Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampas di Tepi Batas
Kabut tebal merayap turun dari sela-sela tajuk pohon raksasa saat malam benar-benar menguasai Alas Purba.
Di bawah arahan Baskara, tim segera mendirikan kamp darurat. Posisi tenda diatur dengan sangat taktis, tiga tenda dome modern didirikan membentuk formasi segitiga ketat, tepat di sebuah tebing tanah yang landai, hanya berjarak sekitar lima puluh meter sebelum dua pohon raksasa pembatas desa terlihat.
"Tenda Profesor Hera di posisi paling tengah," instruksi Baskara dengan nada otoriter sambil mematok pasak terakhir tenda utama.
"Tenda saya dan Yudha berada di sisi kanan menghadap jalur masuk, sedangkan tenda Kevin dan Amara di sisi kiri. Dengan begitu, perimeter kita terkunci dari segala arah."
"Wah, efisien banget ya susunannya," puji Amara sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mengusir rasa dingin yang menusuk tulang. Dia melirik ke arah kegelapan hutan di depan mereka.
"Tapi, Pak Baskara, apa enggak terlalu dekat nih jaraknya sama dua pohon besar itu? Rasanya kayak kita lagi nongkrong di teras rumah hantu."
"Ini posisi paling aman secara taktis, Amara," sahut Kevin dari dalam tendanya. Dia sibuk merangkai kabel dari generator mini portabel ke perangkat komputer jinjingnya.
"Tanah di sini lebih stabil dan bebas dari akar tunjang yang berpotensi merusak struktur tenda. Selain itu, sensor elektromagnetik saya menunjukkan fluktuasi medan magnet paling rendah di titik ini. Di luar radius lima puluh meter ke depan? Datanya kacau total."
Yudha berjalan mendekati area tengah sambil membawa beberapa potong kayu kering yang ia kumpulkan di sekitar pinggiran kamp.
"Komandan, saya sudah menyebarkan kawat sensor getar di radius dua puluh meter sekeliling kamp. Kalau ada hewan liar atau, sesuatu yang mencoba mendekat, alarm di jam tangan kita akan langsung bergetar."
"Bagus. Tetap waspada," jawab Baskara. Dia menoleh ke arah Hera yang sejak tadi berdiri diam di tepi area kamp, menatap lurus ke kegelapan arah dua pohon raksasa yang bayangannya samar tertutup kabut.
"Profesor Hera, sebaiknya Anda segera beristirahat di dalam tenda. Udara malam Alas Purba tidak ramah untuk kesehatan."
Hera tidak langsung menjawab. Genggaman tangannya pada senter taktis di dadanya mengencang.
"Tiga hari, Baskara. Waktu kita tidak banyak. Begitu fajar tiba, kita harus segera mengambil sampel vegetasi di sekitar sini."
"Saya tahu tugas saya, Prof. Tapi keselamatan Anda adalah prioritas utama bagi ayah Anda," balas Baskara tegas namun tetap hormat.
Setelah makan malam singkat dengan ransum instan yang disiapkan Amara, keheningan malam yang pekat kembali mengambil alih. Jarum jam digital di pergelangan tangan Hera menunjukkan pukul 22.00.
Suara serangga hutan bersahutan menciptakan simfoni malam yang konstan dan monoton. Kevin sudah terlelap di samping tumpukan alatnya, sementara Amara membungkus dirinya rapat-rapat di dalam kantong tidur sambil terus menggerutu pelan tentang dinginnya udara.
Di luar, Yudha dan Baskara bergantian melakukan ronda malam.
Hera tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada grafik medis ibunya yang semakin memburuk.
Dia memutuskan untuk membuka sedikit ritsleting pintu tendanya, membiarkan udara dingin menerpa wajahnya. Dia melangkah keluar dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Suasana kamp sangat sunyi. Kabut tipis bergerak pelan di atas tanah merah. Hera berjalan beberapa langkah mendekati batas terluar kamp, menghadap langsung ke arah dua pohon raksasa yang legendaris itu.
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya misterius melintas di kejauhan.
Cahaya itu berwarna ungu pekat dengan pendar keemasan di tepinya, berkedip lembut selama tiga detik di balik bayang-bayang pepohonan dalam, jauh melampaui batas dua pohon raksasa. Kilatan itu tampak begitu murni, sangat kontras dengan kegelapan absolut Alas Purba.
