Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo
Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.
"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.
"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.
"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.
Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.
Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.
---
21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Pagi ini sesuai dengan perjanjian semalam antara Sindi dan Sasa, di mana Sasa akan mencoba bertahan dan membuat Brian yang keras kepala berubah menjadi lebih baik. Hingga Sindi mengatakan jika Brian suka dengan wanita suka memasak, dan juga melakukan hal dapur sendiri. Dan begitu juga dengan pagi ini Sasa mencoba membuatkan kopi untuk Brian.
"Selamat pagi Mas," sapa Sasa dengan senyum manisnya, kini Sasa sudah selesai mandi dan memakai daster rumahan. sementara Brian kini tengah duduk di kursi rodanya, dan merasa sedikit takut pada Sasa sebab senyum Sasa di pagi ini terasa menyeramkan.
"Em," jawab Brian tanpa senyuman.
"Senyum dikit kek, di sapa juga. Nggak bisa senyum ya? Sini aku ajarin," Sasa setengah berjongkok dan tangan Sasa menarik sudut bibir Brian kemasing-masing sudutnya, hingga dengan terpaksa bibir Brian tertarik membentuk senyuman yang terlihat aneh, "Gini senyum tuan dingin, hidup mu nggak pernah bahagia ya? Makanya senyum aja nggak bisa," ucap Sasa lagi. Setelah itu ia keluar dari kamar menuju dapur.
Sementara Brian merasa panas dingin, saat Sasa tertunduk rasanya ada yang terlihat setengah menyembul. Hingga mendatang jiwa kelelakiannya, "Sial.....apa dia sengaja," gumam Brian kesal.
Sesaat kemudian Brian kembali lagi ke kamar, dengan membawa secangkir kopi, "Ini kopinya Mas," Sasa memberikan kopi itu pada Brian.
Lalu bagaimana dengan Brian, Brian menatap kopi itu penuh tanya hingga lama terdiam sambil menatap cangkir tersebut.
"Nggak ada racun, aku lagi baik. Mas juga nggak aneh-aneh, kalau Mas aneh-aneh baru aku jatuhin racun," ucap Sasa dengan santai pada Brian.
Brian mendeguk saliva, ia tetap terlihat tenang walau pun hatinya kini malah merasa takut pada Sasa, ingin rasanya Brian berkata kasar namun bibirnya terasa berat untuk berucap saat berhadapan dengan Sasa.
"Sini," Brian mengambil secangkir kopi yang di berikan Sasa padanya, dan ia mendeguk ya, "Buuuurrrrrrrr......." Brian menyemburkan kopi itu ke lantai, lalu menatap Sasa kesal, "Ini kopi apa pahit sekali, apa gula di dapur habis?" kesal Brian.
"Kopinya pahit Mas? Aku sengaja nggak kasih gula, biar Mas tau. Aku hidup sama Mas itu rasanya pahit," tutur Sasa tanpa dosa.
Brian diam mendengar jawaban Sasa yang tak masuk akal, sesaat kemudian Sindi datang. Karena pintu terbuka lebar ia langsung saja masuk.
"Sasa, Brian, ini ada apa Nak?" tanya Sindi yang melihat ada kopi di lantai.
"Kopi buatan Sasa pahit Bu," kata Brian dengan kesal.
"Kamu nggak kasih gula Nak?" tanya Sindi.
"Kasih Bu, tapi Sasa bingung buat kopi itu caranya gimana. Sasa kasih kopinya dua sendok terus gulanya setengah sendok Bu, Sasa beneran nggak bisa buat kopi Bu," jawab Sasa yang merasa malu di hadapan Sindi, sebab ia tak pandai membuat kopi.
"O.....iya sudah tidak apa, tapi kamu harus belajar ya Nak? Ibu juga dulu di ajarin cara buat kopi sama Ayah," kata Sindi dengan senyumannya, ia mengerti jika Sasa tak bisa mengerjakan pekerjaan dapur. Sebab Sasa adalah anak yang di manjakan oleh kedua orang tuanya. Dan terlahir dari keluarga berada.
"Maaf ya Bu," Sasa tersenyum canggung dan merasa malu.
"Sudah-sudah, biar nanti Brian yang ajarin," Sindi menatap Brian yang terlihat kesal dengan apa yang di katakan Sindi, "Brian kamu ajarkan Sasa buat kopi ya Nak?" kata Sindi pada Brian. Sebenarnya bisa saja ia yang mengajar Sasa cara membuat kopi, namun Sindi ingin membuat Brian dan Sasa terus dekat hingga Brian berubah menjadi lembut pada Sasa.
