Bagaimana perasaanmu saat pulang dari perantauan karena dikabari kalau Papa meninggal, dan saat sampai mendapati kalau Sang Papa memiliki istri muda tanpa sepengetahuanmu?
Yang lebih mencengangkan, Si Istri Muda, adalah wanita dari masa lalumu. Saat itu, di sebuah club, dalam keadaan frustasi, dan dalam kondisi 'panas'.
Apakah kondisi keluarga seperti ini sehat? Saat akan tinggal serumah dengan si Ibu Tiri yang usianya 5 tahun lebih muda, seksi, dan dirimu tahu bagaimana wujudnya di balik pakaiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayuan Ruby 2 + Meo Liveshow
Barulah menjelang maghrib, Ruby kembali ke kantor.
Alan sampai-sampai tersentak saat mencium wangi parfum wanita itu.
Ruby yang cantik, melenggang penuh percaya diri masuk ke Divisi Corporate, Meletakkan tas dan dokumen di atas meja, lalu menekan tombol di teleponnya.
“Bu Victoria, boleh ke ruangan Pak Randy sekarang? Ada hal penting yang mau saya bahas,”
Lalu wanita itu menutup teleponnya.
Alan bahkan yakin sekali kalau Ruby menutup teleponnya tanpa Victoria sempat menjawab.
Wahyu yang datang dengan segelas kopi di tangannya, tertegun saat menyadari kalau Ruby sudah datang. Wanita itu menyambar kopi di tangan Wahyu dan melenggang masuk ke ruangan Randy.
“Meeting mendadaaaaak,” seloroh wanita itu sambil membuka pintu ruangan Randy.
“Kopi gue,” gumam Wahyu, setengah mengeluh, dan ia kembali masuk pantry untuk membuat kopi lagi untuk dirinya sendiri.
Alan mengikuti Ruby masuk ke dalam ruangan Randy sambil melonggarkan dasinya. Entah kenapa ia langsung kepanasan, padahal ruangan mereka dipasang AC sentral yang biasanya mode kulkas tukang daging. Dingin membeku.
“Dah balik, Mah?” sapa Randy tak bersemangat.
“Anakku sayaaaang!” sapa Ruby sambil berjalan melenggok menghampiri Randy. Lalu berdiri di belakang pria itu sambil mengernyit menatap kertas bertebaran di meja Randy. “Heh, masih melototin laporan audit aja lo,”
“Kan gue perlu tahu-“
“Daripada melotot ke situ mending tambahin angka di sini!” Ruby menunjuk kolom aktiva.
“Ya ini lagi diusahak-“
“Ada apa’an seh manggil-manggil gue?! Nggak sopan bener!” sembur Victoria sambil masuk ke ruangan.
“Woy, gue nih mau ngasih lo cuan! Mingkem sebentar dong!” seru Ruby tak mau kalah,”
“Cuan apa’an?! Paling proyek ecek-ecek! Apa sih yang bisa didapet sama mantan penari tiang macam lo?!”
“Woh, dari mana lo tau? Wih detektif lo sampe jadi penggemar gue nontonin performance, dah pasti gue nambah follower dooong!”
“Jangan kepedean pec*n!” semprot Victoria.
“Udah diem, anak ingusan! Gue udah baek hati ke Amethys dan nerima segala curhatan Bu Susan tentang Bokap lo dan almarhum laki gue, jadi lo harus dewasa dikit! Duduk lo di sana!” Ruby menunjuk kursi di depan meja Randy.
Wahyu masuk ke ruangan dengan kopi baru di tangannya.
Victoria ternganga. “Lo... ke Amethys?”
“Iya!! Dan lo bawa gift tas murahan ke Bu Susan waktu itu? Sekelas Bu Susan lo kasih Coach! Gilak lo bikin gue maluuuu!”
“Yaaah, habis gimanaaa,” keluh Victoria sambil menyambar kopi di tangan wahyu dan duduk di depan meja Randy. “Budget kita untuk biaya entertain tiris,”
“Dia level Hermes lo kasih Coach! Staff kita aja mampu beli itu wooy!”
“Kopi gue...” keluh Wahyu lagi sambil kembali ke pantry.
