NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Poligami / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Bubu.id

Sebuah kejadian mempersatukan Sashi dan Alaric dalam ikatan tanpa cinta. Berjarak tak jauh tinggal keluarga lain. Aruna yang berjualan nasi uduk dan memiliki satu anak kerap mendapat perlakuan buruk suaminya. Hidupnya perih tertatih.

Sembari berjualan, Aruna selalu melihat keluarga itu. Suami yang tampan dan perhatian, terlihat harmonis juga berkecukupan. Salahkah jika hatinya berkata, "Mengapa bukan aku yang menjadi istrinya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERUSAHA MEYAKINKAN

Keduanya duduk bersisian merapat sangat dekat hingga bahu keduanya bertemu. Dua pasang mata itu saling mengunci dan berpandang, tak membiarkan mata itu mencari bayang lain.

Setelah menelan kasar salivanya, Aric mulai berucap. "Sash ...," sapanya lembut meraih jemari itu.

"Hum?"

"Aku hanya cinta padamu saja, tidak ada wanita lain! Itu yang harus kamu camkan sebelum mendengar ceritaku!" Sashi bergeming menatap manik mata yang belum juga memindahkan posisinya.

"Malam itu ... aku seperti biasa mendengar Bagas tetangga kita berteriak! Aku melihat ke balkon dan Bagas sedang mengusir 2 sosok itu ... Aruna dan putrinya."

"Ketika aku habis melahirkan, kah?" tanya Sashi, ia mengingat bahwa sebulan setelah ia melahirkan Aruna tak pernah datang lagi ke rumah mereka. Rumahnya sendiri juga terlihat kosong.

"Benar."

"La-lu?"

"Aku mengikuti mereka dan kudapati Aruna hendak mengakhiri hidup bersama Ciara putrinya di atas rel!"

Sashi menutup mulut dengan telapak tangan dan matanya membulat. Ia kaget. "Be-nar-kah?" Aric mengangguk.

"La-lu?"

"Aku melerainya, berusaha membujuk hingga kereta itu datang dan semakin dekat!" Aric menunduk.

"Lalu apa yang terjadi se-telah-nya, Ka-k?" Sashi menangkup sebelah pipi Aric, mengangkat wajah itu. Hatinya mulai tak tenang, tapi ia penasaran dengan kejadian selanjutnya.

"Aku terdesak saat raga kami telah begitu dekat dengan gerbong kereta. A-ru-na ... meminta-ku meni-kahi-nya atau i-a akan membiarkan tubuhnya dihantam ke-reta!" Suara itu semakin lirih nyaris tak terdengar

"Ka-kkk ...." Sashi perlahan memundurkan tubuhnya. "Jangan bi-lang Ka-kak----?" lirih suara itu lolos dari bibir Sashi, dadanya mulai sesak, khawatir perkiraannya benar.

"Sashh ... Sashh ....! Tunggu dulu, dengar---

Aric menahan kedua bahu itu yang semakin mundur dan manik itu dilihatnya mulai berkaca.

"A-ku tidak mau dengar apa-pun!" Sashi marah, melihat raut dan bahasa tubuh Aric ia bisa menebak yang terjadi. Air mata mulai mengalir melewati pipinya.

"Sashh ... please dengar aku dulu, please Sash!"

"Aku tidak mau dengar apa pun! Kakak jahat! Kata-kata cinta Kakak bohong! Palsu! Perilaku Kakak juga bohong! Kakak pembohong! Kakak punya wanita lain di belakangku! Huuu." Sashi meraih bantal di sofa dan menjatuhkan wajahnya di bantal, ia tersedu.

Aric menyapu bahu itu, namun Sashi semakin menjauhkan tubuhnya.

"Sayang ... dengar dulu! Semua tidak seperti anggapanmu! Aku terpaksa melakukannya! Terpaksa, Sash!"

"Terpaksa tapi tetap sudah menikah-kan?" Sashi mengangkat wajah, menatap Aric sekilas dan menjatuhkan wajahnya lagi ke bantal dalam pangkuannya. Ia kembali menangis.

