Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.
Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.
Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Kedai Pak Shomad
"Eh. . .?" seru Anung Pramana dan Kasih Pertiwi bersamaan karena terkejut.
"Ada apa, guru?" Argadana menanyakan keheranan kedua gurunya.
"Eh. . . Tidak. Nama depan Lalu itu adalah nama yang hanya disematkan pada orang - orang kalangan bangsawan di Kerajaan Datu Gumi. Sedangkan Askar Wirajaya yang kami ketahui adalah nama seorang panglima Besar di Kerajaan itu. Apa ayahmu yang kau maksud adalah dia?" pungkas Anung Pramana.
"Benar, guru. Dan. . . " Argadana berhenti lalu menoleh pada Jendral Thalaba
"Paman Belang sudah boleh menampakkan wujud asli paman"
"Auuurgghhh. . . " harimau putih menggereng keras lalu tidak lama kemudian muncul asap putih tebal yang entah dari mana datangnya menyelimuti seluruh tubuh sangat harimau.
Anung Pramana dan Kasih Pertiwi mengerenyitkan dahi melihat keanehan yang terjadi pada harimau putih itu. Beberapa saat setelah asap putih mulai menipis terlihatlah sosok seorang lelaki berumur sekitar tiga puluhan dengan badan tegap berisi memegang sebatang tombak emas yang memancarkan aura mencekam.
"Hormat hamba, yang mulia" kata orang yang memakai baju kulit harimau berwarna putih tersebut dengan menekuk lutut.
"Bangunlah, paman"
Argadana kembali menoleh pada Anung Pramana dan Kasih Pertiwi yang masih berdiri dengan mulut terbuka lebar.
Mereka berdua dapat merasakan kalau senjata yang digenggam orang di hadapan mereka saat ini merupakan senjata pusaka tingkat tinggi, dan kekuatan orang yang memegang tombak pun setara dengan mereka berdua.
"Guru, harimau putih yang selama ini guru lihat sebenarnya adalah wujud samarannya. Namanya Jendral Thalaba, salah satu jendral Kerajaan Siluman Darah yang dikhususkan untuk menjadi pengawal pribadi saya. Saya biasa memanggilnya Paman Belang" kata Argadana memperkenalkan Thalaba.
"Ah. . . Tuan ternyata seorang jendral" kata Anung Pramana.
"Jangan merendah, tuan. Saya menghormati orang yang dihormati junjungan saya" kata Thalaba menjura hormat.
Anung Pramana dan Kasih Pertiwi berusaha mengakrabkan diri dengan Thalaba. Sepasang pendekar sepuh itu baru tahu kalau ternyata murid lelaki mereka adalah seorang yang berlatar belakang tidak biasa, melainkan seorang raja di sebuah kerajaan alam siluman. Bahkan pengawal pribadinya saja sudah setara kekuatannya dengan mereka berdua. Anung Pramana dan Kasih Pertiwi berfikir bagaimana dengan keseluruhan pasukannya? Berapa orang jendral perang yang dimiliki muridnya? Dan bagaimana jadinya jika ada yang menyinggung muridnya dan si murid itu lepas kendali kemudian membawa seluruh pasukannya? Bukankah akan terjadi kekacauan di mana - mana?
Keesokan harinya Ningrum setelah bebersih ruangan tempat tinggalnya bersiap ke gubuk tempat kedua gurunya, sebab hari itu adalah hari di mana dia akan pulang ke tempat asalnya, Kerajaan Sampang Daru.
Ada rasa bahagia, rasa sedih dan ada juga rasa khawatir di hati gadis cantik itu. Bahagianya adalah karena ia akan segera pulang dan bertemu dengan kedua orang tua juga saudara - saudaranya di sana. Ia merasa sedih karena akan meninggalkan kedua guru yang telah menyayanginya sejak kecil dan menurunkan ilmu kepandaian yang akan membuatnya menjadi pendekar tingkat tinggi di masa depan. Dan kekhawatirannya kali ini adalah karena ia tak tahu setelah ini sampai kapan dia akan terpisah dari Argadana, pria yang dicintainya.
