Kendrict Arsenio, laki-laki 29 tahun yang berbakat dengan keahliannya dalam bidang kuliner tersebut mendekati keluarga konglomerat, anak tunggal dari Maheswari family demi membalaskan rasa sakit hati saudaranya yang telah meninggal akibat depresi berat, tidak hanya kehilangan seorang saudara, Ken juga kehilangan ibunya.
Ken menyusun strategi untuk mendapatkan perhatian dari keluarga Maheswari, ia pun berencana akan menikahi Felicia Maheswari dengan berbagai cara. Dan dengan ketampanan juga rasa percaya dirinya yang tinggi, Ken berencana membuat Felicia tergila-gila padanya, kemudian mencampakkan wanita itu begitu saja, seperti yang pernah Felicia lalukan pada saudaranya.
Bagaimana kisah pembalasan dendam ini akan berakhir, apakah Ken bisa menampik kecantikan dan kebaikan Felicia yang tulus?
Silahkan baca kisahnya 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
R&L bab 21
Sejak pukul empat sore, rumah keluarga besar Maheswari sudah di datangi banyak sekali tamu-tamu besar yang berasal dari sahabat dan rekan bisnis dari keluarga tersebut.
Ken berdecak takjub, pesta pertunangannya dengan Felicia di gelar dengan begitu mewah. Tidak hanya dari segi dekorasi dan perjamuan makan, bahkan souvenir yang mereka hadiahkan untuk para tamu juga sangat menggiurkan.
"Apa ini sakit?" tanya Felicia, ia membantu Ken mengoles obat pada luka-luka di bagian punggungnya untuk meredakan rasa nyeri.
"Nggak," jawab Ken.
"Maaf, Ken. Karena aku, kamu ikut terlibat permasalahan dengan Evans. Aku nggak tau kalau dia akan bertindak sejauh ini, kalau aku tau pada akhirnya kamu akan jadi korban, lebih baik aku nggak perlu menikah dengan siapapun," ucap Felicia, permohonan maaf dan rasa menyesalnya tulus ia ucapkan.
Ken memasang kemejanya kembali, ia berdiri dan saling berhadapan dengan Felicia. Wajah wanita itu, masih sangat cantik, tubuhnya masih seramping remaja, di usianya yang sudah lebih dari tiga puluh tahun, Felicia sama sekali tidak terlihat tua.
Ken mengulurkan tangan memeluk, entah mengapa, Felicia bagai terhipnotis dan jatuh begitu saja ke dalam pelukan Ken, ia menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki yang akan menjadi tunangannya malam ini.
"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku," ujar Ken.
Meskipun insiden kemarin menyakiti dirinya dan membahayakan keselamatannya, Ken senang, karena dari kejadian itu, Felicia kini bisa menampakkan rasa perhatian dan kekhawatirannya. Perlahan, Ken akan membuat wanita itu tergila-gila padanya.
Keduanya melepaskan pelukan saat pintu kamar di ketuk dari luar, rupanya, Freya mengingatkan jika mereka harus segera berganti pakaian dan berdandan karena sebagian besar tamu sudah hadir.
Freya menggandeng kakaknya menuju ruang make up, sedangkan Ken masih berada di kamar untuk berganti pakaian.
"Kak, kamu terlihat bahagia," ucap Freya menggoda.
"Hah? biasa aja!" jawab Felicia salah tingkah.
"Lihat, wajahmu bersemu merah." Freya menunjuk pipi kemerahan Felicia. "Apa kamu bahagia karena akan segera punya pasangan hidup?"
Felicia menggeleng, ada kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan pada siapapun, karena ia merasa jika perasaannya belum benar-benar bisa di percaya.
"Mungkin aku cuma sedang merasa bersalah pada Ken, jadi aku merasa sangat mengkhawatirkannya," jawab Felicia.
"Serius? cuma khawatir? bukan, Kak. Kamu terlihat, sedang jatuh cinta," goda Freya.
"Sudahlah, bukan umurku lagi untuk bermain cinta-cintaan!"
Freya senang sekali menggoda Felicia, meskipun wanita itu tidak mengatakan perasaannya yang sebenarnya, Freya sudah bisa menilai, bahwa Felicia memiliki ketertarikan sendiri pada sosok Kendrict.
Gaun berwarna silver yang di penuhi taburan kristal itu terlihat sempurna membalut tubuh Felicia, jika tidak pernah mengenal wanita itu, pasti berpikir jika Felicia masih berumur dua puluhan.
Gaya rambut yang di gelung sederhana membuat tampilannya masih terlihat elegan.
Malam ini, Felicia meminta make up artisnya untuk tidak membuatnya terlihat berbeda. Felicia lebih suka jika ia masih tampak seperti Felicia yang biasanya.
