Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Clara dan Obsesi Kayla
Seorang wanita cantik dengan rambut ikal berwarna coklat dengan kacamata hitamnya berjalan dengan percaya diri memasuki gedung bertingkat di kantor Wibisono Corp.
Seorang resepsionis segera berdiri menyambut kedatangan wanita cantik tersebut.
"Selamat pagi Nona, apa ada yang bisa Saya bantu?" resepsionis tersebut tersenyum ramah.
Wanita cantik tersebut menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepalanya. Wajahnya yang bermake-up tebal dengan tatapan angkuh memindai wajah resepsionis di depannya.
"Memangnya Kamu tidak tau Saya?"
Resepsionis menggelengkan kepalanya.
"Apa Kamu anak baru di sini?"
Resepsionis tersebut hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Apa Kamu bisu di tanya malah senyum, asal Kamu tau ya Saya ini kekasihnya bos Kamu,"
"Maaf Nona, sesuai prosedur di kantor ini siapapun yang datang harus mengisi buku ini, Nona mau bertemu siapa, maaf," resepsionis yang bernama Lucy tetap tersenyum ramah melayani tamu yang datang.
"Kamu bawel banget sih, gak perlu harus Saya isi itu buku tamunya, Saya mau bertemu dengan kekasih Saya," sinis wanita cantik tersebut.
Lucy masih tetap meminta tamu di depannya ini untuk mengisi buku tamu dan keperluannya apa.
"Saya akan lansung ke lantai 7 saja, Saya mau bertemu kekasih Saya, Tuan Damar, jangan di persulit ya!"
"Maaf Nona Tuan Damar sedang meeting dan belum tau selesainya sampai jam berapa,"
"Saya akan menunggu di atas jangan halangi Saya," wanita tersebut berjalan meninggalkan Lucy.
"Nona tolong dengarkan Saya," Lucy mengejar wanita itu yang tidak menghiraukan kata-katanya.
Saat Lucy masih mengejar wanita tersebut pintu lift khusus top management terbuka.
Damar dan Vano keluar lift tanpa melihat ke arah wanita tersebut dan menatap heran ke resepsionis yang berlari ngos-ngosan.
"Sayangku," panggil wanita cantik tersebut segera berlari ka arah Damar.
Damar dan Vano kaget.
"Vano, bereskan Saya tunggu di mobil," tanpa menoleh Damar tetap berjalan tenang. Vano segera menghalangi wanita yang di kenalnya sebagai mantan kekasih bosnya itu.
"Nona Clara, tolong jangan bikin keributan di sini, Lucy panggil security," perintah Vano ke Lucy.
"Baik Pak," Lucy segera berlari kecil mencari security.
"Vano apa-apaan kamu, Saya mau ketemu Damar jangan halangi Saya,"
Lucy dan seorang security datang ke arah Vano dan Clara.
"Pak Tris, tolong bawa wanita ini keluar kantor, jangan sampai kembali masuk ke kantor ini," tegas Vano dan segera berjalan menyusul bosnya ke mobil yang sudah parkir di depan lobby kantor.
Vano segera masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Damar aku mau bertemu dengan dirimu," teriak Clara yang sudah berada di depan pintu lobby bersama Pak Tris.
"Jalan Vano," perintah Damar tanpa menghiraukan Clara yang masih teriak memanggil namanya.
Clara mengepalkan kedua tangannya dan menghentakkan kakinya ke lantai.
"Damar, kamu akan menyesal mengabaikan Aku," teriak Clara dengan wajah kesalnya.
"Nona jangan buat keributan di kantor ini, silahkan Anda keluar dari area kantor ini jangan sampai Saya bertindak kasar," Pak Tris mengingatkan Clara.
"Diam kau siapa kau, berani mengusir Saya, apa kau tidak tau siapa Saya hah? Saya ini tunangannya Bosmu, hhh" Clara segera pergi dari hadapan Pak Tris dan kembali mengenakan kacamata hitamnya.
"Sialan Damar jauh-jauh Aku kembali ke tanah air kau masih saja tidak mau bertemu denganku," Clara segera masuk ke mobilnya.
***
Di kamar mewah tampak seorang gadis cantik berdiri di depan kaca rias.
"Mas Damar, Aku mencintaimu, kenapa kamu malah menikah dengan sahabatku Diandra, tidak.. tidak dia bukan sahabatku, seorang sahabat tidak akan mengambil laki-laki yang dicintai sahabatnya sendiri, Diandra Aku tidak akan biarkan kau merebut Mas Damarku," Kayla gadis cantik tersebut mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.
Kayla sudah terobsesi untuk memiliki laki-laki tampan yang dikenalnya dari kecil, bukankah cinta itu merelakan orang yang dicintai bahagia dengan pilihannya bukan memaksakan keinginan hati untuk harus memiliki.
Kayla kesal dengan Diandra dirinya tidak menerima kenyataan yang terjadi. Terdengar nada panggil di ponselnya, Kayla segera mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Kayla.
"Nona, Saya melihat wanita target bersama Tuan Damar sedang berjalan memasuki tokoh perhiasan," lapor seorang laki-laki di sebuah mall.