Dia khawatir ketika terpisah darinya nanti akan ada banyak gadis - gadis yang akan melirik sang kekasih hati. Bagaimana tidak. Bukan hanya tampan saja, pemuda yang disukainya itu juga memiliki kekuatan yang sangat besar yang dapat menarik perhatian berbagai pihak. Dia takut pemuda itu menemukan gadis lain dan melupakannya.
Sesampainya di dalam gubuk Ningrum rupanya telah ditunggu - tunggu oleh kedua gurunya juga Argadana dan Jendral Thalaba yang telah kembali ke wujud harimau putih atas perintah Argadana agar Ningrum tidak mengetahui perihal dirinya yang sesungguhnya merupakan seorang raja.
"Duduklah, nduk" Kasih Pertiwi mempersilakan Ningrum untuk duduk di samping Argadana.
"Argadana, Ningrum. Semua yang kami miliki telah kami berikan pada kalian. Sekarang tiba saatnya kita berpisah." Anung Pramana seakan berat mengucapkan kata - kata perpisahan.
"Ingat - ingatlah selalu pesan kami, nak. Jangan kalian merasa takabbur dengan kelebihan yang kalian miliki, niscaya kalian akan sejahtera. Untuk Argadana, jika kau ingin mencari perguruan yang menguasai 'pukulan api salju', maka temuilah seorang anak angkat kami di Kota Rambiga. Kota itu termasuk wilayah Kerajaan Giliq Rurung. Dia bernama Wisesa. Dan sama sekali tidak berbakat dalam ilmu silat sehingga memutuskan untuk menjadi pedagang. Bawalah ini dan tunjukkan padanya nanti" kata Kasih Pertiwi memberikan sebuah kain kecil yang lusuh. Tampaknya juga seperti telah lapuk, mungkin karena sudah sangat lama. Argadana penasaran kenapa dia harus membawa kain itu untuk ditunjukkan kepada anak angkat kedua gurunya nanti, tetapi hal itu tidak dipertanyakannya. Argadana yakin apa yang dikatakan gurunya pasti merupakan suatu hal yang baik.
Putra angkat Sepasang Pendekar Naga memang lebih berbakat dalam hal bisnis. Setelah diberi modal oleh Anung Pramana dan Kasih Pertiwi, dia lalu memulai bisnisnya dengan usaha kecil - kecilan. Sampai saat ini dia termasuk dalam daftar dua puluh pebisnis sukses di Kerajaan Giliq Rurung. Wisesa sering kali berniat ingin memboyong kedua orang tua yang telah membesarkannya itu ke tempat tinggalnya di Kota Rambiga yang lebih baik tetapi Sepasang Pendekar Naga memilih untuk tinggal di tempat pertapaan mereka yang lebih nyaman menurut mereka, yaitu Lembah Neraka. Sebagai seorang pedagang sukses yang sangat terkenal tentu saja banyak memiliki koneksi dengan orang - orang dunia persilatan, sebab itu lah Anung Pramana menyarankan agar Argadana mencari Wisesa terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi tentang orang - orang yang dicarinya.
Anung Pramana dan Kasih Pertiwi mengetahui tujuan Argadana dan kenapa bisa menguasai ilmu serat darah yang mereka kira adalah ilmu lintah maut. Semuanya diterangkan oleh muridnya itu, sehingga mereka berdua berniat memberikan sedikit bantuan untuk meringankan misi muridnya.
"Guru, bagaimana kami harus berterimakasih atas kebaikan guru selama ini?" kata Argadana sebelum pergi.
"Dengan menjadi Pendekar pembela kebenaran dan pembela orang - orang lemah. Itu sudah balasan yang cukup" kata Kasih Pertiwi.
"Kami akan sering - sering menyambangi kedua guru di sini" ucap Ningrum lirih, karena merasa sedih akan berpisah dengan guru yang selama sepuluh tahun ini mendidiknya menjadi pendekar pilih tanding.
"Pergilah, murid - muridku. Semoga apa yang menjadi tujuanmu tercapai"
***
Desa Karang Gading adalah desa yang terletak di sisi utara Lembah Neraka. Masih termasuk wilayah Kerajaan Sampang Daru. Semenjak dibuatnya kerjasama antar Kerajaan Bima dengan Kerajaan Sampang Daru desa tersebut menjadi semakin ramai karena merupakan daerah yang menghubungkan wilayah kedua negara.
