Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 LATIHAN INSTING
Dari dekat, bangunan itu jauh lebih besar dari kelihatannya.
Aku berhenti di gerbang kayunya, dan Vivi menahan napas di bahuku. Atapnya melengkung dengan genteng hitam yang mengilap, dinding kayunya digosok sampai berwarna madu, dan di sepanjang teras tergantung lonceng-lonceng angin kecil dari kuningan yang berdenting pelan. Halaman depannya berpasir putih yang disapu rapi, dan beberapa ranger muda sedang berlatih di sana. Ayunan pedang mereka teratur dan nyaris tanpa suara.
"Selamat datang di jinfa," kata Ara. "sebuah rumah singgah sekaligus tempat latihan para ranger lembah ini."
Ia membuka pintu geser, dan aku menahan keinginan untuk membandingkannya dengan mansion di Sendira. Mansion itu megah dan penuh kaca, tapi dingin. Jinfa terasa hidup. Lantai kayunya hangat, aroma teh dan kayu cendana memenuhi udara, dan dari jauh terdengar bunyi pisau di atas talenan.
"Jinfa ini kalo diliat dari atas, bentuknya seperti huruf U," jelas Ara sambil berjalan, dan aku mengikutinya melewati koridor panjang beratap rendah. "ada dua sayap di kiri dan kanan, satu badan di belakang, dan di tengahnya ada taman."
"memang disini ada berapa kamar?"
"Ada tujuh. Satu dapur, satu kamar mandi besar dengan pemandian air hangat, dan satu aula besar untuk latihan rohani." Ia membuka salah satu pintu geser. Di dalamnya ada kamar sederhana dengan kasur tipis, meja kecil, dan jendela menghadap ke taman. "Kamu boleh memakai yang ini kalau mau menginap."
Aku menatap kamar itu, lalu menatap Ara. Pemanas air, dapur yang wangi, tujuh kamar, aula latihan. Kalau mansion di Sendira adalah kemewahan, jinfa adalah kenyamanan, dan entah kenapa yang kedua jauh lebih menggoda.
"Keren banget, ini lebih lengkap dari rumah singgahku di Sendira," gumamku.
Ara tersenyum kecil mendengarnya, lalu mengajak kami keluar lewat koridor tengah. Pintu geser terakhir terbuka, dan aku berhenti melangkah.
Taman itu terbentang di tengah huruf U, luas dan sunyi, diapit kedua sayap bangunan. Rumputnya hijau pendek dan rapi, dengan jalan setapak batu pipih yang berkelok di antara petak-petak bunga. Di setiap sudutnya, bunga-bunga bermekaran dalam warna yang tak pernah kulihat bahkan di distrik Reflower: biru kelabu yang berpendar samar, merah muda yang bergradasi ke emas, putih berkilau seperti salju yang tak mencair. Kupu-kupu kecil melayang di atasnya. Di tengah taman berdiri sebuah pohon sakura tua, kelopaknya jatuh pelan tanpa henti seperti hujan tipis.
"Wah cantik sekali," bisik Vivi. Matanya berkaca-kaca. "Ini bahkan lebih indah dari Artheria."
"Hei vivi, jangan bilang begitu kalau kerabatmu di sana mendengar bagaimana?"
Tenang aja mereka tidak akan tahu."
Aku nyaris tertawa, tapi mataku terpaku pada sesuatu yang lain. Di sudut taman, beberapa boneka kayu tertancap di tanah, penuh bekas tebasan dan bakaran. Di sisi lain, ada lingkaran batu dengan tanah yang menghitam oleh ledakan kecil. Taman yang indah ini ternyata juga arena latihan.
"Nah disinilah kami mengasah kemampuan," jelas Ara, mengikuti pandanganku. "Taman ini memberi ketenangan yang membuat kekuatan lebih mudah dikendalikan. Itu ajaran dari Guruku."
Ia melangkah ke ambang aula besar di ujung koridor yang pintunya setengah terbuka. Di dalamnya gelap, hanya ada satu garis cahaya redup dari celah atap.
