NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Poligami / Tamat
Popularitas:292.3k
Nilai: 4.6
Nama Author: heni

Sebagai seorang wanita, saat pacaran pun tidak rela diselingkuhi, apalagi dalam ikatan pernikahan, poligami adalah mimpi terburuk.

Namun keadaan yang menyudutkannya, Risma harus meminta Ardhi menikah lagi, demi membahagiakan orang tua Ardhi.


Demi rasa cintanya pada sahabatnya, Ishana menerima permintaaan Risma, untuk menjadi madu sahabatnya. Mengesampingkan penilaian buruk orang-orang, karena jadi yang kedua selalu salah di mata masyarakat.

Apakah Ardhi bisa adil terhadap istri-istrinya nanti? Atau ikatan baru malah menghapuskan cinta Ardhi yang semula hanya tertuju pada Risma?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Ngidam Eva

Ardhi menghabiskan sarapan paginya. Dia merasa beruntung bisa bertemu perempuan seperti Ishana.

"Wajah kakak pucat, kakak sakit?" tanya Ishana.

"Entahlah Na, saat ini kepalaku pusing."

"Kakak periksa dulu, kalau kakak merasa baikkan, baru kakak lanjut ke kantor."

"Dokter Jully sudah tidak ada, aku hanya nyaman dengan dokter Jully."

Ishana diam kala mendengar nama Jully, rasa bersalah itu muncul, namun dirinya tidak bisa memaksa hatinya untuk menerima cinta dokter Jully, bahkan dirinya sudah mencoba membuka hatinya untuk dokter Jully, jauh sebelum Ardhi memasuki hatinya.

Brakkk!

Tiba-tiba Ardhi jatuh ke lantai.

"Kak Ardhi!"

Ishana panik melihat Ardhi tidak sadarkan diri dan terkapar di lantai.

Beberapa orang di sana pun segera membawa Ardhi ke UGD.

Ishana terpaksa bertukar jadwal dengan temannya yang lain, dia tidak enak meninggalkan Ardhi sendirian.

Dokter Arief selesai memeriksa keadaan Ardhi.

"Bagaimana dok?" tanya Ishana.

"Sebelumnya saya sudah telepon dokter Jully, kata dokter Jully, Tuan Ardhi sering sakit kalau banyak pikiran, namun jangan khawatir, setelah beristirahat beberapa jam, dan mendapat ketenangan, dia akan baik-baik saja."

Ishana lega mendengar penjelasan dokter Arief. Dia kembali menemani Ardhi.

Ardhi kini berada di ruangan khusus miliknya, di mana ruangan itu hanya dipakai oleh keluarga Pramudya yang sakit. Hanya Ishana yang ada di sana.

Perlahan Ardhi membuka kedua matanya, dia bisa melihat sosok Ishana begitu jelas duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya.

"Kak Ardhi ...." sapa Ishana.

"Ya salam, aku pingsan lagi," keluh Ardhi. Matanya dengan jelas melihat jarum infus yang tertancap di punggung telapak tangannya.

"Bagaimana perasaan kakak?" tanya Ishana.

"Sudah lebih baik, pusingku juga tidak terasa lagi."

Ishana merasa semakin lega.

"Kamu mengabari yang lain?" tanya Ardhi.

"Aku takut, jadi aku diam."

"Bagus, aku tidak mau membuat keadaan makin mencekam karena mendengar aku sakit."

"Aku tidak memberi kabar pada siapapun, karena dokter Jully yang memberi saran, kata dokter Jully, kakak akan segera membaik kalau sadar nanti."

"Jully memang benar, hanya dia dan Derby yang tahu keadaanku."

"Aku lupa, aku minta maaf karena mengangkat panggilan di handphone kakak, tadi ada Derby yang berulang kali menghubungi kakak." Ishana memberikan benda Elektronik berbentuk pipih persegi panjang itu pada Ardhi.

"Tidak apa-apa, jangan sungkan, kamu juga istriku."

Ada perasaan bahagia, namun juga takut menyadari Ardhi menganggapnya seorang istri.