Karena letaknya desa yang strategis orang - orang yang berjiwa bisnis tersebut menjadikan Desa Karang Gading sebagai ladang usaha mereka dengan membangun berbagai tempat penginapan dan kedai - kedai makan, bahkan sampai rumah - rumah hiburan pun tersedia di sana.
Salah satu kedai makan yang paling terkenal di daerah itu adalah kedai makan Pak Shomad. Para pelayannya selain cantik - cantik juga merupakan orang - orang yang ramah terhadap pengunjung sehingga tidak mengherankan jika banyak yang datang ke kedainya.
Pagi hari itu seorang pemuda anak Adipati Renggana sedang menikmati makanan terbaik di kedai itu. Pemuda tersebut bernama Danuswara.
Karena merasa ayahnya seorang penguasa di kadipaten Suwela pemuda itu menjadi angkuh. Terlebih lagi setelah sang adipati menyewa seorang berilmu tinggi untuk menjadi guru silatnya, kebejatannya semakin menjadi - jadi. Banyak wanita - wanita membunuh diri setelah diperkosanya.
Para warga tidak ada yang berani melaporkan hal itu karena takut pada sang penguasa yang terlalu memanjakan anaknya itu.
Danuswara yang tengah asik - asiknya menggoda pelayan kedai tiba - tiba pandangannya terpaku pada seorang gadis yang amat cantik sedang duduk di tempat yang bersebrangan dengan meja makannya.
Gadis tersebut berambut lurus panjang sampai punggungnya. Di balik punggungnya menyembul gagang pedang berwarna putih kebiruan dengan ukiran yang terlihat seperti semacam sisik binatang. Kulit putih dan hidung bangirnya begitu menggoda menurut Danuswara.
Di samping gadis itu duduklah seorang pemuda yang cakap, penampilan wajahnya terlihat keras. Tidak terlihat senjata apapun menempel di tubuhnya. Tetapi ada keanehan tersendiri dari pemuda itu yang membuat para pengunjung keheranan. Itu adalah rambutnya yang berwarna keemasan dan terlihat berkilat.
Dari ciri - cirinya saja kita sudah tentu bisa menebak jika kedua muda - mudi itu pasti adalah Argadana dan Ningrum. Ya, sekeluarnya mereka dari Lembah Neraka Argadana dan Ningrum melakukan perjalanan bersama karena kebetulan arah perjalanannya sama. Mereka akan berpisah setelah sampai di persimpangan jalan yang memisahkan arah menuju Kota Raja dengan Kota Rambiga. Karena merasa lapar keduanya akhirnya singgah di kedai makan itu untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan.
Jendral Thalaba diperintahkannya untuk kembali ke Kerajaan Siluman Darah dan bertugas seperti biasanya. Awalnya dia bersikeras menolak, tetapi ketika mengingat bahwa tuannya telah memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menjaga dirinya maka jendral muda itu pun akhirnya mengalah dan pergi setelah berpamitan. Senjata 'cambuk raja naga' juga sengaja di simpannya di dalam ruang dimensi pedang siluman darah untuk antisipasi agar tidak bertemu orang - orang serakah yang mengenal dan menginginkan cambuk tersebut.
Argadana dapat melakukan hal itu setelah diberitahu oleh Raja Mahardika Pradana bahwa dimensi pedang siluman darah dapat menyimpan dan mengambil benda apa saja yang dikehendaki pemiliknya.
"Pengawal, aku ingin gadis itu menemaniku makan di sini. Cepat, bawa dia untukku" kata Danuswara bergairah sambil menjilat bibirnya.
"Baik, tuan muda" kata dua pengawal Danuswara.
Ningrum yang sedang menikmati makannya tiba - tiba merasa terganggu dengan kedatangan dua orang pengawal Danuswara, tetapi dia mencoba untuk bersabar dan memilih tidak meladeni kedua pengawal itu.
"Nona, tuan muda kami ingin berkenalan dengan nona. Bagaimana menurut nona? tanya pengawal bernama Wiryo. Karena tidak mendapat respon apapun dari Ningrum kawannya di sebelah ikut berbicara.
