Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kok Dia Belum Pulang?
"Nomor?" tanya Ayara terbata-bata, mencoba menetralkan rasa gugup yang menjalar di wajahnya.
"Iya, nanti saya kirim foto-foto kamu tadi," jawab Althaf tenang tanpa melepaskan sorot mata tegasnya dari wajah Ayara. Pria itu menyodorkan ponsel yang berlayar gelap, menunggu Ayara mengetikkan deretan angka di sana.
Ayara menggeleng pelan, pikirannya langsung bekerja cepat mencari alasan untuk menghindar. Bagi Ayara, Althaf adalah sosok pria dari dunia yang sangat jauh berbeda dengannya. Dilihat dari pakaian, jam tangan, hingga gestur tubuh Althaf yang tenang dan percaya diri, pria ini jelas bukan berasal dari kalangan biasa. Ayara tidak ingin terlibat dalam lingkaran pertemanan pria ini, terlebih lagi ia adalah buruh pabrik yang kehidupannya dipenuhi perjuangan mencari sesuap nasi.
"Nggak usah, Mas Althaf. Nanti kirim saja semua fotonya ke Niko, terus dari Niko bisa kirim ke Clara. Nanti Clara yang bakal kirim ke saya," balas Ayara beralasan dengan nada sehalus mungkin dan berharap Althaf mau mengerti tanpa merasa tersinggung.
Althaf menyipitkan matanya tipis, menyadari dengan sangat jelas bahwa wanita di hadapannya ini sedang berusaha menghindarinya secara halus. Namun Althaf bukanlah pria yang mudah menyerah.
"Kenapa harus lewat Niko dan Clara kalau saya bisa kirim langsung ke kamu?" tanya Althaf, menyilangkan dadanya seraya menatap Ayara penuh rasa ingin tahu.
"Biar nggak repot aja, Mas," jawab Ayara cepat, membuang pandangannya ke arah hamparan awan yang mulai diterpa terik matahari pagi.
"Saya mau ke teman-teman dulu ya, permisi."
Tanpa menunggu tanggapan Althaf lebih lanjut, Ayara setengah berlari menghampiri Linda dan Stevi yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Stevi yang melihat gestur buru-buru Ayara langsung menyenggol lengan Ayara dengan ekspresi jahil. "Kenapa lo, Ra? Muka lo merah banget kayak kepiting rebus!"
"Nggak kenapa-kenapa. Ayo kita foto-foto bareng sebelum balik," kilah Ayara mengalihkan pembicaraan dan menyembunyikan degup jantungnya yang belum juga kembali normal.
Sementara itu dari jarak beberapa meter, Althaf berdiri diam menatap punggung Ayara yang bergabung dengan teman-temannya. Ia menarik napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Ditolak oleh seorang wanita adalah pengalaman pertama dalam hidup Althaf, namun hal itu justru membuat rasa penasarannya terhadap sosok Ayara tumbuh makin kuat.
Setelah puas mengabadikan momen di puncak tertinggi dan menikmati panorama alam yang menakjubkan, Heri memberikan instruksi agar rombongan segera bersiap untuk turun kembali ke perkemahan rawa embik sebelum matahari memancar terlalu terik.
Perjalanan turun ternyata menyajikan tantangan yang tak kalah berat dari saat naik, jalur tanah gembur dan berbatu membuat para pendaki harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir jatuh meluncur ke bawah.
Ayara berjalan perlahan, lututnya mulai terasa gemetar akibat beban menahan tubuh di turunan yang curam. Beberapa kali kakinya terpleset kecil, namun ia berhasil menjaga keseimbangan. Althaf yang berada tak jauh di belakangnya tetap setia memantau dari kejauhan, memastikan Ayara bisa turun dengan selamat tanpa mengalami cedera.
Sekitar pukul sebelas siang, rombongan tiba kembali di perkemahan rawa embik. Mereka beristirahat sejenak untuk membongkar tenda, mengemas seluruh perlengkapan dan menyantap makan siang sederhana sebelum melanjutkan perjalanan panjang.