"Guru," panggilnya pelan. "Memangnya ada tamu dari Sendira."
Lalu, dari balik kegelapan aula, terdengar langkah berat. Pelan, mantap, dan setiap langkah membuat lantai kayu berderit halus. Aku merasakan sesuatu yang kukenal: tekanan samar di udara, seperti ketika pertama kali mendekati lembah batu hitam. Bukan bahaya, tapi bobot. Seseorang melangkah keluar dari bayangan.
Ia pria bertubuh besar, jauh lebih besar dari Robert dalam hal otot, meski tidak setinggi itu. Dadanya bidang di balik kaus hitam ketat, lengannya sebesar paha anak kecil, penuh bekas luka tipis yang membentuk pola seperti peta. Rambutnya hitam pendek dengan beberapa helai putih di pelipis. Di pinggangnya terselip sepasang belati melengkung dalam sarung kulit. Wajahnya keras, rahangnya persegi, dan mata kirinya, yang satu-satunya terbuka, menyorotkan tatapan setajam elang.
Mata kanannya tertutup penutup hitam yang dihiasi sebutir batu kelabu mengilap, memantulkan cahaya taman seperti pecahan bintang.
Tatapan itu jatuh padaku, lalu pada Vivi, dan menusuk tanpa belas kasihan.
"Hei!, Siapa kalian?"
Suaranya dalam, tenang, tanpa emosi. Bulu kudukku berdiri. Tanganku nyaris menyentuh gagang pedang sebelum aku sadar apa yang kulakukan, lalu kuturunkan perlahan.
"Oh...a...Perkenalkan namaku Arka," kataku, menyentuh dada dengan salam kota. "Ini Vivi, peri lembah, rekan perjalananku. Aku berasal dari distrik selatan, tapi sekarang bertugas sebagai ranger pemula dari
Sendira."
"Sendira?" Alisnya terangkat sedikit. Hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat jantungku berdebar. "Oh...Dari kota logam itu?"
"Ya, Benar."
"lalu apa urusanmu di lembah ini, Bocah Selatan?"
Aku menegakkan punggung. "Aku ditugaskan Kak Cecilia mencari dan mengumpulkan batu akik di seluruh dunia. Satu sudah kami dapat di Artheria. Peta menunjuk bahwa yang kedua ada di Lembah Embun. Aku juga mencari seorang pilar yang bertugas di sini."
Ia tak menjawab. Hanya menatapku, dan sepanjang hening itu, aku merasa setiap gerakan kecilku sedang dibaca: cara napasku, cara bahuku sedikit menegang, cara jari-jariku bergetar. Iyan benar. Orang ini seperti bisa membaca gerak sebelum gerak itu lahir.
Lalu, tiba-tiba, ia mengembuskan napas panjang.
"Oh begitu, ah...Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Haris." Ia menyentuh dadanya dengan satu tangan. "Pilar kelima dari korps Ranger Sendira. Yang mereka panggil Pilar Insting."
Dunia berhenti sejenak.
Haris. Nama dari cerita Iyan. Pria yang membunuh lima ratus tujuh puluh kroco dan satu entitas tingkat bawah. Aku sudah membayangkannya seratus kali selama lima hari perjalanan: sosok misterius, mungkin kurus dan cepat, mungkin berselubung kabut. Tak pernah terlintas sosok sebesar beruang dengan penutup mata seperti bajak laut.
"A-Anda Pak Haris?" suaraku nyaris tercekik. "Pilar... Insting?"
"Kamu mengulang kalimatku ya..?."
"Ah..Maaf! Aku tidak..." Aku buru-buru membungkuk.
"Aku hanya tidak menyangka aja."
Haris menatapku beberapa detik dengan ekspresi tak terbaca. Lalu sudut bibirnya bergerak. Perlahan, wajah kerasnya melunak, dan senyum lebar merekah, hangat dan sedikit nakal, seperti orang yang baru berhasil menjahili seseorang.
"HAHAHAHA...!"
