Assalamu'alaikum...
Selamat datang di karya pertamaku.
Kisah seorang muslimah yang berasal dari keluarga sederhana.
Fatimah,ia rela bekerja keras demi adik kembarnya dapat melanjutkan sekolah.
Mengalami kekerasan dan pelecehan di pabrik,tak menyurutkan tekadnya.
Meskipun memiliki ilmu beladiri ia tak ingin menunjukkannya di hadapan orang lain.
Hingga kehormatannya hampir di jual oleh sepupunya sendiri.
Berawal dari memesan ojek melalui sebuah aplikasi online.
Perkenalannya dengan seorang pemuda rupawan namun tengil dan selengean.
Dialah Rojali pemuda jenaka yang ternyata menyimpan kisah kelam dalam hidupnya.
Sebagai putra yang terbuang,mampukah ia menyadarkan sang ayah?
🐾mohon kritik dan sarannya... 🐾
jangan lupa tinggalkan jejaknya... 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat peringatan
✨Ketika menjadi baik itu dimusuhi, tetaplah menjadi baik.
Ketika menjadi pemaaf, selalu dikhianati, tetaplah berbesar hati.
Sesungguhnya kau adalah orang yang beruntung, karena memiliki hati yang sehat dan berkualitas.
✨
****~~~~****
Sesosok tubuh menggeliat di balik selimut, ketika sayup-sayup suara adzan memanggil.
Memanggil jiwa-jiwa yang terpilih, merengkuh hati yang sentiasa bertasbih.
"Ashsholaatuu khoiruum... minannaum...! "
(sesungguhnya solat itu lebih baik daripada tidur)
Meski letih masih bertapa di badan, walau kantuk masih menggelayut di pelupuk mata, hingga kelopaknya enggan untuk membuka.
Setidaknya hatimu masih mengakui dan menyadari bahwa panggilan itu untukmu. Di alam bawah sadar ia akan mengetuk otak agar merespon, sehingga syaraf tubuhmu membuatmu bergerak .
Kantuk yang bergelayut manja, bantal dan selimut yang seakan mengeratkan rangkulannya,serta dingin yang menusuk kulit.
Sesungguhnya semua itu hanya rayuan. Sekali-kali janganlah kau terpedaya!.
Seorang gadis dengan paras cantik khas bumi pertiwi.
Menggeliat di balik selimutnya.
Berjuang melawan kantuk demi memaksa sepasang netra agar membuka.
Setelah kesadaran itu belum sepenuhnya,lirih dari bibirnya terucap doa.
"Alhamdulillahilladzi ahyana ba'dama amaatana , wailaihinnushur. "
Kemudian ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, bersyukur karena ruh masih bersatu dengan badan pagi.
Terucap pula ta'awwudz,berharap bisikan setan itu segera pergi dan hilanglah kantuk.
Yang membuat hati dan jiwa seolah sulit untuk tersadar.
Alarm di hape masih berbunyi, sahut-sahutan dengan suara adzan di masjid.
Fatimah pun menggoyang-goyangkan tubuh gadis mungil yang tidur di sebelahnya.
Berkali-kali, tetap tak bergeming, tidurnya pulas macam bayi.
(Wudhu duluan ajalah)Fatimah pun beranjak bangun, kemudian mengambil alat-alat mandi dan baju ganti.
Sebelum keluar kamar tak lupa ia kenakan jilbab instan terlebih dahulu.
**_**
Sementara itu di sebuah perkampungan padat penduduk di pinggiran kota kecil.
Tepat nya di dalam kamar yang terbilang pas-pasan, didalam rumah yang sangat sederhana.
"Yah, udah subuh, " Panggil wanita yang biasa di panggil Ummi oleh anak dan suaminya.
Kemudian ia mengelus bahu seorang laki-laki paruh baya yang sedang berbalut kain sarung.
"Iya, Mi," jawabnya sambil mengeratkan sarungnya, seakan berharap kehangatan dari kain tipis itu.
"Ayah mau Ummi bantu buat tayamum? " tanya wanita yang belum kentara tua, meski usianya yang hampir setengah abad itu.
Dengan seulas senyum kecil di wajahnya, yang menampakkan kelelahan dan kantung mata. Sudah beberapa malam ini ia kurang tidur, karena mengurus suaminya yang sedang kurang sehat.
"Iya Mi, badan Ayah masih lemes banget,sama gak kuat kalau kena air," lirih ayah pelan.
"Ya udah sini Ummi bantu, sebelom Ummi ambil wudhu, " tawar ummi kepada ayah.
Setelah Ummi mengganti baju serta sarung ayah, ummi pun membantu sang suami bertayamum.
(Yang mau tau cara bertayamum bisa cari di google ya, atau beli buku panduan tata cara sholat)
"Ayah agak kedepanan dikit ya, kan mau jadi imam solat Ummi, sini di bantu Yah,"
saran wanita yang masih terlihat cantik apalagi bila tersenyum.
Sambil menyusun bantal untuk bersandar si ayah.
"Ayah solat di bawah aja Mi, di atas sajadah,kalo di atas kasur susah,kan kamar kita sempit,"
saran ayah sembari menurunkan kakinya pelan ke bawah ranjang.
" Emang Ayah kuat? "ucap ummi dengan nada khawatir sambil berusaha memapah ayah.
" Insya Allah, kuat Mi. "
"Ayah juga sambil duduk kan sholatnya,"
jelas ayah berusaha menenangkan raut kekhawatiran yang terpampang jelas di wajah sang istri.
Istri yang sudah mendampinginya selama 25ahun.
"Allaaaahu Akbar...!"
