NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Amukan Angin dan Suara Baling-Baling

Suara gemuruh di luar Pustu Tanjung Karang kini bukan lagi sekadar gemuruh angin biasa. Hujan yang turun bukan lagi berupa tetesan, melainkan seolah-olah gorden air raksasa yang dihantamkan ke dinding seng dan papan kayu puskesmas. Setiap kali kilat menyambar, bayangan hitam pepohonan di luar terpantul meliuk-liuk di kaca jendela yang basah, menyerupai jemari raksasa yang mencoba mencengkeram bangunan tua itu.

Waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB. Tepat satu jam sejak Kevin menghubungi Hans.

Di dalam Pustu, lampu minyak dan senter kepala menjadi satu-satunya sumber penerangan setelah jaringan listrik desa padam total setengah jam yang lalu. Suara desah napas berat dan erangan kesakitan para pasien saling bersahutan dengan dentuman hujan di atap seng.

Valen sedang berlutut di samping ranjang seorang anak kecil yang demam tinggi. Tangan wanita itu gemetaran saat mengganti kain kompres di dahi sang anak. Matanya sesekali melirik ke arah Kevin yang berdiri di sudut ruangan, secara berkala memeriksa jam tangan taktis berbahan titanium milik pria itu.

"Kevin..." panggil Valen pelan, suaranya sedikit bergetar. Ia berdiri dan menghampiri Kevin yang sedang mengukur tekanan darah seorang lansia. "Cairan ringer laktat kita tinggal satu botol terakhir. Stok parasetamol injeksi sudah habis sejak subuh tadi. Anak di pojok sana... kejangnya mulai kambuh."

Kevin tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan pompaan tensimeter, mencatat angka 80/50 di kertas kusam, lalu melepaskan stetoskop dari telinganya. Raut wajahnya sangat tenang, namun matanya memancarkan perhitungan yang sangat tajam.

"Ganti kompresnya dengan air hangat, jangan air dingin. Berikan dosis parasetamol sirup tersisa meski hanya setengah sendok," instruksi Kevin dingin dan terukur. "Tahan sedikit lagi, Valen."

"Tahan?" Valen menaikkan nada suaranya, memancarkan frustrasi yang memuncak. "Kevin, di luar ini badai kategori tinggi! Jangan katakan kamu benar-benar percaya ada helikopter yang nekat terbang dalam cuaca seperti ini? Tidak ada pilot gila yang mau menembus dinding awan hitam Tanjung Karang hanya untuk membawa beberapa dus obat ke desa terpencil!"

Kevin menatap Valen dalam-dalam. Di balik remang cahaya lilin, ia bisa melihat kelelahan luar biasa dan kekhawatiran mendalam di mata wanita itu.

"Rekan saya bukan pilot biasa, Valen. Dan dia tidak sedang membawa 'beberapa dus obat'," jawab Kevin pelan, suaranya mengandung wibawa yang tak tersanggah. "Dia akan datang. Tugas kita sekarang adalah memastikan area pendaratan siap."

Belum sempat Valen membalas, pintu Pustu mendadak digedor keras dari luar.

TAK! TAK! TAK!

"Dokter! Dokter Kevin!" suara Pak Bahri berteriak tertahan di balik pintu, bersaing dengan suara angin yang menggerung seperti binatang buas.

Kevin dengan sigap melangkah dan membuka selot pintu. Angin kencang berserta cipratan air hujan langsung menerobos masuk, memadamkan dua nyala lilin di meja depan. Pak Bahri masuk dengan tubuh basah kuyup, membawa sarung yang dilingkarkan di kepala sebagai pelindung.

"Dok! Angin di lapangan barat makin gila! Pohon tumbang menutup jalan ke arah pantai!" seru Pak Bahri panik sambil menyapu air laut dan hujan dari wajahnya. "Dan... Dok, saya mendengarkan radio komunikasi tadi. BMKG daerah mengeluarkan peringatan bahaya level tertinggi! Mata badai bergeser cepat. Kalau ada penerbangan, mereka pasti sudah jatuh!"

Kevin mengertakkan giginya rapat-rapat. Ia melirik jam tangannya: 08.15 WIB. Tersisa 15 menit dari batas waktu dua jam yang dijanjikan Hans.

"Pak Bahri, bantu saya," kata Kevin tegas, mengabaikan kepanikan sang Kepala Desa. "Saya butuh beberapa obor atau suar penanda. Kita harus menandai empat sudut lapangan barat sekarang."

"Apa?! Ke lapangan barat dalam cuaca begini, Dok? Itu bahaya sekali!" seru Pak Bahri belingsatan.