Tawanya meledak, memenuhi taman dan membuat kelopak-kelopak bunga bergetar. Ia menepuk bahuku sampai aku terhuyung. "Wajahmu itu loh! Kamu kira aku akan memenggalmu?"
"Eh..."
"Hahaha..Tenang, Nak! Aku hanya sedang menguji." Ia menyeka sudut matanya yang tertutup. "Setiap orang asing yang masuk ke jinfa kuperlakukan begitu. Biasanya mereka kabur. Tapi kamu tidak kabur. Itu poin pertama."
Ara menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa. "Kelakuan Guru memang begitu setiap hari."
Haris tertawa lagi, lalu mengajak kami duduk di teras kayu menghadap taman. Seorang murid muda segera datang membawa nampan teh dan kue beras berwarna-warni. Haris menuangkan teh untuk kami sendiri, gerakannya halus dan kontras dengan tubuh raksasanya. Aroma melati menguar.
"Jadi," katanya sambil bersandar. "Coba katakan sekali lagi. Apa tujuanmu datang jauh-jauh ke lembah ini?"
Aku meletakkan cangkir dan menarik napas. "Aku ditugaskan mengumpulkan lima batu akik, supaya delapan kristal bisa dipanggil kembali dari tangan Zaranos."
Cangkir di tangan Haris berhenti di udara.
"...Dari tangan Zaranos?" ulangnya pelan. Senyumnya lenyap, matanya yang terbuka menyipit. "Kau bilang delapan kristal itu sudah ada padanya?"
Rupanya ia belum tahu. Ia bertugas jauh di timur, dan kabar dari Sendira pasti terlambat. Aku mengangguk, dan tenggorokanku terasa kering.
"Ya...kejadiannya sudah sepuluh hari lalu."
Haris meletakkan cangkirnya perlahan. Suara kayu bertemu kayu terdengar nyaring di keheningan teras.
"Nak, coba ceritakan padaku. Semuanya. Jangan ada yang dilewati."
Aku menceritakannya dari awal. Tentang gerbang selatan, pesan guruku, dan sosok bertudung kabut di lembah batu hitam yang menyebut dirinya muak pada manusia. Tentang pertarungan yang kalah telak, kristal-kristal yang direnggut satu per satu, dan kegelapan yang menelanku. Aku tak menutup-nutupi rasa malu, bagaimana pedangku hanya mengiris udara dan bagaimana ia tak sudi membunuhku. Lalu tentang Vivi yang membangunkanku, Sendira, para pilar, dan sejarah seribu tahun Zaranos. Terakhir tentang Artheria, Froz, dan kristal merah di rumah Eldan.
Haris mendengarkan tanpa menyela. Sesekali rahangnya mengeras, sesekali jari-jarinya mengetuk lutut. Ketika aku sampai pada bagian Froz, ia menarik napas dalam.
"Kamu membunuh Froz?"
"Iya, dengan bantuan Iyan dan Anna."
"Aku tak menyangka, pemilik bayangan yang dulu membantai satu regu master tumbang dihadapan kamu." Ia menggeleng pelan, antara takjub dan tak percaya. "Dan satu entitas tingkat atas membawa pergi kedelapan kristal sementara kau pingsan. Dan kemudian zaranos akhirnya bergerak."
"Ya."
Hening. Taman terasa sangat sunyi. Di kejauhan, kelopak sakura jatuh satu per satu.
"Pangkatmu apa, Nak?"
"Aku masih pemula."
"Pemula?" Ia tersenyum, tapi bukan senyum mengejek. Ia bangkit, melangkah ke arahku, dan merangkul bahuku dengan lengan sebesar batang pohon.
Bobotnya membuatku hampir limbung. "Dengar baik-baik nak, Jangan berhenti di pemula aja."
"Ma... maaf?"