Takbirotul ihrom terucap dengan suara yang sedikit serak dan bergetar.
"Allaaaahu Akbar...,"
Takbir ummi lirih perlahan.
Ayah pun berusaha kuat berdiri pada roka'at pertama.
Selanjutnya duduk dengan bersila.
***
Balik ke kamar kosan.
Fatimah memandangi gemas sahabat nya yang masih mendengkur sembari memeluk guling.
"Ck, ni anak belom bangun juga, kudu disiram aer se kolem kali yak?"
monolog Fatimah dengan senyum tipis tersungging di sudut bibir nya.
"Apa di jejelin garem aja ya ni anak biar sadar? "
ia masih senyum -senyum sambil terkikik geli, memikirkan kejahilannya.
(Hush, udah wudhu juga, masih error aja tu otak)
"Eh, Astagfirullah! " Fatimah memekik setelah iw tersadar akan pikiran jahilnya.
Ia pun berusaha membangunkannya lagi dengan memencet hidungnya agak kencang.
"Mmft...mmft... haa! "
Segera dilepas capitan dua jarinya dari hidung sahabat tomboynya itu, karena kini matanya sudah membola bagai baso aci kearah nya.
"Makanya jangan keblug kalo tidur! "ucap Fatimah dengan kekehan kecil.
Kemudian di balas dengan kerucut pada bibir si Nur tomboy.
Sungguh menggemaskan, pengen kuncir saja rasanya itu bibir dengan karet gelang.
***
" Apa Gak sebaiknya Kakak di kasi tau aja Yah?"tanya ummi sembari melepas mukena kemudian melipatnya.
" Jangan Mi, Ayah gak mau ganggu kerjaannya,nanti Kakak pasti khawatir dan langsung pulang,"cegah Ayah sambil kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
" Tapi Yah..."protes ummi lirih
" Sebentar lagi juga Ayah mendingan Mi, cuma perlu istirahat aja kok,"ayah pun mencoba tersenyum meski tenaganya lemah.
Ummi hanya bisa mendengus kecil, mendengar permintaan dari suami yang selalu ia patuhi itu.
"Ya udah, Ayah tidur aja lagi, Ummi mau bikinin bubur kacang ijo biar Ayah bertenaga gak lemes gini,"pamitnya sembari melapisi tubuh ayah dengan selimut.
***
*Fatimah Pov*
Pekerjaanku di pabrik benar-benar kacau hari ini.
Aku tidak habis pikir, kenapa semua hal yang sudah ku siapkan dengan benar bisa seketika berubah berantakan.
Otakku tak bisa mencerna kejadian hari ini.
Bahkan kejadian yang kemarin saja masih menyisakan tanya di benakku.
"Fatimah, kamu dipanggil ibu pengawas, ditunggu di ruangan nya tuh,sekarang ! "
Sentak salah satu temanku di line.
Aku pun segera berlalu menuju ruangan yang di maksud.
Bagaimanapun aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku, meskipun aku tidak secara sengaja melakukannya.
Apapun dalih dan sangkal ku tidak akan di anggap.
Brakk!!
Meja yang di gebrak, seketika membuat ku menjengit kaget.
"Astaghfirullah ! " Batinku
"Kamu niat kerja gak sih, hah?! " bentak Wanita dewasa, bertubuh langsing dan berambut sebahu ini.
Ia Mengenakan jubah putih mirip dokter, persis seperti yang aku kenakan.
Dengan stelan kemeja slim dan rok remple selutut.
Ya, kami mengenakan jubah tersebut sebagai seragam.
Yang kami kenakan diluar pakaian formal.
Baru saja aku akan membuka mulutku, sudah di potong lagi dengan cercaan berikutnya.
"Gak perlu kasih alasan, saya gak mau dengar, apapun itu! "cetusnya, tanpa memberi kesempatanku untuk bicara.
" Kamu dapat SP satu, dan gaji kamu akan di kurangi bulan ini. "
"Karena kamu sudah membuang-buang waktu, serta merugikan perusahaan. "tuturnya lagi sambil menatapku jengah.
"Asal kau tau, perbuatan mu sudah mencoreng kredibilitas mu di perusahaan ini, dan secara tak langsung sekaligus membuat citra buruk akan kepemimpinan ku. "
"Keluarlah dan perbaiki kualitas kerjamu, atau kau angkat kaki dari sini!" hardiknya lagi tanpa sedikitpun melihat kearah ku.
Aku benar-benar tidak punya kesempatan membela diri, bahkan untuk mengungkapkan keberatan ku atas ketidak adilan ini.
Aku hanya bisa menyusut air mata, yang sudah menggenang di sudut mataku.
Aku merasa terdzolimi, tapi entah siapa yang melakukan ini semua terhadapku.
Aku pun berlalu dengan lunglai.
Rasanya kakiku sudah tidak kuasa lagi berdiri.
Tapi, aku harus kuat bukan.
Aku gak boleh lemah,aku harus bertahan. Jangan sampai ada kesalahan lagi.
Aku pun menghela nafas, demi menguatkan jiwa dan batinku.
Aku kembali ke line, dan disambut dengan tatapan sinis semua teman, bahkan beberapa senior pun ikut memasang wajah juteknya kearah ku.
(Ahh, aku ingin waktu segera bergulir ke waktu istirahat)
***
Maap yak sayang-sayangku kalau part-nya kurang greget.
Aku kemalaman ini ngetiknya, karena suatu hal yang terjadi di dunia nyata dan tak kuasa aku hindari.
Pokoknya mak chibi minta digoyang aja jempolnya buat like dan komen🤗🤗