[ Gendre: Fantasy, Petualang, Sci Fi, Petualang, Romance, Slide Life, Mafia, Militery, Fanfic dan Isekai.]
[ #Arc 1: Crazy Deluxe Hotel Dungeon.
Bab 01 - Bab 33.
# Arc 2: Dungeon Master jadi petualang.
Bab 34 - Bab 53.
**
Dungeon adalah penjara bawah tanah yang sangat gelap dan menakutkan juga berbagai monster – monster kuat yang didalamnya.
Tapi, tidak dengan Bagas Wijaya, dia pada awalnya hanyalah seorang pekerja kantoran biasa namun, dia mengalami kecelakan dan jiwa dipanggil oleh seorang Dewi Keharmonisan, Arathena.
Pada saat Bagas bertemu dengan Arathena dirinya di tawarkan untuk bekerja di dunia lain dan Bagas memilih untuk perkerjaan yang santai dan tenang yaitu Dungeon Master.
Tidak hanya itu, Bagas pun mendapatkan bonus poin yang berlimpah hingga dia menciptakan Dungeonnya menjadi sebuah tempat yang nyaman dan mewah dengan berbagai fasilitas didalamnya.
Akan tetapi, permasalahan dan peperangan terus terjadi di dunia tempat yang dihuninya tersebut.
Bagaimanakah cara Bagas untuk mempertahankan hidup mewah dan santainya?
Selamat membaca, guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Touring Dungeon .
Pada saat ini Bagas berhadapan dengan orang yang disegani oleh para pedagang yaitu Rufus Hawke, ketua guild pedagang.
“Dan bisnis apa yang ingin anda tawarkan?” tanya Rufus.
Bagas tersenyum dan menjelaskan tentang bisnis penginapannya dengan fasilitas-fasilitasnya.
Saat Rufus mendengarkan itu semua, dia pun sedikit tertarik mendengarnya.
“Bagaimana?” tanya Bagas.
“Bisnis yang menjanjikan tapi bagaimana usaha itu bisa ramai jika anda menempatkan dungeon anda di tengah kota?” tanya Rufus.
“Tentu! Aku sudah memikirkannya dan ada teknologi kami yang menghubungkan kota dengan dungeon,” jawab Bagas.
“Sungguh menarik! High Reward High Risk (Hadiah besar dengan resiko besar),” ucap Rufus.
“Cihh … maaf saya lancang tapi sepertinya anda telah meremehkan para petualang dan pahlawan kerajaan kami jika dungeon menempel kota maka dungeon akan mudah untuk diserang dan dijarah seluruh harta di dungeon ini,” ucap pria besar yang menyilangkan tangannya dan tertawa remeh.
“Ucapanmu cukup besar juga sebagai petualang emas,” ucap Bagas yang tersenyum.
“Apa?!” seru kesal pria besar itu yang memegang pedang dibelakangnya tapi langkahnya terhenti disaat 2b(tobe) sudah berada dibelakangnya dengan pisau yang sudah menempel pada lehernya.
Rufus pun terkejut dan melihat kearah pengawalnya itu dan melihat seorang wanita yang sudah menodongkan pisau dilehernya hingga sedikit darah sudah menetes.
“Cepatnya! Sejak kapan bahkan aku tidak bisa melihatnya berlari, Teleportkah!” batin Rufus.
“Tobe (2b), tenanglah! Dan lepas pisau itu!” seru Bagas.
“Baik, Master!” ucap 2B.
Pria besar itu melepaskan tangannya dari gagang pedang dan terdiam.
“Aura pembunuhnya, luar biasa. Siapa sebenarnya mereka dan baru kali ini aku menghadapi dungeon yang sekuat ini,” batin pria besar saat merasakan tobe dan Bagas.
“Master Bagas, Maafkan Ignis, pengawalku ini atas pembicaraan lancangnya,” ucap Rufus yang menundukan kepala dan diikuti oleh Ignis.
“Aku akan beri tahu kepadaku bahwa aku tidak berniat untuk membangun dungeon untuk ajak pertarungan melainkan untuk berbisnis jadi jika ada ingin melawanku tentu aku layani di bawah tanah,” ucap Bagas yang menunjuk kearah bawah.
“Aku mengerti dan bolehkah aku melihat seluruh kamar dan fasilitasnya,” ucap Rufus,
“Baik, silahkan!” jawab Bagas yang berdiri dan mengajak rufus dan lainnya untuk mengikutinya.
Setelah itu Bagas pun mengawali tour nya dari Lobbi, saat disana Rufus pun terlihat senang saat melihat lukisan, patung yang begitu mewah. Setelah itu, mereka pergi ke lantai pertama yaitu restaurant.
“Bisakah aku mengicipi makanan terbaik disini?” tanya Rufus kepada pelayan disana.
“Baik, saya akan sajikan,” ucap pelayan restaurant.
Saat pelayan itu pergi, Rufus melihat Bagas.
“Master Bagas, apakah mereka Doppleganger?” tanya Rufus saat melihat pelayan wanita yang berwajah sama dengan pakaian yang sama.
“Bukan, tapi Homunculus,” jawab Bagas.
“Homunculus?!” kaget Rufus dan Ignis.
Setelah itu mereka pun duduk dan salah satu pelayan menyajikan makanannya. Rufus yang awalnya tidak yakin tapi saat melihat tektur makanan yang begitu mengiurkan, dia pun memutuskan untuk memakannya.
“Enaknya!” ucap Rufus yang menyantap makanan.
