Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Kemenangan
Pintu ganda ballroom baru saja tertutup di belakang punggung Damian yang mundur dengan nista. Suara crak-crak-crak sepatunya yang lengket masih terngiang di udara seperti hantu yang sakit gigi.
Untuk sesaat, ruangan itu hening total. Musik orkestra berhenti karena sang konduktor terlalu sibuk menganga melihat Duke yang agung kabur seperti maling ayam.
Lalu, seperti bendungan yang jebol, kekacauan meledak.
"Ya Tuhan! Kalian lihat tadi?"
"Dia berjalan pincang! Pasti karena gatal di selangkangannya!" Padahal Damian cuma menghindari punch.
"Kasihan sekali Nona Bianca... harus merawat pria penyakitan..."
"Aku dengar dia mandi pakai air belerang tiap malam jumat!"
Bisik-bisik itu berubah menjadi auman. Para Nyonya bangsawan, yang biasanya menjaga volume suara di level 'sopan', kini berebut menjadi sumber informasi paling valid. Kipas-kipas bergetar hebat, bukan karena panas, tapi karena kegembiraan menyebarkan aib.
Aku berdiri di pojok ruangan, di dekat meja canape yang isinya caviar dan foie gras. Tempat strategis untuk mengamati keruntuhan peradaban sosialita ini.
"Nona Vivienne," bisik Freya, menarik lengan bajuku. Dia terlihat sedikit khawatir melihat histeria massa ini. "Apakah... apakah kita berlebihan? Maksudku, mereka bilang dia punya penyakit menular seksual..."
Aku memasukkan satu canape udang ke mulut. "Mmm... enak. Denger ya, Freya. Dalam perang dan cinta, tidak ada yang namanya berlebihan. Yang ada cuma 'kurang bumbu' atau 'kebanyakan micin'." Aku meresapi rasa nikmat canape didalam mulutku. "Dan malam ini? Bumbunya pas."
Aku menunjuk ke tengah ruangan.
Bianca sedang dikerumuni oleh lingkaran ibu-ibu pejabat. Dia terlihat seperti nabi yang sedang memberikan wahyu. Wajahnya dipasang mode 'Tabah dan Menderita', tapi tangannya sibuk mencatat pesanan pre-order salep kulit di buku kecil yang dia sembunyikan di balik kipas.
"Lihat itu," kataku sambil mengunyah. "Itu namanya entrepreneurship. Bianca mengubah air mata buaya menjadi mata uang asing."
Bianca menoleh ke arahku dari kejauhan. Mata kami bertemu.
Dia tidak tersenyum karena sedang akting sedih, tapi dia memberikan kedipan mata yang sangat, sangat lambat. Kode rahasia kami. Cuan mengalir deras.
Aku mengangkat jempolku tinggi-tinggi sambil memegang gelas sampanye di tangan kiri. Good job, Partner.
"Tapi Nona," kata Freya lagi, "bagaimana kalau Duke tahu?"
"Tahu apa? Tahu kalau dia dituduh panuan? Biarin aja dia tahu. Semakin dia berusaha menyangkal, semakin orang nggak percaya. Itu hukum alam gosip, Freya. 'Semakin diklarifikasi, semakin dicurigai'."
Freya terdiam sejenak, memproses filosofi gosipku. Lalu, dia melihat ke arah pintu tempat Damian tadi menghilang.
"Dia sendirian," gumam Freya.
"Hm?"
"Tadi... saat semua orang menjauhinya. Saat musik berhenti dan dia berdiri di sana dengan sepatu lengket... dia benar-benar sendirian. Tidak ada yang membelanya. Tidak ada yang mendekat. Bahkan pelayannya pun mundur."
Ada nada simpati dalam suara Freya. Dasar hati malaikat. Bahkan setelah diteror, dia masih bisa kasihan.
"Itu harga kesombongan, Freya," kataku tegas, mengambil canape kedua. Kali ini rasa salmon. "Dia membangun tembok tinggi biar orang nggak bisa masuk. Sekarang, tembok itu jadi penjara dia sendiri. Dia sendirian karena dia yang milih buat jadi orang yang nggak tersentuh."
Aku menatap ke atas, ke balkon VIP.
Di sana, Nenek Hart masih duduk. Tapi dia tidak lagi terlihat bangga. Dia duduk kaku, kipas bulunya terkulai di pangkuan. Matanya menatap pintu keluar ballroom dengan mulut sedikit terbuka, ekspresi wajahnya campuran antara shock berat, kebingungan, dan... horor.
Sepertinya dia sedang menghitung dalam hati, berapa biaya Public Relations dan sumbangan amal yang harus dia keluarkan besok pagi untuk menutup mulut ribuan orang di ruangan ini. Atau mungkin dia hanya pusing memikirkan bagaimana cara menjelaskan ini semua pada cucunya tanpa tertawa.
"Kasihan Nenek," gumamku pelan. "Besok aku harus bikinin scone ekstra lembut buat beliau."
Aku kembali menatap Freya.
"Dan lo? Lo nggak sendirian. Lo punya gue. Lo punya Paman Barney. Dan lo punya..." Aku menunjuk ke arah pintu masuk samping.
Di sana, berdiri Oliver Sterling.
Dia memakai jas malam yang agak kebesaran. Mungkin punya ayahnya. Rambutnya sedikit berantakan karena lari, dan napasnya ngos-ngosan. Dia celingukan mencari seseorang di tengah kerumunan.
Begitu matanya menemukan Freya, wajah cemasnya langsung berubah lega. Dia tersenyum. Senyum Golden Retriever yang tulus dan hangat.
"Tuh, dokter pribadi lo dateng. Siap ngerawat lo yang katanya lagi 'flu'," godaku.
Wajah Freya memerah. "Nona!"
"Sana samperin. Jangan bikin dia nunggu kayak orang bego di pinggir lapangan. Ajak dansa kek, atau minimal kasih minum. Kasian dia lari-lari dari desa."
Freya tersenyum malu-malu. "Terima kasih, Nona Vivienne."
"Sama-sama. Udah, pergi sana. Gue mau fokus ngabisin caviar ini sebelum negara api menyerang."
Freya berjalan menghampiri Oliver. Aku melihat mereka berdua berbicara sebentar, tertawa kecil, lalu Oliver dengan canggung tapi berani, mengajak Freya ke balkon luar, menjauh dari kegilaan di ballroom.
Aku bersandar di dinding, mengunyah canape ketiga.
Di tengah ruangan, Bianca masih sibuk jualan salep. Di balkon, Freya dan Oliver sedang membangun romansa sehat. Di balkon VIP, Nenek Hart masih loading mencerna bencana. Di lorong gelap di luar sana, Damian sedang meratapi nasibnya yang bau parfum dan lengket.
Dan aku?
Aku berdiri di pojok, kekenyangan, memegang kendali atas narasi cerita ini.
Musik orkestra mulai bermain lagi, lagu waltz yang riang. Tapi bagi Damian von Hart, malam ini adalah requiem (lagu kematian) bagi ego-nya.
"Sempurna," bisikku pada gelas sampanye yang kosong. "Benar-benar kekacauan yang indah."