NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan yang Dinanti

Malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya. Hujan turun perlahan di luar jendela kamar kecil yang disediakan oleh keluarga pasien untuk para pekerjanya. Di atas meja belajar sederhana, sebuah lampu kecil masih menyala. Di sampingnya tergeletak sebuah buku catatan yang mulai usang.

Amara duduk sendirian di tepi tempat tidur. Tatapannya kembali jatuh pada sebuah kartu nama hitam yang telah ia simpan selama hampir satu tahun.

Tulisan di atasnya masih sama. Leon Volkov dan nomor pribadi. Tidak ada nama perusahaan dan jabatan yang tertera di sana. Benar-benar sangat bersifat pribadi. Hanya sebuah nama dan satu nomor telepon.

Selama setahun penuh, kartu itu tidak pernah berpindah tempat. Berkali-kali Amara berniat membuangnya. Namun setiap kali membuka buku catatan itu, tangannya selalu berhenti. Bukan karena ia berharap bertemu lagi dengan Leon. Melainkan karena ia belum pernah benar-benar melupakan percakapan mereka di negara konflik.

"Kau hanya belum tahu siapa dirimu."

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Amara menutup mata.

Bayangan wajah Raka dan Nayla yang lebam karena dipukul teman-temannya kembali muncul. Lalu wajah Arsen yang berusaha melindungi adik-adiknya. Dadanya kembali terasa sesak.

"Aku tidak boleh hidup begini selamanya..."

Ia menggenggam telepon genggamnya. Jarinya perlahan mengetik nomor yang tertulis pada kartu itu.

Satu angka, dua angka, hingga seluruh nomor selesai. Amara menarik napas panjang. Jempolnya menggantung tepat di atas tombol panggil.

"Kalau dia sudah mengganti nomor bagaimana?"

"Kalau dia bahkan sudah lupa padaku?"

Ia tersenyum kecil.

"Aku memang terlalu banyak berpikir."

Akhirnya Ia menekan tombol hijau. Nada sambung pertama terdengar. Lalu kedua. Belum sempat nada ketiga berbunyi, telepon itu sudah diangkat.

"Halo."

Suara berat yang tenang itu masih sama. Amara langsung terdiam. Ia tidak menyangka Leon akan mengangkat secepat itu. Beberapa detik hanya diisi keheningan.

"Amara?"

Mata Amara membesar.

"Kau... tahu ini aku?"

Di seberang sana terdengar tawa kecil.

"Aku tidak punya banyak orang yang menelepon nomor ini."

Amara ikut tersenyum tipis.

"Aku mengganggumu?"

"Tidak."

Leon menjawab tanpa ragu.

"Justru aku senang akhirnya kau menelepon."

Amara kembali terdiam. Kalimat itu membuatnya kehilangan kata-kata.

Ia tidak tahu bahwa selama satu tahun terakhir, Leon memang tidak pernah mengganti nomor pribadinya.

Seolah ada keyakinan kecil dalam dirinya bahwa suatu hari nanti, perempuan itu akan menghubunginya.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Leon lembut.

Amara menarik napas.

"Aku... ingin belajar."

Leon tidak langsung menjawab. Belajar adalah satu kata yang sudah ia tunggu selama setahun.

"Apa yang ingin kau pelajari?"

"Bisnis."

Keheningan kembali memenuhi sambungan telepon. Bukan karena Leon terkejut. Melainkan karena ia tahu, Amara pasti memiliki alasan yang sangat besar hingga akhirnya mengambil keputusan itu.

"Boleh aku tahu kenapa sekarang?"

Amara menatap hujan di luar jendela.

"Aku ingin menjadi lebih kuat."

"Untuk dirimu?"

Amara menggeleng, meski Leon tidak dapat melihatnya.

"Untuk anak-anakku."

Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal...

Leon membeku.

"Anak-anak?"

"Iya."

"Boleh aku tahu, berapa usia mereka?"

"Anak sulungku, Arsen, usianya tiga belas tahun, saat ini kelas dua SMP. Raka usianya sebelas tahun saat ini kelas enam SD. Nayla usianya sembilan tahun saat ini kelas lima SD."

Leon tidak segera berbicara. Ada banyak hal yang akhirnya ia pahami malam itu. Mengapa Amara selalu terlihat begitu dewasa. Ia begitu berani mempertaruhkan nyawanya demi orang lain. Ia pun tidak pernah meminta balasan.

Karena selama ini, ia adalah seorang ibu.

"Aku seorang single mom," lanjut Amara pelan.

"Tiga anak."

"Hari ini, mereka dibully di sekolah."

