Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAUDARA?
Flashback dua tahun yang lalu.
"Kau darimana?" Tanya Bellinda galak pada Clarissa yang baru pulang.
Sudah dua hari Bellinda kebingungan mencari gadis ini, dan sekarang Clarissa pulang dengan santainya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Menyegarkan pikiran dari ceramah-ceramah pedasmu," sahut Clarissa menatap tajam pada sang kakak.
"Kau pergi bersama Arkan lagi?" Tebak Bellinda mencekal tangan Clarissa yang sudah akan berlalu masuk ke kamarnya.
"Ya! Kakakku memang cerdas!" Clarissa menipiskan bibirnya.
"Bisakah kau tidak jadi gadis murahan seperti ini, Cla?" Geram Bellinda seraya bersedekap marah.
"Gadis murahan apa maksudmu?" Sergah Clarissa yang ikut-ikutan marah dan merasa tak terima.
"Pergi bersama seorang pria yang tidak memiliki ikatan apapun denganmu selama dua hari. Itu namanya apa kalau bukan gadis murahan?"
"Kami tidak melakukan apapun! Aku hanya menenangkan pikiranku dan Arkan menemaniku. Hanya itu!" Jawab Clarissa dengan nada berapi-api.
"Siapa yang tahu?" Bellinda balas mendelik ke arah Clarissa.
"Apa kau merasa iri pada diriku yang selalu dengan mudah bergonta-ganti pacar? Sedangkan kau sendiri hingga sekarang tidak pernah punya pacar dan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang perawan tua," cecar Clarissa yang mengejek Bellinda dengan nada penuh kesombongan.
"Tutup mulutmu yang tidak sopan itu!" Bellinda menuding ke arah Clarissa.
Clarissa mendongakkan kepalanya seolah menantang sang kakak.
"Bukankah aku baru saja mengatakan sebuah fakta?"
"Memangnya kau pikir aku melakukan ini semua untuk siapa? Selama sepuluh tahun ini aku selalu memberikan segalanya untukmu!"
"Untukmu!" Sergah Bellinda yang suaranya menggema ke seluruh ruangan.
"Sayangnya aku tak butuh itu semua," sinis Clarissa membantah kata-kata Bellinda.
"Mama dan papa sudah pergi dengan tenang. Aku sudah bisa menerimanya dengan lapang dada sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi kau!" Clarissa ganti menuding ke arah Bellinda.
"Kau yang tak pernah bisa menerima kenyataan itu. Kau terus saja berkubang dengan semua kesedihanmu, lalu kau tumbuh menjadi wanita ambisius yang gila kerja, hingga kau lupa bagaimana caranya hidup bahagia," imbuh Clarissa panjang lebar meluapkan semua uneg-uneg di dalam hatinya.
"Lalu sekarang kau merasa iri melihatku yang bisa hidup bahagia dan menikmati setiap detik berharga dalam hidupku. Kau mulai mencari-cari kesalahanku, melarangku berbuat ini dan itu, sok-sokan mengatur hidupku!"
"Memangnya kau siapa?" Clarissa masih belum mau berhenti menumpahkan semua emosinya.
"Aku kakakmu!" Sergah Bellinda cepat dan tegas.
"Kalau begitu, bersikaplah seperti seorang kakak yang seharusnya, dan tidak perlu berlebihan dalam mengawasiku!" Pungkas Clarissa sebelum berlalu meninggalkan Bellinda.
"Apa kau pikir Arkan itu pria yang baik?" Pertanyaan dari Bellinda membuat Clarissa menghentikan langkahnya.
"Aku tahu semua hal tentang Arkan. Dan aku yakin, Arkan pria yang baik," jawab Clarissa tanpa menoleh ke arah Bellinda.
"Kau mengatakan kalimat yang sama untuk pacarmu sebelumnya. Namun nyatanya, hubunganmu dengan para pria itu selalu berakhir dengan cepat," sindir Bellinda pedas.
Clarissa kehilangan kata-kata.
"Aku tidak pernah melarangmu menjalin hubungan dengan pria manapun, Cla! Tapi cobalah untuk berkomitmen dalam sebuah hubungan dan tidak bergonta-ganti pasangan seperti seorang gadis murahan!"
"Karena saat orang-orang di luar sana mengatakan kalau Clarissa Halley adalah seorang player yang hobi bergonta-ganti pacar, hatiku sakit. Kau adikku dan aku menyayangimu. Aku sungguh tidak rela mereka mengatakan hal buruk tentangmu," tukas Bellinda yang sudah mulai menurunkan emosinya.