“Jadi ini ada apa’an sih?” tanya Randy sambil memijat dahinya karena pusing mendengar para ibu-ibu saling tuding. Alan duduk di kursi sebelah Victoria sambil menatap ‘Dua R'.
Wahyu datang dengan pitcher penuh kopi dan 3 mug. Ia letakkan di atas meja Randy dan menuang untuk dirinya sendiri, “Biar nggak bolak-balik, capek,” gerutunya.
“Ehem!” Ruby berdehem dengan gaya berlebihan, meniru hiperbolanya film Hollywood tahun 70an. “Draft untuk kesepakatan kontrak kerja-sama pembangunan Amethys University akan dikirimkan besok pagi ke email Randy,”
Semua ternganga.
“Bohong!” seru Randy dan Victoria berbarengan.
“Baca nih!” Ruby memamerkan hasil pesan singkat di layar ponselnya. Percakapan antara dia dengan Bu Susan Tanudisastro. Tulisan dari Bu Susan : Besok pagi kita kirim draft kontraknya ya Neng, kamu baca-baca dulu deh, nanti disesuaikan sambil kita meeting cantik di cafe.
Victoria sampai terbengong-bengong membaca pesan singkat itu.
“Ba-ba-bagaimana bisa-“ ia bahkan sudah tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi.
“Jangan meremehkan diriku yang memikat ini,” Ruby menyibakkan rambutnya ke belakang dan dengan entengnya duduk di pangkuan Randy.
“Berat,” keluh Randy.
“Diem, nanti sampe rumah pijetin gue,” Ruby mengacak-acak rambut Randy.
Alan mengernyit karena tidak menyukai pemandangan di depannya. Sebagai seorang anak dan ibu tiri, mereka jelas ‘terlalu akrab’ sampai-sampai yang menonton gerah sendiri.
“Terus alasan lo manggil gue buat pamer, gitu?!” gerutu Victoria.
“Bukan, hasil dari kerjasama ini akan dimasukan ke pencapaian lo sebagai marketing,”
“Oh, jadi sekarang lo mau ngebuat gue ngerasa berhutang budi?”
“Ya iya lah!” tukas Ruby.
“Ya ampun!” gerutu Randy. Bagaimana bisa Ruby mengatakannya segamblang itu.
“Apa yang lo mau dari gue?” Victoria menatap Ruby dengan sinis, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil cemberut. “Selain sahamnya Tante Leticia yah, itu udah perjanjian sama Om Raymond soalnya,”
“Gue mau...” Ruby melirik Alan terang-terangan.
Alan mengangkat alisnya.
Dan Victoria membelalakkan matanya tak percaya, menatap bergantian antara Ruby dan Alan.
Randy sampai-sampai tegang dengan situasi yang terjadi, dia beneran siap-siap kalau-kalau Victoria ngamuk dan membanting semua barang, yang memang kerap dilakukan wanita itu kalau sedang emosi.
“Lo pilih aja, Tuan Putri. Antara Saham Bu Leticia, atau Alan,” desis Ruby. “Gue kasih waktu seminggu,”
“F***!! Dasar Pec** nggak tahu diri!!” teriak Victoria sambil berdiri dan maju untuk menyerang Ruby.
Ruby menghindar sambil tertawa senang. Puas ia melihat Victoria kalang kabut. “Sebelum marah, coba dengar berapa nilai kerjasama yang akan deal besok,”
“Awas kalau lebih kecil dari Net Profit September!” ancam Victoria.
Ruby mengacungkan dua jari, membentuk jumlah ‘dua’.
Randy sampai-sampai membelalakkan matanya dan terpekik tak percaya.
Nilai kerjasama Proyek Amethys University adalah 2 Triliun Rupiah. Dengan pendapatan yang diakui sesuai progress fisik sebelum PPN diluar harga penjualan. Dengan kata lain, jika C-Corp bisa membangun sebuah bangunan dengan kemajuan 1% walau pun gedung itu belum beroperasi dan belum terjual, Amethys akan membayar 1% dari 2 Triliun ke C-Corp. (Tentunya nilainya tidak bulat, pasti ada syarat dan ketentuan yang berlaku).