Waktu terus berlalu begitu saja. Tidak terasa saatnya makan siang. Ishana memasuki ruangan Ardhi dengan 2 bok makanan yang dia pegang.

"Kita makan siang dulu kak," ucap Ishana.

"Setelah makan siang, aku pamit ya Na, aku harus ke kantor, mempersiapkan berkas untuk Derby. Harusnya aku yang ke luar kota, namun keadaanku tidak memungkinkan, jadi Derby yang berangkat menggantikanku."

"Iya kak."

Mereka berdua segera menikmati makan siang mereka.

"Kak, malam ini sepertinya aku pulang tengah malam, karena tadi temanku menggantikanku setengah hari, jadi aku mengantikan tugas malamnya, mungkin tengah malam aku baru kembali. Kami bertukar shift, kalau sesekali atasan kami memberi izin."

"Pulang naik taksi ya, jangan naik ojek."

"Iya kak."

Keadaan Ardhi memang benar-benar membaik, laki-laki itu segera pergi meninggalkan Rumah Sakit menuju kantornya.

Menit demi menit berlalu, jam juga tidak pernah berhenti berjalan. Kini sinar sang surya menampakkan kilau keemasan dari arah barat.

Mobil mewah itu perlahan berhenti di parkiran Panti Asuhan Bunda Aiswa.

"Nak Ardhi, mau jemput Risma?"

Seorang perempuan yang lebih tua dari ibunya menyambut Ardhi.

"Iya Bunda, tadi pagi Risma bilang kangen sama kalian, makanya saya bilang seharian boleh ke sini, dan saya antar ke sini, sekarang saya boleh menjemput bidadari surga saya bu?"

"Tentu boleh nak." Bunda Aiswa segera meminta salah satu anak penghuni Panti Asuhan ini memanggil Risma.

"Terima kasih banyak Nak Ardhi, berkat Nak Ardhi, Panti Asuhan yang dulu bobrok, sekarang menjadi kokoh, berlantai 3 pula."

"Tidak akan saya biarkan, tempat bersejarah istri saya hilang begitu saja."

"Iya, tempat ini juga pertemuan kamu dan Risma."

Ardhi tersenyum, teringat pertemuan pertama kalinya dengan Risma dan Ishana di Panti Asuhan ini.

"Kadang takdir suka bermain-main dengan kita ya bun. Di luar dugaan saya, 2 bidadari yang dulu bertemu saya di sini, malah keduanya menjadi istri saya."

"Ishana dan Risma mereka adalah mutiara Panti Asuhan ini, titip mereka dan sayangi mereka."

"Saya akan lakukan sampai mana saya mampu bun, tanpa pilih kasih dan membedakan keduanya, saya berusaha adil dengan kapasitas diri saya bun."

Setelah Risma menemui Ardhi, keduanya pun pamit pada Bunda Aiswa.

***

Melihat keadaan rumah Ardhi yang nampak sepi, Risma sangat ketakutan, dia takut di sambut Rita dengan mulut pedasnya.

Kala mereka sampai di ruang tamu, di sana ada Eva dan Rita tengah menikmati rujak buah bersama.

"Mama jangan banyak-banyak, nanti mama diare, aku pula di salahin," keluh Eva.

Rita dan Eva tertawa lepas sambil menikmati rujak mereka.

Ada rasa iri dalam hati Risma, dulu dirinya selalu dimanjakan Rita. Sekarang Rita terlihat asyik bersama Eva.

"Kita ke kamar, bersihin diri dulu."

Ucapan Ardhi menyadarkan Risma dari lamunannya.

"Risma, dari mana?" sapa Eva.

"Dari Panti, aku kangen bunda di sana," jawab Risma.

"Sini yuk, ini ada mangga muda enak banget," ajak Eva.

"Aku mau mandi dulu, selamat menikmati Eva."

Risma dan Ardhi segera menuju lantai 2, sedang Rita dan Eva kembali menikmati rujak mereka.

***

Keadaan makan malam terasa kaku, tidak ada pembicaraan antara Ardhi, Eva, dan Risma. Ketiganya hanya fokus memindahkan isi piring kedalam perut mereka.

