Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Truth and Dear
...Selamat Membaca📖...
...🎨🎨🎨...
Malam ini malam minggu, mereka sedang menginap di rumah Naura. Kebetulan kedua orang tua Naura sedang pergi keluar negri, jadi seperti biasa Naura selalu mengajak ketiga sahabatnya untuk menginap disini. Sebagai sahabat mereka selalu menerima tawaran Naura dengan senang hati, terutama Putri, menurutnya rumah Naura bak mini market terdapat banyak makanan.
Mereka sudah mengganti pakaiannya dengan onesie unicorn masing masing. Mereka menyalakan bok musik, kemudian berjoget joget tidak jelas di dalam kamar Naura. Jangan tanya keadaan kamarnya sekarang, sudah seperti kapal pecah. Kata emak-emak sekarang!
"LEBIH KENCANG LAGI NA!" teriak Jihan
Naura memutarkan lagi tombol volume. Bi Yarti, asisten rumah tangga di rumah ini, hanya menggeleng heran. Suara musik dari kamar Naura terdengar sampai bawah.
Setelah mereka sudah mulai capek berjoget-joget, mereka makan dan minum yang sudah di siapkan bi Yarti.
"Gimana kalo kita main truth and dear?" ujar Caramel.
"Setuju," ucap Jihan dan Naura secara bersamaan.
"Nggak ah, males gue." ucap Putri
Naura melirikkan matanya ke Putri. "Kenapa? lo takut ya rahasia lo kebongkar?"
"Rahasia?"
"Iya, rahasia ten-"
"Okey...okey gue ikut deh."
"Yah gitu dong, kan asik!"
Naura mengambil meja bundar yang tidak terlalu besar dan tinggi, kemudian mengambil botol kaca yang ada diatas meja belajarnya.
"Siap semuanya?" tanya Naura sembari memutar botol tersebut.
Semuanya mengangguk.
Selang beberapa detik botol itu mulai berhenti secara perlahan. Membuat mereka langsung menahan nafas seketika. Teriakan Naura mulai menggema, saat botol itu berhenti mengarah ke Putri Audryan--sahabatnya yang paling ngeselin.
"Ayo pilih truth and dear?" tanya Caramel, menoleh ke Putri yang wajahnya sudah berubah menjadi masam.
"Cepet dong Put, gue juga mau nih!" ucap Jihan
Putri mendengus kesal. Sialan, harusnya dia tadi tidak usah ikut, pasti Naura akan memberi pertanyaan atau pun tantangan yang menjebak dirinya.
"Ayo dong Putri sayang." ucap Naura dengan nada meledek.
"Okey, gue pilih dear."
Naura memandangin Jihan dan Caramel bergantian, ada udang dibalik batu nih. Kemudian Ia memandang Putri, Putri menatap Naura sengit, jangan! udah lah mau sampai kapan pun rahasia juga akan terbongkar.
"Sekarang...lo chat Rival, dan bilang kangen sama dia!"
"Apa, gila ya lo?!"
"Tunggu-tunggu, kenapa jadi Rival yang dibawa-bawa?" ucap Caramel
"Gina ya, sorry Put, gue nggak bisa nyimen rahasia lo teru terusan." Putri menatap Naura, pasrah. Pasti habis ini dia kena bully deh.
"Apaan si, cepetan jangan bikin orang penasaran deh." ujar Jihan
"Jadi sebenarnya, dulu itu--"
"Gue mantanya Rivan, puas lo Na?!" Putri memilih untuk mengaku saja, dari pada nanti Naura menambah-nambahkan cerita yang nggak jelas.
"Hah, beneran lo?" tanya Jihan dan Caramel.
"Iya,"
"Iya dulu cuma sebulan doang, parah banget." korek terus Na....
Dulu memang mereka berdua pernah pacaran selama sebulan, secara diam diam. Atau bahasa gaulnya adalah Backstreet, hanya Naura dan geng Antraxs saja yang tau, tapi nggak semua anggota Antraxs tau. Gimana tidak Rival orangnya kaku dan dingin, sulit untuk terbuka apalagi soal perasaan. Pokokmya lebih kaku dari pada Gibran.
"Udah janga bahas itu sekarang, gue ganti truth aja deh."
"Boleh tapi ada satu syarat, lo harus ceritain semuanya sama kita tentang lo dan Rival dulu." ucap Caramel
"Okey,"
"Okey, pertanyaannya adalah....lo masih sayang nggak sama Rival? jujur lo!"
"Nggak,"
"Beneran?"
"Iya, udah ah skip aja." ucap Putri, kemudian Ia memutar lagi botol tersebut. Selang beberapa detik botol itu mengarah ke Caramel Clarissa. "Nah, giliran lo Mel."
"Iya gue tau."
