Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.
Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.
Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.
Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.
Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.
Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?
Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Tak Kupahami
POV Carolina
Malam itu aku sampai di rumah dalam keadaan begitu lelah, sampai yang kuinginkan hanya mandi lalu tidur. Tetapi begitu membuka pintu, aroma masakan rumahan langsung membuat perutku protes.
"Catarina..." gumamku sambil tersenyum.
Dia punya kebiasaan menyisakan makananku setiap kali tahu aku pulang larut. Hari itu aku mengambil shift ganda di kafe untuk menggantikan rekan yang sakit, jadi dia pasti sudah menduga aku akan pulang dalam keadaan kelaparan.
Kuletakkan tas di kursi, kulepas sepatu, lalu kuayun langkah ke dapur. Seperti biasa, piringku sudah menunggu di dalam microwave, tertutup rapi. Kuhangatkan makanannya dan duduk di meja. Suapan pertama saja sudah membuatku sadar betapa laparnya aku.
Beberapa menit aku makan dalam diam, menikmati makanan dan ketenangan jam selarut itu. Catarina mungkin sudah tidur, sebab kamarnya sunyi sekali.
Seharusnya aku hanya memikirkan istirahat.
Masalahnya, kepalaku seperti sudah memutuskan jalan sendiri.
Tanpa kuinginkan, aku mulai teringat pada pria yang kutemui di tengah hujan, "Jorge".
Begitulah ia memperkenalkan diri.
Wajahnya masih tergambar jelas di ingatanku. Tubuhnya sangat tinggi dan kekar, bahunya lebar, dan sikapnya mencuri perhatian bahkan ketika ia tampak tak berusaha apa-apa. Aku juga ingat wangi parfumnya, meski tak bisa menyebutnya apa. Mungkin aku hanya sempat mencium wanginya karena harus mendekat saat mengambil payung dari tangannya.
Aku tersenyum sendiri.
Dia benar-benar tidak bisa membuka payung.
Kenangan itu masih lucu, tetapi senyumku perlahan menghilang ketika aku teringat saat mata kami bertemu.
Ada sesuatu pada pria itu yang tak bisa kujelaskan.
Bukan sekadar penampilannya. Caranya menatapku, seakan ia sedang berusaha memahami siapa aku. Itu bukan tatapan penasaran biasa, dan hal itu membuatku bertanya-tanya.
Aku menggeleng dan kembali memusatkan perhatian pada piringku.
Aku tak punya waktu untuk memikirkan pria asing.
Hidupku selalu jauh lebih rumit dari itu.
Ciuman pertamaku terjadi pada usia enam belas tahun, dan beberapa waktu kemudian aku tahu cowok itu bertaruh dengan teman-temannya agar bisa menciumku. Tentu saja aku kecewa, tetapi itu tidak membuatku trauma. Aku hanya melanjutkan hidup.
Setelah kejadian itu, aku memusatkan perhatian pada studi. Aku ingin membangun hidup yang berbeda dari yang kuterima, ingin menyelesaikan kuliah, mendapat pekerjaan yang baik, dan memastikan Catarina dan aku tak perlu lagi menggantungkan hidup pada keberuntungan.
Hubungan asmara tak pernah masuk dalam prioritasku.
Tetapi sekarang aku memikirkan Jorge.
Pria yang baru kukenal beberapa jam.
Jantungku berdegup kencang lagi.
"Ini tidak masuk akal."
Kuletakkan garpu di piring dan menarik napas dalam-dalam.
Mungkin ini hanya rasa penasaran. Hanya itu penjelasan yang mungkin.
Kuhabiskan makananku, kucuci piring, dan kurapikan dapur sebelum menuju kamar. Aku menyikat gigi, mandi lama, lalu mengenakan piama yang nyaman. Begitu berbaring, aku mencoba mengosongkan kepala, tetapi gagal.
Selama beberapa menit aku menatap langit-langit sambil mengingat senyum samar Jorge, suaranya yang rendah, dan caranya mengamati semua yang ada di sekitarnya.
Ketika akhirnya tertidur, aku bermimpi, dan mimpi itu berbeda dari mimpi-mimpi mana pun yang pernah kuingat.
Aku berada di sebuah taman.
Tempat itu indah dan tenang, dikelilingi pepohonan dan diterangi cahaya lembut yang membuat segalanya tampak jauh dari kenyataan. Aku berjalan tanpa tahu tujuan sampai menemukan seseorang duduk di bangku.
Aku langsung berhenti.
Dadaku mengencang.
Itu ibuku.
"Mama?"
Ia mengangkat wajah dan tersenyum.
Aku berlari ke arahnya dan memeluknya sekuat tenaga. Kupejamkan mata sementara tangannya mengusap rambutku, persis seperti saat aku masih kecil.
"Aku kangen sekali sama Mama."
"Mama juga kangen kamu, Nak."
Aku menjauh sedikit, cukup untuk memandang wajahnya.