"Aku nggak suka terlalu mencolok di bagian ini," protes Felicia saat ia tidak setuju dengan pemilihan eyeshadow.
"Kamu cantik." Suara pujian dari arah belakang mengejutkan semua orang di ruang make up. Rupanya, Ken sudah memperhatikan dengan baik penampilan calon tunangannya malam ini.
Beberapa orang yang awalnya mengelilingi Felicia untuk menata rambut dan memoles wajahnya, mulai menyingkir dan membiarkan Ken mendekat.
Ken berdiri di belakang kursi rias tempat Felicia duduk, ia sedikit menunduk dan berbisik pelan di telinga Felicia.
"Kamu sudah cantik, sangat cantik," puji Ken, lalu tanpa jawaban, ia meninggalkan Felicia yang tampak gugup dengan bisikan parau di telinganya barusan.
Felicia memegang dadanya yang berdegup kencang, entah mengapa, kata-kata dan suara Ken terasa langsung menembus gendang telinga dan berakhir di hatinya.
Felicia terbiasa mendengar pujian atas kecantikannya dari banyak orang, hampir setiap laki-laki yang pernah ia temui, selalu memuji dirinya. Namun entah mengapa, justru hanya Ken yang membuat dirinya berdebar saat pujian singkat itu ia dapatkan.
"Apa ini, kenapa rasanya ... ah!" Felicia memejamkan mata sejenak, bisikan Ken masih terngiang-ngiang di telinganya, laki-laki itu, berhasil membuat Felicia gugup dan salah tingkah.
Kndrict duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Felicia, para make up artist membantu laki-laki itu menyamarkan lebam kehitaman dan beberapa luka memar di area wajah. Meski rasanya tidak nyaman karena tidak terbiasa di make up, Ken menuruti semua saran yang di berikan demi kebaikan dirinya dan berlangsungnya acara malam ini.
Laki-laki itu mengenakan kemeja hitam, dasi dan jas warna hitam. Warna itu sangat cocok untuknya, terlihat tampan dan mempesona.
Memperhatikan dari kejauhan, Felicia mulai tertarik dan mengakui dalam diam bahwa Ken memang sosok laki-laki tampan, tubuhnya kekar berotot dengan dada bidang, meski memiliki rambut gondrong, penampilan Ken terlihat selalu rapi.
Ken yang bersikap seolah-olah tidak tau bahwa Felicia memperhatikannya, ia tersenyum samar. Perlahan namun pasti, ia pasti akan bisa menakhlukkan hati Felicia dan membuat wanita itu memohon cinta padanya.
🖤🖤🖤
Pukul delapan malam, semua para tamu undangan berkumpul, hiburan juga jamuan makan malam sangat megah dan mewah, dari semua sisi dekorasi, pesta pertunangan ini tidak kalah mewah dengan pesta pernikahan pada umumnya.
Pembawa acara memperkenalkan diri lalu menuntun acara di tiap-tiap sambutan dari keluarga Maheswari, hingga pada acara inti, Felicia dan Ken berdiri saling berhadapan di tengah-tengah para tamu undangan.
"Selamat malam. Salam perkenalan, saya adalah Kendrict Arsenio, laki-laki yang bermimpi bisa menikahi wanita cantik yang sudah saya cintai sejak pandangan pertama."
"Kalian tentu melihat, bagaimana cantiknya Felicia Maheswari, calon tunangan saya. Saya tidak terkejut jika Felicia adalah wanita cantik lahir dan batinnya, karena saya mengenal kedua orang tua Felicia sebagai orang-orang yang sangat istimewa."
"Saya sempat berpikir mimpi itu hanyalah bunga tidur, namun nyatanya, semua akan menjadi kenyataan malam ini juga," ucap Ken.
Setelah Ken memperkenalkan diri pada semua tamu undangan, ia dengan santai mengungkapkan siapa jati diri dan pekerjaannya. Ia tidak malu meskipun hanya seorang koki, namun ia meyakinkan para tamu, bahwa keluarga Maheswari adalah keluarga yang menomorsatukan kebahagiaan, bukan harta dan kekayaan. Dan Ken adalah bukti, bahwa cinta dan kasih mampu mengalahkan keegoisan duniawi.
"Felicia Maheswari, takdir mempertemukan kita sebagai sepasang kekasih. Maukah kamu, menjadi bagian dari hidupku, penyembuh luka pembawa bahagia. Aku mencintaimu, sebesar hati yang aku miliki," ujar Ken sambil saling berpandangan dengan Felicia.
Felicia, matanya berkaca-kaca menahan haru. Apakah ini hanya sandiwara, apakah ini bohong, kenapa Ken seakan tulus mengatakan cintanya, batin Felicia terus bertanya.
🖤🖤🖤