"Sebenarnya aku sudah melihatmu dari tadi. Cara kamu berdiri, cara tanganmu otomatis terjatuh dari pedang karena sadar tak perlu menyerang, cara matamu menghitung jarak." Ia mengetuk pelipis kananku dengan telunjuknya yang tebal. "Aku melihat ada potensi besar di dalam sini. Lebih besar dari yang kau sadari. Orang seperti itu tak boleh berhenti di pangkat terendah. Kejar sampai jadi pilar."
Dadaku berdesir. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang kutunggu bertahun-tahun tanpa tahu namanya. Guruku di selatan tak pernah memujiku di depan orang lain, bahkan tak pernah bilang aku punya bakat.
"Bagaimana caranya?" tanyaku, suaraku lebih kecil dari yang kuinginkan.
"Mudah kok."
"Mudah?"
"Iya, syarat naik pangkat cuma satu: bertarung sambil disaksikan oleh seorang pilar. Kalau dia menilai kau layak, kau naik." Haris mengangkat bahu seolah sedang bicara soal mengambil air minum. "Tak ada ujian tertulis, tak ada upacara panjang. Kamu tunjukkan kemampuanmu, pilar melihat, selesai."
Aku mengerjap. Semua bayanganku tentang pangkat tinggi, tentang ujian berdarah dan seleksi ketat, runtuh dalam satu kalimat. Hanya itu? Bertarung sambil dilihat?
"Wah...Gampang sekali," gumamku tanpa sadar.
"Kelihatannya saja gampang." Haris terkekeh. "Pilar tak akan mudah terkesan. Aku pernah melihat orang menang dengan gagah, tapi tak naik pangkat karena bertarung seperti orang kerasukan. Yang kami cari bukan kemenangan, melainkan cara bertarung. Pikiran, bukan hanya otot."
Aku terdiam. Kata-katanya mengingatkanku pada pesan guruku: jangan bertarung dulu, cukup cari tahu. Entah kenapa, aku mulai mengerti kenapa. Selama ini aku bertarung dengan tubuh, bukan dengan pikiran. Di lembah batu hitam, kesombonganku yang membuatku kalah, bukan kelemahan ototku.
Aku menarik napas dalam, melepas diri dari rangkulannya, lalu berlutut di lantai teras dengan dahi hampir menyentuh kayu.
"Haris-san."
"Hm, ada apa nak?"
"Aku mohon." Suaraku bergetar tapi tegas. "Ajari aku cara melatih insting seperti yang kamu punya."
Vivi tersentak di bahuku. Ara menegakkan punggung, matanya melebar. Taman jadi sunyi sekali, bahkan kupu-kupu seakan berhenti mengepak.
Haris tak menjawab segera. Ia hanya menatapku yang berlutut, dengan satu mata terbuka dan satu mata tertutup batu kelabu yang berkilau. Lama sekali. Aku menahan napas, jantungku berdetak keras, dan setiap detik terasa seperti seharian.
"Angkat dulu kepalamu."
Perlahan aku menurut. Ia berdiri di hadapanku, tangan di pinggang, senyum tipis kembali di wajahnya, bukan senyum humoris, melainkan senyum seorang pria yang mengambil keputusan.
"Uh...Selama dua puluh tahun, aku menolak semua orang yang meminta jadi muridku. Tidak ada yang terlalu lemah, hanya tidak ada yang meminta dengan alasan yang benar." Ia mengulurkan satu tangan besarnya padaku. "Kamu meminta bukan karena ingin kuat kan... tapi karena tahu apa yang aja kurang darimu."
Aku menatap tangannya.
"Ok, Mulai hari ini," katanya, "kamu, aku angkat jadi muridku."
Aku meraih tangan itu. Genggamannya hangat, kasar, dan kuat. Ia menarikku berdiri dengan mudah, seolah aku seringan bulu.
Di belakangnya, Ara tersenyum lebar, senyum pertama yang benar-benar riang sejak aku bertemu dengannya. "Asyik, Selamat datang, Adik Seperguruan," bisiknya.
"Heh....kok Adik seperguruan?" Vivi menjerit. "Kalau begitu aku juga mau jadi murid!"
"Tidak boleh, Kamu itu peri," kata Haris datar. "Kamu jadi maskot aja."
"Lah, curang banget, Hmmph..vivi marah!"
Tawa kami pecah serentak. Dan di tengah tawa itu, sakura tua di tengah taman menggugurkan kelopak terakhirnya, jatuh pelan di atas bahuku seperti restu yang tak diucapkan.
Haris menepuk tangannya sekali, dan tawa kami berhenti seketika.
"Ok cukup bercandanya. Murid baru harus diuji hari ini juga." Ia menunjuk ke taman. "Ara, tolong ambilkan dua pedang kayu disana."
"Hanya kami berdua aja, Guru?"
"iya hanya kalian berdua. Aku yang menonton dan melihat potensi arka." Ia menoleh padaku, matanya berkilat nakal. "Oh ya satu aturan, Arka: tidak boleh memakai elemen"
"Tapi...kok anda tau kalo saya punya kekuatan elemen?"
"Elemenmu terpampang jelas di pedang kamu. Dengan kekuatan elemen itu bisa membuatmu malas membaca gerak. Hari ini kamu hanya punya pedang kayu dan indramu."
Sepuluh menit kemudian, aku berdiri di tengah taman dengan pedang kayu di tangan. Sepuluh langkah di depanku, Ara memegang pedang kayunya dengan santai, ujungnya menunjuk tanah. Kelopak sakura jatuh pelan di antara kami. Vivi sudah kabur ke dapur mengejar aroma kue, jadi untuk pertama kalinya, hanya ada kami bertiga di taman itu.
Haris duduk bersila di ambang aula, kedua lengannya terlipat. "baiklah kalo begitu, ayo kita mulai latihannya."
"Ya?"
Ia menunjuk matanya sendiri. "Coba kamu pejamkan itu."
"Apa?"
"Mata yang kau andalkan itu terlalu lambat. Insting bekerja sebelum mata sempat melihat." Ia menyeringai. "Pejamkan, dan dengarkan taman ini."
Aku ingin memprotes, tapi tatapannya tak memberi ruang. Perlahan kututup kelopakku. Dunia menjadi gelap, dan jantungku berdebar lebih keras dari sebelumnya.
PLAK!
Tepukan itu menggema.
Sepersekian detik pertama, tak ada apa-apa selain desir daun. Lalu sesuatu bergerak. Bukan langkah, bukan napas, hanya perubahan tipis di udara, seperti seseorang membuka jendela di ujung ruangan.
SYUUT!
Aku merunduk refleks. Bilah kayu menyapu tepat di atas kepalaku, dan angin dari ayunan itu mengibas rambutku. Aku membalas dengan sabetan mendatar, tapi pedangku hanya mengiris udara kosong.
"Terlalu lambat refleknya!" teriak Haris. "Kamu menyerang setelah dia pergi!"
TAK! Pedang kayu menghantam punggungku dari belakang. Aku mengerang dan terhuyung.
Ara tak bersuara sedikit pun. Bahkan bunyi kainnya menyatu dengan jatuhnya kelopak bunga. Aku memutar tubuh, menebas lurus, dan hanya menemukan kekosongan lagi.
TAK! Satu pukulan di bahu.
Jangan cari dia, pikirku. Dengarkan taman.
Aku menarik napas dalam dan berhenti bergerak. Dalam gelap itu, aku mendengar bunyi bambu di pojok taman, desis air di kolam kecil, dan di bawah semua itu, sesuatu yang nyaris tak terasa: tekanan halus yang mendekat dari kiri.
Aku mengangkat pedang tepat waktu.
TAAAK!
Benturan kayu bergetar di telapak tanganku. Aku menahan, mendorong, dan membuka sedikit celah. Kutendang ke depan, dan kakiku mengenai sesuatu yang lunak. Terdengar napas tertahan, lalu langkah mundur cepat.
"Bagus, satu," gumam Haris, terdengar puas. "Lanjutkan."