"Sashh ... coba bayangkan jika kamu di posisiku! Dua orang mencoba menghilangkan nyawa di hadapanku, apa aku akan mendiamkannya dan melihat 2 jasad terbujur penuh darah. Sash please ... aku sungguh terpaksa! Kamu tak ingin kan, suamimu hidup dihantui rasa bersalah jika hal itu sampai terjadi?" Raut Aric mengiba, kata maaf Sashi sangat ingin ia dengar.

"Tetap saja pokoknya Kakak sa-lah! Menolong tidak harus menikahinya kan, Ka-kk?" lugas kata itu ke luar namun masih diiringi bulir yang seakan tak mau berhenti.

"Ia mengancamku dan aku terpaksa berjanji! Kamu pasti tau akan berdosa jika seorang hamba ingkar dengan janjinya." Aric terus meyakinkan hati itu, ia berharap Sashi dapat memahami kondisinya.

"Jika besok-besok Kakak bertemu lagi dengan seorang wanita dan ia mengancam akan bunuh diri, apa Kakak akan menikahinya juga?"

"Tentu tidak, Sa-yang! Hal seperti itu tak kan terjadi lagi! Aku bahkan menyesal mengikutinya malam itu!"

"Itu pun yang ada di otakku! Kenapa Kakak mengikutinya malam itu! Jujur saja! Kakak memang suka pada mbak Aruna, kan?"

"Tidak, Sayang. Aku kan sudah punya kamu dan Shiza! Aku cuma sayang kamu, Sash ...."

"Tapi Kakak nyatanya mengikutinya, apa Kakak khawatir pada mbak Aruna saat itu? Hahhh ... Kakak jahat! Bahkan membayangkan itu hatiku sungguh sakit, Ka-kk!"

"Aku hanya mencintaimu, Sayang! Aric hanya cinta Sashi!"

"Bohong! Kakak sok pahlawan dan menyelamatkan mbak Aruna, tapi Kakak telah menyakitiku dan Shiza! Ponsel ... mana ponselku!" Sashi seketika berdiri mencari-cari keberadaan benda kecil yang tau segalanya itu. Aric bingung, ia terus terdiam mencari cara untuk bisa meyakinkan Sashi.

"Kakak jangan diam saja! Bantu aku cari ponselku!"

Aric kaget mendengar suara Sashi, ia seketika sadar dari diamnya dan menghampiri Sashi. "Oke oke ...! Kamu duduk dulu! Kakak akan cari ponselmu!" Sashi menurut duduk, ia masih menangis.

"Kakak, sekalian ambilkan aku tisu!"

"Oh ... i-ya!" Aric sudah mendapatkan ponsel Sashi dan membawa selembar tisu di tangannya yang lain.

Sashi meraih tisu, mengeluarkan lendir yang menghambat indra penciumannya. "Kakak kenapa ambil tisunya hanya satu! Ini kurang, tolong ambilkan tisu lagi, Ka-k! Ingusku masih banyak!"

Aric menurut mengambil sekotak tisu dan menyerahkan pada Sashi. Sashi mengeluarkan lendir di hidungnya lagi, baru ia berucap. "Sekarang berikan ponselku!" Aric menyerahkan ponsel Sashi.

Sashi terus menggulirkan jarinya ke atas dan ke bawah, Aric resah.

"Sa-yang, mau telfon siapa?"

"Ayah! Aku akan minta ayah menjemputku dan Shiza!"

"Sash, please! Jangan kekanakan! Kita selesaikan masalah kita berdua, jangan bawa-bawa ayah!" ucap Aric.

Aric yakin seyakinnya bahwa Lutfi tidak akan memaafkannya. Sashi putri satu-satunya, kebahagiaan Sashi adalah segalanya untuk Lutfi dan Aira. Ia yang pernah kecolongan saat Sashi ternyata hamil tentu tak akan membiarkan putrinya menanggung beban berat sendiri lagi. Aric resah. Bahkan masih sangat jelas saat Aric dengan mantap bersedia menggantikan Kaysan menikahi Sashi hari itu, tatapan Lutfi seolah meragukannya. Semua terbukti saat kehamilan sashi 6 bulan, nyatanya Lutfi melihat putrinya tidak bahagia. Ia masih memberi kesempatan Aric memperbaiki segalanya. Aric khawatir untuk kesalahannya kali ini Lutfi tidak akan memaafkannya. Dan itu artinya apa, perpisahan!

