Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau 34: Rahasia di Balik Sulaman
Pagi itu, atmosfer Pasar Tradisional Beringin tak seperti biasanya. Jika biasanya udara dipenuhi aroma gurih soto tangkar dan riuh rendah tawar-menawar yang bersemangat, kali ini ada nada sumbang yang mengambang. Di salah satu sudut strategis, sebuah pemandangan kontras tersaji: lapak keluarga Valaria tampak melompong. Kursi-kursi jengki yang biasanya diduduki pelanggan setia kini kosong, menyisakan meja kayu yang retak di beberapa bagian saksi bisu aksi perusakan anarkis sehari sebelumnya.
Valaria duduk sendirian di sana. Ia mengenakan blus katun sederhana yang disetrika rapi, rambutnya disanggul kencang tanpa menyisakan sehelai pun anak rambut yang berantakan. Tatapannya lurus ke depan, tenang namun tajam. Meskipun orang tuanya masih mendekam di rumah karena trauma dan kerugian materiil, Valaria menolak untuk bersembunyi. Kehadirannya di pasar pagi ini bukan untuk menjual nasi uduk atau kopi panas, melainkan sebuah pernyataan: keluarga mereka belum tamat.
Di atas meja yang rapuh itu, tidak ada wajan besar atau panci mengepul. Sebagai gantinya, berjajar tumpukan kain katun berwarna pastel yang dilipat simetris. Di atasnya, Valaria memamerkan beberapa helai sapu tangan hasil kerajinan tangannya sendiri.
Sapu tangan itu bukan sekadar potongan perca. Setiap helai terbuat dari katun halus dengan sulaman tangan bermotif bunga liar, dedaunan musim gugur, hingga siluet hewan-hewan kecil yang menggemaskan. Kualitas sulamannya sangat presisi; setiap tusukan jarum menunjukkan ketelatenan tingkat tinggi. Cahaya matahari yang menerobos celah atap seng menciptakan garis-garis keemasan yang jatuh tepat di atas karya seni kecil itu, membuatnya tampak berkilau di tengah kumuhnya pasar.
"Wah, indah sekali sulamannya, Valaria. Apakah ini hasil karyamu sendiri?" tanya seorang ibu langganan kedainya yang kebetulan lewat. Ia mengagumi motif mawar kecil di sudut kain.
Valaria mengembangkan senyum senyum tulus pertama sejak tragedi kemarin. "Benar, Bu. Saya menyulamnya untuk mengisi waktu," jawabnya ramah.
"Bagus sekali. Berapa harganya?"
"Empat ribu rupiah per helai, Bu," jawab Valaria mantap.
Seketika, raut wajah ibu itu berubah. Di pasar ini, uang empat ribu rupiah bisa membeli satu porsi sarapan kenyang. Menghabiskan jumlah yang sama hanya untuk selembar kain penyapu keringat terasa seperti kemewahan yang tak perlu. Ibu itu mengangguk kaku, meletakkan kembali kain tersebut, lalu beranjak pergi. Beberapa orang lain yang sempat mendekat pun menunjukkan reaksi serupa; mereka mengagumi keindahannya, namun mundur teratur begitu mendengar harganya.
Namun, Valaria tidak goyah. Ia tahu nilai dari setiap tetes keringat dan waktu yang ia investasikan dalam tiap helai kain tersebut. Ia tetap duduk dengan punggung tegak, menanti dengan optimisme yang keras kepala.
Menjelang pukul sembilan, saat puncak keramaian mulai menyurut, dua sosok asing muncul. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian berbahan sutra dan perhiasan emas yang berkilau tampak berjalan hati-hati, berusaha menghindari genangan air di lantai pasar. Di sampingnya, seorang gadis remaja dengan rambut dikepang rapi memegang lengan ibunya dengan manja. Mereka jelas berasal dari kawasan elit yang jarang menginjakkan kaki di pasar tradisional yang lembap ini.
Langkah mereka terhenti tepat di depan meja Valaria.
"Mama, lihat! Cantik sekali," bisik si gadis remaja, matanya berbinar menatap sulaman daun pakis yang begitu detail. Ia menyentuh permukaan kain itu dengan ujung jarinya.
Sang Ibu, yang awalnya tampak risi dengan lingkungan sekitar, mulai memperhatikan sapu tangan itu dengan saksama. Sebagai kolektor barang-barang berkualitas, ia tahu cara membedakan sulaman mesin yang kaku dengan sulaman tangan yang bernyawa. Ia membalik kain tersebut, memeriksa kerapian simpul di bagian belakang sebuah tes mutlak bagi seorang penyulam ahli.
"Ini benar buatan tangan, Nak?" tanya sang Ibu dengan nada sopan namun penuh selidik.
"Benar, Nyonya. Saya sendiri yang mengerjakannya satu per satu," jawab Valaria tanpa ragu. "Harganya empat ribu rupiah per helai."
Wanita itu tersenyum tipis, seolah harga tersebut justru terlalu murah untuk kualitas setinggi itu. "Harganya sangat pantas. Kerapian ini jarang ditemukan di toko besar sekalipun. Kami ambil dua, motif bunga dan daun ini," putusnya sembari mengeluarkan selembar uang tanpa menawar sepeser pun.