Ara tidak memberiku jeda. WUSH-WUSH-WUSH! Tiga tebasan beruntun datang dari tiga arah berbeda. Aku menangkis dua, mundur, lalu terlambat pada yang ketiga. TAK! Ujung bilahnya menyodok rusukku dan membuatku terbatuk.
"Ingat! mata tertutup bukan berarti pikiran tertutup!" seru Haris. "Rasakan ritmenya!"
Ritme. Aku menghitung dalam kepala. Ara selalu menyerang dalam tiga ayunan, lalu berhenti sepersekian detik sebelum memutar posisi. Jeda itu sangat singkat, tapi ada.
WUSH-WUSH-WUSH. Tiga ayunan. Aku menahan semuanya, kali ini tanpa mundur.
Jeda.
Aku melangkah maju dan menebas sekuat tenaga.
KLAAK!
Pedang kami saling mengunci. Aku bisa merasakan napasnya hangat di wajahku, jarak kami begitu dekat. Aku nyaris membuka mata karena penasaran, tapi kuurungkan.
"Wah arka, Kamu belajar cepat ya," bisik Ara.
"Karena aku punya guru yang menyebalkan."
"Hei!. Aku dengar omonganmu itu!" sahut Haris dari kejauhan.
Ara tertawa pelan, dan di sela tawa itu, ia menarik pedangnya mendadak. Aku kehilangan tumpuan, terhuyung ke depan.
BUK!
Sapuan kakinya membuatku jatuh telentang. Ujung pedang kayunya berhenti satu jari dari tenggorokanku.
"Hah, kamu Kalah," katanya lembut.
Aku membuka mata. Langit biru terbentang di atas kami, dipenuhi kelopak yang berjatuhan. Wajah Ara muncul di antara kelopak-kelopak itu, rambut hitamnya tergerai, senyumnya tipis. Dadaku sesak, punggungku perih, tapi aneh, aku ingin tertawa.
"Ok, lagi," kataku.
Ara mengerjap. "Apa?"
"Aku mau coba lagi."
Dari ambang aula, terdengar tawa berat Haris. "Bagus, seperti Itu jawaban yang kutunggu. Berdiri, Nak!"
Aku bangkit, menyeka keringat, lalu memejamkan mata sekali lagi. Kali ini aku tidak mencari suara. Aku membiarkan taman itu bicara sendiri: bambu, air, kelopak yang menyentuh rumput, dan di bawah semuanya, napas Ara yang teratur seperti denyut jam.
PLAK!
Tepukan kedua.
Aku melangkah lebih dulu.
TAK! Pedangku menangkis serangan pertama bahkan sebelum ia sempat mencapai bahuku. TAK! TAK! Dua tebasan berikutnya terpental. Aku merunduk, memutar tubuh, dan menyabet dari bawah. Ara melompat ke belakang, ringan seperti bulu, dan aku mendengar ujung kainnya mengepak.
.
"Di atas!" desis insting dalam dadaku.
Aku mengangkat pedang tepat ketika bilah kayu menghantam dari atas.
TAAAAK!
Getarannya membuat lenganku mati rasa, tapi aku bertahan. Aku menggeram dan mendorong, dan untuk pertama kalinya, aku mendengar Ara mundur selangkah dengan napas kaget.
"Hmm," gumam Haris. "lumayan bagus."
Pertarungan berlanjut dalam irama yang makin cepat. TAK-TAK-WUSH-TAK. Aku kena tiga kali, ia kena satu. Aku jatuh dua kali, ia terpaksa melompat mundur sekali. Peluhku bercampur kelopak bunga yang menempel di pipi.
Saat akhirnya Ara menepuk bahuku dari belakang dengan ujung pedangnya dan berkata, "Ok, Selesai," dunia di balik mataku sudah terasa jauh lebih luas dari saat kumulai.
Aku membuka mata. Matahari condong ke barat, mewarnai taman dengan semburat jingga. Aku terduduk di bawah sakura, tubuhku penuh memar, napasku terengah seperti habis berlari sepuluh kilometer.
Haris berdiri dari ambang aula dan berjalan menghampiri. Ia menunduk menatapku dengan satu mata yang terbuka.