"Lakukan saja, Pak! Jika penanda visual tidak dipasang, mereka tidak akan bisa melihat titik pendaratan dari udara!" potong Kevin dengan nada memerintah yang begitu dominan, hingga membuat Pak Bahri yang seorang Kepala Desa terpaku dan refleks mengangguk tunduk.

Valen membelalakkan mata. "Kevin, kamu gila?! Kamu mau menerobos badai cuma untuk pasang obor?!"

Kevin menoleh pada Valen. Ia meraih jas hujan tebal berwarna hitam dari dalam tasnya jas hujan bermerek luar negeri yang sama sekali tidak tampak seperti barang milik seorang dokter puskesmas biasa.

"Valen, jaga pasien di dalam. Tetap di sini," ujar Kevin seraya mengenakan jas hujannya.

"Tidak! Aku ikut!" seru Valen impulsif, meraih jaket parasutnya sendiri. "Aku tidak akan membiarkanmu mati konyol di luar sana sendirian! Kalau bantuan itu benar-benar ada, aku butuh memastikan stok medisnya langsung masuk ke tempat steril!"

Kevin menatap Valen sejenak. Ada keraguan terpancar di matanya, namun melihat sorot mata Valen yang keras dan tidak bisa dibantah, Kevin akhirnya mengangguk singkat.

"Pegang erat tanganku di luar. Jangan sekali-kali melepasnya," bisik Kevin tajam.

Ketiganya melangkah keluar Pustu, hantaman angin badai hampir membuat Valen terlempar jika saja lengan kekar Kevin tidak cepat-cepat merangkul pinggangnya. Udara terasa dingin menusuk tulang, basah, dan penuh dengan bau garam laut bercampur tanah basah.

Mereka bertiga menerobos kegelapan fajar yang pekat menuju area lapang di barat desa. Lapangan rumput itu kini sudah berubah menjadi kubangan lumpur setinggi mata kaki. Angin meliuk-liuk liar, mematahkan dahan-dahan pohon di sekitar lapangan dengan suara KRAK yang mengerikan.

Pak Bahri dan Kevin menyalakan empat buah obor minyak tanah tebal yang sudah dilindungi kaleng bekas agar api tidak cepat padam disapu hujan. Mereka menancapkannya di empat sudut lapangan, membentuk pola persegi berukuran sepuluh kali sepuluh meter.

"Kevin! Tidak ada apa-apa di langit! Hanya awan hitam!" teriak Valen kencang di tengah deru angin, mencoba mengalahkan suara gemuruh. Hujan deras membasahi wajahnya hingga matanya perih.

Clock ticking. 08.28 WIB. Dua jam hampir usai.

Langit di atas mereka benar-benar pekat, gumpalan awan membiru kehitaman berputar lambat seperti pusaran raksasa. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Pak Bahri mulai gemetar ketakutan. "Dok! Kita harus kembali! Petir mulai menyambar tanah!"

Hati Kevin bergetar. "Apakah Hans gagal? Apakah helikopter mereka dihantam turbulensi parah di atas lautan? Keraguan yang jarang menghampiri pikiran dingin sang dokter kini mulai menggerogoti dadanya. Jika Hans gagal, anak kecil di Pustu itu... pasien-pasien kritis itu... tidak akan bertahan sampai besok pagi."

Dan saat Kevin hampir memutuskan untuk memerintahkan mereka mundur—

THUD... THUD... THUD... THUD...

Suara ketukan berat dan rendah bertempo cepat mendadak memotong deru suara angin badai.

Valen menegang. Ia mendongak ke atas. "Suara apa itu...?"

Suara itu makin keras, makin berat, membelah angkasa Tanjung Karang!

THUD-THUD-THUD-THUD-THUD-THUD!

Tiba-tiba, dari balik gumpalan awan hitam pekat di sebelah timur, sebuah lampu sorot berdaya tinggi (Searchlight) menembus kegelapan, memancar bagaikan pedang cahaya raksasa yang membelah lautan hujan!

Sesosok helikopter taktis berukuran besar berwarna hitam pekat tanpa logo komersial, sebuah helikopter kelas eksekutif Eurocopter EC145 yang telah dimodifikasi, muncul menembus dinding badai! Baling-baling ganda di atasnya berputar begitu kencang, menciptakan empasan angin luar biasa yang seketika menyapu air hujan dan lumpur di area pendaratan!

Pak Bahri melotot tak percaya, jatuh terduduk di lumpur dengan mulut menganga. "D-Demi Allah... Helikopter pribadi...? Di desa kita?!"