Rasanya butuh waktu lama untuk menghabiskan isi piring mereka. Akhirnya pertarungan sendok dan garpu itu pun reda, kala isi piring mereka kosong.

"Ishana mana?" tanya Eva.

"Kurang tau, mungkin dinas malam," jawab Ardhi.

Merasa tidak ada pembahasan dan kebutuhan lain, ketiganya segera menuju kamar mereka.

Ardhi masih sibuk dengan laptopnya, memantau laporan yang Derby kirimkan.

"Mangga muda lagi?" Ardhi heran melihat Eva menikmati mangga muda lagi.

"Aku sangat pengen mangga muda seperti yang Ishana bawakan waktu itu, enak banget."

Eva bingung, bagaimana dirinya mendapatkan mangga yang persis seperti yang Ishana berikan minggu lalu. "Sampai sekarang, aku belum menemukan rasa yang sama seperti mangga yang Ishana berikan waktu itu. Padahal aku pengen banget," rengek Eva.

"Kenapa tidak tanya Ishana, tanya dia di mana dia mendapat mangga itu," usul Ardhi.

"Kenapa aku bego ya? Harusnya aku tanya dia kemaren. Ishana mah baik, nggak kayak Risma, sombong!" Eva menahan mulutnya dengan jari-jari tangannya, merasa kelewatan mengucapkan kata barusan.

"Maaf, bukan maksudku mengatakan Risma jahat, tapi kenyataanya hanya Ishana yang mau membantuku bahkan mewujudkan ngidam aku. Beberapa hari yang lalu, aku pengen jambu Jamaika dan jambu crystal, Ishana dengan senang hati mencarikan itu, sedang Risma malah sinis padaku," adu Eva.

Ardhi hanya diam, marah pada Eva, atas dasar apa dia marah. Dia juga merasakan hal yang sama, Risma saat ini jauh berubah. Bukan Risma gadis Panti Asuhan yang dulu menyita perhatiannya.

Tapi, Ardhi berusaha memahami Risma. Wanita mana yang masih bisa tegar jika dalam posisinya?

Luka yang ku berikan padanya terlalu dalam. Wajar dia seperti itu. Semoga suatu saat aku bisa mengobati sedikit lukanya.

1
Meriati Sibarani
ujung2nya istri pertama yg tersiksa istri kedua bahagia cerita poligami selalu seperti itu
Tri Nindiyah: bikin kesel klo cerita poligami😡😡
total 1 replies
Ratih Ayu Muthia
udah ketebak
Ratih Ayu Muthia
sesuai dengan fikiran saya, yg melompat pertama kali itu ishana
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
kira2 selamat nggak yah ishana
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
waaawww foto keluarga tiga istri..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
eeehhh kirain udah insyaf beneran
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
ya udah lah lepasin aja risma daripada dia makin tersiksa..klo aku sih ya mending hidup sendiri dripada hidup dalam penderitaan selamanya..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
drama queen..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
isssshh dasar mak lampir
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
keselll..nggak tahu msti kesel sma risma apa kesel sma yang lainnya
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
yesel krna udah ngelakuin sma yang satu.. eh malah mau ngelakuin sma yang satunya lagi..itu mah bukan nyesel ardhi..tp ngelunjak..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
nyesekkk
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
yahhh mlah nambah lagi 🤦‍♀️🤦‍♀️
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
kaya nggak kuat lanjut baca..tp penasaran 😩😩
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
apaan ehekk 🤣🤣
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
ini mama nya gimana sih..sebentar sayang sebentar jahat..perlu diruqyah nih
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
hhmmm kuat berapa lama nggak nyentuh klo tiap hari ketemu
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
ya ampuuunn..hati rasanya kaya diremes2 😭😭😭😭
fa _azzahra
aku bakalan baca novel kakak lainya.aq kecanduan sama karya kamu.dr td jarang komen.maaf kalo like ga ketinggalan pasti.soalnya terlalu asik baca nya.sampai maraton aku tuh
fa _azzahra
takdir author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!