“Kok bisa, Mah?” gumam Randy curiga.
“Lo baek-baekin Bu Susan habis ini ya, awas lo ngecewain gue!” tukas Ruby sambil mencubit pipi Randy.
“AAARRGH!!” pekik Victoria marah. Ia menghentakkan kakinya, menarik Alan, dan keluar dari ruangan Randy dengan marah.
“Gileeee,” gumam Randy sambil menyeringai. Tapi sebelah tangannya menepuk-nepuk bokong Ruby.
“Serius lo ngegodain gue?!” gerutu Ruby sambil menatap Randy dengan masam.
“Yaaa gimana dong, orang disuguhin,” ia sedikit meremas gundukan kenyal.
"Dasar kucing garong, gue bukan ikan asin!"
"Kucing garong jaman sekarang demennya Salmon,"
Ruby langsung berdiri dan menoyor kepala Randy dengan kesal.
“Em... ngomong-ngomong,” Wahyu akhirnya angkat bicara, “Apa yang saya tidak tahu selama ini?”
Ruby dan Randy saling lihat, lalu menyeringai ke arah Wahyu.
**
Apa yang terjadi saat Ruby bertemu Susan Tanudisastro, Sang Presiden Direktur Amethys Corp yang cantik dan bermulut sepedas cabai Pepper X ?
(cabai Pepper X tingkat kepedasannya sekitar 3,18 juta SHU atau sekitar 31 kali lebih pedas daripada cabai rawit biasa. Ini cabai terpedas nomor 1 di dunia saat ini.).
Mau dibahas?
Lain kali aja ya?
Kita beralih ke Romeo dulu (hahaha, niat nggak sih bikin novel?!)
Malam itu, sebelum Randy dan Ruby pulang kerja.
Romeo, karena bosan memutuskan untuk live TikTok. Sudah tidak sekolah karena ngambek, tapi nggak bisa diem. Setelah bersih-bersih gudang, baca buku berjudul The Meta-Verse karya Matthew Ball sampai tamat, tetap saja dia merasa bosan. Akhirnya ia menyerah dan live Tik Tok mengenakan baju ‘Penyihir Imut’. Lagipula, warna kostumnya hitam, sesuai dengan suasana hatinya. Tak lupa topeng dari renda yang menutupi area matanya membuat wajahnya semakin berkesan kiyut tapi misterius.
“Selamat Petang, Tuan Besar dan Nyonya Besar,” Romeo menyapa penggemarnya dengan nada suara lemas, “Hamba Sahayamu, Meo-Kyuuung datang lagi Nyaaaaah!” Romeo berlagak kiyut.
Lalu dia mulai membaca setiap komen yang berseliweran di samping layarnya, pertanyaan dan sapaan dari para penggemar.
Blackat : Kenapa suara kamu lemes banget Hamba Sayaaang?
“Kenapa aku terdengar lemas? Iyaaa, aku nih lagi nggak bersemangat, Nyonyaaah. Karena seringkali manusia hanya bisa merencanakan, Tuhan lah yang memutuskan. Betul? Ya tapi tetap saja bikin Down yaaa,”
Cujo : I always love you, Hamba Honey.
“I love you tooo, as always...” Romeo membentuk ciuman di bibirnya.
ExplodingSpleen : Hari ini kostum kamu bikin aku tegang.
“Tegang boleh aja asal nun jauh di sana ya, bisa gawat kalo deket akoooh, hihihi,”
PecintaTempe : Menurut kamu, ayam apa yang bikin sebel?
“Hem? Ayamnya habis, tapi nasinya masih banyak, Ya gak seeeeh?!”
PecintaTempe : Private Jet buat kamu. Kapan-kapan mabar yaaa.
“Makasih Tuan, aku lagi suka main Valorant,”
Radenayu (GC Noveltoon): Meo merk lipstiknya opo?
“Campuran buah naga merah dan minyak kelapa, blender, simpen di kulkas,”
WennZ (GC Noveltoon): Meo bisa pintar makannya apa? Belajar ma siapa?
“Aku makan tenaga, belajarnya sama... aja sama yang lain, yang membedakan adalah otakku encer karena pernah kepentok keras jadi luber-luber,”
FrankenGrin : Kostum kamu serem ih! Private Jeeeet!
