NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Uang Kuliah Dinda

Awal bulan kembali tiba. Hari itu aku baru saja menerima gaji bulan keduaku. Seperti biasa, aku dan Mas Viyan menyisihkan sebagian uang untuk tabungan masa depan kami. Sebagian lagi kami gunakan untuk membantu kebutuhan rumah.

Aku berharap... Dengan begitu, Bu Mirna tidak lagi menganggap ku sebagai menantu yang hanya menumpang.

Namun ternyata... Aku kembali salah.

---

Malam itu, kami sedang makan bersama. Tiba-tiba Dinda meletakkan sendoknya dengan keras.

"Bang."

"Pelan-pelan. Ada apa sih?" Jawab suamiku.

"Besok batas terakhir pembayaran uang kuliah."

Mas Viyan mengangguk. "Berapa?"

"Rp4.500.000." jawab dinda.

Aku yang sedang minum hampir tersedak. Empat juta lima ratus ribu? Bukankah bulan lalu Dinda juga meminta uang untuk administrasi, buku, dan study tour?

Mas Viyan terlihat terkejut. "Kok besar sekali?"

"Iya. Kalau enggak dibayar besok, aku enggak boleh ikut UAS." Ucap dinda dengan enteng.

Bu Mirna langsung ikut berbicara.

"Yan. Pokoknya uang kuliah Dinda harus dibayar loh itu."

Mas Viyan menghela napas panjang. "Gimana ya ma? Mama kan tau, Gaji bulan ini sudah banyak kepakai, Ma. Lagian kemaren dinda buat bayar buku, sama apa itu."

"Karena abang, aku jadi enggak bisa ikut study tour. Masa abang tega enggak bayarin uang kuliah ku?" Ucap Dinda memelas.

"Bukan gitu, tapi abang ingat kamu tiap bulan minta uang kuliah loh."

Aku terkejut, karena dulu waktu ku kuliah, uang kenaikan tingkat di bayar setiap awal semester baru, bukan tiap bulan. Aku merasakan ada yang tidak beres dengan dinda.

"Ih kok abang jadi perhitungan banget sih?" Ucap DInda dengan melirikku sinis.

"Bukan gitu tapi.."

"Abang curiga sama aku?" Ucap Dinda meninggi.

"Enggak, bukan gitu.."

"Tinggal di bayar aja beres apa susah nya bang. Perasaan dulu abang engga seribet ini deh." Ucap DInda masih melirikku sinis.

"Yan. Jangan gitu sama adek kamu. Dulu kamu janji loh bakalan biayain adek kamu sampai sarjana, biar punya kerjaan yang lebih baik. Kenapa berubah sih. Begini aja, Kamu pinjam aja kasbon yan ke kantor. Bayar uang kuliah dinda." Ucap mertuaku.

"Maa.. tapi aku udah terlalu sering kasbon."

Aku hanya diam karena kalau aku ikut campur masalah pasti bakalan tambah runyam. Aku merasa kasihan pada suamiku, dia terus di paksa dan di tekan oleh ibu dan adiknya.

"Pelit sekali sih kamu Yan sekarang? Hanya kali ini saja itu. Adek mu kasihan."

"Maa.. kalau aku kasbon, nanti kebutuhan rumah gimana?" Ucap suamiku.

"Lah kan ada Fitri. Dia kerja, dia yang bayar semua kebutuhan ini. Kamu fokus cari uang buat dinda. Begitu aja harus di ajari sih?" Ucap mertuaku.

Aku lihat suamiku terdiam menatap kosong ke arah meja makan.

Aku menatap Bu Mirna. Beliau kembali menyebut namaku. "Atau engga fitri, kamu kan baru gajian juga. Di bantulah dinda ini, kasian dia"

Aku tersenyum sopan. "Ma...Boleh lihat dulu rincian tagihannya?"

Ruangan mendadak hening. Dinda langsung mengernyit. "Ngapain?"

"Biar jelas saja. Soalnya nominalnya cukup besar."

Dinda mendengus. "Mbak kan dulu kuliah juga kan? pengeluaran banyak, mbak harusnya tau. Emangnya Mbak enggak percaya sama aku?"

"Bukan begitu. Dulu kuliah kan bayar nya hanya 1x sebelum kuliah semester di mulai. Aku liat tagihan cuma ingin memastikan." Jelasku.

"1x tiap semester? benar itu sayang?" Tanya suamiku yang nampak terkejut mendengar itu, lalu dia langsung menatap dinda.

Belum ku menjawab, Bu Mirna langsung menyela. "Fitri! Kamu ini curiga terus sama Dinda. Dinda itu beda jurusan sama kamu. Maka nya lebih banyak"

Aku menggeleng pelan. "Ma, bukan curiga. Kalau memang uang kuliah, pasti ada tagihannya.Tunjukkan saja."

Dinda terlihat gelisah. Ia saling berpandangan dengan ibunya.

"Aduh...Kertasnya ketinggalan di kampus." Jawab Dinda cepat.

"Kalau begitu besok saja. Nanti aku ikut ke kampus sekalian membayarnya." Jawabku tenang.

Wajah Dinda langsung pucat. "Hah? Enggak usah."

"Kenapa?"

"Aku... aku malu."

