⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Keluarga
*POV Mawar
"Hoamm.. Sudah pagi ya? Ck sekolah lagi deh. Ngemalesin banget!"
Tok Tok
"Mawar.. ini aku, kamu sudah bangun?"
Suara itu.. Pasti wanita itu! Untuk apa dia datang kemari? Apa dia sedang tidak ada kerjaan? Ukh menyebalkan!
Meski hanya mendengarnya sebentar, aku bisa langsung tau siapa sosok yang ada di balik pintu itu. Aku sangat tidak ingin membuka pintu ini. Tapi aku harus tau apa tujuan wanita itu datang ke kamarku pagi-pagi begini.
Drap Drap
Aku turun dari ranjang, lalu melangkah dengan kasar menuju pintu kamar. Perasaan muak dan kesal dapat kurasakan setiap langkahku semakin mendekati pintu.
Ceklek
"Kenapa?" Tanyaku dengan ketus.
Sesaat aku membuka pintu, sosok wanita yang sangat tidak ingin kulihat seumur hidupku muncul di hadapanku.
Ternyata benar bukan? Tidak mungkin aku tak mengenali suara wanita itu. Untuk apa wanita murahan ini datang ke kamarku?
"A.. Aku cuma mau mastiin kamu sudah bangun atau belum, mengganggu ya?" Tanyanya balik padaku.
"Iya, mengganggu banget! Udah tau gitu malah pake nanya lagi!" Balasku.
"Ma.. Maaf aku cuma mau menjalankan tugasku sebagai ibumu." Ucapnya.
"Hah? Ibuku? Hahaha lucu banget deh. Heh! Udah deh jangan sok baik, dasar cewek bermuka dua!!"
BRAK
"Ck!"
Kubanting pintu kamarku sekeras-kerasnya. Jika bisa, aku juga ingin melemparkan sesuatu ke wajahnya itu.
Tampang sok polos yang menjijikkan. Dengan wajahnya itu dia menggoda ayahku. Aku tau kalau dia tidak mencintai ayah dengan tulus. Dan ayah sama sekali tidak mengetahui hal itu.
Bila hal ini kukatakan pada ayah sekali pun, memangnya ayah mau percaya padaku? Ayah kan sudah terbutakan cinta oleh wanita itu.
Setelah ini dia pasti akan menangis dan mengadu pada ayah. Sudah bukan sekali dua kali dia melakukannya. Aku tau dia sengaja melakukan itu agar aku semakin dibenci ayah.
Wanita tadi adalah ibu tiriku. Wanita yang usianya tidak terlalu jauh denganku. Dia lebih pantas untuk disebut sebagai kakakku daripada ibuku.
Padahal usianya masih 23 tahun. Tapi bagaimana bisa dia menikah dengan ayah yang sudah berusia 44 tahun?
"Pasti dia udah pergi kan? Yah karna udah tenang, sekarang tinggal siap-siap deh. Seragam gue ada di mana ya?"
Aku bersiap-siap dengan sangat lamban. Aku sengaja melakukan itu agar aku tidak terlihat rajin di mata ayah.
"Hah lagi-lagi harus ngejalanin hari-hari yang bikin bosan."
Ceklek
Setelah selesai mengenakan sepatuku, aku berjalan keluar dari kamarku menuju ruang tengah. Sembari kakiku yang melangkah, mataku terus menatap ke sekeliling ruangan yang kulewati.
Rumah ini memang sangat besar. Namun aku merasa sesak dan tidak nyaman berada di rumah ini.
Keluarga Valrose. Keluarga yang berada di urutan pertama di tingkat teratas. Nama Valrose sudah kudapatkan sejak aku lahir.
Aku hidup dengan kekayaan berlimpah yang tak akan habis meski aku bersikap boros. Apa pun yang kuinginkan pasti akan langsung kudapatkan dengan mudah. Semua orang pasti ingin hidup seperti itu juga kan?
Tapi apa gunanya itu semua jika aku tidak bahagia? Uang tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang. Jika aku bisa memilih tempatku dilahirkan, aku pasti tidak akan mau terlahir di keluarga ini.
"MAWAR!!"
Aku tersentak. Seketika aku tersadar dari lamunanku. Tanpa aku sadari, ternyata aku sudah sampai di ruang tengah.
Dari lantai atas, aku bisa melihat ayahku yang tengah melototiku dari bawah. Aku sudah tau kenapa ayah menatapku seperti itu.
Ck! Dasar wanita pengadu! Dia pasti sudah mengadu pada ayah. Padahal dia bukan anak kecil.
"Ya ayah? Kenapa?" Tanyaku meski sudah tau.
Tanpa berbicara lebih banyak lagi, aku langsung turun melewati setiap anak tangga tanpa melihat mereka sedikit pun.
Aku tak perlu menghiraukan mereka lebih dari ini. Aku hanya perlu berbicara saat akan menjawab ucapan ayah saja. Jika aku berurusan dengan ayah lebih dari itu, yang ada perasaanku akan semakin memburuk.
PLAK
"Aw.."