"Total kamu kalah empat kali, menang satu kali, dan seri satu kali."
Haris, Ia mengusap rambutku dengan tangan sebesar piring. "Besok pagi kita ulangi ya, dengan mata tertutup sejak awal."
"Siap, Guru."
Ia mengangkat alis. "Guru?"
Aku tersentak. "Ah...Maaf, aku..."
"hehehe, Tidak apa." Senyumnya melebar. "Panggilan itu cocok untukmu."
Ia berbalik masuk ke aula. Ara duduk di sampingku, mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju, dan menyodorkan botol teh dingin.
"jarang banget dia memuji siapa pun," katanya pelan. "Kamu beruntung banget."
Aku menatap botol itu, lalu tersenyum. "iya."
************
Iyan tidak ingat kapan terakhir kali ia berjalan tanpa mengejar atau dikejar sesuatu.
Semalam ia menunggu di jembatan sampai lentera-lentera menyala, tapi Arka tak muncul. Yang datang malah seorang anak kecil berkepang dua yang berlari terengah-engah
Latoona jauh berbeda dari Reflower yang kata Arka penuh bunga. Rumah-rumahnya dari batu abu-abu berpadu panel logam mengilap, atapnya miring seperti sayap, dan jendelanya berpendar kuning lembut meski matahari sudah tinggi. Di atas jalan lurus yang dilapisi lempeng halus, kereta-kereta mungil melayang tanpa suara. Sungai kecil mengalir di tengah kota dalam kanal berdinding kaca, sehingga ikan-ikan perak tampak berenang di antara kaki para pejalan.
"Waw..kota ini terlihat futuristik," gumam Iyan, mengulang kata Arka waktu di Sendira. "Tapi lebih ramah."
Penduduknya pun ramah. Seorang penjual menyodorkan tusukan jamur kabut yang dibakar dengan madu embun, gurih, manis, dan lumer di lidah. Iyan membeli tiga. Di sudut berikutnya ada bola ketan berisi pasta kacang dalam kuah hangat, dan ia membeli dua. Lalu es serut dengan sirup embun dan taburan kelopak bunga, yang ia habiskan sambil duduk di tepi kanal dengan kaki menjuntai.
"oke ayo kita fokus ke misi suci," bisiknya pada diri sendiri
Tentu saja ia juga bertanya. Pada penjual jamur, nenek penjual teh, dan penjaga toko lampu, pertanyaannya sama: pernahkah mereka mendengar batu yang selalu hangat dan berpendar samar di malam hari? Semuanya menggeleng sopan. Satu orang malah mengira Iyan sedang mencari batu untuk dijual.
Hari masih panjang. Ia menyeberangi jembatan kaca kecil dan menyusuri deretan kios. Baru saja ia menggigit bola ketan terakhir ketika sesuatu berubah.
Awalnya samar. Bulu romanya berdiri, dan bukan karena petirnya. Udara di ujung jalan terasa lebih berat, dan di bawah aroma madu dan kuah hangat, tercium sesuatu yang lain: besi tua, karat, dan bau amis seperti tanah yang basah oleh darah lama.
Iyan mengenal bau itu. Basement Artheria. Tawa cekikikan Froz.
Ia berhenti mengunyah.
Tenang, Iyan, katanya pada diri sendiri. Mungkin cuma penjual daging. Tapi tangannya sudah turun ke gada di pinggang, dan jari-jarinya bergetar halus.
Ia menelan sisa ketan, lalu berjalan lebih pelan. Matanya menyapu kerumunan: ibu-ibu yang menawar kain, anak-anak yang berebut gelembung sabun, dua penjaga kota yang mengobrol di bawah tiang lampu. Semua normal. Tapi hawa itu terus mengikutinya seperti benang tak terlihat, makin kuat setiap kali ia mendekati jalan utama.
Lalu dua orang melintas di sampingnya.