Gelombang kebahagiaan menyapu dada Valaria. Validasi dari seseorang yang memahami estetika memberinya energi baru. Tak lama kemudian, seorang ayah muda yang menggendong putranya juga mendekat. Si anak merengek menginginkan sapu tangan bermotif kelinci kecil yang tampak hidup.
Sang Ayah, yang dari guratan tangannya terlihat sebagai seorang pengrajin atau pekerja teknis, mengamati jahitan Valaria dengan saksama. "Empat ribu rupiah, ya?" gumamnya. "Keterampilan seperti ini memang mahal harganya. Ini bukan sekadar kain, ini hasil karya seni." Ia pun membayar dengan sukarela demi melihat senyum anaknya.
Pukul sepuluh pagi, suasana pasar mulai melonggar. Saat Valaria sedang merapikan dagangannya, keceriaannya mendadak sirna. Dua pria berseragam militer gadungan preman yang kemarin mengacak-acak lapaknya kembali muncul. Pria dengan bekas luka di pelipisnya melangkah mendekat dengan angkuh.
Dengan gerakan kasar, ia menyambar beberapa sapu tangan dari meja. "Apa ini? Sampah kain dijual di tempat makan? Mana makananmu? Mana setoranmu?" gertaknya dengan suara serak yang memuakkan.
Valaria tetap tenang, meski jemarinya sedikit bergetar di bawah meja. Ia sudah menyiapkan skenario ini. Sapu tangan yang diambil preman itu adalah produk "umpan" kain-kain yang memiliki sedikit cacat produksi atau sulaman yang kurang rapi akibat gangguan kemarin. Barang-barang terbaiknya sudah ia sembunyikan dengan aman di dalam tas kecil di pangkuannya.
"Hanya ini yang ada. Kedai kami rusak, kami tidak bisa memasak," jawab Valaria datar.
"Jangan banyak alasan! Mana uang hasil jualanmu hari ini?" tuntut preman satunya lagi.
Valaria mengeluarkan sejumlah uang receh yang sudah ia pisahkan sebagian kecil dari hasil penjualannya. "Ambil saja. Hanya ini yang saya dapat pagi ini."
Kedua pria itu tertawa meremehkan, merasa telah berhasil mengintimidasi gadis itu. Mereka merampas uang dan sapu tangan rusak itu, lalu melenggang pergi menuju lorong pasar yang sepi.
Tanpa membuang waktu, Valaria bangkit. Dengan langkah ringan dan waspada, ia membuntuti mereka dari jarak aman. Ia mengikuti mereka melewati tumpukan karung-karung beras dan aroma busuk sampah pasar yang menyengat, hingga kedua pria itu berhenti di sebuah gang sempit di antara dua tembok ruko yang tinggi.
Di sana, di dalam bayang-bayang yang gelap, seseorang telah menunggu. Valaria menahan napas saat sosok itu menampakkan wajahnya. Laksmin.
Laksmin berdiri dengan ekspresi dingin. Ia menerima uang dan sapu tangan hasil rampasan tersebut dengan senyum kemenangan yang keji. Valaria merasakan dadanya sesak, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendidih. Sekarang segalanya menjadi jelas. Dalang di balik hancurnya kedai keluarga mereka, trauma orang tuanya, dan luka-luka yang diderita Jaya adalah dia. Karena dibutakan oleh dendam dan iri hati.
Tanpa menimbulkan suara, Valaria berbalik. Ia menyimpan rahasia gelap itu rapat-rapat; sebuah amunisi yang akan ia gunakan di waktu yang tepat.
Valaria tidak kembali ke rumah dengan tangan hampa. Ia menghabiskan sisa siangnya dengan berkeliling ke toko-toko tekstil besar di area pasar. Ia mendatangi Bu Santi, pemilik toko kain terbesar di sana.
"Bu Santi, saya punya contoh sapu tangan sulaman tangan. Mungkin Ibu tertarik untuk menjadikannya pelengkap di toko Ibu?" Valaria menawarkan dengan profesionalisme yang mengejutkan bagi gadis seusianya.
Bu Santi, yang sudah puluhan tahun bergelut dengan kain, langsung mengenali potensi komersial dari karya Valaria. "Sulamannya sangat halus, Val. Ini bisa laku untuk kado atau suvenir."
Hingga sore menjelang, Valaria berhasil menjual total 18 helai sapu tangan. Dengan pendapatan sebesar Rp72.000,00 di tangan, ia merasa seperti pemenang. Angka itu memang belum bisa menutup seluruh kerugian akibat perusakan kedai, namun itu adalah simbol perlawanan yang nyata.
Alih-alih pulang, ia menuju ke lapak grosir kain.
"Dua meter katun polos kualitas terbaik, beberapa palet benang sulam warna baru, dan satu rol karet elastis," ucapnya tegas kepada pedagang grosir.
"Tiga ribu rupiah per meter untuk kainnya, ya, Dek?" tanya si pedagang.
Valaria mengangguk pasti. Ia tidak hanya membeli bahan untuk sapu tangan. Di kepalanya, sebuah rencana baru telah tersusun. Jika Laksmin ingin menghancurkan bisnis kuliner keluarganya, maka Valaria akan membangun kerajaan baru dari selembar kain dan sebatang jarum. Fajar baru di Gerbang Hijau baru saja dimulai.