinggi. Lantai batu giok yang keras di bawah bungkusan itu hancur berkeping-keping, ambles sedalam mata kaki.

Tawa murid Sekte Guntur Ungu terhenti seketika di tenggorokan mereka. Mata Lei Zhen membelalak.

"Berat jenis apa itu..." gumam Tetua Lei, alisnya berkerut.

Li Tian menarik kain penutupnya, memperlihatkan Pedang Hitam Tanpa Mata yang kasar dan tumpul.

"Kau bilang kau ingin melihat kemampuanku?" Li Tian memegang gagang pedang raksasa itu dengan satu tangan. "Ayo. Tapi aku peringatkan, aku belum pandai mengontrol tenaga saat memegang ini. Hati-hati jangan sampai gepeng."

Wajah Lei Zhen berubah serius. Dia bisa merasakan tekanan udara di sekitar pedang hitam itu. Itu bukan senjata tajam. Itu adalah balok kematian.

"Menarik," Lei Zhen akhirnya mencabut palu perangnya dari punggung. "Akhirnya ada lawan yang pantas. Jangan menyesal jika paluku menghancurkan mainan besimu itu!"

"Maju," kata Li Tian.

Lei Zhen meraung. "Palu Guntur: Hantaman Ribuan Guntur!"

Dia melompat tinggi ke udara, palunya diselimuti petir ungu yang menyilaukan, menghantam ke arah kepala Li Tian.

Li Tian tidak menghindar. Dia juga tidak menggunakan teknik rumit. Dia hanya mengayunkan pedang hitamnya ke atas seperti memukul lalat.

"Tebasan Naga Jatuh: Gaya Berat."

Li Tian mengalirkan Qi hitam ke dalam pedang, memanipulasi gravitasi di sekitarnya.

WOOSH!

Pedang hitam itu bertemu dengan palu petir di udara.

DUAAAAR!

Ledakan energi menyapu alun-alun. Petir ungu Lei Zhen pecah berantakan seperti kaca yang dipukul batu.

Kekuatan murni dari 1.200 jin pedang ditambah manipulasi gravitasi Li Tian benar-benar mendominasi.

"UGH!"

Lei Zhen merasakan tangannya mati rasa. Palunya terpental balik, menghantam dadanya sendiri. Dia terlempar ke belakang, mendarat dengan keras dan terseret sepuluh meter di tanah, meninggalkan parit panjang.

Li Tian menurunkan pedangnya kembali ke tanah.

DUM.

Dia berdiri tegak, tidak bergeming sedikit pun dari posisinya.

"Hanya segitu?" tanya Li Tian, mengulangi kata-kata Lei Zhen tadi. "Petirmu hanya menggelitik."

Para murid Sekte Pedang Langit bersorak gila-gilaan.

"Li Tian! Li Tian!" "Hancurkan dia!"

Lei Zhen bangkit dengan wajah merah padam dan darah di sudut bibirnya. Dia tidak percaya. Dia kalah dalam adu kekuatan murni?

"Kau... kau curang! Senjata apa itu?!"

"Senjata berat," jawab Li Tian santai. "Namanya Tanpa Mata. Karena dia tidak butuh mata untuk melihat sampah sepertimu."

Tetua Lei maju, wajahnya gelap. "Cukup! Lei Zhen, mundur. Jangan permalukan sekte lebih jauh."

Dia menatap Li Tian dengan tatapan tajam. "Murid muda, kekuatan fisikmu luar biasa. Tapi jalan kultivasi bukan hanya soal otot. Kita lihat saja di Turnamen besok."

"Saya menantikannya," Li Tian membungkuk sopan (namun sarkastik).

Rombongan Sekte Guntur Ungu pergi menuju asrama tamu dengan suasana hati suram. Penyambutan yang seharusnya menjadi ajang pamer kekuatan mereka, malah menjadi panggung bagi Li Tian.

Di kejauhan, Zhao Feng menatap Li Tian dengan tatapan rumit. Benci, iri, tapi juga... takut.

Li Tian menggendong kembali pedangnya.

"Wah, berat juga kalau dipakai lama-lama," keluh Li Tian pelan saat berjalan pergi.

"Latihan yang bagus," kata Zu-Long. "Besok, kau akan melawan mereka lagi. Dan kali ini, mereka tidak akan meremehkanmu. Bersiaplah, Bocah. Turnamen ini akan menjadi ladang pembantaian... atau ladang harta karun bagimu."

1
Nanik S
Musuh Lama bermunculan Li Tian
Nanik S
Li Tian... banyak sekali Musuhmu
Nanik S
Kadal Pitih.... Li Tian memang lumayan Konyol
𝘼̶N̶A̶L̶I̶S̶T
novel ke dua yg aku taruh di rak buku setelah " Legenda Pendekar Naga" karena emank layak di baca.
Nanik S
Keren Tor.. 👍👍👍
Nanik S
Dua Naga yang bermusuhan lagi Bersatu melawan musuh...
Nanik S
Musuh dari musuhmu adalah teman 👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Naga hitam Dan Naga putih bertarung
Nanik S
Apakah mereka akan bertemu kembali untuk adu kekuatan atau hancur bersama
Nanik S
God Joob
Nanik S
Li Tian dapat saingan
Nanik S
Jooooooos
Nanik S
Dimana tepatnya rumah Xiao Yu
Nanik S
Xiao Yu... keturunan terakhir penjaga Malam Kaisar
Nanik S
Dapat 3 inti
Nanik S
Li Tian akhirnya ikut mabuk juga
Nanik S
Maaaantaaap Pooool
Nanik S
Mau tarung mikirin paaha Ayam
Nanik S
Li Tian... pedang tak bermata...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!