"Kenapa Mama ada di sini?"
Mama menggenggam tanganku.
"Mama datang untuk memberimu peringatan."
"Peringatan apa?"
Ia menatapku dengan ketenangan yang malah membuatku makin bingung.
"Hidupmu akan berubah drastis."
Keningku berkerut.
"Aku nggak ngerti."
"Kamu harus memilih antara kedamaian dan kekacauan."
"Pilihan macam apa itu?"
Mama tersenyum lembut.
"Kedamaian berarti hidup yang tenang, tapi mungkin juga hidup yang sedih. Kekacauan jauh lebih sulit, tapi di dalamnya kamu akan menemukan hidup yang penuh cinta."
Aku memandanginya tanpa mengerti.
"Aku baik-baik saja dengan hidupku yang sekarang."
"Mama tahu kamu percaya begitu."
"Aku nggak butuh apa-apa lagi."
Ia meremas tanganku.
"Sebentar lagi kamu akan mengerti."
"Mengerti apa?"
Mama mulai menjauh.
"Masa lalumu juga akan kembali, Carolina."
"Masa laluku?"
"Kamu akan memahami banyak hal tentang hidupmu."
"Ma, tunggu."
Ia terus melangkah.
"Jangan takut."
"Mama!"
Aku mengulurkan tangan untuk menggapainya, tetapi sosoknya lenyap di depan mataku.
Aku terbangun mendadak.
Aku duduk di tempat tidur dan menarik napas dalam-dalam, mencoba mengerti di mana aku berada. Kulirik jam di meja samping tempat tidur: sudah lewat pukul lima pagi.
Beberapa menit aku memikirkan mimpi itu, tetapi tak ada penjelasan yang muncul. Karena sudah tidak mengantuk, aku bangkit, mengenakan pakaian olahraga, dan keluar untuk berlari.
Berlari sudah menjadi rutinitasku bertahun-tahun. Sejak Antônio mulai membawa Catarina dan aku ke kelas bela diri, aku sadar bahwa aku menyukai aktivitas fisik. Bahkan setelah ia meninggal dan kami pindah ke Madrid, kebiasaan itu tetap kujaga.
Setiap pagi, jika sempat, aku berlari di jalanan sekitar rumah. Itu caraku menata pikiran dan memulai hari dengan kepala lebih tenang.
Ketika aku pulang, Catarina sudah bangun dan sedang membuat kopi di dapur.
"Pagi, Carol."
"Pagi."
Ia mengamatiku lekat-lekat sambil meletakkan cangkir di meja.
"Tidurmu nyenyak?"
Aku terdiam sejenak.
"Sebenarnya tidak."
"Ada apa?"
Aku duduk di depannya.
"Aku mimpi tentang Mama."
Raut wajah Catarina langsung berubah.
Aku menceritakan semuanya, dari taman sampai saat Mama menghilang. Ia mendengarkan tanpa menyela, dan baru bicara setelah aku selesai.
"Mungkin itu cuma mimpi."
"Aku tahu."
"Tapi kamu jadi takut?"
Aku berpikir beberapa detik.
"Nggak juga. Aku cuma merasa aneh."
Catarina mendorong cangkir kopi ke arahku.
"Kamu bakal memikirkannya seharian."
"Kemungkinan besar."
Ia tersenyum.
"Kalau begitu, ceritakan hal lain."
"Apa?"
"Bagaimana kemarin di kafe?"
Saat itulah aku teringat Jorge.
"Ah..."
Catarina menyipitkan mata.
"'Ah' itu pasti ada artinya."
Aku tertawa.
"Kemarin aku bertemu seorang pria."
Ia menjatuhkan sendok ke meja dapur.
"Apa?"
"Tenang."
"Kamu bertemu cowok dan nggak cerita?"
"Waktu aku pulang, kamu sudah tidur."
Ia melipat tangan.
"Oke. Sekarang aku mau dengar semuanya."
Aku bercerita tentang hujan, payung, dan caranya yang kelihatan benar-benar tak mampu membuka benda itu.
Catarina tertawa.
"Kamu menyeberang jalan buat bantuin cowok buka payung?"
"Iya."
"Terus kamu ngelap mukanya pakai handuk?"
"Aku nggak sempat mikir."
"Ya iyalah, nggak sempat mikir."
Aku memutar bola mata.
"Dia memperkenalkan diri sebagai Jorge Ramires."
"Dia ganteng?"
Aku diam beberapa detik.
Senyum Catarina melebar.
"Ganteng."
"Banget?"
"Catarina..."
Ia tertawa.
"Sudah kuduga."
"Nggak terjadi apa-apa."
"Belum."
Aku meraih cangkirku.
"Dia cuma baik hati."
"Dan kamu sudah memikirkannya sejak kemarin."
Aku tidak menjawab. Dia terlalu mengenalku.
Setelah sarapan, aku bersiap berangkat kerja.