Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Brian terdiam sejenak.
Dan menatap ke arah Inara yang tengah tertidur pulas.
Entah kenapa, ia merasa sedikit takut jika nama Love yang tertera di dalam ponselnya itu akan tak sengaja di lihat oleh Inara.
Sampai batin Brian pun menggumam sendiri.
" Apa yang ku pikirkan ? "
Seolah ingin mengusir rasa aneh yang saat ini tengah ia rasakan pada Inara.
" Brian.. kalau kau tak suka. Kau boleh mengubah nama love itu menjadi namaku kembali."
" Tidak Anita. Kau boleh menggunakan nama itu di ponselku." sela Brian. Sehingga membuat Anita yang ada di seberang sana tersenyum lebar.
Bertahun - tahun mereka berpisah.
Bahkan Brian saat ini telah memiliki istri sempurna seperti Inara.
Namun nyatanya semua itu akan kalah dengan kehadirannya kembali di sisi Brian.
Rasa bangga diri tentu menyelimuti diri Anita.
Dengan kondisi hati penuh kemenangan. Anita pun berkata dalam hati.
" Ternyata kau memang tak ada apa - apanya dengan ku Inara."
" Terima kasih Brian. Kau memang pria terbaik dan pengertian. Dan terima kasih. Karena kau hari ini mau menemaniku kembali di apartement. Tadi aku kira kau akan menginap."
" Maaf Anita. Aku tak bisa menginap. Kau tahu sendirikan hubungan kita belum di resmikan. Jadi aku tak mau kau mendapatkan masalah akan hal itu. Aku..." suara Brian terdengar menjauh dari dalam kamar.
Dan di saat itulah. Kedua mata Inara perlahan mulai terbuka dengan tatapan yanh terlihat sangat dingin.
Sebegitu ia memberikan cinta dan perhatian penuh pada Brian.
Nyatanya hati lelaki itu tak pernah menjadi miliknya.
Sungguh ironi..
Selama bertahun - tahun. Nyatanya ia telah melakukan hal bodoh yang sungguh ingin ia tertawakan sendiri.
" Kau benar - benar bodoh Inara. Benar - benar bodoh." Inara tersenyum getir. Dengan kedua mata yang perlahan wanita itu katupkan lagi.
Tentu saja dengan membawa hati yang teriris luka. Akibat pengkhianatan yang di lakukan oleh pria yang ia cintai.
___
" Daniel... mana hadiah yang ku perintahkan kau siapkan untuk Inara? "
Kening Daniel berkerut dalam.
Hadiah untuk Inara?
Hadiah apa?
Sampai pikiran pria itu mengingat tentang hadiah yang sempat Brian perintahkan untuk ia siapkan.
Disanalah Daniel tercengang. Karena tak menyangka jika hadiah yang Brian maksud di peruntukan untuk Inara bukanlah Anita seperti yang ia duga.
" Maaf tuan. Hadiah itu saya kirimkan ke nona Anita." dengan hati rada takut Daniel pun berkata.
Wajah pria di balik telepon itu pun juga ikutan terlihat meringis kecil. Dengan kondisi telinga yang sudah siap ia pasang untuk menerima amukan Brian akibat ia yang salah kirim hadiah.
Lagi pula siapa suruh tuan muda itu memiliki dua wanita.
Daniel kan jadi bingung mengirim hadiah untuk siapa.
Tapi tunggu...
Daniel terdiam sejenak. Dan berpikir.
Tumben sekali bosnya itu memberikan hadiah untuk Inara.
Ada apa ini?
Bukankah pria berwajah sempurna itu ingin bercerai dengan Inara dan menikahi Anita.
Tapi kenapa sekarang malah...
Tanda tanya seolah terus berputar di dalam pikiran Daniel.
Sampai suara dingin Brian di balik telepon langsung menyadarkannya.
" Apa kau bilang? Kau kirimkan ke Anita."
" I.. Iya tuan. Maaf.. Saya kira anda memerintahkan saya membeli hadiah untuk nona Anita seperti biasanya. Mengingat jika anda tak pernah sekali pun memberikan hadiah untuk nona Inara. Jadi saya pikir.."
" Sudah cukup. Aku tak mau lagi mendengar kalimat apapun darimu sekarang. Aku minta kau siapkan hadiah itu lagi dan kirimkan besok di mansion ku. Aku ingin hadiah itu pagi - pagi sudah ada di mansion ku Daniel. Awas kalau tidak. Maka gajimu seratus persen akan ku potong."
Tut.. Tut.. Tut..
Sambungan telepon terputus. Dengan meninggalkan Daniel yang terlihat menelan ludah dengan sangat berat.
" Ck.. Ck.. Ck..dia yang punya wanita dua . Kok aku jadi yang repot sih!? " gumam Daniel sembari menatap layar ponsel yang sudah mati itu dengan tatapan kesal.
Di sisi lain.
Brian terlihat meraup wajah.
Entah kenapa perasaannya benar - benar tak karuan sekarang.
Baru juga tak di perhatikan oleh Inara sehari saja. Pria itu sudah merasa pusing sendiri. Dengan kondisi hati terasa janggal. Seolah ingin di perhatikan lagi oleh Inara seperti sebelumnya wanita itu lakukan.
Sampai sebuah pemikiran gila tak sengaja terlintas di dalam benak pria itu.
" Apa aku jadikan Anita istri kedua saja. Dengan tak menceraikan Inara."
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra