"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Serangan Balik Mahkota
Surat pertama datang pukul sembilan pagi.
Kopnya tebal. Bahasanya halus. Isinya menusuk.
Balai Lelang Mahkota menyatakan CV Prasetyo telah bertindak tidak profesional, mengganggu lelang amal, dan menyebarkan keraguan tanpa dasar sertifikasi resmi. Mereka mengirim surat itu kepada Bayu serta seluruh mitra bisnisnya.
Tiga puluh dua pihak mendapat salinan.
Hotel. Kolektor. Vendor. Media industri. Dua asosiasi.
Budi membaca surat itu sekali, lalu meletakkannya di meja rapat.
"Mereka tidak menuntut dulu. Mereka menutup jalan napas."
Rizal mengangkat ponsel. "Tiga klien minta jadwal ditunda. Satu pemasok bilang perlu evaluasi kerja sama."
Hendra bersiul pendek. "Evaluasi itu bahasa halus untuk takut, rek."
Bayu duduk di ujung meja. Wajahnya tenang, tetapi matanya berhenti di satu kalimat.
`Yang bersangkutan tidak memiliki sertifikasi kuratorial yang diakui untuk memberi penilaian publik.`
Serangan itu diarahkan kepada Bayu.
Pukul sebelas, empat akun media industri mengangkat tema yang sama: `Fenomena Penilai Viral Tanpa Lisensi`. Tidak semua menyebut nama Bayu. Justru itu yang membuatnya lebih licin. Di bawah komentar, orang-orang mulai menulis ulang kalimat Mahkota dengan bahasa lebih tajam.
`Jago nebak batu belum tentu ahli sejarah.`
`Kalau salah, siapa ganti rugi consignor?`
`Sertifikat resmi kalah sama feeling?`
Hendra mengetuk layar keras-keras.
"Feeling? Kalau mereka lihat koen kerja dari lapak sampai hotel, mungkin mulutnya tidak selincah itu."
"Jangan balas komentar," kata Budi.
"Aku belum balas."
"Jarimu sudah seperti mau perang."
Hendra memasukkan ponsel ke saku dengan kesal.
Bayu berdiri.
"Kita tidak melawan opini dengan emosi. Kita lawan dengan urutan."
Budi sudah menyiapkan papan putih.
"Pertama, barang. Kedua, rekam jejak. Ketiga, pihak independen. Keempat, media yang berani memeriksa dokumen."
"Barangnya masih di panitia?" tanya Rizal.
"Bu Ratna setuju dititipkan ke gudang aman sampai pemeriksaan. Kita minta chain of custody tertulis," kata Bayu. "Tidak boleh ada orang bilang barang diganti setelah ditarik."
Hari itu juga, arca perunggu dikirim ke dua laboratorium berbeda dengan berita acara, foto segel, tanda tangan panitia, kuasa hukum, dan perwakilan independen. Budi mengurus semuanya seperti orang yang sedang menata ranjau agar musuh sendiri menginjaknya.
Malamnya, Intan datang ke ruko.
Ia membawa seorang perempuan berusia akhir tiga puluhan, rambutnya pendek sebahu, kemeja putihnya sederhana, matanya seperti pisau yang tidak perlu mengilap untuk tajam.
"Bayu," kata Intan, "ini Mbak Vina Andini. Saudara dari pihak ibu saya."
Perempuan itu mengulurkan tangan.
"Saya wartawan investigasi."
Hendra yang baru keluar dari pantry langsung melambat.
"Wartawan beneran atau yang suka minta amplop?"
Rizal menutup wajah.
Vina tidak tersinggung. Ia malah tersenyum.
"Kalau saya minta amplop, biasanya isinya berkas. Uang justru membuat saya repot."
Hendra menunjuk Bayu. "Nah, ini cocok. Anak ini hidupnya sekarang isinya map semua."
Bayu menyalami Vina.
"Apa yang Mbak Vina butuhkan?"
"Kebenaran yang bisa saya cek sendiri."
Jawaban itu membuat ruangan diam sesaat.
Vina membuka tas dan mengeluarkan map tipis. Di dalamnya ada daftar tanggal lelang, nomor lot, nama samar pembeli, dan catatan kecil berwarna merah.
"Saya mengikuti Mahkota hampir tiga tahun. Beberapa barang lelang dipertanyakan setelah berpindah tangan, tetapi para korban memilih diam karena malu, takut digugat, atau sudah menjualnya lagi. Saya punya pola, tapi belum punya kasus yang cukup bersih untuk dibuka."
Budi mengangkat alis. "Kasus kami bersih?"
"Karena terjadi di ruang publik, ada panitia amal, ada saksi senior, ada barang yang bisa diuji, dan Mahkota sudah menyerang lebih dulu secara tertulis." Vina menatap Bayu. "Tapi saya tidak akan menulis berdasarkan mata Anda saja."
"Bagus," kata Bayu.
Vina tampak sedikit terkejut.
"Kebanyakan narasumber ingin dipercaya."
"Saya ingin bisa dibuktikan."
Intan tersenyum kecil.
Rapat malam itu berlangsung sampai lewat tengah malam. Budi menyerahkan kronologi, pesan resmi panitia, foto segel, katalog Mahkota, dan daftar publik transaksi Bayu yang sudah pernah diverifikasi: batu Pacitan pertama, jade Permata Jaya, Raden Saleh Wibowo, Nagasasra Rizal, tantangan potong batu, Martapura, hingga order hotel.