Suara Amara mulai bergetar.

"Dan saat itu aku sadar..."

"...aku tidak ingin mereka tumbuh dengan merasa ibunya tidak mampu melindungi mereka."

Leon memejamkan mata. Ia pernah menghadapi perang. Ia juga pernah menghadapi pengkhianatan. Namun malam itu, ia justru lebih tersentuh oleh pengakuan sederhana seorang ibu.

"Terima kasih sudah mempercayaiku," ucap Leon akhirnya.

Amara terdiam.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa."

"Kau bisa."

Leon menjawab mantap.

"Bahkan sebelum kau percaya pada dirimu sendiri... aku sudah melihatnya."

Keheningan kembali hadir. Namun kali ini terasa hangat.

Leon kemudian membuka laptop di hadapannya.

"Aku tidak akan memintamu berhenti bekerja."

Amara mengembuskan napas lega.

"Pekerjaanmu sebagai caregiver tetap lanjutkan."

"Benarkah?"

"Itu yang membentuk siapa dirimu."

Leon berhenti sejenak.

"Aku hanya akan menambahkan dunia baru ke dalam hidupmu."

Amara tersenyum kecil.

"Itu terdengar menakutkan."

Leon tertawa pelan.

"Memang."

"Tapi aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian."

Malam itu mereka berbicara hampir dua jam. Bukan tentang keuntungan atau tentang uang. Leon justru mulai menjelaskan hal-hal paling dasar. Tentang cara berpikir seorang pemimpin dan membangun kepercayaan, serta integritas. Dan mengapa karakter seseorang jauh lebih penting daripada modal.

Sebelum telepon ditutup, Leon berkata,

"Aku akan mengirimkan jadwal belajarmu."

"Belajar lewat apa?"

"Video conference."

Amara mengangguk.

"Baik."

"Dan sekali dalam setahun..."

Leon melanjutkan.

"...aku ingin kau datang."

"Ke negaramu?"

"Iya."

"Untuk apa?"

"Melihat dunia yang selama ini hanya kau dengar."

Amara berpikir beberapa saat.

"Aku hanya bisa mengambil cuti paling lama dua puluh satu hari."

"Itu lebih dari cukup."

"Tapi aku tetap harus bekerja."

"Aku tahu."

Leon tersenyum.

"Aku tidak ingin mengambil hidupmu."

"Aku hanya ingin membantumu membangun masa depanmu."

Sejak malam itu, hidup Amara mulai berubah sedikit demi sedikit. Pagi hari ia tetap seorang caregiver. Ia tetap memandikan pasien dan membersihkan rumah. Memasak dan memberikan obat pada pasien. Juga menemani lansia berbincang hingga tertidur.

Namun setiap malam, setelah seluruh pekerjaannya selesai, Amara membuka laptop kecil miliknya. Di layar, Leon sudah menunggu.

Kadang mereka belajar membaca laporan keuangan, kadang pula mereka membahas kepemimpinan. Kadang hanya berdiskusi tentang bagaimana membangun sebuah organisasi yang mampu bertahan puluhan tahun.

Setiap tahun, Amara mengambil cuti selama dua puluh satu hari. Sebagian waktunya ia gunakan untuk pulang menemui Arsen, Raka, dan Nayla.

Sisanya ia terbang ke luar negeri menghadiri rapat, mengunjungi perusahaan-perusahaan milik Volkov, dan belajar langsung dari Leon.

Hubungan mereka tetap profesional. Leon tidak pernah menyentuh batas yang tidak seharusnya. Ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Ia hanya mengajar dan membimbing, serta menunggu Amara tumbuh dengan caranya sendiri.

Sementara itu, di kalangan para pebisnis internasional, muncul pertanyaan yang sama berulang kali.

Mengapa Leon Volkov terus menolak setiap perempuan yang dikenalkan kepadanya? Banyak keluarga kaya mencoba menjodohkan putri mereka dengan pria itu. Ada yang cantik, ada yang berasal dari keluarga konglomerat, ada pula yang memiliki pengaruh politik. Namun semuanya mendapat jawaban yang sama.

"Tuan Leon tidak tertarik."

Tidak ada seorang pun yang tahu alasannya. Tidak ada yang tahu bahwa jauh di belahan dunia lain, seorang caregiver dari Indonesia sedang belajar setiap malam melalui layar laptop sederhana.

Tanpa disadari siapa pun, perempuan itulah satu-satunya yang selama ini memenuhi hati Leon Volkov. Meskipun cinta itu tetap ia simpan dalam diam, karena baginya, melihat Amara bertumbuh jauh lebih penting daripada memaksanya menjadi miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!