“Hmm … benar lezat sekali!” ucap Ignis.
“Master Bagas, berapa karyawan yang dipekerjakan oleh anda?” tanya Rufus.
“500 Homunculus dan 10.000 Automata,” jawab Bagas.
Rufus dan Ignis yang mendengar itu membuat tangan mereka berhenti menyantap makanan.
“Sungguh!” ucap kaget Rufus.
“Tentu saja,” jawab tegas bagas.
Rufus pun menoleh kesamping.
“Sungguh mengerikan bagaimana jika 10.000 Automata sekuat 2b dan 500 Homunculus yang begitu cerdas,” batin ketakutan Rufus dan dia mengepalkan tanganya.
“Mari kita lanjutkan!” ucap Bagas.
Bagas pun mengantarkan Rufus dan Ignis ke lantai berikutnya yang merupakan pantai.
“Wuaaahh … luar biasa. Ada pantai seluas ini di dungeon,” ucap kaget Ignis.
Tidak hanya lantai itu, setiap kunjungan lantai Rufus dan Ignis pun terkagum-kagum terutama pada cabaret club. Rufus dan Ignis disambut oleh lima wanita yang sangat cantik dengan gaun serta aksesori yang sangat mengkilau membuat kesan mewah dan elegant.
“Selamat datang, Tuan muda,” ucap serempak kelima wanita yang membungkukan badannya di pintu masuk.
Sambutan dari para wanita cantik itu membuat Rufus dan Ignis tersipu malu dan tidak bisa berkata apa –apa.
“Ketua Rufus. Saya perkenalkan mereka adalah Hostess berlian yang akan melayani orang kaya dan para bangsawan,” ucap Bagas yang memperkenalkan wanita-wanita tersebut.
Saat melihat diamnya mereka, Bagas memberikan kode agar menghampiri Rufus dan Ignis.
“Ketua, mari!” ucap salah satu Hostess yang berambut panjang hitam berwajah korea yang memeluk lengan Rufus.
Rufus pun tidak bisa menolak mereka. Tidak hanya Rufus, Ignis juga diajak juga oleh salah satu Hostess.
Ruangan Hostess yang terlihat mewah dan megah membuat kenyaman diri untuk Rufus dan Ignis. Duduk di sofa yang empuk juga minuman keras yang sangat mahal menemani mereka.
Para Hostess juga bisa memberikan perasaan nyaman kepada Rufus dan Ignis dalam berbincang-bincang.
Bagas yang dari kejauhan tersenyum saat melihat Rufus dan Ignis yang sedang bersenang-senang dan touring pun terhenti di lantai itu.
Bagas pun berbalik meninggalkan mereka sendiri dan kembali ke penthousenya.
*
Dilantai berbeda, Leanne begitu senangnya bertemu kembali rekan-rekan dan mempersilahkan masuk ke kamar VIP nya dan berbincang-bincang disana.
“Hei, apa kalian lapar? Aku akan buatkan makanan,” ucap Leanne yang berdiri dari sofanya menuju dapur.
“Leanne, kamu bisa masak?” tanya Siska.
“Tentu, Lucy mengajarkanku masak,” jawab santai Leanne.
“Lucy?! Siapa itu?” tanya Andre.
“Pelayan di dungeon ini,” jawab Leanne.
“Aku merasa Master Bagas terlalu baik kepada kita padahalkan dia Master Dungeon,” ucap Hyna.
“Hmm … aku juga merasa seperti itu,” ucap siska.
“Semoga saja memang Master Bagas baik benaran,” gumam Hyna.
“Hei, daripada memikirkan itu. Gimana kalo kita kepantai?” ucap Andre.
“Iya, benar juga. Ayo Hyna! Leanne!” ucap siska yang bersemangat.
“Ehh … makannya!” ucap Leanne.
“Sudahlah, Ayo!” ucap Siska yang menarik Leanne dari dapur.
Andre, Siska, Hyna dan Leanne yang keluar dari kamar, mereka terkejut saat melihat Rufus dan Ignis bergandengan tangan dan pergi menuju ke kamar yang lain.
“Eh, apa yang ketua dan paman besar itu lakukan?” tanya Andre.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Leanne.
“Dasar kalian ini!” ucap Hyna mengelengkan kepalanya.
“Hehe …” tawa kecil siska.
Andre dan Leanne pun bingung dengan tanggapan dari Hyna dan Siska.
Setelah itu mereka pun pergi ke pantai yang terletak di lantai dua.
*
Di lantai yang berbeda juga terlihat Lily sedang sibuk di ruang kontrolnya dan dia melaporkan kepada Master Syelle tentang kedatangan ketua Rufus beserta pengawalnya.
Ciwuung!
Suara pintu otomati terbuka di ruang control Saga Factory.
Lily pun terkejut saat melihat Bagas yang bisa membuka pintu ruangan yang dikuncinya.
“Master!” ucap Lily yang berdiri lalu menundukan kepala kehadapan Bagas.
“Lily, kamu sedang apa?” tanya Bagas.
“Aku hanya menyelesaikan beberapa program,” ucap Lily.
“Bagaimana kalau kita bermain ke pantai?” saran Bagas.
“Dengan senang hati, Master!” jawab Lily yang tersenyum.
Bagas pun tersenyum dan menarik tangan Lily ke pantai.
Ilustrasi Hostess Diamond.
Ilustrasi resepsionis dan pelayan Series.
jawab nya 👎
malah jadi ngawur thor ceritanya