"Kenapa harus peduli dengan omongan-omongan tidak penting?" Sahut Clarissa sekenanya.
Gadis itu berlari menaiki tangga dengan cepat dan segera menghilang ke kamarnya yang ada di lantai dua.
****
Sepekan berlalu,
"Bellinda!!" Clarissa menggedor pintu kamar Bellinda dengan membabi buta.
"Bellinda! Buka pintunya!" Teriak Clarissa yang wajahnya kini dipenuhi airmata.
Pintu dibuka dari dalam, Bellinda tampak terkejut melihat Clarissa yang wajahnya merah padam dan berurai airmata.
"Kenapa kau mengetuk pintu kamarku seperti orang kesetanan?" Tanya Bellinda yang juga terlihat emosi dengan sikap Clarissa.
"Kau sudah membunuh Arkan!" Tuduh Clarissa seraya menuding ke arah Bellinda.
"Apa maksudmu?" Tanya Bellinda tak mengerti.
"Kau sudah membunuh Arkan!"
"Pasti kau yang menyuruh pengawal bodohmu itu untuk mengintai Arkan, hingga Arkan lari ketakutan dan mengalami kecelakaan," cecar Clarissa yang tangisnya semakin pecah.
"Jangan menuduh sembarangan!" Sergah Bellinda marah karena merasa tidak terima dengan tuduhan dari Clarissa.
"Aku tidak menuduh! Aku bicara kenyataan! Sekarang Arkan meninggal karena perbuatanmu!" Clarissa jatuh terduduk di lantai dengan wajah yang sudah penuh airmata.
Ingin rasanya Bellinda merengkuh adiknya itu ke dalam pelukan, namun tuduhan dari Clarissa terus saja berputar-putar di kepala Bellinda.
Bellinda berbalik dan membanting pintu kamarnya dengan kasar.
Gadis itu seolah membiarkan Clarissa yang masih menangis terisak di depan kamarnya.
Hari selanjutnya, Bellinda melihat Clarissa yang duduk termenung di sofa ruang tengah mengenakan baju serba hitam. Wajah gadis itu terlihat sembab dan sayu.
Bellinda sama sekali tidak menyapa Clarissa dan berlalu begitu saja seolah tak peduli.
Dan di hari-hari selanjutnya, Clarissa dan Bellinda hanya saling diam tanpa bertegur sapa, meskipun keduanya tinggal di rumah yang sama.
Clarissa masih pada pendiriannya dan terus menganggap kalau kematian Arkan adalah karena kesalahan Bellinda.
Sekuat apapun Bellinda membela diri dan menjelaskan, semuanya hanya sia-sia belaka. Tuduhan Clarissa seperti sudah melekat pada diri Bellinda.
"Aku akan ke Paris," ucap Clarissa suatu pagi, sebelum Bellinda berangkat ke kantor.
Bellinda baru akan menjawab, tapi Clarissa sudah kembali berucap dengan cepat,
"Aku tidak minta persetujuanmu. Aku hanya sedang memberitahumu."
"Apa kau sudah memikirkan hal ini masak-masak?" Sergah Bellinda sebelum Clarissa kembali bicara.
"Keputusanku sudah bulat. Silahkan kau kuasai Halley Development, karena aku akan menciptakan duniaku sendiri di Paris dan mengejar semua yang menjadi mimpiku," jawab Clarissa penuh ambisi.
"Aku berangkat malam ini," pungkas Clarissa sebelum berlalu dari hadapan Bellinda.
Bellinda hanya menghela nafas dan memilih untuk segera berangkat ke kantor.
Dan sejak detik itu, Bellinda memutuskan untuk pindah ke apartemen pribadinya. Bellinda menjadi wanita yang gila kerja, dan seolah tak peduli lagi pada Clarissa.
Pun dengan Clarissa, gadis itu benar-benar menciptakan dunianya sendiri di belahan bumi yang berbeda. Clarissa memang beberapa kali pulang ke negara ini. Namun gadis itu tak pernah berniat menemui Bellinda saat pulang. Biasanya Clarissa hanya akan mengunjungi paman Owen.
Hubungan saudara Bellinda dan Clarissa semakin merenggang karena perseteruan tidak jelas tersebut. Baik Clarissa maupun Bellinda seperti tidak ada yang berniat memperbaiki hubungan di antara mereka.
Dan paman Owen hanya bisa memberikan nasehat-nasehatnya pada Bellinda maupun Clarissa. Pria paruh baya itu tidak bisa berbuat banyak pada dua keponakannya yang sama-sama keras kepala tersebut.
Entah kapan, hubungan Bellinda dan Clarissa akan membaik.
Flashback off
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