"Em....." jawab Brian dengan terpaksa.
"Ibu pamit dulu.....Ibu mau temanin Ayah ke kantor."
"Iya Bu," jawab Sasa.
Sindi pergi meninggalkan Sasa dan Brian, ia benar-benar ingin membuat keduanya dekat dan saling bergantung satu sama lain. Hingga Sindi memilih pergi menemani Pasha ke kantor.
"Kenapa masih berdiri di sana?" tanya Brian dengan suara berat dan tertahan.
"Terus?"
"Ayo ke dapur, aku mau kopi."
"Mas beneran sakit nggak sih?" Sasa menatap Brian dengan penuh selidik.
"Maksud mu?"
"Semalam aktif banget soalnya," Sasa menaikan alisnya menyindir Brian, "Nggak yakin deh kalau Mas beneran sakit," kata Sasa lagi, sebab Sasa ingat sekali saat Brian mengungkungnya. Brian terlihat tak kesusahan dan juga kesakitan, hingga Sasa ragu jika Brian benar sakit.
"Cepat dorong!" Brian kesal, sebab Sasa sepertinya terlalu sulit untuk di bohongi. Sasa punya seribu cara untuk membalas dan mencari kebenarannya.
"Iya....." Sasa mendorong kursi roda Brian dengan sangat kencang, dan kini mereka masuk ke dalam lift. Sebab kamar Brian ada di lantai tiga, sedangkan mereka harus turun ke lantai satu. Dengan Brian yang duduk di kursi roda sungguh tak memungkinkan jika mereka turun menggunakan tangga seperti biasanya.
TING.....
Pintu lift terbuka, Sasa kembali mendorong kursi roda Brian dengan kencang.
"Sasa apa tak bisa pelan?" jantung Brian sedikit berdegup, sebab Sasa yang sesukanya mendorong kursi roda.
"Mas jangan bohong, wajah Mas itu bohong padahal Mas sehat ngaku sakit. Mending sekalian aja aku buat Mas jatuh dari kursi roda ini, biar sakit beneran," jawab Sasa, kini keduanya telah sampai di dapur.
"CK......." tak ada kemenangan sedikit pun pada Brian saat berhadapan dengan Sasa, "Cepat buatkan kopi," ketus Brian.
"Ok.....tapi caranya gimana?"
"Gulanya dua sendok, kopinya satu sendok saja," ucap Brian, masih dengan raut wajah dingin.
"Ok....." Sasa mulai membuat kopi untuk Brian sesaat kemudian ia memberikan cangkir kopi pada Brian, dan Brian mendeguk nya, "Enak nggak?" Sasa menantikan jawaban Brian.
"Lumayan."
"Ish.....jawabannya cuman gitu," Sasa kesal dengan jawaban Brian.
"Terus aku harus jawab apa, dan bilang apa?"
"Tau ah....." Sasa mengibaskan tangannya karena kesal pada Brian.
"Kopinya enak," Brian mengulangi kata-katanya dengan jelas, agar Sasa lebih jelas mendengarnya.
"Tau, kan aku udah nyoba tadi," jawab Sasa menunjukan dua baris gigi rapinya, sementara Brian menatap penuh bingung, "Tadi pas aku buat, aku minum dulu sedikit, sisanya aku kasih sama Mas," jelas Sasa.
"Jadi kamu kasih saya kopi sisa?" Brian tak habis pikir mengapa Sasa selalu berbuat hal yang tak ia sukai, Brian sangat tidak suka di beri sisa.
"He'um," Sasa mengangguk tanpa dosa, sementara Brian masih menatapnya dengan kesal.
"Saya tidak suka di beri sisa, dan kalau kamu berani memberi saya sisa lagi. Awas saja!" Brian memberi peringatan pada Sasa, sambil meletakan cangkirnya di atas meja. Lalu ia berniat pergi, namun tak sengaja Sasa tersandung kaki kursi roda Brian.
BUUUKKKK..
"Aaaaa....." teriak Sasa, dan Sasa tersadar ternyata ia terduduk di pangkuan Brian.
DEEG!
Mendadak jantung Brian berdetak tak karuan.
***
**Like, Vote, Kome, Bintang lima.
Terima kasih**.