"Birarti lo harus pilih dare!" ucap Jihan tersenyum.
"Iya, apa tantangannya?"
Mereka bertiga saling tatap satu sama lain, sepertinya sudah ada yang di rencanakan. Kemudian Putri membisikkan sesuatuh kepada Naura dari Naura ke Jihan. Ahaa saatnya balas dendam!
"Kalian ngomong apa si? awas aja sampai yang aneh aneh?!"
"Nggak kok," Naura menghela nafas. "Kita mau lo ngajak Gibran nge-date, terserah lo kapan."
Tukan persaan Caramel benar, pasti mereka melakukan hal yang tidak masuk akal.
"Nggak...nggak bisa dong."
"Bisa dong," saut Putri
"Sportif dong, Mel. Ini permainan doang kok!"
"Nggak ah, nggak berani gue."
"AYO...AYO...AYO. CARAMEL PASTI BISA." Lo kira sedang tanding....
"S.P.O.R.T.I.F!"
Caramel mendengus kesal dan pasrah. "Okey, puas kalian?!"
"BANGET." teriak mereka bertiga secara kompak, membuat Caramel mendengus kesal.
Pukul 22:30 semuanya sudah tidur, untungnya kasur Naura besar jadinya muat untuk empat orang.
...🎨🎨🎨...
Pagi ini semuanya sudah mengganti piyamanya dengan kaos biasa dan sudah memcuci mukanya, tentunya.
Mereka sudah memesan bubur ayam untuk sarapan pagi ini, sambil menunggu bubur ayam datang mereka mendengarkan Putri bercerita hibungannya dengan Rival, yang terjalin hanya satu bulan.
Setelah makan, Jihan mengusulkan idenya untuk pergi ke mall walaulpun dirinya sedang krisis ke uangan, seenggaknya dia bisa cuci mata disana. Semuanya setuju.
...🎨🎨🎨...
Setelah jalan mengelilingi mall, mereka hanya membeli beberapa baju saja. Kini perut mereka meminta asupan, akhirnya mereka memilih untuk makan di D'Caffe yang tak jauh dari sini.
Sesampainya di D'Caffe mereka mengambil daftar menu.
"Gue mie goreng sepesial, sama cappucino hangat. Kalian?" Naura memberikan daftar menu kepada Jihan.
"Gue sama kaya lo aja deh." ucap Putri, membuat Naura menoleh. "Ngapain lo ikut ikutan sama kaya gue."
"Suka-suka gue dong, emang lo yang mau bayarin. Hah?!"
"Gue roti bakar, sama coklat hangat aja deh." ucap Caramel.
"Kalo gue, roti bakar juga deh, kayaknya enak grimis-grimis kaya gini. Minumnya latte."
Jihan memberikan daftar menu kepada waitress, yang sudah mencatat semuanya.
Cuaca saat ini, memang sedang grimis. Mereka memilih untuk duduk di dekat jendela, sembari menikmati rintikan hujan yang jatuh. Usul siapa lagi kalo bukan Caramel.
Tak lama seseorang pelayan memberikan nampan yang berisi pesanan keempat sahabat itu, setelah pelayan itu pergi mereka langsung melahap makanannya masing-masing.
Jihan menolehkan pandangannya kearah segrombolan cowok yang baru saja datang. Dia menatap Revan, namun sayangnya kekasihnya itu tak menyadari dirinya disini. Disitu juga ada Rival, saatnya mem-bully Putri.
"Put,"
"Apa?"
"Mantan lo tu."
Uhuk!
Mendengar kata mantan, Putri langsung tersedak. Kemudian mengarahkan pandangannya sesuai telunjuk Jihan.
"Cuma mantan," ucap Putri, kemudia fokus lagi pada makanannya.
Geng Antraxs duduk di dekat pintu masuk.
"VAN." teriak Jihan, sembari melambaikan tangannya. Membuat seluruh caffe menoleh kepadanya, termasuk Revan.
Revan tersenyum.
"Ada pacar lo juga ternyata disini." ucap Bram
"Samperin sana." ujar Asep
Tanpa perlu Revan menghampiri Jihan, Jihan sendiri yang sudah berjalan menghampirinya.
"Hay, sayang." ucap Jihan yang sudah berdiri di samping Revan.
"Hay, kamu udah lama disini?"
"Lumayan."
Gibran melirik keatah Revan. "Lo kalo mau pacaran pindah tempat duduk sana!"
"Sante dong bos,"
"Oh ya Val," Jihan menggantungkan ucapannya, kemudian menoleh ke arah Putri yang sudah memelototinya. "Kata putri kangen sama lo."
"Hah?"
"Udah ah, aku mau ke sana lagi ya." Jihan mengalihkan pandangannya dari Rivan menuju Revan.
"Iya," jawab Revan dengan tersenyum.
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