Vina membaca cepat.
"Ini bukan profil orang yang sekadar viral," katanya.
"Tulis itu besar-besar, Mbak," Hendra menyela.
"Saya menulis fakta. Hiburan bukan urusan saya, Mas."
"Kalau faktanya menghibur, ya tidak apa-apa."
Untuk pertama kalinya malam itu, Bayu tertawa pendek.
Tiga hari kemudian, laporan laboratorium pertama masuk.
XRF menunjukkan komposisi logam yang terlalu modern: jejak unsur tambahan muncul dalam rasio yang tidak sesuai dengan perunggu kuno. Laporan kedua lebih telak. Analisis struktur mikro menemukan pola pendinginan dari pengecoran modern yang mustahil muncul pada proses tradisional tua.
Pak Wiryo datang sendiri ke ruko saat membaca ringkasannya.
"Saya tua, tapi mata saya belum minta pensiun," gumamnya.
Ia membawa draf surat.
Tiga akademisi senior sudah bersedia ikut menandatangani. Kalimat kuncinya pendek.
`Sertifikat bisa dibeli. Keahlian tidak.`
Bayu membaca kalimat itu dua kali.
"Pak, ini terlalu keras?"
Pak Wiryo menatapnya.
"Yang keras itu menjual barang palsu untuk amal."
Surat terbuka itu keluar pagi berikutnya.
Mahkota membalas dengan pernyataan baru: mereka menghormati proses, tetapi menilai pemeriksaan masih belum final. Dua jam kemudian, Vina menerbitkan artikel panjang di portal investigasinya.
Judulnya:
`Palu Sidang, Palu Lelang.`
Artikel itu tidak berteriak.
Justru karena tidak berteriak, ia lebih mematikan.
Vina menulis kronologi malam amal dan menempatkan keberatan Bayu dalam urutan prosedur. Ia menjelaskan hasil XRF dan analisis metalografi dengan bahasa yang bisa dipahami pembaca umum. Tiga kasus lama Mahkota yang pernah diprotes diam-diam ikut ditampilkan, lengkap dengan tanggal, nomor lot, dan respons resmi yang selalu sama: `sudah sesuai prosedur internal`.
Di bagian akhir, ia menulis satu kalimat yang segera dikutip media lain.
`Jika palu lelang hanya mengetuk harga, siapa yang mengetuk kebenaran?`
Siang itu, arah angin berubah.
Media yang kemarin menyebut Bayu penilai viral mulai menulis `laboratorium independen`. Komentar yang semula mengejek berubah menjadi meminta Mahkota membuka data consignor. Tiga klien yang menunda kerja sama mengirim pesan berbeda.
`Mas Bayu, mohon maaf. Kami siap lanjut setelah situasi jelas.`
Budi membaca pesan itu tanpa ekspresi.
"Saya akan balas: kerja sama bisa lanjut setelah mereka tanda tangan klausul pemeriksaan ganda."
Hendra mengangkat dua jempol. "Nah, galak juga anak audit."
Telepon dari nomor kantor Mahkota masuk pukul empat sore.
Darmoko sendiri yang bicara.
"Mas Bayu, saya rasa ada salah paham yang terlalu dibesarkan media."
Bayu menyalakan speaker. Budi langsung menekan tombol rekam sesuai pemberitahuan.
"Pak Darmoko, percakapan ini kami catat. Silakan."
Ada jeda tipis.
"Kami akan menarik pernyataan sebelumnya dan menunggu hasil pemeriksaan final."
"Tuliskan secara resmi."
"Tentu. Tapi kami harap CV Prasetyo juga tidak memperpanjang isu."
Bayu menatap papan putih yang masih penuh kronologi.
"Saya tidak memperpanjang isu. Saya memperpanjang umur kebenaran."
Telepon itu ditutup tanpa salam hangat.
Sore yang sama, Bayu membuat pengumuman di akun resmi CV Prasetyo.
`Mulai bulan depan, CV Prasetyo membuka Departemen Penilaian Terbuka. Siapa pun boleh membawa batu, perhiasan, atau barang seni untuk pemeriksaan awal. Kami tidak mengganti laboratorium, tidak mengganti kurator resmi, dan tidak mengganti hukum. Kami membantu pemilik barang mengenali risiko sebelum terlambat.`
Di bawah pengumuman itu, komentar pertama datang dari akun Hendra.
`Yang bawa barang palsu jangan bawa emosi. Bawa kuitansi.`
Intan membalas dengan satu emoji wajah datar.
Bayu menggeleng.
Namun jumlah pendaftar pemeriksaan awal dalam satu jam pertama sudah melewati seratus.
Di Jakarta, malam turun di atas gedung tinggi Mahkota.
Darmoko berdiri di depan meja besar. Artikel Vina tergeletak kusut di karpet. Di balik meja, seorang pria melempar koran lain ke arah kakinya.
"Kau bilang ini masalah kecil?"
Darmoko menunduk.
"Saya sedang mengurusnya, Pak."
"Tidak. Sekarang kita yang diurus olehnya."
Jendela di belakang lelaki itu memantulkan lampu kota seperti ribuan mata.
Di atas meja, sebuah map terbuka.
Namanya bukan nama yang tercetak di kartu direksi Mahkota.
Darmoko melihatnya sekilas.
Lalu ia menunduk lebih rendah.