"Baiklah, aku akan segera ke sana, tetap awasi mereka kabari terus jangan sampai kehilangan jejak,"
Kayla sudah bertekad tidak akan membiarkan Diandra memiliki laki-laki yang dicintainya. Kayla berjalan keluar rumah dengan memakai hodi dan masker. Penampilannya yang feminin berubah menjadi maskulin dengan penampilan seperti laki-laki.
Kayla sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari semakin mendekati hari bahagia mantan sahabatnya itu, hati Kayla semakin panas dan tidak tenang.
Kayla menyewa seseorang untuk mengawasi gerak gerik Diandra dari jarak jauh.
Hari ini Kayla akan bergerak sendiri.
Kayla sampai di lokasi dimana Diandra dan Damar sedang memilih perhiasan. Kayla mendekati orang suruhannya. Mereka berkerjasama untuk mencelakai Diandra saat Damar lengah.
Kayla tidak menyadari bahwa Diandra selalu saja di kawal dari jauh oleh pengawal kepercayaan papanya. Ada juga 2 orang pengawal Damar yang selalu ada di dekat tuannya yang sedang berjaga-jaga.
Para pengawal papa Alka melihat gelagat yang mencurigakan. Mereka tidak akan membiarkan nona mudanya tersentuh oleh para musuhnya.
Di toko perhiasan tampak Damar sedang menjauhi Diandra untuk menerima panggilan telepon. Diandra yang sedang duduk di depan etalase perhiasan tidak menyadari jika ada 2 orang yang mendekat ke arahnya.
Para pengawal papa Alka berjalan pelan mengikuti kedua orang tersebut. Para pengawal Damar menatap curiga dengan gerak gerik dua orang yang mencurigai. Para pengawal papa Alka memberikan kode kepada pengawal Damar untuk tetap di tempat.
Kejadian yang begitu cepat tiba-tiba saja Kayla mencoba mendekati Diandra dari belakang dengan kedua tangan di dalam jaketnya. Saat Kayla mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya tiba-tiba saja tangannya di cekal oleh salah seorang pengawal papa Alka.
Kayla kaget dan reflek menjatuhkan pisau dari tangannya.
"Aduh," teriak Kayla membuat Diandra menoleh ke belakang.
Diandra bingung dengan seorang yang memakai masker dan berusaha berontak dari para pengawal.
Damar sudah selesai menerima telpon berlari kecil ke arah Diandra saat melihat beberapa orang berkerumun di depan toko perhiasan.
"Ada apa Sayang?" tanya Damar sambil memeluk Diandra.
Diandra menggelengkan kepalanya.
Kayla dan orang suruhannya yang mau melarikan diri sudah ditangkap pengawal Damar.
"Maaf Tuan Damar, ada yang mencoba bermain-main dengan Nona Diandra," ucap pengawal papa Alka.
Damar segera melepaskan pelukannya dan berbalik ke arah pengawal.
"Siapa?" Damar dan Diandra memandang ke seseorang yang mengenakan hodi, topi dan masker.
"Hei, kenapa menunduk, siapa dirimu?" bentak Damar mendekati sosok yang memakai hodi.
Kayla semakin menunduk tangannya mengepal kuat-kuat di samping tubuhnya.
Damar mencoba membuka topi sosok di depannya ini.
"Apa Kau mau mati hah?! Mencoba menyentuh wanitaku?" Damar mencoba membuka topi sosok di depannya tetapi orang tersebut segera menjauhkan kepalanya dari tangan Damar.
Dada Kayla berdetak semakin kencang, keringat membasahi dahinya.
Diandra mengamati sosok di depannya ini dirinya merasa bahwa sosok di depannya ini seorang wanita.
"Kak sepertinya dia seorang wanita," Diandra mengamati jari sosok di depannya yang tidak memakai sarung tangan. Diandra mengernyitkan alisnya. Seluruh tubuh wanita ini terbungkus rapat hanya tampak jarinya saja, Diandra seperti mengenali kuku panjang sosok di depannya ini.
"Seorang wanita?" tanya Damar sambil mencoba membuka topi sosok di depannya ini dan lagi-lagi sosok tersebut menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan Damar.
Damar semakin penasaran siapa sosok di depannya ini. Suasana mall semakin ramai beberapa orang berkerumun di lokasi Damar dan Diandra.
Damar tidak ingin mereka menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Dev, tolong bawa mereka ke markas," Damar memberikan perintah ke pengawalnya.
"Baik Tuan," pengawal Damar mengikat tangan kedua orang tersebut sedangkan pengawal papa Alka memberikan hormat ke Damar dan Diandra, dirinya harus tetap ada di sekitar Diandra.
Damar menganggukkan kepalanya, "Terimakasih sudah menjaga calon istri Saya dengan baik, Don," Damar kenal dengan pengawal yang selalu mengawasi Diandra dari jauh atas perintah papa Alka.
"Sama-sama Tuan Damar, izin Saya pamit," Donny beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menjauh dari Damar dan Diandra.
"Ayo Sayang kita lanjutkan belanjanya," Damar meraih pinggang Diandra dan berjalan masuk kembali ke toko perhiasan melanjutkan memilih perhiasan untuk calon istrinya.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