Dalam hitungan detik, aku bisa merasakan rasa sakit yang amat menyakitkan pada pipi dan pelipis kiriku. Aw.. Entah kenapa mata kiriku terasa sakit. Aku jadi tidak bisa membuka mata kiriku untuk sementara waktu.
"Ayah barusan nampar aku? Sudah gak heran lagi sih." Kataku sambil tersenyum getir.
Meski kini aku terlihat kuat, sesungguhnya saat ini aku sedang berusaha melawan perasaanku sendiri agar tidak meneteskan air mata sedikit pun.
"Kamu bicara apa tadi sama ibumu?! Kamu pikir ayah gak tau?!" Sergah ayah.
"Ibuku? Sejak kapan perempuan murahan itu jadi ibuku? Coba ayah lihat! Lihat dia yang sedang nangis ga karuan kayak anak kecil di belakang ayah sekaran-"
PLAK
"Diam! Bisa-bisanya kamu ngatai ibumu murahan!!"
Ini menyakitkan. Tapi aku harus bisa menahannya. Tahanlah Mawar Valrose! Bukankah kamu sudah sering merasakan yang lebih parah dari ini? Tamparan seperti ini sih bukan apa-apa.
Aku tak boleh menangis! Aku tidak boleh terlihat lemah. Apalagi di hadapan wanita itu! Tahanlah.. Aku harus bisa menahannya.
"Ayah, ayah sadar gak sih ayah itu ngelakuin apa barusan?" Tanyaku pelan.
"Diamlah dasar anak gak tau diri!" Sergah ayah.
Aku terdiam sejenak. Sejujurnya aku masih belum terbiasa dengan perkataan ayah yang mengecamku. Perasaanku terasa seperti tertusuk jarum setiap mendengarnya.
"Ayah.. apa di mata ayah aku ini bukan anak ayah lagi? Mencubit Ryan aja ayah gak sanggup. Lalu aku? Aku kan darah dagingmu juga. Ucapku lirih.
"MAWAR VALROSE!"
Tanpa sadar aku memejamkan kedua mataku. Pasti ayah ingin menamparku lagi. Sepertinya saat berangkat nanti aku harus mampir ke dokter sebentar.
"Ayah? Kakak?"
Aku tersentak kaget. Suara itu.. Ryan? Kenapa pagi-pagi begini dia sudah bangun? Aku langsung melirik ke asal suara itu. Dan benar saja, dia memang Ryan.
Ryan adalah adik kandung yang berbeda ibu denganku. Dia adalah anak yang dilahirkan wanita sial#n itu. Selama ini ayah sudah melakukan segala cara agar Ryan dapat menjadi penerus keluarga. Tapi usaha itu tidak berhasil
Tentu saja itu tidak berhasil. Hanya seorang keturunan Valrose saja yang dapat menjadi penerus keluarga. Selama aku yang satu-satunya mewarisi darah keluarga masih hidup, posisi penerus itu tidak akan bisa diberikan pada orang lain.
Tapi jika aku mati, dan keturunan asli keluarga juga sudah tidak ada lagi, Ryan bisa saja menempati posisi penerus itu.
"Kakak.."
Grep
Ryan tiba-tiba berlari ke arahku dan langsung memelukku. Ah aku tidak suka situasi ini.
"Kakak mau kemana? Kenapa pipi kakak merah?" Tanya Ryan kecil yang polos.
"Bisa lepaskan? Aku mau pergi." Pintaku dengan nada dingin.
"Mawar! Kenapa cara ngomongmu begitu sama adikmu?!" Sergah Ayah.
"Ayah?! Jangan marahi kakak!!" Teriak Ryan tiba-tiba.
"Ryan Valrose, cepat kesini!" Perintah ayah pada Ryan.
Benar. Pergilah dan peluk ibumu itu saja. Jangan peluk aku, karena ini benar-benar membuatku merasa kesal.
"Gak mau! Ayah jahat! Kakak salah apa? Ayah kan selalu marah-marah sama kakak!!" Teriak Ryan lagi.
Tangan Ryan yang melingkari pinggangku terasa semakin erat. Sepertinya dia tidak akan mau melepaskanku dengan mudah.
"Ryan! Jangan bandel? Ayo kesini aja sama ibu!" Panggil wanita itu.
Benar Ryan. Aku mohon turutilah perkataan ibumu. Aku tidak mau memperlakukanmu dengan buruk lebih dari ini.
"Ryan.. Lepaskan aku!" Kataku sembari menatap tajam.
"I.. Iya kak.."
Dengan ragu-ragu, Ryan melepaskan pelukannya dariku. Syukurlah.. Aku bersyukur karena aku tak harus membentaknya lagi.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung melangkah pergi dari hadapan mereka semua. Jika aku berada di sini lebih lama lagi, sepertinya aku akan gila.
"Will, cepat siapkan mobil!" Perintahku pada butlerku.
"Baik nona." Jawab Will.
Sebelum benar-benar pergi, aku sempat melirik ke belakang. Aku bisa melihat ekspresi ibu tiri yang menatapku dengan tajam. Pfft! Apa dia pikir aku akan takut jika dia menatapku seperti itu?
*****
Mawar