Valen berdiri terpaku, membelalakkan mata melihat burung besi mewah nan gagah itu bermanuver sangat rendah di atas lapangan. Empasan angin dari baling-baling helikopter begitu kuat hingga membuat rambut dan pakaian mereka berkibar keras.

Melalui lampu sorot helikopter yang menyilaukan, terlihat sesosok pria berjaket taktis tebal dengan headset komunikasi berdiri di pintu samping helikopter yang terbuka. Pria itu memberi sinyal jempol ke bawah—ia adalah Hans!

Dengan kepiawaian pilot berkelas dunia, helikopter itu melakukan pendaratan darurat secara mulus (precision landing) tepat di tengah-tengah empat titik obor, meski diterpa angin lateral yang sangat kencang.

Pintu geser helikopter langsung terbuka lebar begitu roda menapak di tanah lapangan..

Hans menyergap keluar, melompati lumpur dengan membawa tas taktis hitam, diikuti oleh dua orang staf medis berseragam rapi berkualifikasi penerbangan internasional.

"BOS! KAMI DATANG TEPAT WAKTU!" teriak Hans girang, suaranya menggelegar mengalahkan deru mesin helikopter yang masih menyala idle.

Hans berlari menghampiri Kevin, lalu secara refleks melakukan sikap hormat militer singkat sebelum menyerahkan sebuah koper hitam tebal anti-air (Pelican Case).

"Seluruh obat darurat, serum, unit darah O-negatif, antibiotik dosis tinggi kelas satu, dan set bedah ortopedi portabel sudah amankan, Bos! Sesuai perintah!" lapor Hans mantap.

Kevin menerima koper tersebut, matanya memancarkan rasa lega yang teramat sangat. "Kerja bagus, Hans. Kalian hampir saja membuatku senewen."

"Hehehe, turbulensi di atas Tanjung Karang gila banget, Bos! Tapi pilot kita mantan penerbang AU, jadi badai ginian mah kecil!" kelakar Hans tertawa lepas.

Namun, di samping Kevin, Valen berdiri mematung. Matanya bergerak cepat memperhatikan setiap detail interaksi itu.

Hans pria yang baru saja turun dari helikopter bernilai puluhan miliar rupiah baru saja memanggil Kevin dengan sebutan "Bos" dan memberinya penghormatan penuh kepatuhan. Belum lagi dua staf medis bergaya profesional di belakangnya yang membawa masuk dus-dus logistik berlogo pabrikan farmasi ternama internasional, obat-obatan impor yang bahkan Puskesmas Kota pun tidak punya akses untuk membelinya.

Valen menatap Kevin dari samping. Wajah Dokter Kevin yang biasanya ia kenal sebagai dokter bedah profesional yang tenang, hemat bicara, dan memakai pakaian sederhana... kini tampak memancarkan aura kepemimpinan yang amat dominan, tegas, dan dingin. Seperti seorang pemimpin orkestra yang baru saja mengendalikan situasi hidup dan mati hanya dengan satu panggilan radio.

Kevin menyadari pandangan Valen. Ia menoleh, menatap mata wanita itu yang dipenuhi seribu pertanyaan dan rasa tidak percaya.

"Valen..." panggil Kevin pelan, suaranya sedikit tenggelam oleh desing baling-baling helikopter.

"Kamu... siapa sebenarnya, Kevin?" bisik Valen, suaranya bergetar di tengah deru angin dan hujan. "Dokter Pustu biasa tidak punya helikopter pribadi... Dokter biasa tidak dipanggil 'Bos' oleh orang-orang yang mengawal bantuan senilai ratusan juta ini..."

Kevin menatap mata Valen yang menuntut jawaban. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama berbulan-bulan di desa terpencil ini kini telah pecah, persis seperti dinding awan badai di atas mereka.

Kevin melangkah mendekati Valen, menggenggam jemari wanita itu yang dingin terpaan hujan, lalu berkata dengan suara dalam dan mantap:

"Aku tetap Dokter Kevin yang bersamamu menyelamatkan warga desa ini, Valen. Sisanya... akan kujelaskan setelah semua pasien kita selamat."

Kevin lalu memalingkan wajahnya ke arah Hans dan tim medisnya. "Hans! Bawa semua koper logistik ke Pustu sekarang! Kita punya operasi darurat lima belas menit lagi!"

"SIAP, BOS!"

Di tengah amukan badai Tanjung Karang yang makin menggetarkan bumi, takdir Pustu terpencil itu berubah total pagi ini. Dan di antara pusaran lumpur serta embusan angin kencang, sebuah tabir identitas telah tersingkap—membuka awal baru dari teka-teki siapa sebenarnya sosok Kevin.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!