"Nona. Jika nona bersama dengan tuan muda kami, kami jamin nona akan hidup senang. Jangan mau dengan pemuda miskin satu ini, nona" yang berbicara bernama Dulhari.
"Hahaha. . . Itu benar, nona. Kau pasti akan senang kalau mau menjadi kekasihku" Danuswara tertawa terbahak - bahak.
"Asal tahu saja, nona. Aku adalah anak Adipati Renggana, penguasa di Kadipaten Suwela ini. Pemuda miskin dan lemah itu tidak pantas untukmu, nona. Jadi kemarilah" katanya dengan nada angkuh.
Kemarahan Ningrum mulai memuncak karena tidak tahan Argadana direndahkan di depan orang banyak. Gadis itu menggebrak meja berniat memberi hajaran pada pemuda sombong itu namun Argadana menahannya dan memberi isyarat untuk duduk kembali.
"Kalian pergi lah, kisanak. Mumpung aku masih bisa menahannya. Jika dia benar - benar marah, kalian tidak akan bisa melarikan diri meski berlindung di belakang Adipati Renggana" Argadana memperingatkan mereka dengan mengarahkan hawa kekuatan 'pedang siluman darah' pada kedua pengawal Danuswara.
Akibatnya kedua orang itu tak dapat bergerak, rasa terancam nyawa membuat meremang bulu kuduk. Tanpa sadar keringat dingin mengalir di tubuh gemetaran kedua pengawal tersebut.
"Itu peringatan awal, agar kalian tidak menyesal nantinya" lanjut Argadana setelah menarik kembali hawa kekuatan 'pedang siluman darah'nya sehingga kedua orang itu mampu bergerak kembali.
"Hei. . . Apa yang membuat kalian begitu lama hanya untuk membawa gadis itu kemari? Apa kalian mau dipecat?" teriak Danuswara tidak sabaran.
"Maafkan kami, kisanak. Kami hanya menjalankan perintah dari tuan muda kami. Karena nona tidak bersedia ikut baik - baik maka kami akan melakukannya dengan paksa" kata kedua pengawal tadi dengan mantap.
"Huh. . . Hanya anak Adipati rendahan saja, dan kalian sudah berani pamer di hadapan tuan putri ini?" bentak Ningrum yang tidak suka. Gadis cantik itu lalu memuntir tangan Wiryo yang hendak menyentuhnya.
Krakk. . .
"Aakh. . . "
Pengawal bernama Wiryo itu berteriak kesakitan setelah tangannya dipatahkan oleh Ningrum hanya dengan sekali sentakan. Tidak hanya sampai di situ saja, Ningrum melanjutkan dengan mencekek leher Wiryo hingga wajahnya memerah karena kesulitan bernafas.
"Kurang ajar. . . "
Dulhari berniat membantu Wiryo yang kesulitan dengan menyerang Ningrum dari arah belakang. Tetapi hal tidak terduga terjadi. Tangan kiri Ningrum yang menganggur bergerak cepat memberikan tamparan keras di wajah Dulhari hingga memerah memar meninggalkan bekas telapak tangan. Ningrum tidak mengendurkan cekalannya pada leher Wiryo yang sudah mulai terlihat semakin lemah. Karena tak tega melihat kawannya menderita Dulhari akhirnya berlutut di depan Argadana.
"Tuan muda, to.. Tolong suruh kawan tuan muda melepaskan kawanku, saya mohon tuan muda" katanya dengan nada memelas. Argadana tidak menggubris
"Tuan, tolonglah tuan. Apa tuan tega melihat gadis teman tuan itu membunuh orang?"
Lagi - lagi Argadana mengabaikannya, Dulhari karena tidak tahan sontak saja berteriak pada Argadana.
"Pendekar macam apa tuan ini? Kau bahkan tidak mau menolong orang yang kesulitan" Bentak Dulhari dengan nada marah.
Argadana memandang tajam Dulhari seolah ingin mengulitinya hidup - hidup.
"Jangan menagajari aku tentang sifat kependekaran, kisanak. Aku tadi sudah mengingatkan kalian supaya tidak menyinggung nya, dan kalian tidak mendengarku. Jadi sekarang kalian terimalah buah hasil yang telah kalian tabur sendiri. Jangan membawa - bawa nama kependekaran" balas Argadana tidak kalah keras.