Perjalanan turun kali ini melintasi jalur yang sama, mereka juga kembali mendirikan tenda di Cikasur, tempat yang sama seperti sebelumnya. Bedanya, sekarang mereka tidak bersama rombongan Niko, karena rombongan tersebut memilih lanjut sampai basecamp.
.
Keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, sinar matahari telah mengusir kabut tebal di Cikasur. Setelah merapikan kembali seluruh logistik dan memastikan tidak ada sampah yang tertinggal sedikit pun di area sabana, rombongan Ayara memulai perjalanan turun.
Langkah kaki mereka terasa jauh lebih ringan dan santai dibandingkan saat mendaki, rasa lelah yang sempat menumpuk berganti menjadi helaan napas lega karena sebentar lagi petualangan mereka akan usai.
Untuk memangkas waktu perjalanan dan menghemat sisa stamina yang mulai menipis, Heri mengarahkan mereka untuk menggunakan jasa ojek gunung yang biasanya bersiaga di sekitar pos mata air 1. Ojek lokal dengan motor trail modifikasi tersebut menjadi penyelamat bagi otot-otot kaki mereka yang sudah melunak.
"Wah, asli ini penolong banget! Kaki gue bisa patah kalau suruh jalan sampai bawah," cetus Maura seraya naik ke atas boncengan motor trail dengan helm terpasang agak miring.
Tawa renyah membahana di antara mereka. Satu per satu dari ketujuh wanita itu membonceng ojek lokal menyusuri jalanan tanah makadam yang berbatu dan penuh goncangan. Ayara memegang erat jaket sang pengemudi ojek, membiarkan angin pegunungan menerpa wajahnya yang berseri-seri.
Perjalanan yang seharusnya memakan waktu berjam-jam jika ditempuh dengan berjalan kaki pun menjadi lebih singkat, dimana mereka sampai di basecamp hanya dalam hitungan puluh menit saja. Sekitar pukul satu siang, mereka akhirnya tiba di basecamp pendakian gunung Argopuro.
Satu per satu mereka turun dari motor, mengulurkan sisa ongkos ojek dan langsung merenggangkan badan di halaman basecamp yang cukup luas.
"Akhirnya!" seru Stevi sembari mengangkat kedua tangannya ke udara.
Namun, belum sempat Ayara melepaskan ransel hitam yang bertengger di bahunya, pandangan matanya mendadak terkunci pada sosok pria yang berdiri tegak tak jauh dari basecamp.
Wajah pria itu tampak bersih dan rambutnya yang sedikit basah menandakan ia baru saja selesai mandi di kamar mandi. Pria itu berdiri sembari bersandar santai di samping mobil sedan hitam, itu adalah Althaf.
Ayara terpaku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya. 'Bukannya dia sudah turun sejak kemarin sore dan seharusnya sudah dalam perjalanan pulang? tapi kenapa pria itu masih berada di sini?' batin Ayara bertanya-tanya.
Bukan hanya Ayara yang terkejut, namun teman-temannya pun ikut menghentikan gerakan mereka dan saling lempar pandang penuh tanda tanya.
"Loh? Itu bukannya temannya Niko?" bisik Adel seraya menunjuk pelan menggunakan dagunya.
"Kok dia belum pulang? Bukannya kemarin dia udah balik duluan?" timpal Diana terheran-heran.
Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu sempat terjawab, Althaf yang menyadari kedatangan mereka langsung menegakkan posisinya. Pria itu menyunggingkan senyum tipis, senyum tenang yang selalu berhasil melumpuhkan pertahanan Ayara, lalu melangkah mantap mendekati rombongan mereka.
"Selamat siang semuanya," sapa Althaf dengan suara baritonnya yang mantap dan terdengar sangat ramah.
"Selamat siang, Al. Kok... Mas masih di sini? Niko mana?" tanya Clara mendahului teman-temannya karena penasaran.
"Niko sama yang lainnya sudah pulang duluan," jawab Althaf santai, namun matanya sama sekali tidak menyembunyikan arah tujuannya. Tatapannya berganti lurus menatap Ayara yang berdiri kaku di belakang Linda.
"Terus kamu kenapa nggak balik sama mereka?" tumpah Maura dengan senyum menggoda yang sengaja ditahan.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita