NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Setelah bertahun-tahun bercerai, dan memiliki jalan hidup masing-masing, api cinta yang pernah membara diantara mereka masih saja terasa.
Dan meskipun telah tertutup oleh debu waktu, akankah takdir dapat membawa mereka kembali bersatu?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menepis rasa ingin tahu

  Meski masih sedikit lemas akibat demam kemarin, namun Rama tetap semangat pergi ke sekolah.

  "Kamu yakin mau berangkat, Rama?" Tanya Galih saat melihat sang anak sedang bersiap.

  "Yakin, ayah." Ucapnya dengan mantap.

  "Ijin saja dulu, Rama." Saut bu Susi, "mbah ibu khawatir kamu masih lemas."

  "Tenang saja, mbah ibu. Aku sudah besar, jangan selalu dikhawatirkan." Katanya.

  "Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau nanti tiba-tiba pusing, kamu langsung ijin saja, telpon ayah mu biar dijemput." Tutur bu Susi.

  "Siap mbah ibu. Mbah ibu sama ayah nggak perlu khawatir berlebihan, aku akan baik-baik saja." Kata Rama, meyakinkan ayah dan neneknya.

  Galih memasangkan ransel Rama ke bahunya, "ayo, ayah antar." Katanya yang langsung membuat Rama semakin bersemangat ingin ke sekolah.

  "Yes! Ayah bakal ketemu lagi sama bu Winda." Batin Rama sambil senyum-senyum, betapa anak itu mengiginkan ayahnya bisa menemukan kebahagiaanya bersama yang baru, seperti ibunya yang juga telah berbahagia dengan keluarga barunya.

  "Ayo!" Seru Galih setelah mengamati anaknya yang sedang berdiri sambil tersenyum, "eehh, malah senyam senyum gitu? Ayo berangkat, nanti terlambat lho!"

 Rama mengangguk, lalu mereka berangkat setelah berpamitan pada bu Susi.

  * *

  Koran yang sedang dibaca langsung ditutup oleh Adit, setelah mengamati anaknya yang sedang duduk di dekat rak sepatu—dengan kedua tangan menengadah, matanya tertutup dan mulutnya berkomat-kamit.

  "Kamu berdoanya di situ, sayang?" tanya Adit yang langsung membuyarkan konsentrasi Tya, dan membuat Arumni yang sedang duduk di sampingnya ikut menoleh ke arah Tya.

 Matanya terbuka pelan, "ayah kenapa menganggu doa ku di pagi ini?" ucap Tya yang membuat Adit dan Arumni merasa ingin tahu.

  "Memangnya kamu berdoa untuk siapa, sayang?" tanya Arumni serius.

  "Ya untuk diri sendiri lah, ibu. Memangnya untuk siapa lagi?" ucapnya yang membuat Adit nenahan tawa.

  "Kirain untuk ibu." Gumamnya pelan.

  "Apa yang kamu minta, sampai berdoa di dekat rak sepatu gitu?" Tanya Adit sambil menahan tawa.

 "Aku berdoa semoga bu Vera lupa, bahwa hari ini ada pelajaran matematika." Kata Tya yang memicu gelak tawa ayah dan ibunya.

  Tya mengernyit saat ayah dan ibunya tertawa.

  "Bisa nggak sih, ayah? Kalau aku nggak usah sekolah? Yang penting kan aku sudah pintar baca tulis, aku juga sudah bisa menghitung uang-uang ku, jadi aku nggak mungkin tertipu sama orang kan, ayah?" Kata Tya sambil mengikat tali sepatunya, ia berdiri lalu menghembus napas kasar, "ayah...tolong..." Rengek Tya yang hanya dijawab tawa oleh ayah dan ibunya.

  "Sudah, sayang. Berangkatlah nanti kamu terlambat," kata Arumni.

 "Iya, sayang." Timpal Adit, "atau mau ayah tambah uang sakunya, biar semangat?" tawar sang ayah.

  "Nggak ngaruh, ayah. Aku tetap sebel sama matematika, uuuugh! Kenapa kehidupan anak sekecil aku sudah dibuat sepusing ini, sih?" Keluh Tya lagi sambil mencium pungung tangan ayah dan ibunya, lalu beranjak pergi. "Eh, tapi boleh juga kalau uang sakunya mau ditambah." Ucapnya sambil berjalan mundur setelah hampir sampai di pintu keluar.

  Adit pun membuka dompetnya, "iya, ayah tambahin, tapi yang semangat belajarnya ya, sayang? Contoh kakak Rama yang disiplin, giat belajar, jadi juara terus kan?" tuturnya.

  "Iya, ayah. Aku akan berusaha jadi sepintar kakak Rama." Ucapnya sambil menerima uang saku tambahan dari ayahnya.

  Adit dan Arumni meledakan tawa yang sedari tadi tertahan, setelah anaknya berangkat ke sekolah. Ucapan anak itu selalu yang paling bisa memicu gelak tawa orang tuanya, namun terkadang juga sangat menjengkelkan.

  * *

  Siang itu Adit inisiatif pergi ke sekolah Rama di jam istirahatnya, setelah bertanya pada Galih melalui panggilan telepon untuk mempertanyakan kabar Rama, yang ternyata berangkat sekolah meski belum sepenuhnya sembuh.

   Rama berlari menabrak bu Winda, setelah mendapat kabar dari salah satu temanya, bahwa Adit menunggu diluar.

  "Maaf, bu. Aku terburu-buru," ucap Rama sambil memunguti kertas yang berhamburan di lantai.

  "Nggak apa-apa, Rama. Tapi kenapa kamu buru-buru?" tanya bu Winda sambil ikut mengambil kertas-kertas itu.

  "Ayah menunggu di luar, tapi jam istirahat hampir selesai." Kata Rama.

  "Oh, ya sudah, kalau begitu kamu pergilah, siapa tahu ada yang penting." Kata bu Winda dengan keramahannya, "cepat kembali, ya. Jangan sampai terlambat." Katanya yang dijawab anggukan oleh Rama.

  "Terimakasih, bu." Ucapnya lalu berlari ke arah gerbang sekolah.

  Dengan napas tersengal-sengal Rama menghampiri ayah keduanya. "Ayah!" panggilnya sambil langsung memeluk.

  "Ayah cuma ingin memastikan bahwa kamu sudah cukup sehat untuk ke sekolah." Kata Adit sambil melepas pelukanya.

  Rama tersenyum, "aku sudah sehat, ayah." Ucapnya penuh semangat.

  Mereka saling menanyakan banyak hal, seperti ayah dan anak kandung. Dari balik gerbang sekolah, bu Winda memperhatikan mereka. Awalnya bu Winda ingin menyapa, karena mengira Galih yang menyusul Rama ke sekolah, namun setelah melihat ternyata orang lain yang bersama Rama, bu Winda jadi semakin penasaran.

  "Polisi?" Gumamnya pelan sambil mendekat, "siapanya Rama, ya? Bu Susi belum pernah cerita sama aku. Dan tadi juga Rama bilang ayahnya yang sedang menunggu di luar?"

  Kelopak matanya melebar saat Adit tiba-tiba menoleh ke arahnya. "Lho itu ayah dari temannya Rania waktu itu bukan, ya?" bathinya.

  "Selamat siang, bu." Ucap Adit sambil menghampiri Winda.

  "Selamat siang, pak." Jawab Winda sambil tersenyum ramah, lalu menyipitkan matanya, "maaf, sepertinya kita pernah bertemu tapi di mana, ya?" Winda ingin memastikan.

  "Ayah sama bu Winda saling kenal?" tanya Rama dengan wajah sumringah.

  "Oh, ibu yang menjemput teman anak saya di rumah, ya?" kata Adit saat tiba-tiba teringat.

  "Ah, iya." Winda menatap jam yang melingkar di tangannya, "saya minta maaf ya, pak. Karena waktu itu buru-buru pulang, dan sekarang juga saya mau minta maaf lagi karena jam istirahatnya sudah selesai." Katanya yang langsung diiyakan oleh Adit. "Lain kesempatan saya akan ke rumah bapak." Sambungnya lagi.

  "Baik, bu. Saya juga mau pamit, titip Rama ya, bu?" Ucapnya yang dijawab anggukan dan senyum ramah dari Winda, lalu Winda dan Rama berjalan kembali ke kelasnya.

  Adit masih berdiri mengamati sambil berbisik di hatinya, "apa itu bu guru yang Rama ceritakan kemarin?"

  Begitupun dengan Winda, ia berjalan ke kelas sambil berusaha menepis rasa ingin tahunya. Winda harus menunggu jam istirahat kedua atau jam pulang sekolah untuk bertanya pada Rama, tentang siapa laki-laki itu, mengapa Rama memanggilnya Ayah?

...****************...

1
Fatra Ay-yusuf
seharusnya Rama sudah waktunya tau, kasihan arumni jadi nampak seperti penghianat, padahal itu kesalahan galih kenapa arumni yang harus menanggungnya
Fatra Ay-yusuf
bisa aja galih 😅
Fatra Ay-yusuf
sakit tapi tak berdarah
Fatra Ay-yusuf
ada -ada aja nih adit😅
Fatra Ay-yusuf
apakah bu winda jodohnya galih
Fatra Ay-yusuf
lama gk baca tetiba ingat ma zaki, kira - kira dah nikah pa belum ya 🤔
Fatra Ay-yusuf
waduh
Fatra Ay-yusuf
mampir lagi ah, udah mulai bosen nih nonton dracin 🤭
Siti Musyarofah
tambah thor 2 lagi
Restu Langit 2: Sesuai permintaan, ditunggu ya~
total 1 replies
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!