Mereka pria berusia sekitar tiga puluhan, mengenakan mantel panjang abu-abu yang kebesaran. Yang satu kurus dan jangkung, wajahnya cekung, rambutnya menempel di dahi. Yang satu lagi bertubuh gempal dengan bahu lebar dan leher tebal. Sekilas mereka tampak seperti dua pedagang kelelahan. Tapi Iyan langsung merasa ada yang salah.
Pertama, cara berjalan mereka. Langkah keduanya sama persis, terlalu seragam dan terlalu halus, seperti boneka yang digerakkan benang. Tumit mereka seolah tak benar-benar menyentuh tanah. Kedua, mereka tak menoleh sedikit pun ke kios mana pun, padahal hampir semua orang di jalan itu mencuri pandang pada dagangan yang menggoda.
Ketiga, mata mereka. Saat si kurus melintas, tatapannya sekilas menyapu wajah Iyan. Pupilnya terlalu kecil, nyaris seperti titik, dan urat-urat tipis kemerahan mengelilingi bola matanya. Ia tidak berkedip sama sekali.
Keempat, benda yang mereka pegang. Si kurus menggenggam botol kaca kecil di tangan kiri, tertutup rapat dengan sumbat gabus. Isinya cairan merah pekat yang bergoyang pelan setiap ia melangkah, dan ia memegangnya seperti orang memegang air suci. Si gempal menyeret bungkusan panjang dari kain lusuh di bahunya. Dari ujungnya yang terikat asal-asalan, menjuntai sesuatu yang berkilat dan berkarat: mata rantai besi.
Mereka lewat, dan aroma karat dan darah itu menyengat hidung Iyan. Perutnya mengencang.
Mereka.
Iyan berhenti mendadak. Kakinya terasa dingin. Kalau salah, aku akan dihina seumur hidup. Tapi kalau benar...
Ia memutar tubuh, menarik gada dengan satu gerakan, dan listrik kecil berkilat di ujungnya.
"JANGAN LARI, ENTITAS!"
Teriakannya memecah keramaian. Beberapa orang menoleh, dan sebuah piring jatuh pecah di kios sebelah.
Dua pria itu berhenti.
Bahu si kurus menegang. Perlahan, ia menoleh. Matanya melebar, bukan dengan kebingungan seorang warga biasa, melainkan dengan kaget orang yang baru dibongkar penyamarannya. Si gempal menarik napas keras, dan bungkusan di bahunya bergemerincing.
"Cih..Kau..." desis si kurus.
Itu cukup, Tanpa bicara lagi, keduanya berbalik dan lari. Bukan lari manusia. Kaki mereka menghantam lempeng jalan dengan kecepatan yang membuat debu berhamburan, dan dalam dua tarikan napas mereka sudah menyelip ke gang sempit di antara dua toko. Orang-orang menjerit dan berhamburan.
"Hei!" Iyan melompat mengejar, tapi sebuah kereta kecil melintas tepat di depannya. Ia terpaksa berhenti, dan saat kereta itu lewat, gang itu sudah kosong. Hanya bau karat samar yang tersisa.
"Ah, Sial!"
Ia menggertakkan gigi. Mengejar sendirian di kota yang belum ia kenal bukan ide cerdas. Kalau mereka berbalik dan menyerangnya di lorong sempit, ia akan jadi lubang di dinding. Ia butuh Arka. Dan ia masih ingat janji mereka.
Iyan mengangkat gadanya tinggi-tinggi ke arah langit.
Petir ke langit.
Ia memejamkan mata dan menarik seluruh tenaga yang mengalir di tubuhnya, dari dada ke lengan, dari lengan ke gada.
KRAAAK-ZZZZZZZAAAAAPPP!
Kilat kuning terang menyambar ke atas, menembus langit biru tanpa awan, lalu meledak menjadi guntur memekakkan telinga.
DUAAAARRRR!
Seluruh Latoona membeku. Setiap kepala mendongak. Satu sambaran lagi, lalu satu lagi, sampai langit di atas distrik itu bergetar.
Iyan menurunkan gada dengan napas terengah. "Arka," gumamnya. "Tolong dengar."