Dada Aric sesak, ia seketika meraih ponsel Sashi.

"Ka-kak?" kaget Sashi.

"Jangan telfon ayah! Kamu harus dengar penjelasanku dulu, Sash!" lirih Aric, baru hendak menyapu puncak kepala Sashi, Sashi dengan cepat menghindar.

"Tidak usah pegang-pegang! Semua sudah jelas kan, Kak! Apa yang perlu di jelaskan lagi?" Sashi menaikkan nada suaranya, air mata itu kembali tumpah.

"Kamu ingat Ciara? Ciara anak Aruna, ia sakit Sash! Aku melakukan semua ini hanya untuk Ciara!"

"Sejak kapan Kakak jadi dokter? Kalau sakit bawa saja ke Rumah Sakit, kenapa Kakak yang pusing?"

"Masalahnya tidak semudah itu. Ia sakit parah! Leukimia, Sash!"

"Aku tidak peduli! Itu pasti alasan Kakak! Kakak pasti cinta mbak Aruna! Kalian sudah menikah berarti kalian juga sudah---- Huuu .... Kakak jahat!" Sashi terus memukul dada itu. Sungguh Sashi sedang tidak ingin mendengar dan tidak bisa dibujuk.

"Tidak! Semua pemikiranmu itu salah! Bahkan aku tak pernah menyentuh Aruna!"

"Bohong! Usiaku memang belum banyak seperti kalian, tapi aku tahu dunia pernikahan! Kakak sering pulang telat, itu pasti sedang bermesraan dengan mbak aruna, kan? Bahkan belum lama tadi Kakak menggodaku! Kakak mengecohku untuk melayani Kakak, apa mbak Aruna belum memuaskan Kakak? Mbak Aruna seksi, cantik, tinggi semampai. Aku memang tidak sebanding! Kalau Kakak ingin bersama mbak Aruna, sana pergi! Aku juga bisa bekerja untuk menghidupi Shiza! Biar aku menjadi janda, aku akan cari orang yang tul-----

"Sashi, STOP!" Aric geram melihat Sashi terus bicara tak karuan mengeluarkan isi otaknya. Ia menghentikan ucapan Sashi. Sashi berhenti bicara tapi justru kini ia menangis semakin kencang, ia kaget Aric berteriak padanya. Otak itu semakin dipenuhi asumsinya sendiri.

__________________________________________

☕Maaf upnya telat, riweh aktifitas real life😥

☕Happy reading😘

☕Segini dulu ya, seperti biasa ditunggu like dan komennya❤❤

1
Alivaaaa
Terimakasih Thor yg sudah menyuguhkan cerita yg sangat menarik 🥰
Alivaaaa
syukurlaah semua bahagia 😍😍
Alivaaaa
jadi ikut ngos ngossan berasa ikut melahirkan 🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Alivaaaa
entahlaah sebenarnya aku lebih suka Kaysan dari pada Aric, tapiii tak apalah karna Aric jodohnya Sashi
Alivaaaa
😭😭😭😭😭😭😭
Alivaaaa
sedih rasanya 😥😥
Alivaaaa
jeng jeng jeeeeng
dag dig dug jadinya 😁
Alivaaaa
aku ikut deg degan baca bab ini 😟
Alivaaaa
kayaknya Aric junior otw 🤭😄
Alivaaaa
Aric emang bodoh 🤦🏻‍♀️
Alivaaaa
2 2 nya suka 😍
Alivaaaa
owalaaahhh ternyata begono.... kasihan ya Aric
Alivaaaa
miris sekali nasibnya Sashi 🥺
Alivaaaa
aku mampir Thor
Jessica
Luar biasa
Rahma Putri
kalau aku tiada maaf untuk penghianatan mending cerai pasti ada jodoh terbaik yg disiapkan Alloh
Soraya
mampir thor
Nadia
bego aja, nolong boleh baik boleh tp gak harus dengan terikat pernikahan,
asya yussi
Luar biasa
Irmayani Sabrizar
aku suka yg fersi indonesia nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!