"Malu kenapa?"

"Ya... malu saja."

Aku mulai merasa ada yang tidak beres.

Mas Viyan akhirnya ikut berbicara.

"Din."

"Iya, Bang."

"Kalau memang buat kuliah, dan kamu bener, enggak usah malu. Nanti Abang sama Mbak Fitri antar." Ucap suamiku.

Dinda langsung berdiri. "Pokoknya enggak usah!"

Suasana meja makan langsung berubah tegang.

Bu Mirna ikut berdiri. "Yan! Kamu kok malah bikin adikmu tertekan sih?"

"Ma, aku cuma mau memastikan." Ucap suamiku.

"Memastikan apa?"

"Supaya uangnya benar-benar dipakai buat kuliah." Jawab suamiku lagi.

Bu Mirna memukul meja pelan. "Kamu enggak percaya sama adikmu sendiri? Kamu udah bener-bener berubah Yan. Mama kecewa sama kamu"

Mas Viyan terdiam. Sedangkan aku hanya menundukkan kepala.

Aku tahu... Kalau aku ikut bicara sekarang, pasti aku lagi yang disalahkan. Akhirnya, tabungan mas Viyan lah yang jadi korban nya. Mas Viyan terpaksa mentransfer nominal uang yang di minta oleh Dinda.

"Sudah ma. Sudah Viyan transfer." Ucap Suamiku lesu.

"Tadi bilang sudah enggak ada uang. Berani nya kamu bohongin mama Yan. Awas ya, pokoknya mama enggak mau tau, setiap Dinda minta uang untuk kuliah, kamu harus transfer itu ke dia. Adek mu loh Yan bukan orang asing yang menumpang hidup" Ucap Mertuaku sambil melirik ke arah ku.

"Maksud mama apa?" Ucap Mas Viyan heran.

"Pikir aja sendiri. Huh, bikin naik darah tiap hari" Jawab mama lalu dia pun berjalan masuk ke kamarnya.

Setelah itu, aku melihat suamiku yang agak lemas dan termenung.

"Mas.. Yang sabar ya.."

"Iya sayang, maafin mas juga ya" Ucap Mas Viyan.

---

Keesokan paginya. Aku sedang bersiap berangkat kerja ketika mendengar suara Dinda menelepon seseorang. Aku tidak sengaja melewati kamarnya yang pintunya sedikit terbuka.

"Iya, nanti aku transfer. Tenang saja. Aku lagi cari uangnya."

Aku tidak terlalu memedulikannya. Mungkin memang urusan kuliah. Namun saat hendak memakai sepatu, aku melihat Dinda keluar rumah dengan tergesa-gesa.

"Din."

"Iya?"

"Mau ke kampus?"

"Iya."

"Ayo sekalian." Ajak ku.

"Enggak! Aku dijemput teman." Jawabnya terlalu cepat.

"Oh. Ya udah" Aku mengangguk.

Perasaanku mulai semakin tidak enak.

---

Sore harinya. Saat aku pulang, rumah tampak sepi. Hanya ada Bu Mirna.

"Dinda mana, Ma?" tanya ku penasaran.

"Belum pulang." Jawab datar mertuaku.

Karena tak enak mendengar nada bicara nya, aku memilih berjalan masuk ke kamar untuk berganti pakaian.

Hingga Sekitar satu jam kemudian, Dinda baru pulang.

Namun... Aku mencium aroma parfum laki-laki yang cukup menyengat dari bajunya. Di tangannya juga ada sebuah tas belanja bermerek.

"Dari kampus, Din?" Tanyaku pelan.

"Iya." Jawabnya singkat.

"Lho. Itu tas baru?" Tanyaku.

Dinda langsung menyembunyikan tas itu di belakang tubuhnya.

"Teman yang kasih. Apaan si mbak, kepo amat sih jadi orang." Jawab nya lalu cemberut dan berjalan ke kamar.

Aku tidak bertanya lagi setelah mendengar itu.

Malam semakin larut, saat semua sudah tidur, aku sedang merapikan ruang tamu. Tiba-tiba sebuah kertas terjatuh dari dalam sofa. Aku mengambilnya. Ternyata itu bukan struk pembayaran sebuah toko ponsel. Nominalnya... Rp4.500.000.

Aku langsung membelalakkan mata. Nominalnya hampir sama dengan uang kuliah yang tadi diminta. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, suara Dinda membuatku terkejut.

"Mbak!"

Aku menoleh.

Dinda berdiri di belakangku. Dengan cepat ia merebut struk itu dari tanganku.

"Ngapain sih baca baca struk gitu?" Ucapnya kesal.

"Aku enggak sengaja."

"Halah! Jangan sok penasaran deh!"

"Memang itu punya kamu?" Tanya ku heran.

Mendengar pertanyaan ku, wajahnya sedikit kaget Ia langsung menekuk-tekuk struk itu.

"Berisik!" Ucapnya tiba-tiba kesal lagi lalu ia masuk ke kamar sambil membanting pintu.

Aku berdiri mematung. Kini aku mulai yakin... Ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Dan firasatku mengatakan... Masalah ini bukan hanya soal uang kuliah. Melainkan awal dari kebohongan besar yang suatu hari nanti akan mengguncang seluruh keluarga ini.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!