Jantung Hera berdegup kencang. "Itu, tidak mungkin," bisiknya lirih. Indra ilmuwannya langsung berteriak. Warna dan pendaran itu persis seperti deskripsi literatur kuno tentang Dream Flower.
Krek!
Tanpa sengaja, kaki Hera menginjak ranting kering saat ia maju selangkah untuk memperjelas pandangannya.
"Profesor Hera! Diam di tempat!" Sebuah bentakan rendah namun penuh tekanan mengejutkannya.
Baskara muncul dari balik kegelapan semak dengan parang taktis yang sudah terhunus, diikuti oleh Yudha yang langsung mengarahkan senapan laras panjangnya ke arah hutan depan.
"Ada apa, Komandan? Ada pergerakan?" tanya Yudha dengan suara berbisik, matanya menyisir kegelapan lewat lensa bidik optiknya.
Keributan kecil itu rupanya cukup untuk membangunkan asisten Hera. Pintu tenda sebelah terbuka, memperlihatkan wajah Kevin yang tampak linglung dengan kacamata yang agak miring, serta Amara yang keluar dengan selimut tebal masih melilit tubuhnya seperti kepompong.
"A-ada apa sih? Musuh menyerang ya? Hantu?" cerocos Amara dengan suara gemetar, matanya membelalak ketakutan.
"Kevin, Amara, diam di dekat tenda!" perintah Baskara tanpa menoleh. Dia berjalan mendekati Hera, menatap tajam ke arah kegelapan hutan di depan mereka yang kini kembali senyap.
"Profesor, apa yang Anda lihat? Alarm sensor getar Yudha tidak berbunyi, tapi saya melihat Anda bergerak tiba-tiba."
"Ada kilatan cahaya di sana, Baskara," kata Hera, jarinya menunjuk lurus ke arah kegelapan di balik dua pohon raksasa. "Warnanya ungu bertepi emas. Senter taktis kalian tidak akan bisa menangkapnya, tapi aku melihatnya dengan jelas. Cahaya itu berkedip di balik batas pohon."
Kevin langsung membetulkan letak kacamatanya dan memeriksa tablet yang ia bawa keluar. "Prof, sensor magnetik saya mendadak melonjak drastis selama tiga detik tepat saat Anda menyebutkan waktu kilatan itu! Ada anomali energi biologis yang sangat besar terdeteksi dari arah koordinat di balik pembatas."
"Tuh kan! Apa aku bilang!" Amara makin merapatkan selimutnya. "Itu pasti lampu senter makhluk halus penunggu hutan! Prof Hera, tolong jangan bilang kita mau nyamperin cahaya itu malam-malam begini. Aku belum mau mati muda!"
"Tenang, Amara," tukas Hera, berusaha menenangkan asistennya meskipun matanya sendiri masih memancarkan ambisi yang meluap-luap. Dia menoleh ke arah Baskara.
"Itu Dream Flower, Baskara. Aku yakin seratus persen. Bunga itu hanya mekar di malam hari, dan pendaran cahayanya memancarkan senyawa fotoforik yang langka. Kita harus memeriksa koordinat itu sekarang."
"Tidak, Profesor," potong Baskara dengan suara dingin dan tidak terbantahkan. "Jam menunjukkan hampir pukul setengah sebelas malam. Kabut terlalu tebal dan area itu sudah berada di luar perimeter aman kita. Ingat perjanjian kita dengan tetua desa, dan perintah ayah Anda. Kita tidak akan bergerak satu inci pun melintasi batas kamp sampai matahari terbit."
"Tapi bunga itu bisa saja layu sebelum fajar, Baskara! Kita kehilangan momen biologisnya!" bantah Hera, sifat keras kepalanya mulai keluar sepenuhnya.
"Saya tidak peduli dengan momen biologis, Prof. Tugas saya adalah membawa Anda pulang dalam keadaan bernyawa," jawab Baskara tegas.
Dia menatap Yudha.
"Yudha, tingkatkan status kewaspadaan. Jaga posisi di depan tenda Profesor. Kevin, Amara, kembali ke tenda kalian masing-masing."
Yudha mengangguk mantap.
"Siap, Komandan."