“Makasih Nyonya, mengenai yang serem-serem, aku pernah koma loh waktu itu. Benar-benar pengalaman yang luar biasa,”
DaisyHilvi (GC Noveltoon): Meo waktu koma ketemu siapa sih? Apa didatengain sama arwah Einstein?
“Hem... waktu koma aku ditemenin bidadari. Cantik dan imuuuut banget. Dia ngajak aku ke Saranjana, dan di sana aku diajarin macem-macem. Dari mulai baca buku, belajar bahasa, mengoperasikan komputer, benerin kabel, sistem ekonomi dan hukum, sampai nggak terasa tau-tau aku dua minggu koma, hehehehe,”
(Romeo tidak menceritakan kalau Bidadari yang ia temui wajahnya mirip sekali dengan Bu Guru Erica. Sekarang tahu kan alasan kenapa Romeo bisa langsung jatuh cinta dengan Bu Guru? Lanjooot).
Nofa (GC Noveltoon): Meo, tipe cowok idamanya yang gimana? Pakaian Favorit? Lebih suka laut gunung atau ke Mars? Andai ada mesin waktu kamu ingin kembali ke usia berapa? Seandainya Black Hole sudah diketahui koordinatnya dengan tepat, siapa yang kamu ingin lempar ke dalamnya? Kalau boleh melihara binatang, apa yang ingin kamu pelihara?
Romeo terdiam.
Lalu menyeringai.
“Nyonya Nofa kayaknya dateng aja ke rumah akoooh, mari kita mengobrol lebih jauh, hihihi,” Romeo menaik-naikkan alisnya. “Tapi aku akan coba jawab yaaaa,”
“Tipe cowok idamanku,” Romeo memperlihatkan gambar seorang laki-laki. Seperti ini sosok yang diimpikannya saat dia dewasa suatu saat, “Ares Manfred, Komandan GSA,” (GSA itu apa? Baca aja novel Tante Author yang berjudul Catatan Rahwana yaaaa).
“Pakaian Favorit? Hem... Selimut IKEA? Hangat, menyerap air, bisa buat nutupin seluruh tubuh, kadang bisa jadi tenda. Udah multifungsi banget,”
“Mesin waktu yaaaa... Usiaku masih muda loh, dan masa kecilku lumayan kelam. Tapi aku ingin kembali saat Mama masih hidup, walau pun hanya sesaat bisa digendong dia dan dipeluk lagi, rasanya lebih nyaman dari apa pun,” Romeo tersenyum sedih, lalu menghela napas. “Lanjuttt,” ia menguasai dirinya dengan cepat.
“Seandainya Black Hole sudah diketahui koordinatnya dengan tepat, siapa yang kamu ingin lempar ke dalamnya? Hm, yang ini mungkin semua orang akan setuju kecuali si korban. Yang ingin kulempar ke dalamnya paling pertama, adalah semua pelaku pedofil. Yang kedua dan ketiga belum kupikirin, hehehe yang pasti nggak cukup kalo dikasih sampai urutan 10 yaaa, hihihi,”
“Apa yang ingin kamu pelihara? Hm... Vampire itu termasuk hewan nggak ya? Manusia setengah hewan kali ya. Aku melihara Edward Cullen boleh nggak sih? Lumayan buat nangkepin laron. Hihihihi!”
RandyG : HP Kenapa nggak aktif? Pintu jangan dikunci, kita nggak bisa masuk.
Dan Romeo pun terdiam.
“Ehem! Tuan Besar dan Nyonya Besar, Big Boss udah dateng. Jadi sebagai Hamba Sahaya aku harus membukakan pintu rumah dan menyambut dengan sebaik-baiknya. Sampai di sini dulu live aku yaaaa, aku sayang Tuan dan Nyonya semoooaaaa, muah!!”
Dan Romeo pun mematikan kamera dan aplikasi Tiktoknya, lalu turun dari kursinya untuk membukakan pintu buat Randy.
ckckck emang berat godaan ikan peda bermerk Romeo
Romeo lebih suhu ternyata 🤣🤣🤣